Trump Berencana Tarik AS dari NATO, Hadiah Besar bagi Rusia
Global

Trump Berencana Tarik AS dari NATO, Hadiah Besar bagi Rusia

Berita Internasional >> Trump Berencana Tarik AS dari NATO, Hadiah Besar bagi Rusia

Rencana Presiden Donald Trump untuk menarik Amerika Serikat keluar dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara telah membuat khawatir kabinet dan sekutu. Keputusan itu juga akan menghadiahi Presiden Putin impian besarnya selama ini, dan memanaskan kecurigaan Trump bekerja untuk Rusia. Lagipula, ketidaksukaan Trump terhadap persekutuan di luar negeri dan komitmen Amerika terhadap organisasi internasional, bukanlah rahasia.

Oleh: Julian E. Barnes dan Helene Cooper (The New York Times)

Baca Juga: Yang Terjadi Ketika Trump Membuat Kebijakan Luar Negeri via Twitter

Hanya ada sedikit yang diinginkan oleh Presiden Rusia Vladimir V. Putin lebih dari melemahnya NATO—aliansi militer antara Amerika Serikat (AS), Eropa, dan Kanada yang telah menghalangi agresi Soviet dan Rusia selama 70 tahun.

Tahun lalu, Presiden Trump menyarankan langkah yang sama untuk menghancurkan NATO: penarikan Amerika Serikat.

Para pejabat pemerintah senior mengatakan kepada The New York Times bahwa beberapa kali selama 2018, Trump secara pribadi mengatakan bahwa ia ingin menarik diri dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Para pejabat saat ini dan mantan pejabat yang mendukung aliansi itu, mengatakan bahwa mereka khawatir Trump dapat kembali pada ancamannya, seiring pengeluaran militer para sekutu terus tertinggal dari target yang ditetapkan presiden itu.

Pada hari-hari di sekitar pertemuan puncak NATO yang kacau di musim panas lalu, kata mereka, Trump mengatakan kepada para pejabat keamanan nasionalnya bahwa ia tidak melihat inti dari aliansi militer tersebut, yang menurutnya menguras Amerika Serikat.

Pada saat itu, tim keamanan nasional Trump, termasuk Jim Mattis—yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan—dan John R. Bolton, penasihat keamanan nasional, berusaha keras untuk menjaga strategi Amerika agar tetap berada pada jalurnya, tanpa menyebutkan penarikan yang secara drastis akan mengurangi pengaruh Washington di Eropa dan bisa mendorong semangat Rusia selama beberapa dekade.

Sekarang, keinginan presiden itu untuk menarik diri dari NATO meningkatkan kekhawatiran baru di kalangan pejabat keamanan nasional, di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang upaya Trump untuk merahasiakan pertemuannya dengan Putin dari para ajudannya sendiri, dan sebuah penyelidikan terhadap hubungan pemerintah AS dengan Rusia.

Sebuah langkah untuk menarik diri dari aliansi tersebut—yang didirikan pada tahun 1949—”akan menjadi salah satu hal paling merusak yang dapat dilakukan presiden mana pun untuk kepentingan AS,” kata Michèle A. Flournoy, seorang menteri pertahanan di bawah Presiden Barack Obama.

“Ini akan menghancurkan 70 tahun lebih kerja keras di berbagai pemerintahan, Republik dan Demokrat, untuk menciptakan aliansi yang paling kuat dan menguntungkan dalam sejarah,” kata Flournoy dalam sebuah wawancara. “Dan itu akan menjadi kesuksesan terliar yang bisa diimpikan oleh Vladimir Putin.”

Purnawirawan Laksamana James G. Stavridis—mantan komandan sekutu tertinggi NATO—mengatakan bahwa penarikan Amerika dari aliansi tersebut akan menjadi “kesalahan geopolitik besar.”

“Bahkan mendiskusikan gagasan untuk meninggalkan NATO—apalagi melakukannya—akan menjadi hadiah abad ini bagi Putin,” kata Laksamana Stavridis.

Pejabat pemerintahan senior Trump mendiskusikan upaya internal dan sangat sensitif untuk menjaga aliansi militer ini, dengan syarat anonimitas.

