Prancis dan Italia
Eropa

Perselisihan Antara Prancis dan Italia Tandai Pertempuran yang Akan Datang

Berita Internasional >> Perselisihan Antara Prancis dan Italia Tandai Pertempuran yang Akan Datang

Hubungan antara Prancis dan Italia berada di titik terburuk sejak zaman perang. Pemerintah Prancis menarik duta besarnya untuk Italia pulang, setelah dua wakil Perdana Menteri Italia melakukan pertemuan dengan para pemimpin gerakan Rompi Kuning, langkah yang mengejutkan dan dianggap melanggar batas. Politisi Italia beberapa kali menyalahkan Prancis dan Presiden Emmanuel Macron atas kemorosotan ekonomi yang dialami negara mereka.

Baca Juga: Satelit Mata-mata Rusia Diduga Berupaya Curi Informasi Militer dari Prancis

Oleh: Ishaan Tharoor (The Washington Post)

Di tengah meningkatnya ketegangan di Eropa, pemerintah Prancis menarik duta besarnya untuk Italia pada hari Kamis (7/2). Langkah itu menandai memburuknya hubungan yang mengejutkan antara pemerintah Presiden Prancis Emmanuel Macron dan koalisi populis yang berkuasa di Roma.

Dalam beberapa bulan terakhir, dua wakil perdana menteri Italia—Luigi Di Maio dari Gerakan Bintang Lima dan pemimpin sayap kanan Matteo Salvini—telah meningkatkan kritik mereka terhadap Macron dan menyatakan dukungan untuk para pemrotes “rompi kuning” anti-pemerintah Prancis. Provokasi terakhir tampaknya merupakan pertemuan minggu ini antara Di Maio dan tokoh-tokoh terkemuka rompi kuning, yang berniat untuk mengajukan kandidat dalam pemilihan parlemen Eropa pada bulan Mei. “Angin perubahan telah melintasi Pegunungan Alpen,” kata Di Maio lewat akun Twitter-nya.

Para pejabat Prancis terkejut mengetahui seorang pejabat senior pemerintah Italia melanggar protokol dengan cara ini, bersahabat dengan oposisi bahkan tanpa memberi tahu rekan-rekannya di pemerintahan Prancis.

“Prancis telah, selama beberapa bulan, menjadi objek tuduhan berulang, serangan tak berdasar dan deklarasi keterlaluan dan semua orang tahu itu,” kata Kementerian Luar Negeri Prancis dalam sebuah pernyataan. “Ini belum pernah terjadi sebelumnya sejak akhir perang.”

Belum jelas berapa lama Masset Kristen, utusan Prancis yang dipulangkan “untuk konsultasi” akan berada di Paris. Yang jelas krisis dalam hubungan antara tetangga dan mitra Eropa meningkat. “Penarikan itu adalah perubahan yang jelas dari politik Eropa Barat pascaperang yang biasanya menyenangkan, di mana perselisihan di antara sekutu tetangga jarang mencapai puncaknya,” kata rekan saya James McAuley dan Chico Harlan.

Salvini dan Di Maio membalas di media sosial. “Bagi saya, pertemuan itu bukan provokasi terhadap pemerintah Prancis saat ini, melainkan pertemuan penting dengan kekuatan politik yang sama-sama kita miliki, termasuk perlunya demokrasi langsung untuk memberi lebih banyak kekuatan kepada warga,” tulis Di Maio di Facebook.

“Wartawan menelepon saya karena Prancis menarik kembali duta besar Prancis di Italia untuk memanggilnya ke Paris karena mereka merasa tersinggung,” kata Salvini Kamis sore (7/2) dalam sebuah video langsung di Facebook. “Saya hanya menjawab, ‘Saya tidak ingin berdebat dengan siapa pun. Saya tidak peduli dengan argumen-argumen. Saya ingin menyelesaikan masalah.”

Kedua politisi itu benar-benar mengadu keluhan dengan Prancis dan Macron. Mereka mengkritik pemerintah Prancis karena tidak berbuat cukup banyak untuk menerima migran yang melintasi Mediterania dari Afrika. Mereka tidak percaya pada apa yang dikatakan Macron tentang nilai-nilai dan integrasi Eropa. Dan mereka menyalahkan politisi seperti Macron dan Kanselir Jerman Angela Merkel karena mengabadikan kebijakan fiskal yang telah menjebak Italia ke dalam lingkaran utang.

