boneka asing
Berita Politik Indonesia

Waspada Perang Boneka Asing dalam Pilpres 2019

Berita Internasional >> Waspada Perang Boneka Asing dalam Pilpres 2019

Peran pengaruh asing secara tidak mengejutkan kembali muncul di antara isu-isu dalam Pilpres 2019 yang akan datang. Namun perlu diingat juga, aspek pengaruh asing hanyalah salah satu di antara banyak aspek dalam pemilihan presiden Indonesia. Kubu Jokowi maupun Prabowo telah memusatkan perhatian pada berbagai aspek ini, dan di antara mereka, gagasan campur tangan Rusia hampir tidak mendapatkan daya tarik besar. 

Baca Juga: Pilpres 2019: Bermain Ofensif, Jokowi Serang ‘Semburan Kebohongan’ Prabowo

Oleh: Prashanth Parameswaran (The Diplomat)

Selama akhir pekan, Presiden Indonesia Joko “Jokowi” Widodo, yang akan mencalonkan diri kembali dalam Pilpres 2019 bulan April mendatang menjadi berita utama ketika ia menyiratkan bahwa pengaruh asing sedang bermain di kubu oposisi yang mengusung capres Prabowo Subianto. Komentar Jokowi dan dampak yang mengikutinya sekali lagi menempatkan fokus pada faktor “pengaruh asing” dalam politik Indonesia, yang akan menjadi salah satu masalah menjelang pemungutan suara.

Sama halnya dengan beberapa negara lain di kawasan Asia-Pasifik, terlepas dari fokus pada program dan kebijakan, dinamika pemilu Indonesia seringkali berakar pada sejumlah faktor lain, termasuk kepribadian, narasi, dan politik patronase. Meskipun demikian, tema yang telah berulang dalam beberapa tahun terakhir ialah peran “pengaruh asing,” termasuk bagaimana mereka memengaruhi otonomi, kedaulatan, dan integritas teritorial negara dan bagaimana pengaruhnya terhadap para politisi sekaligus bagaimana upaya politisi untuk memengaruhi mereka.

Tentu saja, pengaruh asing adalah tema yang luas dan fleksibel yang dapat dibahas dalam beberapa cara. Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat penekanan pada beberapa bidang penting, mulai dari persepsi perusahaan asing yang mengeksploitasi sumber daya negara secara tidak adil (varian dari “nasionalisme ekonomi”) hingga “faktor China”, khususnya banjir tenaga kerja China ke dalam Indonesia.

Pilpres 2019 tidak berbeda dalam hal ini. Memang, kita telah melihat tema pengaruh asing ini dalam beberapa cara, terkadang dengan tidak begitu peduli terhadap akurasi, dari berbagai aspek hubungan China-Indonesia hingga nasionalisasi aset dengan mengorbankan perusahaan asing seperti Freeport. Ada juga gagasan bahwa kedua belah pihak menyewa konsultan asing dari negara lain, dengan fokus tidak hanya pada keahlian yang dibawa tetapi juga pengaruh potensial dan bias yang berperan.

Akhir pekan lalu, kita melihat intensifikasi fokus pada pengaruh asing dalam Pilpres 2019. Sementara menangkis tuduhan dari kubu Prabowo bahwa dia menjadi “boneka asing,” Jokowi, selama sambutan di Surabaya pada hari Minggu (3/2), menegaskan bahwa kubu lawan sedang menyebarkan propaganda kebencian dengan bantuan konsultan asing.

Baca Juga: Gaya ‘Propaganda Rusia’ Dipakai Salah Satu Tim Kampanye Pilpres 2019

Jokowi tidak menyebut nama Prabowo dan tidak menyebutkan negara tempat konsultan asing itu berasal. Tetapi fakta bahwa Pilpres 2019 adalah ajang pertarungan keduanya dan bahwa dia sebelumnya telah merujuk ke propaganda Rusia akhirnya memperjelas hal ini menjadi berita utama. Komentar-komentar itu secara mengejutkan memicu tidak hanya penolakan dari kubu Prabowo, tetapi juga pernyataan Duta Besar Rusia untuk Indonesia yang menyangkal bahwa Rusia ikut campur dalam urusan dalam negeri pemerintah mana pun, termasuk Indonesia.

Dampak dari insiden tersebut tentu saja menarik perhatian di Indonesia maupun luar negeri. Hal itu tidaklah mengherankan mengingat tidak hanya faktor pengaruh asing dalam pemilu Indonesia secara lebih umum, tetapi juga gagasan campur tangan pemilu Rusia di negara-negara lain, termasuk Amerika Serikat, serta tuduhan keterlibatan kekuatan asing dalam pemilihan umum dalam kasus-kasus lain di Asia Tenggara, misalnya ditunjukkan dengan peran China dalam pemilihan umum Kamboja tahun 2018.

Tetapi di luar kehebohan ini, perlu juga diingat bahwa aspek pengaruh asing hanyalah salah satu di antara banyak aspek dalam pemilihan presiden Indonesia. Kubu Jokowi maupun Prabowo telah memusatkan perhatian pada berbagai aspek ini, dan di antara mereka, gagasan campur tangan Rusia hampir tidak mendapatkan daya tarik besar. Jokowi sendiri juga telah diprediksi mundur pada faktor Rusia juga, mencatat bahwa penyebutannya tentang propaganda Rusia tidak ada hubungannya dengan negara Rusia itu sendiri.

Bagaimana tepatnya faktor pengaruh asing masuk ke dalam pemilihan hingga pilpres pada bulan April 2019 akan terus menarik untuk diperhatikan. Ini termasuk tidak hanya acara kampanye reguler yang telah mereka jadwalkan serta pesan lain yang didorong oleh kedua kubu, tetapi juga beberapa sesi debat pilpres berikutnya, terutama yang berfokus pada kebijakan luar negeri dan keamanan menjelang akhir bulan Maret 2019 yang menampilkan para kandidat dan gagasan mereka hanya beberapa pekan sebelum pemungutan suara. Mengingat seberapa tipis hasil akhir Pilpres 2014, masih ada jalan panjang menuju pemenang Pilpres 2019 kelak.

Keterangan foto utama: Capres Prabowo Subianto dan kandidat presiden petahana Joko Widodo. (Foto: Reuters/TPG)

Waspada Perang Boneka Asing dalam Pilpres 2019

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top