Ancaman & Gertakan Trump: Mengapa Amerika Perlu Negara Lain Sebagai ‘Penyangga Diplomasi’
Amerika

Ancaman & Gertakan Trump: Mengapa Amerika Perlu Negara Lain Sebagai ‘Penyangga Diplomasi’

Direktur Keamanan Nasional Korea Selatan Chung Eui-yong berbicara kepada para wartawan di Gedung Putih mengenai sebuah tawaran pertemuan puncak dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, di Washington, pada tanggal 8 Maret 2018. (Foto: AP/Andrew Harnik
Home » Featured » Amerika » Ancaman & Gertakan Trump: Mengapa Amerika Perlu Negara Lain Sebagai ‘Penyangga Diplomasi’

Seiring pemerintahan Trump berupaya untuk terus maju, lebih banyak kekuatan dunia yang dibutuhkan memainkan peran penyangga, untuk mencoba menyelamatkan Amerika Serikat dari malapetaka asing. Para analis kebijakan luar negeri—yang dulu terbiasa dengan kata-kata yang hati-hati dari mantan Presiden AS Barack Obama—sekarang menghabiskan waktu berhari-hari untuk membedakan antara kemarahan yang tidak berarti, dan omong kosong yang benar-benar berbahaya.

Oleh: Richard Gowan (World Politics Review)

Ini adalah era ancaman, gertakan, dan kebutuhan akan penyangga diplomasi.

Ancaman dan gertakan mendapatkan sebagian besar perhatian. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump adalah master dari ancaman kosong, yang terlihat dalam janjinya untuk melepaskan “api dan amarah” di Korea Utara. Namun retorika semacam itu sekarang menjadi hal yang umum dalam urusan internasional.

    Baca Juga : 3 Masalah Serius dalam Rencana Pertemuan Trump-Kim

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un telah menghina Trump sebagai “orang tua yang pikun.” Presiden Rusia Vladimir Putin membanggakan tentang rudal nuklir negaranya yang tak terkalahkan. Para analis kebijakan luar negeri—yang dulu terbiasa dengan kata-kata yang hati-hati dari mantan Presiden AS Barack Obama—sekarang menghabiskan waktu berhari-hari untuk membedakan antara kemarahan yang tidak berarti, dan omong kosong yang benar-benar berbahaya.

Rasanya perlu untuk menghormati para pejabat yang harus mengabaikan kebisingan latar belakang ini, dan menjaga komunikasi normal antara kekuatan antagonis. Era Trump telah menempatkan tuntutan ekstrem pada apa yang bisa disebut sebagai “penyangga diplomasi.” Prioritas strategis dari perwakilan sekutu AS dan negara-negara netral lah yang menjaga agar ancaman dari Washington dan lawan-lawanya tidak lepas kendali.

Dengan pemerintahan Trump yang semakin tidak dapat diprediksi pada tahun keduanya menjabat, peran penyangga ini menjadi lebih penting daripada sebelumnya.

Hanya sedikit yang memainkan peran penyangga ini secara heroik, seperti Korea Selatan pada tahun lalu. Terjebak di antara ledakan berbisa dari Washington dan Pyongyang, Presiden Moon Jae-in dan para penasihatnya secara gigih bekerja untuk menciptakan saluran diplomasi untuk membatasi kemungkinan perang. Komentator garis keras AS menyebut mereka naif. Namun minggu lalu, penasihat keamanan nasional Moon mengeluarkan salah satu kebijakan luar negeri terbesar abad ini, dengan memberikan tawaran pembicaraan langsung dari Kim untuk Trump.

Terdapat banyak alasan untuk ragu terhadap tawaran tersebut, yang bahkan Korea Selatan tampaknya telah melihatnya dengan hati-hati. Ini mungkin sebuah taktik oleh Pyongyang untuk mengurangi tekanan AS dan memperdaya Trump ke dalam kesepakatan yang bodoh. Pertemuan yang diusulkan mungkin tidak akan benar-benar terjadi. Bahkan jika memang dilaksanakan, beberapa yang skeptis akan mempertanyakan apakah itu benar-benar hasil usaha Korea Selatan. Langkah Kim ini mungkin saja menjadi bukti bahwa ancaman Trump bekerja. Mungkin China merancang langkah awal tersebut untuk mengurangi bahaya perang di dekat negaranya, yang akan menciptakan bencana kemanusiaan dan strategis bagi Beijing.

Apa pun faktor yang memicu tawaran Korea Utara, kesediaan Moon untuk mengambil risiko politik dalam dan luar negeri untuk sampai sejauh ini, layak untuk mendapatkan kredit. Ini akan memberi harapan kepada para pejabat yang mencoba membangun penyangga antara AS dan musuh-musuhnya di tempat lain.

Para pejabat tersebut termasuk Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian, yang telah mencari cara untuk meredakan ancaman pemerintahan Trump terhadap kesepakatan nuklir Iran. Pada awal pekan lalu, Le Drian mengunjungi Teheran untuk mengajukan pertanyaan tentang program rudal balistik Iran. Tujuan utama Prancis adalah untuk menunjukkan kepada Washington bahwa mereka dapat terus menekan Iran tanpa membatalkan perjanjian nuklir—sedikit penyangga yang cerdas yang pastinya Paris berharap bahwa Teheran akan ikut terlibat dengan kepentingannya sendiri.

