Taliban
Timur Tengah

Sudah Waktunya Amerika Percaya kepada Taliban

Berita Internasional >> Sudah Waktunya Amerika Percaya kepada Taliban

Gerilyawan jihad Afghanistan siap memberikan apa yang diinginkan Amerika Serikat: kekalahan tanpa penghinaan. Dengan demikian, pertanyaan utamanya adalah apakah kesepakatan dapat dicapai dengan Taliban mengenai kontrol atas negara Afghanistan. Jika kesepakatan itu dapat dicapai, mungkinkah hal itu akan bertahan? 

Baca juga: Amerika dan Taliban Setuju untuk Menyusun Kerangka Kerja Perdamaian

Oleh: Anatol Lieven (Foreign Policy)

Dalam proses perdamaian yang sekarang sedang berlangsung dengan Taliban Afghanistan, satu setengah kepentingan Amerika Serikat sedang dipertaruhkan. “Setengah” bagian dari kepentingan tersebut adalah satu-satunya penghalang untuk menandatangani kesepakatan dan membawa pulang pasukan Amerika sekarang juga.

Bagi rakyat Afghanistan, tentu saja, pertaruhan dalam perang ini berbeda dan jauh lebih tinggi daripada bagi rakyat Amerika, kepada siapa satu-satunya kepentingan vitalnya paling mudah dicapai: kesepakatan Taliban untuk tidak menjadi tuan rumah bagi teroris internasional dan melakukan yang terbaik untuk mencegah Afghanistan dari sekali lagi digunakan sebagai pangkalan terorisme melawan Barat secara umum dan Amerika Serikat pada khususnya.

Siapa saja akan yakin bahwa Taliban tidak hanya akan menyetujui hal ini tetapi juga menindaklanjuti perjanjian tersebut. Bukan hanya karena pendukung dan lawan bicara Taliban, dalam pernyataan publik dan percakapan pribadi, hampir secara universal mengakui bahwa menjadi tuan rumah Al-Qaeda menjelang serangan 9/11 adalah kesalahan mengerikan yang membuat mereka harus mengorbankan kekuasaan atas Afghanistan. Itu juga karena Taliban sekarang terlibat dalam pertempuran sengit dengan pasukan ISIS, yang secara jelas merupakan teroris internasional anti-Barat, untuk menguasai bagian-bagian Afghanistan.

Peran Taliban sebagai musuh ISIS, serta persiapan yang bijaksana untuk kemungkinan runtuhnya tatanan yang didukung AS di Kabul, telah mengarahkan Rusia dan China untuk memulai pembicaraan dengan Taliban.

Akhirnya, sementara militer Pakistan telah mendukung Taliban Afghanistan sebagai gerakan pendukung melawan pengaruh India di Afghanistan, mereka sama sekali tidak tertarik untuk mendorong terulangnya serangan 11 September 2001 dan bencana yang terjadi berikutnya di Pakistan. Jika Pakistan memang memiliki niat seperti itu, pendukung mereka dari China, dengan kekhawatiran mereka sendiri tentang ekstremisme Islam di Xinjiang, akan menghalangi dengan sangat kuat.

Kepentingan kedua AS yang nyata dalam proses ini adalah apa yang disebut di Amerika sebagai “kredibilitas,” tetapi yang lebih dikenal dengan nama yang lebih tua dan lebih jujur, “prestise.” Dalam hal ini, menghindari kekalahan yang jelas dan memalukan akan merusak rasa hormat terhadap kekuatan AS dan menimbulkan keberanian bagi musuh-musuh AS di tempat lain.

Seperti yang dikatakan oleh seorang jenderal AS sepuluh tahun lalu, dia dan rekan-rekannya tidak bisa membayangkan seperti apa kemenangan di Afghanistan, tetapi mereka semua bisa membayangkan kekalahan. Kekalahan bagi mereka akan terlihat seperti Saigon tahun 1975. Dalam kasus Afghanistan, kekalahan kemungkinan besar tidak akan berwujud kemenangan Taliban secara langsung, tetapi berupa keruntuhan negara Afghanistan, diikuti oleh kemenangan Taliban atas wilayah yang luas, serta perang saudara yang mendalam dan permanen dengan kekuatan etnis lainnya.