Setelah Gedung Putih dimintai komentar pada Senin (14/1), seorang pejabat senior pemerintahan merujuk pada pernyataan Trump pada bulan Juli, ketika ia menyebut komitmen Amerika Serikat terhadap NATO yang “sangat kuat” dan bahwa aliansi itu “sangat penting.” Pejabat itu menolak berkomentar lebih lanjut.

Para pejabat keamanan nasional Amerika percaya bahwa Rusia telah memberikan fokus besar untuk melemahkan solidaritas antara Amerika Serikat dan Eropa setelah mencaplok Krimea pada tahun 2014. Tujuannya adalah untuk membalikkan NATO, yang dipandang Moskow sebagai ancaman.

Baca Juga: Calon Jaksa Agung Trump: Biarkan Mueller ‘Menyelesaikan Pekerjaannya’

Presiden Bill Clinton—bersama dengan para pemimpin dunia lainnya—pada pertemuan puncak peringatan 50 tahun NATO pada tahun 1999. Pertemuan peringatan ke-70 tahun ini diturunkan menjadi pertemuan para menteri luar negeri, karena para diplomat khawatir bahwa Trump dapat menggunakannya untuk memperbarui serangannya pada aliansi tersebut. (Foto: Associated Press/Doug Mills)

Campur tangan Rusia dalam pemilu Amerika dan upayanya untuk mencegah bekas negara satelit dari bergabung dengan aliansi tersebut, telah bertujuan untuk melemahkan apa yang dilihatnya sebagai musuh, kata para pejabat Amerika. Dengan NATO yang melemah, kata mereka, Putin akan memiliki lebih banyak kebebasan untuk berperilaku seperti yang diinginkannya, menjadikan Rusia sebagai penyeimbang bagi Eropa dan Amerika Serikat.

Penarikan Amerika dari aliansi itu akan mencapai semua yang Putin telah coba lakukan, kata para pejabat—pada dasarnya, melakukan pekerjaan paling keras dan paling penting bagi Pemimpin Rusia itu.

Ketika Trump pertama kali mengemukakan kemungkinan untuk meninggalkan aliansi tersebut, para pejabat pemerintah senior tidak yakin apakah dia serius. Dia telah menyuarakan gagasan itu beberapa kali, yang menurut para pejabat meningkatkan kekhawatiran mereka.

Ketidaksukaan Trump terhadap persekutuan di luar negeri dan komitmen Amerika terhadap organisasi internasional, bukanlah rahasia.

Presiden itu telah berulang kali dan secara publik menantang atau menarik diri dari sejumlah kemitraan militer dan ekonomi, dari perjanjian iklim Paris hingga pakta perdagangan Asia-Pasifik. Dia telah mempertanyakan aliansi militer Amerika Serikat dengan Korea Selatan dan Jepang, dan dia telah mengumumkan penarikan pasukan Amerika dari Suriah, tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan sekutu dalam koalisi yang dipimpin Amerika untuk mengalahkan ISIS.

NATO telah berencana untuk mengadakan pertemuan para pemimpin di Washington untuk memperingati 70 tahun berdirinya NATO pada bulan April, mirip dengan perayaan 50 tahun yang diselenggarakan oleh Presiden Bill Clinton pada tahun 1999. Namun pertemuan tahun ini telah diturunkan menjadi pertemuan para menteri luar negeri, karena beberapa diplomat khawatir bahwa Trump dapat menggunakan pertemuan puncak Washington untuk memperbarui serangannya pada aliansi itu.

Para pemimpin sekarang dijadwalkan bertemu pada akhir tahun 2019, tetapi tidak di Washington.

Ancaman-ancaman Trump untuk mundur telah membuat para pejabat berusaha mencegah pertemuan tahunan para pemimpin NATO di Brussels pada Juli lalu agar tidak berubah menjadi bencana.

Para pejabat keamanan nasional senior telah mendorong duta besar aliansi militer tersebut untuk menyelesaikan perjanjian resmi tentang beberapa tujuan NATO—termasuk pertahanan bersama melawan Rusia—bahkan sebelum pertemuan puncak dimulai, untuk melindunginya dari Trump.

