Perang Mata Uang
Asia

Tahun 2019, Asia Bisa Terjebak dalam Perang Mata Uang

Presiden Amerika Serikat Donald Trump bisa jadi akan memicu perang mata uang pada tahun 2019. (Foto: AFP)
Berita Internasional >> Tahun 2019, Asia Bisa Terjebak dalam Perang Mata Uang

Seiring pertempuran perang dagang berakhir, Trump meningkatkan teater konflik berikutnya: Pasar mata uang. Selama dua tahun terakhir, Trump tidak merahasiakan keyakinannya bahwa nilai tukar mata uang “membunuh kita.” Dan bahwa pemerintah mulai dari Beijing, Tokyo, hingga Seoul memperoleh keuntungan perdagangan dengan mengorbankan pekerja AS. Ini saatnya untuk mengencangkan sabuk pengaman seiring tahun 2019 dimulai—ketika perang Trump meluas hingga memengaruhi mata uang Asia.

Baca juga: Lemahnya Mata Uang Untungkan China dalam Perang Dagang

Oleh: William Pesek (Asia Times)

Dengan metriknya sendiri, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kalah dalam perang dagang, dan dengan sangat memalukan. Tentu saja, Produk Domestik Bruto (PDB) China sedang sangat terpuruk, tak peduli apa yang Beijing akui dalam data resminya.

Tren dalam ekspor, investasi aset tetap, pesanan pembelian, dan pendapatan Apple Inc, adalah bukti penurunan dalam aktivitas di daratan China.

Tetapi Trump memiliki tiga tujuan dalam pikirannya ketika ia memberlakuan tarif pada barang-barang China senilai $250 miliar—dua dalam jangka pendek, satu untuk jangka panjang.

Dua tujuan pertama adalah pembalikan besar tren defisit perdagangan dan perayaan di Wall Street. Tujuan jangka panjangnya adalah menghentikan desain China pada sektor-sektor utama yang mendominasi teknologi dan lainnya pada tahun 2025.

Namun, ketidakseimbangan periodikal antara Washington dengan Beijing baru saja mencapai rekor tertinggi. Hingga Oktober, ekspor AS ke China turun hampir $1 miliar dari tahun sebelumnya, senilai sekitar $102 miliar. Terlebih lagi, defisit keseluruhan Washington dengan dunia secara tepat melonjak $100 miliar di bawah pengawasan Trump sejak awal tahun 2017.

Mengapa Trump Setuju Tunda Pemberlakuan Tarif Lanjutan untuk China?

Presiden Trump dan Presiden China Xi Jinping berpose di Kota Terlarang di Beijing pada 8 November 2017. Pada 3 Desember 2018, Trump membual bahwa hubungan AS telah mencapai “kemajuan BESAR” setelah pertemuannya di Argentina dengan Xi. (Foto: AFP/Getty Images/Jim Watson)

Krisis Lehman Brothers

Pada tahun 2018, Dow Jones Industrial Average membukukan kerugian terburuk sejak 2008—tahun krisis Lehman Brothers.

Tujuan nomor tiga untuk menghentikan perkembangan China tidak terjadi. Seperti yang dijelaskan oleh Presiden China Xi Jinping dalam pidatonya di Tahun Baru, dorongan reformasi tidak akan “mandek.” Dengan kata lain, rencana ambisius “Made in China 2025” yang dikhawatirkan Trump akan tetap pada jalurnya.

Seiring pertempuran dalam perang dagang berakhir, Trump meningkatkan teater konflik berikutnya: Pasar mata uang. Trump memberikan beberapa rencana pertempuran dengan serangannya terhadap Federal Reserve. Dia menghabiskan sebagian besar bulan Desember menyalahkan Jerome Powell—Ketua The Fed yang dia pilih sendiri—karena terlalu ketat, bahkan menyebut otoritas moneter paling kuat di dunia itu “gila.”

Itu—bisa ditebak—memperdalam kehancuran pasar saham. Belum pernah Gedung Putih secara terbuka mengecam The Fed yang seharusnya bebas dari campur tangan politik. Namun kekhawatiran sebenarnya adalah apa yang ada di balik pertikaian Trump-Fed—kemarahan karena dolar yang kuat.

