Amerika

Apa Kata Barack Obama Soal Mundurnya Amerika dari Kesepakatan Nuklir Iran?

Presiden Donald Trump dan mantan Presiden Barack Obama berbicara di tangga depan Timur US Capitol setelah upacara pelantikan pada 20 Januari 2017 di Washington, DC. (Foto: AFP/Getty Images/Robyn Beck)
Home » Featured » Amerika » Apa Kata Barack Obama Soal Mundurnya Amerika dari Kesepakatan Nuklir Iran?

“Saya percaya bahwa keputusan untuk menempatkan JCPOA dalam risiko tanpa adanya pelanggaran oleh Iran atas kesepakatan itu, merupakan kesalahan serius,” kata mantan presiden AS Barack Obama. Kesepakatan nuklir Iran dinegosiasikan ditandatangani pada saat masa kepresidenan Obama.

    Baca juga: Apa Itu Kesepakatan Nuklir Iran: Mengapa Trump Ingin Menghancurkannya?

Oleh: Mike Calia (CNBC)

Mantan Presiden Barack Obama mengkritik keputusan Presiden Donald Trump pada Selasa (8/5), untuk menarik Amerika Serikat (AS) keluar dari kesepakatan nuklir Iran.

Rencana Aksi Komprehensif Gabungan, atau JCPOA, dinegosiasikan dan dilaksanakan pada saat masa kepresidenan Obama. Penarikan diri AS memenuhi janji kampanye Trump.

Pakta tahun 2015 tersebut mencabut sanksi terhadap Taheran yang melumpuhkan ekonominya, dan memangkas ekspor minyaknya secara kasar menjadi setengahnya. Sebagai imbalan untuk kelonggaran sanksi, Iran menerima batasan program nuklirnya dan memungkinkan inspektur internasional masuk ke fasilitasnya.

Menarik diri dari kesepakatan itu dapat membebani hubungan diplomatik dengan sekutu-sekutu AS seperti Prancis dan Jerman, dan itu bisa memiliki dampak di pasar minyak.

“Saya percaya bahwa keputusan untuk menempatkan JCPOA dalam risiko tanpa adanya pelanggaran oleh Iran atas kesepakatan itu, merupakan kesalahan serius,” ujar Obama.

Berikut pernyataan lengkap Obama:

“Ada beberapa masalah yang lebih penting bagi keamanan Amerika Serikat daripada potensi penyebaran senjata nuklir, atau potensi untuk perang yang lebih merusak di Timur Tengah. Itulah mengapa Amerika Serikat merundingkan Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA) pada awalnya.

“Kenyataannya jelas. JCPOA berhasil—itu adalah pandangan yang dirasakan oleh sekutu-sekutu Eropa kami, ahli independen, dan Menteri Pertahanan AS saat ini. JCPOA mencakup kepentingan Amerika—telah secara signifikan menggulingkan program nuklir Taheran. Dan JCPOA adalah model untuk apa yang dapat dicapai oleh diplomasi—inspeksi dan rezim verifikasinya adalah persis apa yang harus dilakukan Amerika Serikat terhadap Korea Utara.

“Memang, pada saat ketika kita semua mendukung agar diplomasi dengan Korea Utara berhasil, menjauhi JCPOA berisiko kehilangan kesepakatan yang dicapai—dengan Iran—hasil akhir yang kita kejar dengan Korea Utara.

“Itulah mengapa pengumuman hari ini begitu salah arah. Melangkah jauh dari JCPOA membalikkan punggung kita pada sekutu terdekat Amerika, dan kesepakatan yang para diplomat, ilmuwan, dan profesional intelijen negara kita negosiasikan. Dalam demokrasi, akan selalu ada perubahan dalam kebijakan dan prioritas dari satu pemerintahan ke pemerintahan yang berikutnya.

“Tetapi pelanggaran terhadap perjanjian di mana negara kita adalah pihak yang terlibat, berisiko mengikis kredibilitas Amerika, dan menempatkan kita berselisih dengan kekuatan besar dunia.

“Perdebatan di negara kita harus diinformasikan oleh fakta, terutama perdebatan yang terbukti memecah belah. Jadi penting untuk meninjau beberapa fakta tentang JCPOA.

“Pertama, JCPOA bukan hanya kesepakatan antara pemerintahan saya dan pemerintah Iran. Setelah bertahun-tahun membangun koalisi internasional yang dapat memberlakukan sanksi yang melumpuhkan terhadap Iran, kita mencapai JCPOA bersama dengan Inggris, Prancis, Jerman, Uni Eropa, Rusia, China, dan Iran. Ini adalah kesepakatan kontrol senjata multilateral, dengan suara bulat didukung oleh Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Kedua, JCPOA telah bekerja untuk menghentikan program nuklir Iran. Selama beberapa dekade, Iran terus memajukan program nuklirnya, mendekati titik di mana mereka dapat dengan cepat menghasilkan bahan fisil yang cukup untuk membuat bom. JCPOA membatasi kapasitas itu.

