Prabowo Subianto
Berita Politik Indonesia

Prabowo Rayu Pemilih Muslim, Akankah Berhasil?

Kandidat presiden dari koalisi oposisi, mantan jenderal Prabowo Subianto. (Foto: Bloomberg/Dimas Ardian)
Berita Internasional >> Prabowo Rayu Pemilih Muslim, Akankah Berhasil?

Dalam pidato kebangsaannya, calon presiden Prabowo Subianto menyuarakan perlindungannya terhadap ulama, keinginannya untuk meningkatkan kualitas pesantren, serta membangun lembaga keuangan untuk Haji. Prabowo mengakhiri pidatonya dengan berteriak Allahu Akbar tiga kali, yang disambut dengan sorak-sorai yang keras dari ratusan penonton. Para analis mengatakan bahwa penekanan Prabowo pada Islam adalah taktik untuk memenangkan pemilih Muslim. Namun akankah ia berhasil?

Baca juga: Analisis Pilpres 2019: Prabowo, Penantang yang Lemah Namun Mengancam

Oleh: Resty Woro Yuniar (South China Morning Post)

Calon presiden Prabowo Subianto, berusaha menumbuhkan citra sebagai seorang Muslim yang saleh, di mana para analis menyebut pidato kebangsaannya baru-baru ini sebagai upaya untuk meningkatkan elektabilitas dan daya tariknya di antara blok suara Muslim yang signifikan di negara itu, menjelang pemilu pada 17 April mendatang.

Mantan jenderal itu menghadapi Presiden Joko Widodo dalam pemungutan suara, yang merupakan pengulangan tahun 2014, ketika ia kalah dari Jokowi dengan selisih hanya 6 persen. Kali ini, ia mengklaim bahwa Indonesia di bawah Jokowi telah mengalami pembengkakan utang luar negeri, dan tidak akan bertahan lebih dari tiga hari jika terperangkap dalam perang karena kurangnya peluru di gudang persenjataannya.

Dalam rapat umum pada Senin (14/1), Prabowo—yang mengenakan setelan hitam formal sebagai ganti baju putih dan celana khaki khasnya—membahas misinya untuk mengembalikan Indonesia ke jalur kemenangannya, jika ia diberi mandat untuk memimpin 260 juta masyarakat di Indonesia.

Pasangannya—pengusaha terkenal dan mantan Wakil Gubernur Jakarta Sandiaga Uno—berdiri di sampingnya sepanjang pidato.

Prabowo juga berulang kali berjanji untuk melindungi semua pemimpin agama—di antara mereka adalah ulama Muslim—mengutip kontribusi signifikan mereka dalam perjuangan empat tahun untuk memenangkan kemerdekaan negara dari Belanda setelah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.

“Kami akan pastikan ulama-ulama kita dihormati, dan bebas dari ancaman kriminalisasi. Ini menjadi sangat penting, karena peran ulama dalam kemerdekaan bangsa kita demikian penting,” katanya. “Karena itu, bagi bangsa Indonesia, janganlah pernah kita tidak hormati kiai-kiai kita, ulama-ulama kita, dan pemuka-pemuka agama lain yang memimpin kita.”

Jokowi bersama Prabowo di gelaran Asian Games. (Foto: Kemensetneg via The New Mandala)

Calon presiden itu kemudian mendeklarasikan perlindungannya bagi kelompok-kelompok agama yang ajarannya selaras dengan konstitusi negara dan ideologi negara Pancasila—sebuah langkah yang dianggap oleh para analis sebagai pukulan terhadap keputusan Jokowi untuk membubarkan kelompok radikal Hizbut Tahrir, yang ingin mendirikan kekhalifahan Islam di Indonesia.

Pada 2017, Jokowi mengeluarkan peraturan yang menghapus peran pengadilan dalam membubarkan organisasi yang dianggap melanggar hukum oleh pemerintah, yang memungkinkan pemerintahannya untuk melakukannya secara sepihak.

“Kami juga akan pastikan tidak ada organisasi yang taat pada Pancasila dan UUD 1945, yang terstigma dan dihakimi tanpa pengadilan,” kata Prabowo.

Dia kemudian berjanji untuk meningkatkan kualitas pesantren di Indonesia, serta untuk mendirikan lembaga keuangan yang berfokus pada haji, dan untuk bernegosiasi dengan pemerintah Arab Saudi untuk memungkinkan Indonesia membangun akomodasi sendiri di sana untuk para peserta Haji.

