Apa Itu Perang Dagang? 9 Hal yang Jadi Mimpi Buruk Ahli Ekonomi
Amerika

Apa Itu Perang Dagang? 9 Hal yang Jadi Mimpi Buruk Ahli Ekonomi

Presiden AS Donald Trump berjalan dengan presiden Tiongkok Xi Jinping saat upacara penyambutan di Beijing, Tiongkok, 9 November 2017. (Foto: Reuters/Damir Sagolj)
Berita Internasional >> Apa Itu Perang Dagang? 9 Hal yang Jadi Mimpi Buruk Ahli Ekonomi

Para ahli ekonomi memperingatkan bahwa dunia sedang berada di ambang perang dagang habis-habisan, yang menampilkan aksi saling balas, retorika yang memanas, dan seruan kepada WTO, yang mungkin tidak siap untuk menanggapi. Ketika permintaan runtuh, negara-negara berebut untuk mempertahankan cadangan emas mereka dengan mendevaluasi mata uang mereka, atau memberlakukan lebih banyak lagi hambatan perdagangan.

Oleh: Andrew Mayeda dan Bryce Baschuk (Bloomberg)

Dalam rentang dua minggu, Presiden Amerika Serikat e(AS) Donald Trump memerintahkan serangkaian tarif terhadap sejumlah negara, memblokir pengambilalihan perusahaan AS, dan mencari pembatasan baru terhadap investasi China di masa depan.

    Baca Juga : Memo Rahasia Ungkap Hubungan antara Perusahaan Minyak dan Invasi Irak

Para ahli ekonomi memperingatkan bahwa dunia sedang berada di ambang perang dagang habis-habisan, yang menampilkan aksi saling balas, retorika yang memanas, dan seruan kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), yang mungkin tidak siap untuk menanggapi.

Jika provokasi perdagangan Trump tidak terkendali, puluhan kesepakatan transaksi perdagangan dengan perbatasan terbuka yang dinegosiasikan selama beberapa dekade, dapat disingkirkan. Prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat membuat pasar saham di seluruh dunia terguncang.

Apa itu perang dagang?

Kamus mengatakan bahwa itu adalah “sebuah konflik ekonomi di mana negara memberlakukan pembatasan impor satu sama lain, untuk merugikan perdagangan satu sama lain.” Tarif Trump dan ancaman pembalasan dari negara lain memenuhi definisi ini, tetapi begitu juga berabad-abad pertempuran protektif oleh sejumlah negara di sektor yang tak terhitung jumlahnya.

Eskalasi baru-baru ini memicu kekhawatiran bahwa Trump telah memicu perang dagang penuh, dengan menunjuk China, sebagai pembalasan atas pencurian kekayaan intelektual. Tindakan saling balas oleh AS dan China atas tarif baja, seruan Trump terhadap keamanan nasional untuk membenarkan beberapa langkahnya—yang bisa membuka Kotak Pandora dari klaim serupa oleh negara lain—dan ancaman Trump untuk lebih lanjut menghukum Uni Eropa, jika Uni Eropa memberlakukan counter-duties (bantuan untuk mengimbangi dampak subsidi oleh negara pengekspor), juga menambah suasana perang dagang.

Apa yang terjadi dalam perang dagang sebelumnya?

Salah satu contoh yang paling terkenal adalah Smoot-Hawley Act yang disahkan oleh Kongres pada tahun 1930, dan sering disalahkan karena memperdalam Depresi Besar. Undang-undang tersebut menaikkan tarif AS dengan rata-rata 20 persen, awalnya untuk melindungi petani Amerika, tetapi kemudian meluas, seiring industri lain melobi untuk perlindungan. Ketika permintaan runtuh, negara-negara berebut untuk mempertahankan cadangan emas mereka dengan mendevaluasi mata uang mereka, atau memberlakukan lebih banyak lagi hambatan perdagangan. Perdagangan global jatuh dengan sangat parah.

Siapa yang menang dalam perang dagang?

Tidak seorang pun, jika sejarah bisa menjadi panduan. Ketika Presiden George W Bush menaikkan tarif baja pada tahun 2002, produk domestik bruto AS turun $30,4 juta, menurut Komisi Perdagangan Internasional AS. AS kehilangan sekitar 200 ribu pekerjaan—sekitar 13 ribu di antaranya dalam pembuatan baja mentah—dalam satu perkiraan. Sebuah laporan oleh Peterson Institute for International Economics yang mendukung perdagangan bebas, memperkirakan bahwa tarif Bush mencakup sekitar $400 ribu untuk setiap pekerjaan industri baja yang diselamatkan. Organisasi Perdagangan Dunia juga memutuskan bahwa tarif Bush adalah ilegal.

Apa yang telah dilakukan Trump sejauh ini?

Dia memberlakukan tarif hingga $60 miliar dari produk yang belum ditentukan, yang diimpor dari China, sebagai pembalasan atas apa yang ia sebut sebagai pencurian kekayaan intelektual selama puluhan tahun. Dia memberlakukan tarif 25 persen dan 10 persen, masing-masing, pada impor baja dan aluminium, yang mendorong China untuk mengatakan bahwa negaranya dapat membalas dengan tarifnya sendiri. Walau ia sementara mengesampingkan para sekutu—termasuk Uni Eropa—dari tarif logam, namun ia mengharapkan mereka untuk memberikan kesepakatan kepada AS, untuk mempertahankan pengecualian tersebut.

Mengapa Trump mendorong pertarungan ini?