Selain prestise, ada juga minat konkret AS untuk mencegah hasil seperti itu. Perang saudara skala penuh seperti itu akan menimbulkan peningkatan arus pengungsi Afghanistan ke Eropa. Mengingat apa yang terjadi karena krisis pengungsi Suriah, arus pengungsi Afghanistan dapat memberikan pukulan mematikan bagi demokrasi liberal di Eropa.

Tak hanya itu, reaksi kelompok nasionalis Eropa yang ditimbulkan akan menghancurkan seluruh citra demokrasi yang dipimpin AS di dunia. Namun, untuk mencegahnya, perlu dilakukan perjanjian dengan Turki dan Iran serta konsesi besar untuk mereka, yang akan merusak posisi geopolitik Amerika di Timur Tengah.

Dengan demikian, pertanyaan utamanya adalah apakah kesepakatan dapat dicapai dengan Taliban mengenai kontrol atas negara Afghanistan. Jika kesepakatan itu dapat dicapai, mungkinkah hal itu akan bertahan?

Pertanyaan kunci di sini bukanlah budaya atau ideologi, melainkan kekuatan. Afghanistan sudah memiliki konstitusi Islam, yang dapat diubah agar terlihat jauh lebih Islami. Tetapi dalam hal kekuasaan di pusatnya, Taliban mau tidak mau akan menuntut pemerintah pusat yang kuat di mana mereka akan memiliki bagian yang sangat besar atau pemerintah netral, mungkin di bawah konstitusi parlementer baru, dengan kekuatan nyata yang sangat sedikit.

Apa pun yang terjadi, mereka akan menuntut kontrol de facto (meskipun tidak harus eksplisit dan formal) atas wilayah inti dukungan mereka di sebagian besar Kandahar, sebagian besar Paktia, dan Kunduz, termasuk kontrol militer de facto oleh pasukan Taliban yang tergabung dalam Tentara Nasional Afghanistan dan polisi.

Untuk menilai berdasarkan rekam jejak mereka pada tahun 1990-an, sebagian besar penentang Taliban di daerah-daerah tersebut akan diizinkan oleh Taliban untuk pulang dengan damai. Para pemimpin garis keras anti-Taliban harus pergi atau mati.

Karena itu pertanyaannya adalah apakah perjanjian pembagian kekuasaan seperti itu dapat dicapai antara negara Afghanistan yang telah ada dan Taliban. Jika kesepakatan itu tercapai, apakah hal itu akan bertahan setidaknya cukup lama bagi Amerika Serikat untuk menarik pasukan tanpa penghinaan. Jika kesepakatan seperti itu runtuh setelah beberapa tahun, hal itu akan tetap mengerikan bagi Afghanistan, tetapi publik AS pasti telah melupakan Afghanistan dan tidak diragukan lagi bahwa kepemimpinan AS akan menemukan pihak lain yang dapat disalahkan atas kegagalan Amerika.

Saat ini, tampaknya sangat mustahil bagi pemerintah Afghanistaan untuk menyetujui persyaratan tersebut. Amerika tentu saja dapat memaksanya dengan ancaman penarikan sepihak, tetapi kemudian membuang sebagian besar kemampuannya untuk mempertahankan tekanan terhadap Taliban. Di sinilah wilayah tersebut hadir. Faktanya, menahan perilaku Taliban setelah penarikan pasukan AS bukanlah tugas Amerika Serikat, melainkan tugas negara tetangga Afghanistan: Pakistan, Iran, China, Rusia, dan India, sehingga mereka harus secara terpusat diikutsertakan dalam proses perdamaian.

Tentu saja, hubungan AS saat ini dengan Rusia dan China hampir tidak memungkinkan keterlibatan keduanya. Amerika Serikat bahkan sama sekali tidak memiliki hubungan langsung dengan Iran. Bantuan China juga diperlukan untuk mempengaruhi Pakistan agar tidak menggunakan Afghanistan sebagai pangkalan terorisme yang ditujukan terhadap India.