Iran tidak mematuhinya. Sebaliknya, mereka menolak tawaran Prancis yang menjadi kedok bagi tekanan AS. Le Drian bukan satu-satunya diplomat Eropa yang telah belajar mengenai betapa sulitnya untuk bermain dengan lawan-lawan Amerika dalam beberapa pekan terakhir. Pada bulan Februari, pejabat Swedia di New York bekerja dengan tergesa-gesa untuk menyetujui kesepakatan mengenai resolusi Dewan Keamanan yang meminta gencatan senjata di Suriah, yang dapat diterima oleh AS dan Rusia. Mengingat kembali netralitas Perang Dingin mereka, Swedia telah mencoba untuk memposisikan diri mereka sebagai jembatan antara Moskow dan Barat di PBB. Tapi walau mereka akhirnya menghasilkan formula yang bisa diterima oleh semua pihak, namun Swedia tidak melakukan banyak untuk menghentikan kekerasan yang terjadi di sana.

Negara-negara yang mencoba melibatkan diri mereka sendiri antara pemerintahan Trump dan musuh-musuhnya, cenderung menjadi putus asa. Jika Moon telah membuat kemajuan yang meredakan ketegangan di Semenanjung Korea, alasan yang jelas adalah karena dia dan negaranya berada di jantung krisis ini, yang dia harapkan bisa dia redakan. Sebaliknya, Prancis dan Swedia adalah pihak luar dalam konflik regional yang menyebar di Timur Tengah—bahkan jika Prancis terus mempertahankan bahwa ia adalah negara global—dan bantuan diplomatik mereka memiliki kepentingan yang lebih sedikit. Jika pemimpin moderat seperti Moon memimpin Turki atau Arab Saudi hari ini, mereka mungkin bisa melemahkan kebijakan AS secara lebih efektif. Tapi hal itu sangat jauh dalam kasus ini.

Meskipun demikian, seiring pemerintahan Trump terus melangkah maju, lebih banyak negara yang akan perlu memainkan peran penyangga untuk mencoba menyelamatkan AS dari bencana asing. Sampai saat ini, sejumlah penasihat senior presiden juga bertindak sebagai penyangga dalam melawan naluri terburuk Trump, namun kelompok ini termasuk dalam keturunannya. Elang nasionalis telah mencengkeram kebijakan perdagangan Trump, dan terdapat desas-desus bahwa presiden tersebut ingin mengganti penasihat keamanan nasionalnya, Letnan Jenderal H.R. McMaster, dengan elang kebijakan luar negeri yang sangat maju seperti mantan Duta Besar AS untuk PBB John Bolton.

Strategi Washington ini tidak mengarah ke mana pun: Trump telah melewati Bolton sebagai orang yang ditunjuk sebelumnya. Namun, teman atau sekutu AS yang masuk akal perlu mempertimbangkan bahwa pemerintahan Trump kemungkinan besar akan menjadi lebih agresif dan tidak menentu di tahun-tahun mendatang. Jika penasihat presiden tidak dapat atau tidak mau mengendalikannya, maka kekuatan lain harus mencari mekanisme dan langkah awal yang bisa mencegah Trump agar tidak terjerumus dari ancaman dan gertakan, ke dalam konfrontasi yang jauh lebih serius dengan lawan-lawan utamanya.

    Baca Juga : Rusia di Era Putin: Dari Negara Buangan Bangkit Jadi Adidaya

Itu tidak akan selalu berarti menolak langkah seperti tawaran pembicaraan Kim. Sebaliknya, sebagian besar tugas penyangga diplomatik lebih cenderung mengikuti pola kunjungan Le Drian ke Teheran. Itu berarti dibutuhkan banyak usaha sungguh-sungguh untuk mengurangi ketegangan yang melibatkan AS, dan mengulur waktu bagi Washington untuk mendapatkan kembali ketenangan. Di masa di mana AS dan presidennya secara rutin mengeluarkan kata-kata penuh permusuhan dan perang, kita harus bersyukur atas mereka yang bersedia mengambil risiko demi stabilitas dan keteraturan.

Richard Gowan adalah pengamat di Dewan Hubungan Luar Negeri Eropa dan di Pusat Kerjasama Internasional NYU, di mana dia sebelumnya adalah direktur penelitian. Dia juga mengajar di Columbia University. Kolom WPR mingguannya, Diplomatic Fallout, terbit setiap hari Senin.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Direktur Keamanan Nasional Korea Selatan Chung Eui-yong berbicara kepada para wartawan di Gedung Putih mengenai sebuah tawaran pertemuan puncak dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, di Washington, pada tanggal 8 Maret 2018. (Foto: AP/Andrew Harnik)

Ancaman & Gertakan Trump: Mengapa Amerika Perlu Negara Lain Sebagai ‘Penyangga Diplomasi’

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top