Satu Sabuk, Satu Jalan, Satu Kesalahan Besar
Asia

Satu Sabuk, Satu Jalan, Satu Kesalahan Besar

Berita Internasional >> Satu Sabuk, Satu Jalan, Satu Kesalahan Besar

Proyek kebijakan luar negeri andalan China tersebut sebaiknya menjadi kesalahan yang tidak akan diulangi oleh Amerika Serikat. Inisiatif sabuk dan jalan telah terintegrasi sedemikian rupa dengan Xi Jinping dan Partai Komunis China, sehingga menyerang proyek itu berarti menyerang pemimpinnya. Namun, pada dasarnya proyek bernilai satu triliun dolar itu adalah investasi yang kacau balau.

Oleh: Tanner Greer (Foreign Policy)

Baca Juga: Inisiatif Sabuk dan Jalan China Peluang untuk Energi Terbarukan Indonesia?

Berita utama yang keluar dari konferensi APEC tahun 2018 di Papua Nugini berfokus pada konflik antara Amerika Serikat dan China yang membuat forum tersebut tidak mengeluarkan komunike bersama. Berita lain yang kurang diperhatikan adalah dua memorandum pendek yang dikeluarkan di sela-sela konferensi oleh negara-negara pulau Vanuatu dan Tonga.

Sebagai imbalan untuk menegosiasikan kembali utang yang ada, keduanya sepakat untuk menjadi peserta terbaru, mengikuti negara-negara Pasifik lainnya seperti Papua Nugini dan Fiji, dalam usaha kebijakan luar negeri Presiden China Xi Jinping, Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI/Belt and Road Initiative).

Kekhawatiran mulai tumbuh ketika strategi pengembangan bernilai satu triliun dolar Xi telah berayun jauh dari jantung Eurasia ke Pasifik Selatan, Afrika barat, dan Amerika Latin. Banyak pihak di Amerika takut bahwa Inisiatif Sabuk dan Jalan adalah perpanjangan dari upaya Partai Komunis China untuk merusak arsitektur keamanan dan ekonomi tatanan internasional. Kekhawatiran akan China yang berkembang sebagian besar datang dengan mengorbankan institusi internasional dan pengaruh Amerika.

Kekhawatiran ini ada di balik pengumuman lain yang dibuat pada pertemuan APEC bulan November 2018: Australia, Jepang, dan Amerika Serikat menyatakan bahwa mereka telah membentuk inisiatif investasi trilateral sendiri untuk membantu memenuhi kebutuhan infrastruktur di Indo-Pasifik. Untuk beberapa hal ini tidaklah cukup: Dalam laporannya yang terbaru kepada Kongres Amerika Serikat, Komisi Peninjauan Ekonomi dan Keamanan AS-China bipartisan merekomendasikan agar Kongres menciptakan dana tambahan “untuk memberikan bantuan bilateral tambahan bagi negara-negara yang menjadi target atau rentan terhadap tekanan ekonomi atau diplomatik China.”

Ini adalah respon yang salah terhadap Inisiatif Sabuk dan Jalan. Abaikan kehebohannya, karena bagi China, inisiatif ini telah menjadi kesalahan strategis. Dengan membeli gagasan yang cacat bahwa hanya banyak uang yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah geopolitik yang kompleks, China telah melakukan kesalahan besar.

Kediktatoran Xi membuat hampir tidak mungkin bagi negara untuk mengakui kesalahan ini atau meninggalkan proyek kesayangannya. Amerika Serikat dan para sekutunya tidak memperoleh apa-apa dari melakukan kesalahan China sebagai kesalahan mereka sendiri.

Dalam berbagai pidato Xi, frase yang paling terkait dengan Inisiatif Sabuk dan Jalan adalah “komunitas senasib untuk semua” (community of common destiny). Penggunaan istilah ini dimaksudkan untuk menghubungkan Inisiatif Sabuk dan Jalan dengan tujuan yang lebih dalam yang diartikulasikan oleh para pemimpin partai untuk Partai Komunis China selama tiga dekade terakhir.

Para pemimpin China percaya bahwa bukan hanya sebagai “misi bersejarah” untuk mewujudkan “peremajaan nasional” China sebagai kekuatan paling bergengsi di dunia, tetapi China memiliki peran unik untuk dimainkan dalam pengembangan “peradaban politik” yang ditulis dalam skala besar.

