Terorisme
Asia

Tak Ada Lagi Alasan bagi Pakistan untuk Dukung Terorisme

Kendaraan terbakar di sepanjang jalan, saat protes di Jammu pada tanggal 15 Februari, sehari setelah serangan terhadap konvoi Pasukan Polisi Cadangan Sentral di Pulwama, Kashmir. (Foto: AFP/Getty Images/Rakesh Bakshi)
Berita Internasional >> Tak Ada Lagi Alasan bagi Pakistan untuk Dukung Terorisme

Tak ada lagi alasan bagi Pakistan untuk mendukung (atau mengabaikan) terorisme. Sebuah bom bunuh diri menewaskan setidaknya 40 anggota paramiliter India di Kashmir, di mana Jaish-e-Mohammed—organisasi teroris yang berbasis di Pakistan—telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu. Selama dua dekade terakhir, tidak ada bukti bahwa Pakistan telah melakukan upaya serius dalam membongkar infrastruktur teroris ini. Dan mengingat Jaish-e-Mohammed mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu, Pakistan tidak dapat menolak bertanggung jawab atas serangan ini.

Baca juga: Pakistan Dituntut Mainkan Peran Lebih Besar di Koalisi Anti-Terorisme Saudi

Oleh: Dhruva Jaishankar (Foreign Policy)

Pada Kamis (14/2), sebuah ledakan besar mengguncang konvoi Pasukan Polisi Cadangan Sentral (CRPF) di Pulwama di negara bagian India, Jammu dan Kashmir. Sedikitnya 40 personel CRPF—paramiliter berkekuatan 300 ribu pasukan di bawah Kementerian Dalam Negeri, yang terlibat dalam tugas hukum dan ketertiban serta kontraterorisme—terbunuh ketika seorang pelaku bom bunuh diri mengendarai sebuah SUV yang dilaporkan memuat sekitar 600 pon bahan peledak ke arah bus mereka.

Jaish-e-Mohammed—organisasi teroris yang berbasis di Pakistan—telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu, dan peran kelompok itu telah dikonfirmasi oleh para pejabat India. Serangan itu terjadi beberapa minggu sebelum pemilihan umum India, yang diperkirakan akan diadakan pada bulan Maret dan April.

Pagi berikutnya, Komite Kabinet India untuk Keamanan—yang terdiri dari Perdana Menteri dan empat menteri senior—mengadakan pertemuan darurat dan, sebagai langkah pertama, mengumumkan pencabutan status perdagangan “negara yang paling disukai” untuk Pakistan. India telah memberikan status ini kepada Pakistan pada tahun 1996, meskipun Pakistan tidak pernah membalas. Tetapi ini hanyalah salah satu dari tindakan pembalasan yang kemungkinan akan diambil, setelah aksi terorisme Islam terburuk di India sejak serangan Mumbai pada tahun 2008.

Selama beberapa dekade, teroris Islam yang tergabung dalam kelompok-kelompok seperti Jaish-e-Mohammed dan Lashkar-e-Taiba telah mendapat manfaat dari perekrutan, pembiayaan, pelatihan, dan bentuk-bentuk dukungan lain yang diberikan oleh lembaga keamanan Pakistan. Kelompok yang menargetkan India dan Afghanistan terus beroperasi dengan kekebalan hukum di dalam Pakistan, yang hanya menindak militansi terhadap negara Pakistan.

Di Jammu dan Kashmir, infiltrasi lintas-batas telah difasilitasi oleh direktorat Intelijen Antar-Layanan Pakistan—badan intelijen eksternal utamanya, yang dijalankan oleh militer—dan Angkatan Darat Pakistan, yang menyediakan perlindungan dalam bentuk artileri dan tembakan senjata melintasi Garis Kontrol yang memisahkan wilayah yang dikuasai India dan Pakistan.

Terlepas dari pasang surut hubungan India-Pakistan selama dua dekade terakhir, tidak ada bukti bahwa Pakistan telah melakukan upaya serius dalam membongkar infrastruktur teroris ini. Meskipun frekuensi serangan telah berkurang, namun infiltrasi lintas-perbatasan berlanjut secara teratur: Sebagian besar teroris ini dengan cepat dihentikan atau dicegah oleh pasukan keamanan India, dan serangan-serangan yang telah berhasil—termasuk yang terjadi di Uri pada tahun 2016—secara umum beruntung karena adanya kelalaian.

