Apa Isi Dokumen yang Ditandatangani Kim dan Trump? Berikut Analisis untuk Memahaminya
Asia

Analisis: Memahami Isi Dokumen yang Ditandatangani Kim dan Trump

Kim dan Trump selama upacara penandatanganan. (Foto: The New York Times/Doug Mills)
Home » Featured » Asia » Analisis: Memahami Isi Dokumen yang Ditandatangani Kim dan Trump

Setelah berlangsungnya pertemuan yang banyak dinantikan antara Donald Trump dan Kim Jong-un, dokumen kesepakatan yang ditandangani keduanya menyatakan hal-hal yang kurang memuaskan, meski disebut Trump “sangat komprehensif.”

    Baca Juga : Pandangan dari Seoul: Mengapa Kesepakatan Kim-Trump Khawatirkan Korea Selatan?

Oleh: Justin McCurry (The Guardian)

Secara redaksional, dokumen yang ditandangani oleh Donald Trump dan Kim Jong Un pada Selasa (12/6) waktu setempat gagal memenuhi publisitas yang telah diberikan Trump di akhir pertemuan bersejarah yang dilangsungkan di Singapura. Trump mendeskripsikan momen tersebut sebagai perjanjian yang “sangat komprehensif” dan akan “menyelesaikan permasalahan besar dan berbahaya di dunia.”

Tentu saja, terdapat signifikansi pada fakta bahwa Trump dan Kim telah berjumpa dan mengakhiri kebersamaan mereka selama lima jam dengan kisah yang mengarah kepada langkah yang lebih substantif menuju denuklirisasi. Namun, saat ini dokumen tersebut tidak memberikan perbedaan mendasar dari kesepakatan yang telah dicapai oleh Kim Jong-un dan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in pasca pertemuan mereka di sisi selatan zona demiliterisasi pada akhir April kemarin.

Dokumen yang ditandatangani Trump-Kim pada dasarnya mencakup empat poin utama, yaitu:

Amerika Serikat dan Republik Demokratik Rakyat Korea/DPRK berkomitmen untuk membangun hubungan baru antara AS-Korut sejalan dengan harapan warga kedua negara akan kedamaian dan kesejahteraan.

Poin tersebut mewakili langkah yang berangkat dari retorika berapa-api yang secara tradisional saling dilontarkan antara AS dan Korut. Korut bahkan secara rutin menggunakan propaganda negara untuk menggambarkan AS sebagai kekuatan musuh yang bertekad menghancurkan rezim pemerintahan Korut beserta rakyatnya. Poin tersebut juga mencerminkan harapan Kim untuk fokus kepada pembangunan ekonomi—yang saat ini berpeluang besar berkat adanya dukungan dari AS- yang diraih melalui upayanya mengembangkan senjata nuklir yang dapat mengancam seluruh penjuru AS dan menarik Trump menuju meja perundingan.

Amerika Serikat dan Republik Demokratik Rakyat Korea/DPRK akan bekerja sama dalam mewujudkan rezim perdamaian yang stabil dan berjangka panjang di Semenanjung Korea.

Poin tersebut menunjukkan bahwa tidak ada komitmen langsung untuk memformalisasikan sentimen perjanjian perdamaian dan menggantikannya dengan persenjataan yang ditandangani di akhir Perang Korea pada tahun 1953. Akibatnya, dibutuhkan keterlibatan Cina dan negara-negara lainnya yang mengambil bagian dalam konflik. Sesuai dugaan, Trump menawarkan jaminan keamanan “yang tidak dijelaskan” kepada Korut. Ketidakjelasan langkah tersebut sejalan dengan komitmen meragukan Kim untuk melakukan denuklirisasi.

Dengan mengkonfirmasi hasil Deklarasi Panmunjom pada tanggal 27 April 2018, Republik Demokratik Rakyat Korea/DPRK berkomitmen untuk menuntaskan upaya denuklirisasi di Semenanjung Korea.

Poin tersebut menjadi yang terpenting dan sayangnya paling problematis dari pernyataan kedua pemimpin dunia yang bertemu di Singapura. Poin itu tidaklah sejalan dengan rencana yang telah lama dinyatakan AS yakni upaya denuklirisasi Korut dengan sepenuhnya, terverifikasi, serta tidak dapat dioperasikan ulang (Complete, Verifiable and Irreversible Dismantlement/CVID), namun sekedar menegaskan kembali posisi Kim usai pertemuannya dengan Moon.

    Baca Juga: Hasil Pertemuan Donald Trump dan Kim Jong Un: China Pemenang Sejatinya

Tak ada satupun analis yang memprediksi bahwa pemimpin Korut bersedia berkomitmen terhadap CVID dalam pertemuan pertamanya dengan Trump. Proses tersebut -apabila berhasil terlaksana- membutuhkan waktu bertahun-tahun serta biaya miliaran dolar. Poin di atas gagal mendefinisikan makna denuklirisasi.

Menurut AS, CVID menuntut Kim untuk mengabaikan ambisi persenjataan nuklirnya sama sekali. Sayangnya, interpretasi Korut jauh lebih rumit dari itu. Rezim pemerintahan Kim percaya bahwa denuklirisasi seharusnya mencakup penarikan payung nuklir AS dari Korsel, termasuk penarikan seluruh 28.500 tentara AS yang telah berjaga di sepanjang perbatasan Korsel-Korut. Berdasarkan pernyataan Alexander Vershbow dari Atlantic Council, terdapat perbedaan mendasar antara denuklirisasi di Semenanjung Korea dengan denuklirisasi Korsel.

Amerika Serikat dan Republik Demokratik Rakyat Korea/DPRK berkomitmen untuk mengembalikan jenazah tawanan perang atau yang hilang saat bertugas (Prisoner of War or Missing in Action/POW/MIA), termasuk pemulangan tawanan yang telah teridentifikasi.

Salah satu warisan Perang Korea selama tahun 1950-1953 ialah pengembalian dan pemulangan jenazah tahanan perang dan pasukan yang hilang saat bertugas. Terdapat sekitar 5.300 jenazah tentara Amerika yang berada di Korut dan tampaknya telah diidentifikasi, demikian dikutip dari Stars and Stripes. Dengan adanya ketegangan hubungan antara Korut dan AS, hingga kini tidak ada tindakan untuk mengembalikan jenazah sejak tahun 2005.

Hal ini tampaknya menjadi gestur yang paling aman dan menghindari risiko yang dilakukan Kim saat sepakat menghadiri pertemuan dengan Donald Trump. Jepang, sebaliknya, akan sangat kecewa bahwa perjanjian yang ditandatangani sama sekali tidak menyebutkan warga negara Jepang yang telah diculik agen Korut selama Perang Dingin.

Hingga kini masih harus dipastikan kembali apakah Donald Trump telah mengangkat isu penculikan warga Jepang dalam pembicaraannya dengan Kim, sesuai janjinya dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Jepang, Shinzō Abe, pada Senin (11/6)  waktu setempat.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Kim dan Trump selama upacara penandatanganan. (Foto: The New York Times/Doug Mills)

Analisis: Memahami Isi Dokumen yang Ditandatangani Kim dan Trump
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top