KTT Trump-Kim Kedua
Global

Apa yang Dapat Diharapkan dari KTT Trump-Kim Kedua

Berita Internasional >> Apa yang Dapat Diharapkan dari KTT Trump-Kim Kedua

KTT Donald Trump-Kim Jong Un kedua akan segera dilangsungkan. Jika pertemuan pertama tidak banyak memberikan hasil, pertemuan kedua kemungkinan tidak jauh berbeda—tapi masih banyak harapan. KTT Trump-Kim kedua ini akan dilangsungkan pada akhir bulan Februari, lokasinya belum dipastikan.

Baca juga: KTT Singapura: Keuntungan Apa yang Akan Didapat Korea Utara dari Amerika?

Oleh: Uri Friedman (The Atlantic)

Selama kurang lebih 40 menit pada hari Jumat (18/01), hotel butik yang sepi di Washington, DC tiba-tiba dibanjiri orang saat hotel itu dijadikan sebagai pusat pembicaraan nuklir dengan Korea Utara.

Ketika wartawan dan kru kamera yang berkerumun di lobi Dupont Circle Hotel tumpah ke luar sampai ke jalan, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo bertemu dengan rekan perundingnya dari Korea Utara, Kim Yong Chol, sebelum muncul dari lift, tersenyum sedikit, mengabaikan teriakan pertanyaan “Bagaimana hasilnya?” dan melaju dengan iring-iringan mobil ke Gedung Putih. Kim, yang menyelinap keluar dari hotel dengan lebih sembunyi-sembunyi, berada tidak jauh di belakang.

Hasilnya datang tidak lama kemudian. Setelah bertemu dengan Pompeo dan Kim selama 90 menit di Gedung Putih, Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa ia akan mengadakan KTT kedua dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, pada akhir Februari di lokasi yang belum diumumkan.

Namun, sebagai tanda betapa hati-hatinya kedua pihak untuk menghadiri pertemuan ini, berita itu tidak diumumkan kepada pers di halaman Gedung Putih seperti yang telah terjadi sebelum pertemuan puncak pertama. Sebaliknya, berita itu datang melalui email dari Sekretaris Pers Sarah Huckabee Sanders.

Berikut adalah ringkasan mengenai sampai mana perkembangan negosiasi yang telah berlangsung dan apa yang dapat dihasilkan dari sekuel KTT Trump-Kim Singapura Juni 2018:

Apa yang sudah dan belum tercapai

Pemerintahan Trump mengatakan keterlibatan diplomatiknya dengan rezim Kim telah menghasilkan prestasi yang signifikan. Kedua belah pihak telah mundur dari jurang perang (meskipun Kim dan Trump-lah yang mengarahkan kedua negara mereka ke arah perang). Korea Utara telah menghentikan uji coba senjata nuklir dan rudal jarak jauh yang dapat mencapai Amerika Serikat.

Kedua negara telah mengadakan dialog langsung di tingkat pemerintahan yang paling tinggi dan, bersama dengan Korea Selatan, sedang bereksperimen dengan model baru dari perundingan top-down (setelah beberapa dekade negosiasi bottom-up yang gagal) di mana pertemuan-pertemuan antara para pemimpin politik bertugas sebagai katalis dan bukan batu penjuru dalam proses. Ada beberapa isyarat niat baik yang berarti: Amerika Serikat telah menangguhkan latihan militer besar-besaran dengan Korea Selatan, sementara Korea Utara mengklaim telah menghancurkan situs uji coba nuklir mereka.

Tetapi tujuh bulan setelah Trump menjadi presiden Amerika pertama yang bertemu dengan seorang pemimpin Korea Utara, yang setelahnya membual bahwa “tidak ada lagi ancaman nuklir dari Korea Utara,” program senjata nuklir Korea Utara tetap setidaknya sama tangguhnya seperti sebelum Trump dan Kim berjabat tangan di Singapura. Bahkan ketika Korea Utara dan Selatan telah membuat langkah luar biasa dalam rekonsiliasi—demiliterisasi bagian dari perbatasan mereka yang dijaga ketat, misalnya, dan mengeksplorasi cara-cara untuk menghubungkan jalur kereta api mereka—upaya untuk mencapai “denuklirisasi Korea Utara yang terakhir, yang sepenuhnya terverifikasi,” tidak berkembang ke arah manapun.

Pemerintah Kim belum mengambil langkah-langkah seperti yang diharapkan para pejabat AS, seperti menyediakan inventaris program senjata nuklirnya, membongkar sebagian persenjataan nuklirnya dengan cara yang dapat dikonfirmasi secara independen, atau menawarkan lini waktu untuk sepenuhnya melepaskan nuklirnya. Utusan baru pemerintahan Trump untuk Korea Utara, Stephen Biegun, belum bisa bertemu dengan rekan-rekan Pyongyang-nya.

Trump suka menggambarkan bahwa negosiasi itu merupakan kesuksesan besar, tetapi pemerintahannya sendiri terkadang lebih jujur. Sebuah laporan tentang pertahanan rudal AS, yang dirilis minggu ini oleh Pentagon, mencatat bahwa Korea Utara “terus menimbulkan ancaman yang luar biasa” ke Amerika Serikat.

Dengan kata lain, sejauh ini belum ada kemajuan, dan pemerintahan Trump berharap bahwa KTT kedua dapat memulai kembali negosiasi. (Pengkritik tentu saja mengatakan bahwa pertemuan itu memberi Kim kredibilitas internasional tanpa ada konsesi dari pihaknya.)