“Islam di Indonesia adalah berkah dari Tuhan, jadi jangan mencoba untuk menstigmatisasi kelompok tertentu. Kalau dengar takbir atau Allahu Akbar jangan persoalkan itu. Itu bukan ancam siapa-siapa. Takbir adalah untuk memuliakan Tuhan kita yang dicintai. Silakan kalian yang Nasrani teriak Haleluyah. Kaum Hindu dan Buddha juga silakan. Bangsa kita religius, bukan berarti ekstrem dan fanatik,” kata Prabowo.

Prabowo akhirnya mengakhiri pidatonya dengan berteriak Allahu Akbar tiga kali, yang disambut dengan sorak-sorai yang keras dari ratusan penonton.

Para analis mengatakan bahwa penekanan Prabowo pada Islam adalah taktik untuk memenangkan pemilih Muslim, seiring ia mencoba untuk mempengaruhi mereka agar tidak memilih Jokowi, yang memilih ulama Muslim Ma’ruf Amin sebagai pasangannya.

“Saya pikir itulah cara Prabowo untuk memberi sinyal kepada para pendukungnya yang berasal dari gerakan 212,” kata Arya Fernandes, peneliti politik di Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) Jakarta, merujuk pada kelompok Muslim garis keras yang bersatu untuk kejatuhan mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, seorang Kristen China yang juga dikenal sebagai Ahok, pada Desember 2016.

Reuni 212

Ribuan umat Islam Indonesia berdemonstrasi di Jakarta, 2 Desember 2018. (Foto: AFP)

“Dia ingin memberi kesan bahwa dia adalah seorang Muslim yang saleh, tetapi saya pikir strateginya tidak akan efektif untuk mempengaruhi pemilih yang ragu-ragu. Tidak lagi cukup sekarang untuk mendapatkan suara dengan menggunakan agama dan berteriak takbir dalam kampanye,” kata Arya.

Apa yang disebut gerakan 212 telah menghasilkan aliansi informal antara oportunis politik dan Muslim garis keras, dan mereka telah aktif dalam siklus pemilu saat ini. Pada bulan November, pasukan serupa dikerahkan untuk memprotes pembakaran bendera Hizbut Tahrir, yang mereka klaim mengandung ayat Islam; pada bulan yang sama, seorang anggota gerakan 212 melaporkan politisi Indonesia-China Grace Natalie—seorang Kristen—ke polisi, setelah Grace menyatakan bahwa partainya tidak akan mendukung undang-undang lokal yang diskriminatif berdasarkan Alquran atau Alkitab.

Langkah Prabowo untuk menyelaraskan dirinya dengan kelompok Muslim garis keras dipandang sebagai alat termurah untuk menopang dukungan, karena kampanyenya telah mengumpulkan lebih sedikit dana dalam pemilu tahun ini dibandingkan pada tahun 2014, kata para analis.

Dukungan kelompok konservatif terhadap Prabowo membuat beberapa pengamat politik merenungkan apakah demokrasi Indonesia yang relatif muda akan berisiko jika ia menang, karena para pendukungnya mungkin mendorong penerapan hukum Islam dalam sistem peradilan negara.

“Ada dua pendapat tentang pendukung Islam Prabowo. Yang satu mengatakan bahwa dia hanya memanipulasi kelompok-kelompok ini untuk mendukungnya dan bahwa aliansinya dengan mereka hanya sebuah sikap, sementara yang lain mengatakan bahwa jika dia menang, kelompok-kelompok ini akan memiliki tuntutan untuknya dan dia akan diminta untuk memenuhi tuntutan-tuntutan itu,” kata Alexander Raymond Arifianto, peneliti Program Indonesia di Sekolah Studi Internasional S. Rajaratnam di Universitas Teknologi Nanyang Singapura.

Beberapa permintaan ini dapat mencakup pembatasan terhadap pembangunan tempat ibadah non-Muslim dan hambatan bagi non-Muslim untuk menjadi pemimpin politik, tambahnya.

“Permintaan paling ekstrem adalah mengubah Indonesia menjadi negara Islam,” kata Arifianto.