Namun, bagaimanapun juga, Trump menunda prosesnya. Satu pertemuan, pada 12 Juli, seharusnya tentang Ukraina dan Georgia—dua anggota non-NATO yang ingin bergabung dengan aliansi tersebut.

Protokol yang diterima menyatakan bahwa anggota aliansi tidak membahas bisnis internal di depan non-anggota. Tetapi seperti yang sering terjadi, Trump tidak mematuhi norma yang berlaku, menurut beberapa pejabat Amerika dan Eropa yang ada di ruangan itu.

Dia mengeluh bahwa pemerintah-pemerintah Eropa tidak membelanjakan cukup uang untuk biaya pertahanan bersama, meninggalkan Amerika Serikat untuk menanggung beban yang terlalu besar. Dia menyatakan frustrasi bahwa para pemimpin Eropa tidak akan—pada saat itu—berjanji untuk membelanjakan lebih banyak. Dan dia tampaknya tidak memahami rinciannya, ketika beberapa mencoba menjelaskan kepadanya bahwa tingkat pengeluaran ditentukan oleh parlemen di masing-masing negara, kata para pejabat Amerika dan Eropa.

Kemudian, dalam pertemuan para pemimpin lainnya pada pertemuan puncak yang sama, Trump tampak terkejut oleh Jens Stoltenberg, Sekretaris Jenderal NATO.

Mendukung posisi Trump, Stoltenberg mendorong sekutu untuk meningkatkan pengeluaran mereka dan memuji Amerika Serikat untuk memimpin dengan memberi contoh—termasuk dengan meningkatkan pengeluaran militernya di Eropa. Pada saat itu, menurut seorang pejabat yang ada di ruangan itu, Trump memutar kepalanya dan menatap para pejabat Amerika di belakangnya, dikejutkan oleh ucapan Stoltenberg, dan mengkhianati rencana pengeluaran pemerintahnya sendiri.

Trump tampak sangat jengkel—kata para pejabat dalam pertemuan itu—dengan Kanselir Angela Merkel dari Jerman dan pembelanjaan militer negaranya sebesar 1 persen dari produk domestik bruto.

Partai Republik Kongres mengkritik konferensi pers Trump dengan Presiden Vladimir V. Putin dari Rusia di Helsinki, Finlandia, hanya beberapa hari setelah pertemuan puncak para pemimpin NATO di Brussels. (Foto: The New York Times/Doug Mills)

Sebagai perbandingan, pengeluaran militer Amerika Serikat adalah sekitar 4 persen dari PDB, dan Trump telah menentang sekutu karena tidak memenuhi target pengeluaran NATO sebesar 2 persen dari output ekonomi. Pada pertemuan puncak itu, dia mengejutkan para pemimpin dengan menuntut 4 persen—sebuah langkah yang pada dasarnya akan membuat target tersebut berada di luar jangkauan bagi banyak anggota aliansi tersebut. Dia juga mengancam bahwa Amerika Serikat akan “menempuh jalannya sendiri” pada tahun 2019, jika anggaran militer dari negara-negara NATO lainnya tidak meningkat.

Selama pidato Merkel, Trump lagi-lagi melanggar protokol dengan berdiri dan pergi, mengirimkan efek kejutan di seluruh ruangan, menurut para pejabat Amerika dan Eropa yang ada di sana. Tetapi sebelum dia pergi, presiden itu berjalan di belakang Merkel dan menyela pidatonya untuk menyebutnya pemimpin yang hebat. Terkejut dan lega bahwa Trump tidak melanjutkan memarahi para pemimpin tersebut, orang-orang di ruangan itu bertepuk tangan.

Pada akhirnya, para pemimpin NATO secara terbuka menulis perbedaan mereka untuk menghadirkan sebuah front persatuan. Tetapi baik para pemimpin Eropa maupun pejabat Amerika muncul dari pertemuan dua hari di Brussels, terguncang dan khawatir bahwa Trump akan memperbarui ancamannya untuk menarik diri dari aliansi tersebut.

Skeptisisme Trump terhadap NATO tampaknya menjadi keyakinan inti, kata pejabat pemerintahan, mirip dengan keinginannya untuk mengambil alih minyak Irak. Walau para pejabat telah menjelaskan beberapa kali mengapa Amerika Serikat tidak dapat mengambil minyak Irak, namun Trump kembali ke masalah ini setiap beberapa bulan.