Apa yang bisa dicapai pada pertemuan berikutnya

Pejabat AS tampaknya akan memasuki KTT berikutnya dengan pemahaman bahwa pendekatan awal mereka untuk perundingan—menahan konsesi sampai Kim menyerahkan senjata nuklirnya—sejauh ini terbukti buntu.

Sebagai gantinya, mereka mungkin mengikuti formula yang lebih timbal balik yang telah lama diadvokasi oleh pejabat Korea Utara dan Korea Selatan: mengambil langkah-langkah untuk membangun perdamaian dan hubungan baru dengan Korea Utara (dua komitmen pertama yang dibuat dalam pernyataan Trump dan Kim yang ditandatangani di Singapura) dengan imbalan bahwa Pemerintah Korea Utara dapat mengambil langkah yang sesuai menuju denuklirisasi (komitmen ketiga).

Para skeptis memperingatkan bahwa ini trik lama Korea Utara, di mana ia akan mengantongi imbalan tanpa melepaskan apa pun yang berharga.

Dalam pidato Hari Tahun Baru, Kim mengisyaratkan satu kemungkinan kesepakatan: membatasi produksi senjata nuklir negara itu dan berjanji untuk tidak menggunakannya pertama kali dalam konflik atau mentransfernya kepada orang lain dengan imbalan bantuan dari sanksi internasional. “Kami menyatakan di dalam dan luar negeri bahwa kami tidak akan membuat dan menguji senjata nuklir lagi atau menggunakan dan memperbanyaknya,” kata pemimpin Korea Utara itu, tetapi tidak ada yang bisa terjadi ketika Amerika Serikat terus menekan negaranya.

Ketika Pompeo ditanya tentang proposal tersebut dalam wawancara baru-baru ini dengan Fox News, ia tidak mengesampingkannya. Dia mengatakan dia sedang menjajaki cara-cara dengan Korea Utara untuk “mengurangi risiko bagi rakyat Amerika”—tujuan yang lebih sederhana yang tidak perlu mengharuskan dihilangkannya program nuklir secara langsung.

Setengah langkah yang disepakati pada KTT berikutnya bisa datang dalam berbagai bentuk. Amerika Serikat dan Korea Utara, misalnya, dapat bergabung dengan China dan Korea Selatan untuk secara simbolis mendeklarasikan berakhirnya Perang Korea sebagai awal perjanjian damai, atau mendirikan kantor penghubung di Washington dan Pyongyang. Amerika Serikat dapat melonggarkan sanksi terhadap Korea Utara atau membuat pengecualian kemanusiaan dan lainnya terhadap sanksi-sanksi itu, sementara Kim membongkar rudal balistik antarbenua yang secara langsung mengancam daratan AS atau fasilitas seperti kompleks nuklir Yongbyon.

Baca juga: Singapura Bisa Jadi Kembali Jamu Pertemuan Trump-Kim

Rincian perjanjian apa pun yang dicapai Trump dan Kim dalam pertemuan puncak berikutnya—dengan asumsi mereka dapat menghasilkan sebuah kesepakatan—akan mewakili indikasi yang paling jelas tentang apa yang sebenarnya dilakukan pemerintahan Trump dengan Korea Utara. Apakah pembicaraan ini masih benar-benar tentang denuklirisasi? Apakah negosiasi akan berubah menjadi negosiasi kontrol senjata? Atau pernahkah pejabat AS menyadari, seperti yang mereka lakukan di masa lalu dengan negara-negara seperti Pakistan, bahwa yang terbaik yang bisa mereka lakukan adalah belajar untuk hidup dengan Korea Utara yang bersenjata nuklir selama itu tidak mengancam secara langsung?

Wild card

Kemudian, tentu saja, ada wild card Trump sendiri, yang pada KTT terakhir memutuskan untuk menghentikan latihan militer AS-Korea Selatan dan mungkin akan ada kejutan lain ketika dia dan Kim bertemu lagi. Bahkan jika para penasihatnya percaya bahwa deklarasi yang mengakhiri Perang Korea adalah keputusan yang prematur, presiden tetap dapat melanjutkan dan menjanjikannya. Bahkan jika pemimpin Korea Utara tidak meminta Amerika Serikat untuk mengurangi kehadiran militernya di Korea Selatan, Trump mungkin akan dengan senang hati melakukannya, karena menurutnya program tersebut adalah penipuan bagi Amerika Serikat.

Kim juga bukan pemimpin yang paling mudah ditebak—pemerintahannya telah menghancurkan pertemuan dengan para pejabat Amerika dan dia mengancam akan “mencari cara baru” jika Amerika Serikat tidak menghentikan tekanan pada negaranya.

Bagaimanapun, pejabat AS akan menghabiskan bulan depan untuk mencari serangkaian “hadiah” untuk KTT. Tetapi tidak ada yang dapat memprediksi apa yang terjadi ketika bos mereka masuk kedalam ruangan bersama Kim Jong Un.

 Keterangan  foto utama: Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dan Kim Yong Chol, pejabat senior di partai berkuasa Korea Utara dan mantan pejabat intelijen, di Hotel Dupont Circle (Foto: AP/Carolyn Kaster)

Apa yang Dapat Diharapkan dari KTT Trump-Kim Kedua

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top