Apa Perbedaan Parade Militer Trump dengan Parade Militer Amerika Sebelumnya?
Amerika

Apa Perbedaan Parade Militer Trump dengan Parade Militer Amerika Sebelumnya?

Perbedaan mendasar parade militer Amerika yang diusulkan oleh Trump dengan parade sebelumnya adalah, bahwa parade sebelumnya kerap dilakukan untuk merayakan para tentara yang akan kembali ke kehidupan sipil mereka. Banyak pula tokoh yang mengatakan bahwa seperti halnya Soviet, memamerkan kekuatan militer Amerika hanya akan membuat Amerika terlihat lemah.

Oleh: Joshua Zeitz (Politico)

Selama dua hari pada musim semi tahun 1865—23 Mei dan 24 Mei, seminggu setelah penyerahan diri Robert E Lee di Gedung Pengadilan Appomattox dan kematian tragis Abraham Lincoln—setidaknya 150 ribu tentara berbaris dengan tanda kebesaran yang dipamerkan menuju Jalan Pennsylvania di Washington, DC, untuk sebuah acara yang sekarang dikenal dengan Grand Review. Dengan presiden barunya, Andrew Johnson, dan Jenderal Ulysses S Grant yang berada di kotak pengawasan VIP, pertama anggota Angkatan Darat George of the Potomac, dan kemudian anggota Angkatan Darat William T. Sherman di Tennessee, mementaskan parade militer terbesar dan yang paling rumit dalam sejarah Amerika sampai saat itu. Grant meragukan bahwa “sekelompok laki laki yang setara, pria demi pria, perwira demi perwira, pernah berkumpul seperti itu.”

Seperti Grant, Donald Trump, yang merupakan Presiden ke-45 Amerika Serikat (AS), juga menikmati parade, dan atas nama keberuntungan, ia menikmati kewenangan konstitusional yang memberinya kesempatan untuk memerintahkan satu kelompok membuat parade militer. Setelah menyaksikan parade militer pada acara Hari Bastille di Paris, dia dilaporkan telah berulang kali memerintahkan Pentagon untuk merencanakan pertunjukan akbar angkatan bersenjata Amerika—beserta anggota angkatan bersenjata, tank, persenjataan, dan lain-lain—di ibu kota negara tersebut.

Dari permukaan, acara tersebut akan terlihat seperti Grand Review tahun 1865. Kecuali bahwa sebenarnya acara  itu tidak memiliki kemiripan sama sekali.

Dalam rangka menegakkan motto “Buat Amerika Hebat Lagi”, Trump terinspirasi untuk menunjukkan kekuatan Amerika dengan memamerkan ketangguhan angkatan bersenjata dan segala ragam persenjataan yang mereka miliki. Sebenarnya, ada waktu-waktu di dalam sejarah Amerika, ketika negara tersebut memamerkan militer mereka kepada publik. Namun momen tersebut ada untuk mengingatkan bahwa proposal Trump untuk melakukan parade melanggar norma politik Amerika. Pada tahun 1865, 1919, dan 1945, parade militer besar-besaran diselenggarakan untuk merayakan kembalinya tentara Amerika yang—seperti yang banyak orang pahami—untuk menjadi warga negara sipil. Acara tersebut ditujukan untuk menandai berakhirnya mobilisasi masa perang dan pelepasan tentara sukarelawan. Acara parade ini sesuai dengan tradisi panjang politik yang melihat tentara yang bertugas secara waspada.

Dalam artiannya, parade militer yang akan digelar Trump menjadi contoh seberapa jauh kita telah melenceng dari tradisi yang telah ada sejak lama.

    Baca juga: Perayaan Kemerdekaan Impian Trump: ‘Parade Militer untuk Tunjukkan Kekuatan Amerika’

Keengganan untuk memamerkan secara paksa kekuatan militer sudah mendarah daging dalam sejarah Amerika. Tenggelam dalam tradisi saat Amerika melawan Whig Inggris, orang-orang yang mendorong para koloni hingga terjadinya revolusi di akhir abad ke-18, memandang “tentara yang bertugas”—dan institusi permanen lain yang dapat dijumpai di masa perang maupun damai—lebih banyak diisi oleh tentara profesional daripada sukarelawan militer, sebagai instrumen bagi pemimpin yang lalim. Penjajahan Redcoat di jalanan Boston dan tentara bayaran Hessian yang menyewakan diri mereka sendiri untuk mengerjakan tugas kotor sang raja, dapat dilihat sebagai perwujudan dari angkatan bersenjata yang koersif dan korup.