Selama dua tahun terakhir, Trump tidak merahasiakan keyakinannya bahwa nilai tukar mata uang “membunuh kita.” Dan bahwa pemerintah mulai dari Beijing, Tokyo, hingga Seoul memperoleh keuntungan perdagangan dengan mengorbankan pekerja AS. Namun retorikanya tidak didukung dengan aksi.

Benar, Menteri Keuangan Steve Mnuchin secara efektif menyatakan diakhirinya kebijakan dolar yang kuat selama 24 tahun pada Januari 2018. Gedung Putih dengan cepat mundur karena pasar menguat.

Pada tahun 2019, kemungkinan akan terjadi dorongan mata uang baru. Salah satu motivasi: pertumbuhan AS kehilangan momentum. Trump ingin terus menjaga sumber utama legitimasinya. Tujuan yang lebih besar, mengingatkan Asia siapa bosnya.

Xi dari China adalah target utama. Namun, begitu juga Shinzo Abe dari Jepang dan Moon Jae-in dari Korea Selatan, keduanya bergulat dengan pertumbuhan yang melambat.

Meskipun Abe adalah sahabat Trump di antara para pemimpin dunia, namun Trump kesal karena Tokyo menunda negosiasi perdagangan bebas. Putus asa untuk menang di panggung global—kemenangan apa pun—pandangan Trump membuat Jepang mengimpor lebih banyak mobil Amerika sebagai pilihan terbaik.

korea utara dan korea selatan

Presiden AS Donald Trump memberi isyarat ketika dia menyambut Presiden Korea Selatan Moon Jae-In di Ruang Oval Gedung Putih di Washington, AS, pada tanggal 22 Mei 2018. (Foto: Reuters/Kevin Lamarque)

Kurangnya kemajuan

Sikap Trump terhadap Moon telah mendingin karena kurangnya kemajuan dalam denuklirisasi Korea Utara. Walau ini bukan tugas Moon. Tetap saja, pandangan Trump soal (Korea Selatan sebagai) negara-bawahan AS membuat dia kecewa bahwa Moon belum menegosiasikan perdamaian dengan Kim Jong-un—yang tentu saja akan memberikan penghargaan kepada Trump.

Semua ini membuat Jepang dan Korea Selatan secara khusus rentan terhadap perlemahan dolar yang menjadi tujuan Trump. Bahkan saat ini, Abe dan Moon menghadapi hambatan ekspor.

Keduanya menghadapi kekecewaan tentang kurangnya keberhasilan dalam menaikkan upah, produktivitas, dan daya saing yang mengurangi angka persetujuan mereka. Keduanya juga menghadapi permintaan Trump untuk perjanjian non-manipulasi pada mata uang.

Itu semacam kode untuk “Plaza Accord” yang baru. Kesepakatan yang diteken pada tahun 1985 itu—di sebuah hotel di New York yang dimiliki Trump pada saat itu—mendevaluasi dolar terhadap yen.

Baca juga: Amerika Tarik Mata Uang China ke Perang Dagang Saat IMF Serukan Resolusi

Pada paruh kedua masa jabatannya, Trump telah mengatur untuk membuat China, Jepang, dan Korea Selatan menyetujui nilai tukar yang lebih kuat untuk memberinya kemenangan yang sangat dibutuhkan.

Mengingat bahwa Demokrat sekarang mengendalikan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS, prospek legislatif Trump secara efektif mati. Dia akan mengandalkan tindakan eksekutif untuk mengubah narasi dari skandal dan investigasi yang mengaburkan kepresidenannya. Cara termudah adalah mengintensifkan perang dagang dan bermain-main dengan nilai tukar.

Dengan kata lain, saatnya untuk mengencangkan sabuk pengaman seiring tahun 2019 dimulai—ketika perang Trump meluas hingga memengaruhi mata uang Asia.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Presiden Amerika Serikat Donald Trump bisa jadi akan memicu perang mata uang pada tahun 2019. (Foto: AFP)

Tahun 2019, Asia Bisa Terjebak dalam Perang Mata Uang

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top