Ada satu hal yang dapat diberikan Amerika Serikat kepada China, Rusia, dan Iran sebagai imbalan atas bantuan mereka dan yang harus tetap diberikan sebagai bagian dari perjanjian apa pun dengan Taliban. Setiap gagasan pangkalan jangka panjang AS di Afghanistan, yang dikhawatirkan China, Rusia, dan Iran dapat digunakan untuk mengancam mereka, harus ditinggalkan. Ini adalah sesuatu yang mutlak dituntut oleh Taliban, dan seharusnya dapat diberikan Amerika Serikat dengan mudah.

Agar tidak menjadi aset strategis, pangkalan-pangkalan tersebut dalam jangka panjang berada di antara kewajiban strategis dan kumpulan kamp sandera. Mengingat posisi geografis mereka dan ketidakstabilan jangka panjang Afghanistan, akan sangat bodoh untuk meninggalkan pasukan AS di sana secara permanen. Terlepas dari hal lain, hal itu bukan ancaman nyata bagi Iran, tetapi justru target potensial untuk serangan yang didukung Iran.

Akhirnya, dua masalah lain setidaknya harus disebutkan. Taliban tidak mengancam hak-hak modern wanita di sebagian besar Afghanistan karena hak-hak seperti itu tidak pernah ada di sebagian besar Afghanistan. Beberapa kekejaman terburuk terhadap perempuan dalam beberapa tahun terakhir terjadi di daerah-daerah yang dikontrol oleh pasukan yang bersekutu dengan Amerika Serikat dan pemerintah Afghanistan.

Baca juga: AS dan Taliban Temukan Titik Cerah untuk Akhiri Perang Terlama Amerika

Sama seperti sebelum tahun 1992, ketika kota dihancurkan oleh mujahidin yang didukung AS, sejak tahun 2001, kawasan liberalisme relatif dan kemajuan telah dibuat di pusat Kabul. Terdapat kemungkinan agar Taliban di masa depan dapat menghormati ini hingga tingkat tertentu dengan imbalan kebebasan di wilayah mereka sendiri, tetapi hanya jika pemerintah Afghanistan dan para elit mereka yang telah terwesternisasi tetap aman sebagai saluran untuk sejumlah besar bantuan keuangan luar. Jika Barat ingin pemerintah Afghanistan memainkan peran ini dalam jangka panjang, Barat harus membayarnya pula dalam jangka panjang.

Satu masalah terakhir yang tidak akan terlalu mempengaruhi Amerika Serikat tetapi merupakan momok besar bagi Eropa, Rusia, dan Iran ialah perdagangan heroin Afghanistan. Kepemimpinan Taliban akan sangat senang untuk menekan perdagangan ini, seperti yang mereka lakukan pada tahun 1999-2001, jika mereka bisa mendapatkan kesepakatan yang sama yang mereka tawarkan pada tahun-tahun itu: pengakuan internasional dan bantuan internasional yang disalurkan melalui mereka.

Secara moral, Taliban selalu merasa gelisah tentang perdagangan tersebut, terutama karena jumlah pecandu Afghanistan telah meningkat. Perdagangan heroin Afghanistan juga cenderung merusak komando pusat dan mempromosikan prinsip perang independen, di mana sedangkan bantuan yang diarahkan melalui kepemimpinan Taliban akan membantu konsolidasi kekuatan mereka.

Jika Amerika Serikat menempuh jalan ini, kemudian mengikuti kesepakatan damai, Amerika mungkin akan mendanai Taliban untuk berperang melawan pasukan perang perdagangan heroin yang telah didukung Amerika selama 17 tahun terakhir untuk berperang melawan Taliban. Dengan demikian, perang Afghanistan akan berakhir dalam komedi hitam yang paling gelap.

Anatol Lieven adalah profesor di Universitas Georgetown di Qatar dan seorang peneliti senior di New America di Washington. Lieven adalah penulis buku America Right or Wrong: An Anatomy of American Nationalism.

Keterangan foto utama: Seorang perwakilan Taliban menghadiri pembicaraan internasional tentang Afghanistan di Moskow, Rusia, tanggal 9 November 2018. (Foto: Getty Images/AFP/Yuri Kodobnov)

Sudah Waktunya Amerika Percaya kepada Taliban

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top