Anggota Parlemen Eropa Minta Sanksi Tegas terhadap Myanmar
Eropa

Anggota Parlemen Eropa Minta Sanksi Tegas terhadap Myanmar

Oleh: Murtaza Ali Shah

Meningkatnya krisis di Rohingya membuat seorang anggota Parlemen Eropa Amjad Bashir, meminta untuk dijatuhkannya sanksi tegas terhadap Myanmar. Ia pun mengajukan tiga strategi sanksi kepada Parlemen, yaitu dengan menghentikan diskusi perdagangan dengan Myanmar, mendesak komunitas internasional untuk mendorong Myanmar agar menghentikan kekerasan terhadap masyarakat Rohingya, serta mencabut Penghargaan Sakharov dan Nobel yang diterima oleh Aung San Suu Kyi.

LONDON: Anggota Parlemen Eropa (MEP) Amjad Bashir meminta dijatuhkannya sanksi internasional terhadap Myanmar sebagai tanggapan atas penindasan terhadap Muslim Rohingya di sebelah barat Myanmar.

Resolusi sebelum pertemuan Parlemen pada Kamis (14/9) tersebut, akan mendesak Uni Eropa untuk mempertimbangkan segala cara yang dapat mendorong pemerintah Myanmar agar menghentikan kekejaman yang memicu krisis pengungsi di negara tetangga Bangladesh.

Anggota Parlemen Eropa Minta Sanksi Tegas terhadap Myanmar

Anggota Parlemen Eropa dari Partai Kemerdekaan Inggris (UKIP), Amjad Bashir, berbicara dalam sebuah konferensi. (Foto: Reuters)

Bashir, anggota Parlemen Konservatif dari Yorkshire, mengajukan tiga strategi internasional untuk menjatuhkan tekanan terhadap Naypyidaw. Pertama ia akan menghentikan setiap diskusi perdagangan dan investasi antara Eropa dan Myanmar, sebagai awal dari sanksi terhadap Myanmar, dengan bekerja sama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Kedua, ia mendesak Inggris, bersama dengan Uni Eropa dan negara-negara anggotanya, untuk melanjutkan dukungannya terhadap pemerintah Myanmar untuk mencabut “seluruh pembatasan yang tidak perlu, diskriminatif, dan berlebihan” di negara bagian Rakhine dan terhadap masyarakat Rohingya.

Dan terakhir, ia mengajukan pencabutan Penghargaan Sakharov dan Nobel yang diterima Aung Sang Suu Kyi karena tidak tegas dalam mengecam kekerasan, pembunuhan, dan pembersihan etnis yang terjadi terhadap minoritas Rohingya.

Sanksi terhadap Myanmar dicabut pada tahun 2013—ketika sebelumnya pengawas hak asasi manusia telah menyuarakan kekhawatirannya atas aksi pembersihan etnis sistematis terhadap populasi minoritas di Myanmar.

Bashir baru-baru ini menekankan penindasan terhadap masyarakat Rohingya dalam sebuah laporan yang diajukan kepada Parlemen Eropa terkait keadaan buruk yang menimpa masyarakat yang tidak memiliki kewarganegaraan tersebut. Ia mengatakan: “Dunia sangat mengerikan bagi masyarakat Rohingya. Ini adalah bentuk pembersihan etnis di abad ke-21.”

“Saatnya kata-kata simpati diwujudkan menjadi tindakan nyata, dan tindakan tersebut berarti sanksi.” Perwakilan perdagangan dari Parlemen Eropa di Komite Perdagangan Internasional dijadwalkan akan mengunjungi Myanmar minggu depan. Dan hal itu harus dihentikan sekarang juga.

“Saya sangat mendukung seluruh aktivitas perdagangan, namun kita harus mengutamakan nyawa manusia. Ketika tidak ada keadilan dan kehormatan, maka tidak akan ada perdagangan. Perdagangan tidak dapat membutakan mata kita dari kekerasan dan kekejaman.”

Anggota Parlemen Eropa Minta Sanksi Tegas terhadap Myanmar
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top