Mengingat Jaish-e-Mohammed mengklaim bertanggung jawab atas serangan Pulwama, dan kelompok itu beroperasi secara terbuka di wilayahnya, Pakistan tidak dapat mengandalkan—seperti yang terjadi di masa lalu—penyangkalan yang masuk akal untuk menolak bertanggung jawab atas serangan ini.

Pasukan keamanan India memeriksa sisa-sisa kendaraan setelah serangan mematikan terhadap konvoi Pasukan Polisi Cadangan Sentral dekat Awantipur di distrik Pulwama di Kashmir, pada 14 Februari. (Foto: STR/AFP/Getty Images)

Serangan Pulwama menandai perpanjangan tren terbaru terorisme di India. Terlepas dari beberapa insiden terkenal dalam beberapa tahun terakhir, frekuensi dan tingkat keparahan terorisme di negara ini telah mengalami penurunan yang stabil sejak tahun 2002, dan jauh di bawah level tertinggi tahun 1990-an.

Lebih dari 1.000 warga sipil tewas dalam serangan teroris setiap tahun di India antara tahun 2005 hingga 2008. Jumlah itu telah turun menjadi sekitar 200 setiap tahun sejak tahun 2015. Di Jammu dan Kashmir saja, kematian warga sipil akibat terorisme menurun—sebagian besar sebagai akibat dari tekanan internasional dan peningkatan keamanan—dari perkiraan 1.700 korban pada tahun 2001 menjadi 285 pada tahun 2007, dan 33 pada tahun 2012. Jumlahnya kemudian naik kembali menjadi 181 tahun lalu, sebagian sebagai konsekuensi dari agitasi di Lembah Kashmir setelah Juli 2016 dan keputusan Pakistan untuk mencoba memanfaatkan situasi ini.

Sifat terorisme di India telah mengalami perubahan mendasar selama periode ini. Antara tahun 2000 hingga 2008—seiring kekerasan di Jammu dan Kashmir terus menurun—serangan teroris Islam mulai terjadi dengan frekuensi yang mengkhawatirkan di kota-kota besar India.

Baca juga: Bukan dari Timur Tengah, Ini Wajah Baru Terorisme di Tahun 2019

Kematian meningkat, di mana antara 20 hingga 200 orang tewas dalam serangan di Mumbai pada tahun 2003; New Delhi pada tahun 2005; Varanasi dan Mumbai pada tahun 2006; Hyderabad pada tahun 2007; dan Jaipur, Ahmedabad, New Delhi, dan Mumbai pada tahun 2008. Serentetan serangan kecil terjadi antara tahun 2010 hingga 2013 di Pune, Mumbai, New Delhi, dan Hyderabad.

Tetapi sejak saat itu, targetnya telah bergeser ke fasilitas militer dan keamanan, dan jauh dari pusat-pusat sipil dan populasi. Ini, mungkin, dimaksudkan oleh Pakistan untuk meminimalkan perhatian dan kecaman internasional, dan memproyeksikan tindakan terorisme tersebut sebagai bagian dari kampanye militer yang tidak konvensional.

Akibatnya, pangkalan Angkatan Udara India menjadi sasaran di Pathankot pada Januari 2016, dan sebuah pos Angkatan Darat India diserang di Uri akhir tahun itu. India menanggapi insiden terakhir dengan serangkaian serangan pembalasan terkoordinasi di Garis Kontrol, yang kemudian dikenal di India sebagai “serangan bedah.” Dengan serangan terhadap konvoi CRPF, tren ini berlanjut.

Perdana Menteri Pakistan Imran Khan naik ke tampuk kekuasaan dengan dukungan dari pasukan kuat negara itu. Seperti pendahulunya, Nawaz Sharif, ia telah berusaha menginternasionalkan masalah Kashmir, sebagian untuk memenuhi kepentingan berbagai konstituen domestik. Jika ada harapan bahwa kenaikan Imran mungkin memberikan India kesempatan untuk membalikkan hubungan baru, harapan itu akan sirna, tidak peduli bagaimana hasil pemilihan umum India yang akan datang.