Demikian pula, tepat ketika para pejabat berpikir bahwa masalah keanggotaan NATO telah diselesaikan, Trump kembali mengemukakan keinginannya untuk meninggalkan aliansi tersebut.

Setiap langkah yang dilakukan oleh Trump dalam melawan NATO kemungkinan besar akan mengundang tanggapan oleh Kongres. Kebijakan Amerika terhadap Rusia adalah satu bidang di mana Kongres Republik secara konsisten melawan Trump, termasuk dengan sanksi baru terhadap Moskow dan dengan mengkritik konferensi pers tanggal 16 Juli yang hangat dengan Putin di Helsinki, Finlandia.

Anggota NATO dapat menarik diri setelah periode pemberitahuan satu tahun, berdasarkan Pasal 13 Perjanjian Washington. Penundaan seperti itu akan memberi waktu kepada Kongres untuk mencoba menghalangi upaya apa pun oleh Trump untuk pergi.

“Ini mengkhawatirkan bahwa presiden itu terus secara salah menyatakan bahwa NATO tidak berkontribusi terhadap keselamatan keseluruhan Amerika Serikat atau komunitas internasional,” kata Senator Jeanne Shaheen, seorang anggota Demokrat New Hampshire yang merupakan salah satu anggota parlemen yang mendukung undang-undang untuk menghentikan Trump menarik diri dari aliansi militer tersebut. “Senat lebih tahu dan siap membela NATO.”

Popularitas NATO dengan publik terus menjadi kuat. Tetapi aliansi ini telah menjadi masalah yang lebih partisan, di mana Demokrat menunjukkan antusiasme yang kuat dan dukungan Partai Republik melunak, menurut sebuah survei oleh Ronald Reagan Institute.

Kay Bailey Hutchison—Duta Besar Washington untuk NATO dan mantan senator Partai Republik—telah berusaha membangun dukungan untuk aliansi di Kongres, termasuk membantu mengorganisasi kelompok pendukung bipartisan.

Tetapi bahkan jika Kongres bergerak untuk menghalangi penarikan itu, pernyataan oleh Trump bahwa ia ingin pergi akan sangat merusak NATO. Sekutu yang merasa terancam oleh Rusia sudah sangat ragu tentang apakah Trump akan memerintahkan pasukan untuk membantu mereka.

Dalam surat pengunduran dirinya bulan lalu, Mattis secara khusus mengutip komitmennya sendiri untuk aliansi Amerika, dalam kritik implisit terhadap prinsip-prinsip Trump. Mattis awalnya mengatakan bahwa dia akan tetap tinggal sampai pertemuan NATO berikutnya pada akhir Februari, tetapi Trump mendorongnya sebelum tahun baru.

Pelaksana tugas Menteri Pertahanan Patrick M. Shanahan, diyakini mendukung aliansi itu. Tetapi dia juga dengan tegas mengatakan, dia berpikir bahwa Pentagon seharusnya tidak menjadi “Departemen Tidak” bagi presiden itu.

Para pejabat Eropa dan Amerika mengatakan bahwa kehadiran Mattis—yang merupakan seorang mantan komandan NATO—telah meyakinkan sekutu bahwa seorang pejabat senior pemerintahan Trump mendukung mereka. Keluarnya Mattis dari Pentagon telah meningkatkan kekhawatiran di antara beberapa diplomat Eropa bahwa selimut penyelamat kini telah hilang.

Matthew Rosenberg berkontribusi untuk laporan ini.

Keterangan foto utama: Presiden Trump bersama Menteri Luar Negeri Mike Pompeo (kiri), dan penasihat keamanan nasional, John R. Bolton, pada pertemuan puncak NATO di Brussels tahun lalu. Ancaman Trump untuk menarik diri dari NATO telah membuat para pejabat berusaha mencegah pertemuan tahunan itu berubah menjadi bencana. (Foto: The New York Times/Doug Mills)

Trump Berencana Tarik AS dari NATO, Hadiah Besar bagi Rusia

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top