Baca Juga: Senjata Israel yang ‘Teruji dalam Perang’ Laku Keras di Eropa

“Prancis adalah target yang sangat mudah karena tantangan-tantangannya—di Libya, ekonomi dan bahkan sepak bola,” Mattia Diletti, seorang profesor politik di Universitas Sapienza Roma, mengatakan kepada The Guardian. “Macron juga tipe orang elit yang mereka suka serang karena dia sebenarnya kebalikan dari mereka.”

Salvini telah berjanji untuk mematahkan “poros Prancis-Jerman” dalam pemilihan Uni Eropa, dan ia telah mendekati kelompok sayap kanan lainnya serta pemerintah yang tidak liberal di Eropa Timur. Di Maio baru-baru ini menuduh kebijakan Prancis memicu kemiskinan dan migrasi di sisi lain Mediterania. Prancis “tidak pernah berhenti menjajah Afrika,” katanya—pernyataan yang menyebabkan pemerintah Prancis memanggil duta besar Italia.

Seperti yang dilaporkan rekan-rekan saya, ketegangan yang memanas sebagian merupakan refleksi dari persaingan antara Di Maio dan Salvini sendiri. Dalam sebuah wawancara dengan Today’s WorldView pada akhir 2017, Di Maio bersikeras bahwa partainya “tidak berniat mengisolasi Italia” atau “meninggikan sentimen nasionalistik.” Tetapi begitu gerakan Lima Bintang memasuki pemerintahan koalisi dengan Liga Salvini—sayap kanan, partai anti-imigran—Di Maio telah dipaksa untuk membuat akomodasi yang canggung untuk nasionalisme keras pasangannya.

Menjelang pemilihan Uni Eropa dan dua wakil perdana menteri negara menjalankan kampanye saingan, Macron telah berfungsi sebagai sasaran tinju yang berguna bagi keduanya, simbol sentralisme dan pengaruh elit dari arus utama benua.

Keluhan mengenai Macron ini juga menawarkan gangguan karena ekonomi Italia terus merosot—menurut beberapa pengakuan, negara tersebut telah tergelincir ke dalam resesi.

“Ini adalah salah satu konsekuensi dari populisme nasional, yaitu mencoba mencari musuh,” kata mantan perdana menteri Italia Paolo Gentiloni di Brookings Institution di Washington, Kamis (7/2). “Anda perlu menemukan musuh di dalam dan di luar negara Anda untuk menjaga konsensus tetap bersatu.” Tetapi, Gentiloni menambahkan, “Anda tidak dapat mengidentifikasi musuh di negara tetangga dan negara sahabat.”

Sementara itu, Macron menepis serangan dari balik Pegunungan Alpen. Jajak pendapat menunjukkan popularitasnya meningkat, bahkan ketika “rompi kuning” berubah dari gerakan protes yang didorong media sosial dan menjadi tantangan politik yang berkelanjutan.

Baca Juga: Akankah Perang Dagang Trump Ciptakan Kesatuan Eropa—Atau Malapetaka?

Tapi garis patahan benua semakin dalam. Partai-partai sayap kanan dan nasionalis diharapkan untuk berhasil dalam pemilihan Mei nanti, menambah kecemasan yang sudah mendalam di sekitar Brussels. Brexit telah mendinginkan gerakan-gerakan anti-Uni Eropa lainnya di benua itu, tetapi protes yang membara terhadap pendirian liberal Eropa tetap ada. Para pemimpin sayap kanan seperti Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban merencanakan sebuah poros nasionalis baru, di antaranya adalah Salvini, yang akan membentuk kembali politik benua—dan, pada gilirannya, identitas sosial dan budayanya.

Pertengkaran antara populis Italia dan Macron mungkin tampak seperti politisasi kecil, tetapi itu merupakan pertempuran kecil dalam perang yang baru saja dimulai.

 

Keterangan foto utama: Luigi di Maio dan Emmanuel Macron. (Foto: Reuters/AFP/Getty/Ludovic Maren/Mohamed Abd-El Ghany)

Perselisihan Antara Prancis dan Italia Tandai Pertempuran yang Akan Datang

BERLANGGANAN

1 Comment

1 Comment

  1. Baushermawan

    February 15, 2019 at 6:07 pm

    Ayolah kita berdamai buat apa kita bertengkar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top