Ialah China, menurut Xi (seperti yang telah dilakukan Hu dan Jiang sebelumnya), yang telah menyesuaikan sosialisme dengan kondisi modern, dan dengan demikian telah menciptakan jawaban China yang unik untuk “masalah yang dihadapi umat manusia.” Meskipun jawaban ini dimulai di China, Xi menyatakan dengan jelas bahwa sudah tiba saatnya “kebijaksanaan China dan pendekatan Cina” memberi manfaat bagi mereka yang berada di luar China.

Inisiatif Sabuk dan Jalan dimaksudkan untuk melakukan hal itu. Dengan menggunakan model sosialisme China untuk mengembangkan daerah-daerah yang lebih miskin di dunia, inisiatif tersebut membenarkan klaim-klaim monumental Xi tentang misi bersejarah partai di panggung internasional.

Agar sesuai dengan tujuan mulia ini, para akademisi dan analis kebijakan China di lembaga pemikir bergengsi partai telah mengartikulasikan lebih banyak tujuan sederhana untuk inisiatif ini. Menurut mereka, Inisiatif Sabuk dan Jalan berjanji untuk mengintegrasikan pasar internal China dengan pasar negara-negara tetangganya. Melakukan hal itu akan membawa negara-negara tetangganya lebih dekat ke China secara geopolitik dan membawa stabilitas ke kawasan.

Dengan meningkatkan aktivitas ekonomi di wilayah perbatasan China, seperti Xinjiang dan Tibet, Inisiatif Sabuk dan Jalan akan mengurangi daya tarik yang mungkin dimiliki oleh ideologi separatis kepada para penduduknya. Manfaat lain yang diproyeksikan adalah ketahanan energi yang akan datang melalui pembangunan rute transportasi yang didanai oleh Inisiatif Sabuk dan Jalan.

Akhirnya, dengan mengartikulasikan dan kemudian menindaklanjuti inisiatif yang menempatkan pembangunan bersama atas politik kekuasaan, China akan mendapatkan keuntungan di atas negara-negara besar lainnya, seperti Jepang dan Amerika Serikat, yang menghadirkan dunia sebagai kompetisi hitam-putih untuk hegemoni. Komunitas senasib untuk semua, menurut klaim para analis, adalah komunitas yang akan sangat menguntungkan China.

Karena Inisiatif Sabuk dan Jalan baru berusia lima tahun (dan banyak anggota utamanya telah terlibat dalam waktu yang jauh lebih singkat), hasil lengkapnya belum dapat dinilai. Namun, penilaian pendahuluan dapat ditawarkan untuk proyek-proyek Inisiatif Sabuk dan Jalan di Asia Selatan dan Asia Tenggara, wilayah yang digambarkan oleh para pemimpin China sebagai “poros utama” dari inisiatif tersebut. Di sinilah investasi Inisiatif Sabuk dan Jalan yang paling kuat dan telah ada sejak lama.

Gambarannya tidaklah menjanjikan. Ratusan miliar dolar yang dihabiskan di negara-negara ini belum menghasilkan pengembalian bagi investor maupun pengembalian politik bagi partai. Apakah para pemimpin China benar-benar mencari keuntungan finansial dari Inisiatif Sabuk dan Jalan merupakan hal yang selalu dipertanyakan. Utang 27 negara Inisiatif Sabuk dan Jalan dianggap sebagai “sampah” oleh tiga lembaga pemeringkat utama, sementara 14 negara lainnya tidak memiliki peringkat sama sekali.

Keputusan investasi sering kali tampaknya didorong oleh kebutuhan geopolitik, alih-alih kesadaran finansial. Di Asia Selatan dan Asia Tenggara, pengembangan pelabuhan yang mahal adalah studi kasus yang sangat baik. Laporan CSIS tahun 2016 menilai bahwa tidak ada proyek pelabuhan di Samudra Hindia yang didanai melalui Inisiatif Sabuk dan Jalan yang memiliki banyak harapan akan kesuksesan finansial. Proyek-proyek tersebut kemungkinan diprioritaskan untuk utilitas geopolitik mereka.