Namun serangan itu juga memiliki implikasi bagi Afghanistan, di mana India sudah gelisah tentang kemungkinan penarikan militer Amerika Serikat (AS). Jaish-e-Mohammed memiliki koneksi lama dengan Taliban dan al Qaeda.

Pada tahun 1999, Masood Azhar, Pemimpin Jaish-e-Mohammed, dibebaskan dari tahanan India sebagai bagian dari pertukaran sandera di Kandahar yang dikuasai Taliban, menyusul pembajakan sebuah pesawat Indian Airlines dengan 173 penumpang dan 15 awak. Dari wilayah yang dikuasai Taliban, ia dibawa kembali ke Pakistan, di mana ia kembali ke bisnis terorisme. Organisasinya segera terlibat dalam serangan Desember 2001 di Parlemen India, yang menghasilkan mobilisasi militer besar-besaran India pada tahun berikutnya melawan Pakistan.

Kebuntuan ini memberikan alasan bagi Pakistan untuk memindahkan aset militer dari perbatasan barat ke perbatasan timurnya dengan India—suatu langkah yang mendorong Osama bin Laden dan para pemimpin al Qaeda lainnya dari gua-gua Tora Bora di Afghanistan ke Pakistan. Sejarah ini kembali terlihat hari ini, seiring Amerika Serikat terlibat dalam negosiasi dengan Taliban untuk masa depan Afghanistan.

Serangan Pulwama menggarisbawahi berlanjutnya bahaya bagi India terkait tempat berlindung teroris di Afghanistan dan Pakistan, dan New Delhi tidak mungkin dibujuk oleh upaya berkelanjutan untuk menerima Taliban dan para sponsornya.

Ceritanya bahkan lebih jauh dari itu. India telah berusaha menggalang upaya internasional agar Azhar terdaftar sebagai teroris internasional oleh PBB. Walau upayanya telah didukung oleh Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis, namun upaya tersebut telah berulang kali diblokir oleh China.

Kekerasan China lebih lanjut mengekspos standar ganda Beijing: Walau China menyerukan perlawanan terhadap terorisme Islam untuk membenarkan pemenjaraan terhadap lebih dari satu juta warga Uighur di kamp-kamp di wilayah barat Xinjiang, namun China terus melindungi Pakistan terkait terorisme.

Serangan Pulwama juga dapat menimbulkan skeptisisme India lebih lanjut tentang niat jujur China, pada saat Beijing berharap untuk melanjutkan hubungan.

Dengan pemilu India sesaat lagi, ada juga sudut pandang domestik. Pemerintah Narendra Modi telah menyoroti kemunduran insiden teroris yang terjadi, dan itu tentu saja berlaku untuk pusat-pusat kota besar dan negara itu secara keseluruhan. Tetapi kekerasan di Jammu dan Kashmir telah meningkat sejak tahun 2016, dan pasukan keamanan India terus menanggung bebannya.

Baca juga: Mengapa China Rentan Terhadap Terorisme di Pakistan?

Tampaknya tidak bertanggung jawab untuk mencoba memprediksi tindakan pembalasan apa yang akan terjadi dalam beberapa hari, minggu, dan bulan mendatang. Untuk saat ini, sebagian besar para pemimpin India telah bersatu untuk mengutamakan dinas keamanan negara.

Dhruva Jaishankar adalah Rekan di Studi Kebijakan Luar Negeri di Brookings India di New Delhi dan Brookings Institution di Washington DC. Ia juga seorang Non-Resident Fellow di Lowy Institute di Australia.

Keterangan foto utama: Kendaraan terbakar di sepanjang jalan, saat protes di Jammu pada tanggal 15 Februari, sehari setelah serangan terhadap konvoi Pasukan Polisi Cadangan Sentral di Pulwama, Kashmir. (Foto: AFP/Getty Images/Rakesh Bakshi)

Tak Ada Lagi Alasan bagi Pakistan untuk Dukung Terorisme

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top