“Sejak JCPOA dilaksanakan, Iran telah menghancurkan inti reaktor yang bisa menghasilkan plutonium tingkat senjata; memindahkan dua pertiga sentrifugalnya (lebih dari 13.000) dan menempatkannya di bawah pengawasan internasional; dan menghilangkan 97 persen persediaan uranium yang diperkaya—bahan mentah yang diperlukan untuk sebuah bom. Jadi dengan ukuran apa pun, JCPOA telah memberlakukan pembatasan ketat pada program nuklir Iran dan mencapai hasil nyata.

“Ketiga, JCPOA tidak bergantung pada kepercayaan—JCPOA berakar pada pemeriksaan dan verifikasi rezim, yang pernah dinegosiasikan dalam kesepakatan pengawasan senjata. Fasilitas nuklir Iran diawasi secara ketat. Pemantau internasional juga memiliki akses ke seluruh rantai pasokan nuklir Iran, sehingga kita dapat menangkap mereka jika mereka menipu. Tanpa JCPOA, rezim pengawasan dan inspeksi ini akan hilang.

    Baca juga: Donald Trump Umumkan Penarikan Diri Amerika dari Kesepakatan Nuklir Iran

“Keempat, Iran mematuhi JCPOA. Itu bukan hanya pandangan pemerintahan saya. Komunitas intelijen Amerika Serikat terus menemukan bahwa Iran memenuhi tanggung jawabnya di bawah kesepakatan tersebut, dan telah melaporkan banyak kepada Kongres. Begitu pula sekutu-sekutu terdekat kita, dan badan internasional yang bertanggung jawab untuk memverifikasi kepatuhan Iran—Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

“Kelima, JCPOA belum habis masa berlakunya. Pelarangan atas Iran yang pernah mendapatkan senjata nuklir adalah permanen. Beberapa pemeriksaan yang paling penting dan mengganggu yang dikodifikasikan oleh JCPOA bersifat permanen. Bahkan ketika beberapa ketentuan dalam JCPOA menjadi kurang ketat seiring waktu, tapi itu belum terjadi sampai sepuluh, lima belas, dua puluh, atau dua puluh lima tahun berjalannya kesepakatan tersebut, jadi tidak ada alasan untuk menempatkan risiko pada pembatasan itu hari ini.

“Akhirnya, JCPOA tidak pernah dimaksudkan untuk menyelesaikan semua masalah kita dengan Iran. Kita dapat melihat jelas bahwa Iran terlibat dalam perilaku yang merusak stabilitas—termasuk dukungan untuk terorisme, dan ancaman terhadap Israel dan negara-negara tetangganya. Tapi itulah mengapa begitu penting bahwa kita mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.

“Setiap aspek perilaku Taheran yang mengganggu, jauh lebih berbahaya jika program nuklir mereka tidak dibatasi. Kemampuan kita untuk menghadapi perilaku destabilisasi Iran—dan untuk mempertahankan kesatuan tujuan dengan sekutu kita—diperkuat dengan JCPOA, dan akan melemah tanpa itu.

“Karena fakta-fakta ini, saya percaya bahwa keputusan untuk menempatkan JCPOA dalam risiko tanpa adanya pelanggaran Taheran terhadap kesepakatan itu, merupakan kesalahan serius. Tanpa JCPOA, Amerika Serikat akhirnya hanya memiliki pilihan yang merugikan, antara Iran yang bersenjata nuklir atau perang lain di Timur Tengah. Kita semua tahu bahayanya Iran bila mendapatkan senjata nuklir.

“Itu bisa memberanikan rezim yang sudah berbahaya; mengancam teman kita dengan kehancuran; menimbulkan bahaya yang tidak dapat diterima untuk keamanan Amerika sendiri; dan memicu perlombaan senjata di wilayah paling berbahaya di dunia. Jika penahan pada program nuklir Iran di bawah JCPOA hilang, kita bisa mempercepat hari ketika kita dihadapkan dengan pilihan antara hidup dengan ancaman itu, atau pergi berperang untuk mencegahnya.

“Di dunia yang berbahaya, Amerika harus dapat mengandalkan bagian yang kuat, diplomasi berprinsip untuk mengamankan negara kita. Kita telah lebih aman di tahun-tahun sejak kami mencapai JCPOA, sebagian berkat kerja para diplomat kita, banyak anggota Kongres, dan sekutu kita.

“Ke depan, saya berharap bahwa Amerika terus berbicara untuk mendukung kepemimpinan yang kuat, berprinsip, berbasis fakta, dan pemersatu yang dapat mengamankan negara kita dan menjunjung tinggi tanggung jawab kita di seluruh dunia.”

—Tom DiChristopher dari CNBC memberikan kontribusi untuk laporan ini.

Keterangan foto utama: Presiden Donald Trump dan mantan Presiden Barack Obama berbicara di tangga depan Timur US Capitol setelah upacara pelantikan pada 20 Januari 2017 di Washington, DC. (Foto: AFP/Getty Images/Robyn Beck)

Apa Kata Barack Obama Soal Mundurnya Amerika dari Kesepakatan Nuklir Iran?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top