Ketika mereka menyertakan UU HAM ke dalam konstitusi, para penyusun UU dengan sengaja menyertakan amandemen ketiga, yang mencegah penghukuman wajib bagi para tentara agar tidak dilaksanakan di wilayah berpenduduk selama masa damai—semua peraturan ini merefleksikan pengalaman nyata dan terjadi akhir-akhir ini oleh angkatan bersenjata Inggris, dan ketidakpercayaan Amerika terhadap tentara profesional. Pada awal tahun 1790-an, Kongres mendebatkan apakah kita perlu memiliki angkatan bersenjata, dan jika iya, apakah perlu membatasinya dalam jumlah 3.000 tentara, seperti yang disarankan oleh anggota Dewan Elbridge Gerry dari Massachusetts. Banyak rekan Gerry yang berasal dari Partai Demokrat-Republik setuju, meskipun Presiden George Washington—yang dengan sarkasme menyarankan peraturan tambahan di mana “tidak boleh ada musuh dari luar yang boleh menyerang Amerika Serikat, kapan pun, dengan jumlah tentara lebih dari 3.000 personel”—akhirnya memenangkan perdebatan itu. Negara baru Amerika akan memiliki tentara dan angkatan laut, dengan jumlah yang tidak dibatasi.

Bagaimana pun, untuk sekitar 75 tahun pertama, Amerika Serikat hanya memiliki jumlah tentara yang sedikit dan tersebar. Kemudian pada masa Perang Sipil, setidaknya sekitar 16 ribu tentara, yang dipimpin oleh seorang petugas korps yang kurus, mewakili keseluruhan angkatan bersenjata. Hanya berbekal pendaftaran massal, yang kemudian dipaksakan melalui peraturan pada tahun 1863,  membuat angkatan bersenjata Amerika menjadi membengkak jumlahnya. Lebih dari 2,5 juta laki-laki mengabdi pada Amerika selama masa perang. Dan banyak dari mereka yang dengan bangga menunjukkan demobilisasi cepat pada saat acara Grand Review tahun 1865.

Presiden Prancis Emmanuel Macron dan istrinya Brigitte Macron (kiri), dan Presiden Trump dan Ibu Negara Melania Trump (kanan), berdiri di depan bendera Amerika dan Prancis yang dipegang oleh tentara, pada akhir parade militer tahunan Hari Bastille pada Juli lalu. (Foto: AFP/Getty Images/Stephen Crowley)

Presiden Prancis Emmanuel Macron dan istrinya Brigitte Macron (kiri), dan Presiden Trump dan Ibu Negara Melania Trump (kanan), berdiri di depan bendera Amerika dan Prancis yang dipegang oleh tentara, pada akhir parade militer tahunan Hari Bastille pada Juli lalu. (Foto: AFP/Getty Images/Stephen Crowley)

Dalam pandangan Amerika Utara Philadelphia, parade Perang Sipil adalah “suatu persembahan akbar untuk kebebasan pemerintahan, seperti dibayar.” Tentara ini bukanlah angkatan bersenjata. Mereka terdiri dari penduduk sipil—para penjaga toko kelontong dan petani, profesor perguruan tinggi seperti Joshua Lawrence Chamberlain, dan pengacara seperti James Garfield—yang akan meninggalkan Washington dan sesegera mungkin kembali ke kehidupan normalnya. Hingga Januari 1866, tinggal sekitar 90 ribu tentara yang masih tinggal di daerah selatan. Angka itu menurun untuk beberapa tahun berikutnya, hingga pada akhir tahun 1860-an, sekelompok kecil pegawai yang masih terdaftar dan petugas, kekusahan menegakkan hukum di era-rekonstruksi, sementara sebagian lainnya lebih banyak menyebar ke wilayah barat untuk membantu ekspansi jalan kereta api dan pembukaan wilayah pemukiman. Grand Review dapat dikatakan sebagai perayaan terakhir bagi tentara masal yang dikumpulkan Abraham Lincoln.