Proyek-proyek yang kurang jelas terhubung dengan kebutuhan keamanan China mengalami lebih banyak kesulitan: firma riset RWR Advisory Group mencatat bahwa 270 proyek infrastruktur Inisiatif Sabuk dan Jalan di wilayah tersebut (atau 32 persen dari total nilai keseluruhan) telah ditunda karena bermasalah dengan kepraktisan atau kelayakan finansial. Terdapat kesenjangan besar antara apa yang telah dinyatakan oleh China untuk mereka belanjakan dan apa yang sebenarnya mereka belanjakan.

Ada juga kesenjangan antara bagaimana proyek-proyek Inisiatif Sabuk dan Jalan seharusnya dipilih dan bagaimana mereka sebenarnya telah dipilih. Xi dan para pemimpin partai lainnya telah menandai investasi Inisiatif Sabuk dan Jalan di Eurasia sebagai “koridor ekonomi” yang ditentukan yang akan secara langsung menghubungkan China ke pasar dan komunitas di bagian lain benua. Artinya, partai berharap untuk menyalurkan modal ke daerah-daerah di mana mereka akan memiliki manfaat jangka panjang terbesar dan akan memungkinkan peningkatan infrastruktur kumulatif.

Hal ini nyatanya belum terjadi: sebuah analisis dari 173 proyek Inisiatif Sabuk dan Jalan menyimpulkan bahwa dengan pengecualian Koridor Ekonomi China-Pakistan (CPEC) “tampaknya tidak ada hubungan yang signifikan antara partisipasi koridor dan kegiatan proyek (menunjukkan bahwa) kelompok kepentingan di dalam dan di luar China condong terhadap visi kebijakan luar negeri andalan Presiden Xi.”

Kecenderungan ini merupakan hasil yang tak terhindarkan dari sistem politik internal China. Proyek Inisiatif Sabuk dan Jalan tidak diarahkan secara terpusat. Sebaliknya, instansi di negara bagian seperti pemerintah provinsi dan daerah telah ditugaskan untuk mengembangkan proyek Inisiatif Sabuk dan Jalan mereka sendiri.

Para pejabat yang bertanggung jawab atas proyek-proyek ini tidak memiliki insentif untuk menyetujui investasi yang sehat secara finansial: pada saat proyek apa pun terwujud, mereka akan dipindahkan di tempat lain. Proyek-proyek Inisiatif Sabuk dan Jalan dibentuk oleh insentif politik yang dihadapi perencana mereka di China: Tidak ada cara yang lebih baik untuk menandakan kesetiaan seseorang kepada Xi daripada dengan bekerja untuk inisiatif kebijakan luar negeri yang disukainya. Melalui perspektif ini, kriteria paling penting untuk sebuah proyek adalah seberapa mudah label Inisiatif Sabuk dan Jalan dapat dipasangkan padanya.

Inilah mengapa banyak proyek Inisiatif Sabuk dan Jalan yang lebih menjanjikan telah dijadwalkan atau sedang dibangun jauh sebelum Xi mengumumkan visinya untuk inisiatif ini. Proyek-proyek tersebut telah diberi nama baru dengan label Inisiatif Sabuk dan Jalan untuk menjilat pimpinan partai. (Kadang-kadang rebranding ini mencapai proporsi yang janggal: terowongan rel Marmaray Turki, misalnya, baru-baru ini dipuji oleh Bank Dunia sebagai investasi Inisiatif Sabuk dan Jalan yang patut dicontoh, meskipun didanai oleh konsorsium Turki-Uni Eropa-Jepang dan tampaknya tidak ada keterlibatan China.)

Lebih mudah untuk mengubah citra proyek yang berhasil sebagai bagian dari Inisiatif Sabuk dan Jalan, daripada menciptakan proyek yang berhasil dari nol.

Kenyataan ini membantu menjelaskan ketenangan yang dimiliki oleh investor swasta dalam inisiatif ini. Meskipun ada kontrol modal yang ketat pada investasi non-Inisiatif Sabuk dan Jalan, hanya 12 persen dari investasi asing langsung China telah diarahkan ke negara-negara yang berpartisipasi dalam Inisiatif Sabuk dan Jalan (dan sepertiganya masuk ke negara maju di Korea Selatan, Israel, dan Singapura). Seruan pemerintah untuk partisipasi dari mitra internasional dan investasi swasta telah diabaikan: perusahaan besar milik negara dan kebijakan pemerintah menyediakan lebih dari 95 persen pendanaan Inisiatif Sabuk dan Jalan. Inisiatif tersebut tidak dipercaya oleh investor.