Dalam sebuah unggahan di Twitter pada tanggal 2 Maret, ia menyatakan bahwa perang dagang “baik, dan mudah untuk dimenangkan.” Fokusnya tetap mengurangi defisit perdagangan AS, yang menunjukkan bahwa negara itu mengimpor ratusan miliar dolar lebih banyak daripada mengekspornya.

Melangkah mundur dari kesepakatan perdagangan seperti Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) dan Kemitraan Trans-Pasifik (TPP), juga menarik bagi basis pemilih Trump di wilayah Rust Belt Amerika. Namun pembicaraan tentang perang perdagangan mengkhawatirkan banyak pemimpin bisnis AS, yang sebagian besar mendukung transaksi perdagangan yang ada, dan pasar sekuritas, yang takut akan keuntungan yang lebih rendah dan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat, jika AS menjadi proteksionis dan negara-negara lain membalas.

Siapa yang telah membalas?

Sejauh ini, China mengatakan akan menyerang minuman anggur, buah, pipa baja, dan ekspor lainnya dari AS senilai $3 miliar, dengan tarif. Kecemasan yang lebih besar bagi AS adalah bahwa China—yang merupakan kreditur terbesar AS—akan mengurangi pembelian obligasi sebagai pembalasannya. Duta Besar China untuk AS tidak mengesampingkan opsi tersebut. Negara-negara lain belum melakukan pembalasan untuk tarif baja dan aluminium tersebut—yang mulai berlaku pada tanggal 23 Maret—sebagian besar karena Trump sementara mengecualikan banyak di antara mereka.

Namun, Uni Eropa tidak senang, dan memperingatkan akan menanggapi dengan tarif 25 persennya sendiri pada barang-barang Amerika senilai $3,5 miliar, khususnya merek AS yang ikonik yang diproduksi di negara yang merupakan bagian dari basis politik Trump. Daftar ini termasuk sepeda motor, celana jins biru, dan wiski bourbon. Pada gilirannya, Trump memperingatkan bahwa ia akan mengenakan penalti sebesar 25 persen pada impor mobil Eropa, jika Uni Eropa melakukan ancamannya.

Kapan WTO terlibat?

AS mengambil langkah pertama pada tanggal 23 Maret, dengan mengajukan “permintaan untuk konsultasi” dengan China di WTO tentang lisensi teknologi. China juga memberi tahu WTO bagaimana ia dapat menanggapi tarif baja dengan menerapkan pajak sendiri. Namun tindakan pembalasan yang dilakukan dengan cepat dapat menguji proses deliberatif WTO yang lambat.

Penengah perselisihan perdagangan internasional tersebut lahir pada tahun 1995, dari serangkaian perjanjian yang dilakukan oleh negara-negara yang berusaha mengurangi hambatan perdagangan. Jika keluhan pemerintah tentang hambatan perdagangan negara lain dilihat sebagai beralasan, WTO merekomendasikan tindakan balasan yang dapat diterima. Dalam kasus baja, Trump menganjurkan klausul yang jarang digunakan dalam undang-undang AS tahun 1962, yang memberinya wewenang untuk mengekang impor jika impor tersebut merusak keamanan nasional.

Berdasarkan aturan WTO, negara-negara dapat mengambil tindakan perdagangan untuk melindungi “kepentingan keamanan yang penting.” Negara lain dapat menantang keabsahan penggunaan klausa tersebut oleh AS. Mereka juga dapat meniru langkah AS, dengan menggunakan alasan keamanan nasional untuk memblokir impor mereka sendiri.

Mungkinkah tarif menjadi bumerang di AS?

Ya. Ambil contoh tarif baja. Lebih banyak orang yang bekerja di industri, seperti manufaktur mobil—yang membeli baja untuk membuat produk—daripada yang bekerja dalam pembuatan baja itu sendiri. Beberapa konsumen mungkin juga harus membayar harga yang lebih tinggi.

Ketegangan perdagangan dapat meningkatkan inflasi lebih dari yang diinginkan oleh para pembuat kebijakan Federal Reserve (Fed, bank sentral di Amerika), yang mungkin merasa perlu menaikkan suku bunga lebih agresif dari yang direncanakan. Di sisi lain, jika tarif mengakibatkan hilangnya pekerjaan, dan ekonomi melambat, Fed mungkin ingin mengurangi laju kenaikan suku bunga.

Apakah tarif adalah satu-satunya senjata dalam perang dagang?

Tidak, masih banyak lagi yang lainnya. Menghambat investasi China di AS—yang sudah dilakukan Trump—adalah salah satu contohnya. Meremehkan, atau memanipulasi lebih rendah, mata uang negara lain adalah senjata lainnya. Negara-negara selama bertahun-tahun telah menggunakan cara lain untuk menghindari barang-barang asing, dan melindungi perusahaan-perusahaan lokal—sebuah praktik yang dikenal sebagai merkantilisme.

    Baca Juga : 5 Masalah Besar Menanti Irak di 2018

Trump menuduh China menggunakan subsidi pemerintah untuk menopang industri domestiknya. Beberapa praktik bersifat terbuka—seperti kuota—dan lainnya, seperti spesifikasi produk yang tidak biasa, inspeksi barang yang panjang di pelabuhan masuk, dan persyaratan perizinan yang rumit.

Keterangan foto utama: Presiden AS Donald Trump berjalan dengan presiden Tiongkok Xi Jinping saat upacara penyambutan di Beijing, Tiongkok, 9 November 2017. (Foto: Reuters/Damir Sagolj)

Apa Itu Perang Dagang? 9 Hal yang Jadi Mimpi Buruk Ahli Ekonomi

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top