Hal sama juga terjadi di tahun 1919, ketika lebih dari 200 ribu “doughboys“—nama populer untuk petugas layanan Amerika selama masa Perang Dunia I—berbaris dalam kurang lebih 450 parade kemenangan yang tersebar di seluruh wilayah. Prosesi akbar tersebut tersebar dari kota New York, yang memamerkan enam kemegahan besar militer, hingga ke kota Harrisburg, dimana 100 personel dari tentara pertama, kembali ke rumah mereka dan melepas seragam mereka. Seperti pendahulu mereka pada masa Perang Sipil, mereka telah menjadi bagian dari mobilisasi tentara sipil berskala besar dan pelayar: menyambut keikutesertaan Amerika dalam perang, Amerika setidaknya memiliki 140 ribu petugas dan pejuang; dalam jangka waktu dua tahun, 4,5 juta pria terdaftar atau didaftarkan ke dalam angkatan bersenjata, dan di masa puncak perang, lebih dari 2 juta orang dikirimkan ke Prancis. Pada 1920, hanya 130 ribu orang yang masih memakai seragam. Parade akbar tahun 1919 ditujukan untuk menyambut kembali para pejuang ke kehidupan normal mereka.

Jadi pada tanggal 12 Januari 1946, antara 2 juta hingga 4 juta penduduk New York menyambut prosesi 13 ribu angkatan darat dengan pita telegraf yang menunjukkan kesukariaan dengan tulisan “Parade Kemenangan,” bersamaan dengan puluhan kota lain yang menyambut sekitar 16,4 juta pria dan wanita yang mengabdi dalam seragam selama Perang Dunia II. Parade ini tidak hanya melibatkan tentara yang kembali ke rumah, namun juga berderet-deret tank Sherman yang berbobot 36 ton, tank penghancur, howitzer, jeep, mobil berpelindung, dan senjata anti-tank. “Berkah yang bertaburan, tiupan peluit yang bersuit-suit, gemuruh tepuk tangan, ringkikan kuda, dan air mata yang mengalir dari segala penjuru “berlangsung tanpa henti”, menurut laporan the New York Times. Namun sekali lagi, Parade kemenangan tersebut ditujukan untuk merayakan para tentara yang akan menjadi veteran, karena mereka kembali ke kehidupan sipil mereka. Pada musim semi 1946, kurang dari seperempat tentara masih menggunakan seragam—ini, merupakan awal dari masa Perang Dingin.

    Baca juga: Jelang Olimpiade Musim Dingin, Korea Utara Tetap Gelar Parade Militernya

Sebenarnya, Amerika mulai setuju dengan ide bahwa angkatan bersenjata permanen dibutuhkan di era-modern. Kita tidak lagi hidup di era-kolonial. Setidaknya 1,3 juta tentara yang aktif di angkatan darat, laut, dan udara telah menjadi keseluruhan bagian kekuatan militer saat ini. Dan untuk itu, kita telah menyelenggarakan parade militer—terutama pada tahun 1991, ketika 200 ribu penonton berkumpul di Washington DC—untuk merayakan tentara militer profesional. Acara ini berbeda dengan acara-acara sebelumnya; para warga merayakan “angkatan bersenjata” yang bertugas secara permanen. Namun konteksnya—untuk merayakan kemenangan di Perang Teluk—tetap sama.

Apa yang diusulkan oleh Trump adalah suatu hal yang tidak sesuai dengan tradisi Amerika, dan menjadi alasan bagi beberapa orang mengapa parade membuat mereka merasa tidak nyaman. Tidak hanya liberalis yang akan tetap menolak menyuarakan oposisi mereka karena takut dituduh menunjukkan anti-militer, namun seorang konservatif seperti Senator John Kennedy dari Louisiana, yang mengatakan bahwa, “Kepercayaan diri tak banyak bicara dan ketidakpercayaan nyaring bunyinya. Amerika merupakan negara paling kuat dalam seluruh sejarah dunia; kita tidak perlu memamerkannya.” Bahkan ikon militer seperti Dwight Eisenhower menolak keras pameran seperti itu ketika dia menjabat menjadi presiden. “Eisenhower mengatakan pokoknya tidak, kita adalah negara yang sangat menonjol di bumi,” seperti dijelaskan oleh sejarahwan Michael Beschloss. “Bagi kami, mencoba meniru apa yang dilakukan Soviet di Red Square hanya akan membuat kami terlihat lemah.”

Foto utama oleh Harry Harris/AP Photo

Apa Perbedaan Parade Militer Trump dengan Parade Militer Amerika Sebelumnya?
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top