Ini mungkin tidak masalah jika proyek-proyek Inisiatif Sabuk dan Jalan mendorong hasil politik yang menguntungkan. Nyatanya tidak demikian. Paparan yang berkepanjangan terhadap proses Inisiatif Sabuk dan Jalan telah mendorong penentangan terhadap investasi China dan pengaruh geopolitik di seluruh wilayah.

Di Maladewa, Partai Progresif Maladewa pro-China digulingkan pada tahun 2018 oleh Partai Demokrat Maladewa, yang menjalankan platform yang secara tegas menolak inisiatif tersebut. Presiden baru Maladewa menyebut Inisiatif Sabuk dan Jalan sebagai “penipu besar” dan “perangkap utang” yang harus ditinggalkan atau dinegosiasikan ulang.

Dia memiliki semangat yang sama dengan Mahathir Mohamad, perdana menteri baru Malaysia, yang menggambarkan proyek-proyek Inisiatif Sabuk dan Jalan sebagai bentuk “kolonialisme baru” yang harus ditolak. Upaya pemerintah China untuk menciptakan kecenderungan pro-China yang stabil di Sri Lanka hanya memunculkan ketidakstabilan politik, dengan Presiden Maithripala Sirisena meluncur makin jauh dari politisi Sri Lanka yang terhubung ke China ketika situasi membutuhkan.

Di Bangladesh, pihak berwenang baru-baru ini memasukkan perusahaan China, Harbour Engineering Company, salah satu perusahaan konstruksi Inisiatif Sabuk dan Jalan paling aktif di kawasan itu, ke dalam daftar hitam karena tuduhan korupsi.

Burma sangat khawatir dengan tren regional sehingga menahan proyek pelabuhan Inisiatif Sabuk dan Jalan yang didanai sendiri di Kyaukpyu sampai China setuju untuk mengurangi skalanya hingga 80 persen. Nepal dan Pakistan juga menuntut agar China membatalkan atau menyesuaikan kembali proyek yang sedang berjalan di negara mereka.

Di Pakistan barat, oposisi terhadap inisiatif tersebut berubah menjadi kekerasan. Akhir bulan November 2018, kelompok separatis Baluchi menyerang konsulat China di Karachi, memperlakukan investasi infrastruktur China di wilayah mereka sebagai ancaman terhadap impian kemerdekaan mereka. Para analis China yang berharap bahwa investasi Inisiatif Sabuk dan Jalan akan membantu menstabilkan perbatasan China dan meredakan ancaman yang dihadapinya dari separatis etnis di dalam China sekarang harus mencapai kesepakatan dengan inisiatif yang melibatkan China dalam konflik dengan separatis di luarnya.

Masalah yang dihadapi China dengan Inisiatif Sabuk dan Jalan berasal dari kontradiksi yang melekat pada tujuan yang diharapkan oleh para pemimpin partai untuk prakarsa ini dan sarana yang mereka sediakan untuk mencapainya. Proyek-proyek Inisiatif Sabuk dan Jalan dipilih melalui sistem manajemen proyek yang didesentralisasi dan kemudian didanai melalui pinjaman lunak yang ditawarkan terutama oleh bank kebijakan Republik Rakyat China. Ini adalah resep untuk eskalasi biaya dan korupsi.

Di negara-negara seperti Kamboja, negara satu partai yang diperintah oleh otokrat, keadaan ini memungkinkan, karena hanya ada sedikit kesempatan para pemimpin akan bertanggung jawab untuk mengisi kantong mereka (atau, lebih jarang, pundi-pundi komunitas lokal mereka) dari keuangan seluruh bangsa. Tetapi sebagian besar negara sasaran Inisiatif Sabuk dan Jalan bukanlah Kamboja.