Upaya Prabowo untuk meningkatkan kredibilitas agamanya dikonfirmasi oleh pasangannya Sandiaga Uno pada bulan November.

“Prabowo adalah seorang Muslim tetapi bukan seorang Muslim yang saleh… dia telah secara terbuka mengatakan bahwa dia hanya Muslim (pada) kartu identitasnya, dan sekarang dia belajar untuk lebih saleh,” kata Uno saat panel yang diadakan oleh Jakarta Foreign Correspondents Club, dan menambahkan bahwa keduanya menghormati semua agama.

Hampir semua perkiraan jajak pendapat terbaru telah menempatkan Prabowo di belakang Jokowi. Lembaga survei yang berbasis di Jakarta, LSI, misalnya, menempatkan Jokowi-Ma’ruf unggul dengan 53,2 persen suara, dibandingkan dengan 31,2 persen Prabowo-Sandi. Menurut para analis, posisi oposisi sebagai penghambat mungkin mendorong mereka untuk bermain pada keterikatan emosional pemilih dengan agama.

Islamofobia

Pemimpin Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie, berfoto di kantornya di markas besar PSI di Jakarta, Indonesia, 19 Maret 2018. (Foto: Reuters/Darren Whiteside)

“Banyak Muslim yang merasa pahit karena pemerintah menuduh mereka radikal. Larangan Hizbut Tahrir lebih jauh memecah para pemilih Muslim,” kata Pangi Syarwi Chaniago, Direktur Eksekutif di Voxpol Center Research and Consulting yang berbasis di Jakarta.

“Pemilih Muslim adalah prioritas bagi semua calon presiden di Indonesia, jadi tidak mengherankan bahwa mereka mencoba untuk mendapatkan suara dengan membangun citra diri mereka sebagai Muslim yang saleh,” katanya.

“Banyak orang tidak setuju dengan misi Hizbut Tahrir di Indonesia, tetapi banyak juga yang tidak setuju dengan bagaimana Jokowi menangani kelompok itu, yang mungkin tampak otoriter bagi beberapa orang.”

Pidato yang berat tentang agama mungkin berhasil terhadap para pemilih di daerah-daerah, di mana agama memainkan peran penting dalam masyarakat, seperti Aceh. Provinsi paling utara di Indonesia tersebut adalah satu-satunya wilayah di Indonesia yang menerapkan hukum syariah, dan telah berusaha untuk mendorong kandidat presiden dan wakil presiden untuk bersaing dalam kompetisi membaca Alquran di sana. Baik Jokowi maupun Prabowo tidak secara eksplisit menyetujui undangan itu.

Baca juga: Debat Pilpres Pertama: Jokowi-Prabowo Adu Mulut Soal Korupsi dan Hukum

“Untuk menjadi presiden atau wakil presiden, seseorang harus memiliki banyak kualitas kepemimpinan, tetapi bagi kita umat Islam, kemampuan membaca Alquran sangat penting,” kata Marsyuddin Ishak, kepala Asosiasi Ulama Aceh dan penyelenggara kontes tersebut. “Aceh adalah daerah khusus, kami memiliki peraturan daerah yang mewajibkan setiap pesaing politik untuk dapat membaca Alquran, jika tidak mereka akan didiskualifikasi. Presiden Indonesia juga akan memimpin Aceh, jadi kami memiliki hak untuk mengetahui tingkat keimanan mereka. Salah satu cara untuk melakukan ini adalah melalui kemampuan mereka membaca Alquran, meskipun itu bukan satu-satunya ukuran.”

Efektivitas pidato Prabowo terhadap para pemilih Muslim belum terlihat, tetapi janjinya untuk melindungi para pemimpin Muslim tampaknya berhasil pada para pemilih seperti Ishak.

“Niat baiknya (untuk melindungi para pemimpin dan organisasi Muslim) mungkin menjadi salah satu indikator menjadi seorang Muslim yang saleh, kami mendukungnya karena itu untuk kebaikan bangsa,” kata Ishak. “Tapi kami di Aceh masih mempertanyakan semua tingkat keimanan Islam para calon, kecuali ulama Ma’ruf.”

Keterangan foto utama: Kandidat presiden dari koalisi oposisi, mantan jenderal Prabowo Subianto. (Foto: Bloomberg/Dimas Ardian)

Prabowo Rayu Pemilih Muslim, Akankah Berhasil?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top