Di negara-negara demokrasi, cara melakukan hal-hal ini sama sekali tidak berkelanjutan, dan di sebagian besar negara Inisiatif Sabuk dan Jalan, hanya masalah waktu sebelum oposisi yang marah ingin menyerang lawan-lawan mereka dengan isu penyelewengan kuasa, dipersenjatai dengan bukti proyek yang salah tempat atau eksploitatif.

Jika kepemimpinan partai bersedia untuk menuangkan sumber daya tambahan ke negara-negara sasaran setiap kali kekuasaan berpindah tangan, mereka mungkin dapat menumpulkan oposisi semacam ini. Pemerintah China belum terbukti mau melakukan ini.

Sifat investasi Inisiatif Sabuk dan Jalan yang kacau-balau telah menyebabkan masalah lain bagi kepemimpinan partai: sementara pemerintah lokal China dan perusahaan milik negara bersedia meminjamkan begitu banyak sehingga investasi Inisiatif Sabuk dan Jalan mengancam untuk mendorong beberapa negara menuju kondisi default, pemerintah pusat tidak bersedia menjadi pemberi pinjaman sebagai jalan terakhir untuk negara-negara yang telah demikian didorong.

Seperti Pakistan bulan November 2018, sebagian besar negara yang dipaksa ke tingkat ekstrem ini hanya memiliki satu pilihan: memohon solusi dari IMF. Untuk negara-negara seperti itu, hasil akhir dari investasi China adalah ketergantungan yang bahkan lebih kuat pada sistem keuangan yang dipimpin Barat.

Alih-alih menjadi langkah strategis, Inisiatif Sabuk dan Jalan adalah tanda disfungsi strategis. Tidak ada bukti bahwa inisiatif tersebut telah membentuk kembali realitas geopolitik Asia. Negara-negara yang paling diuntungkan darinya adalah mereka yang sudah memiliki alasan geopolitik yang kuat untuk menyelaraskan diri dengan kekuatan China, seperti Kamboja dan Pakistan.

Perluasan Inisiatif Sabuk dan Jalan di seluruh dunia sangat mengkhawatirkan bukan karena ancaman strategis yang ditimbulkannya terhadap tatanan internasional yang berlaku, tetapi karena apa yang ditunjukkan kepada kita mengenai cara kerja internal China sebagai negara otoriter paling kuat di dunia.

Masalah-masalah ini bukanlah hal baru. Selama tiga tahun terakhir bahkan bank-bank milik pemerintah China telah berusaha membebaskan diri dari pengeluaran lebih banyak untuk prakarsa ini. Namun terlepas dari masalah ini, Inisiatif Sabuk dan Jalan meluas ke negara dan benua baru. Alasannya sudah cukup jelas: tidak ada program kebijakan luar negeri lainnya yang dikaitkan secara pribadi dengan Xi seperti ini.

Klimaks Xi terhadap kepemimpinan permanen pada Kongres Partai ke-19 pada musim semi lalu berarti bahwa inisiatif kebijakan luar negerinya juga harus ditingkatkan dan ditulis langsung ke dalam konstitusi Partai Komunis China.

Menyerang Inisiatif Sabuk dan Jalan saat ini akan berarti menyerang legitimasi partai itu sendiri. Inisiatif Sabuk dan Jalan adalah bukti bahwa sistem pembuatan kebijakan partai yang dulu responsif kini telah rusak. Negara-negara lain di dunia harus menyadari bahwa Inisiatif Sabuk dan Jalan bertahan hanya karena itu adalah gagasan favorit pemimpin otoriter yang diagungkan di negaranya sendiri.

Baca Juga: Survei Buktikan Asia Tenggara Khawatirkan Inisiatif Sabuk dan Jalan China

Tanner Greer adalah penulis dan analis yang sebelumnya berbasis di luar Beijing, China. Riset Greer berfokus pada evolusi pemikiran strategis Asia Timur mulai dari era Sunzi hingga saat ini.

Keterangan foto utama: Presiden China Xi Jinping, Gubernur Jenderal Papua Nugini Bob Dadae, dan Kepala Pertahanan Papua Nugini Gilbert Toropo menghadiri upacara penyambutan untuk kunjungan kenegaraan Xi di Port Moresby, 16 November 2018. (Foto: AFP/Getty Images/David Gray)

Satu Sabuk, Satu Jalan, Satu Kesalahan Besar

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top