Apakah Pelucutan Senjata Nuklir Dipersiapkan untuk Menghancurkan Diri?
Global

Apakah Pelucutan Senjata Nuklir Dipersiapkan untuk Menghancurkan Diri?

Berita Internasional >> Apakah Pelucutan Senjata Nuklir Dipersiapkan untuk Menghancurkan Diri?

Sejak Donald Trump mengumumkan akan menarik Amerika Serikat keluar dari Perjanjian INF, muncul kegelisahan baru soal persenjataan nuklir. Pekan lalu, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menuduh Rusia telah melanggar perjanjian tersebut. Rusia bersikeras bahwa ia masih mematuhi perjanjian itu, dan menyuarakan kekhawatiran tentang kepatuhan AS terhadap kesepakatan itu.

Oleh: Jonathan Marcus (BBC News)

Baca Juga: Mengapa Denuklirisasi Korea Utara Kurang Penting bagi Korea Selatan

Masa depan pengendalian senjata nuklir belum pernah tampak setidak pasti ini.

Yang beresiko runtuh tidak hanya perjanjian saja, namun seluruh interaksi antara Rusia dan Amerika Serikat yang sangat penting untuk menjaga stabilitas selama beberapa dekade.

Apa masalah utamanya?

Pekan lalu pada pertemuan para menteri luar negeri NATO, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menuduh Rusia. Pompeo bersikeras bahwa Rusia telah melanggar perjanjian perlucutan senjata Perang Dingin—Perjanjian Intermediate Range Nuclear Forces (INF).

Perjanjian tahun 1987 dengan mantan Uni Soviet ini menghapus seluruh kategori rudal nuklir berbasis darat: yang memiliki rentang antara 500 dan 5.500 km (310-3.100 mil).

Sifat rudal yang kecil, mobile, dan terletak relatif dekat dengan target potensial ini menyebabkan tingginya ketidakstabilan.

Pada akhir tahun 1970-an, Rusia Soviet mengerahkan rudal SS-20 untuk mengancam sasaran di Eropa Barat, yang menyebabkan bahaya di banyak ibu kota NATO.

AS menanggapi dengan menyebarkan senjata-senjata Cruise dan Pershing di sejumlah negara Eropa. Tapi setelah perjanjian itu, semua senjata ini dihapus dan dihancurkan.

(Foto: BBC)

Pemerintahan Trump mengatakan bahwa rudal Rusia yang baru, yang dikenal dengan 9M729 atau SSC-8, telah melanggar Perjanjian INF. Pompeo memberi waktu 60 hari pada Presiden Rusia Vladimir Putin untuk kembali ke patuh pada perjanjian itu atau AS juga akan berhenti untuk mematuhi ketentuannya.

Rusia bersikeras bahwa ia masih mematuhi perjanjian itu, dan menyuarakan kekhawatiran tentang kepatuhan AS terhadap kesepakatan itu.

Jadi siapa yang benar?

Amerika mengatakan mereka memiliki bukti kuat bahwa, selama beberapa tahun, Rusia telah mengembangkan dan sekarang mengerahkan sebuah rudal dengan jangkauan yang dilarang oleh Perjanjian INF.

Ini bukanlah kekhawatiran yang baru diangkat oleh pemerintahan Trump. Presiden Barack Obama juga telah prihatin dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang Rusia.

Bukti telah diajukan ke sekutu NATO dan mereka semua mendukung AS. Banyak dari mereka, meskipun secara pribadi tidak senang jika AS menarik diri dari perjanjian itu, lebih suka apabila AS memberi lebih banyak waktu untuk mencoba mencapai kesepakatan dengan Rusia.

Rusia memiliki argumennya sendiri, menegaskan jika pencegat rudal anti-balistik AS dikerahkan hari ini di Rumania, dan tak lama dikerahkan di Polandia juga, hal itu berpotensi meruntuhkan ketentuan perjanjian INF jika hulu ledak mereka diubah.

Jadi dapatkah Perjanjian INF diselamatkan?

Atau, dengan kata lain, apakah dua negara itu benar-benar ingin mempertahankan perjanjian itu? Tampaknya jawabannya adalah tidak.

Jika memang Rusia melanggar perjanjian, seperti yang NATO tekankan, maka jelaslah bahwa mengembangkan senjata dalam kategori ini memiliki beberapa nilai strategis. Dan tidak ada tanda-tanda Rusia akan menghentikannya.

Sebesar apapun kekhawatiran Amerika dan sekutunya, bola berada di tangan Rusia; nasib Perjanjian INF ada di tangan Rusia.

Namun ada sentimen kuat di Pentagon dan Gedung Putih bahwa perjanjian itu sudah ketinggalan zaman. Para pejabat AS menunjukkan besarnya gudang senjata nuklir jarak menengah China, yang telah mampu mengembangkan tanpa dibatasi oleh perjanjian apa pun. Mengingat hal ini, AS menganggap kesepakatan INF sebagai hambatan pada kemampuan strategisnya sendiri di kawasan Asia-Pasifik.

Mungkin orang-orang Eropa yang was-was (dan yang paling berisiko) dengan penempatan rudal-rudal baru Rusia akan menjadi pihak yang akan berusaha menyelamatkan perjanjian itu. Tetapi jika AS dan Rusia memiliki alasan yang bagus untuk meninggalkan perjanjian itu, maka negara-negara NATO lainnya tidak mungkin bisa mewujudkan perjanjian INF baru.

Haruskah perjanjian itu diselamatkan?

Selama tahun-tahun Perang Dingin, perjanjian kontrol senjata dan pelucutan senjata telah memainkan peran penting, dan tidak hanya mengurangi jumlah rudal nuklir tetapi juga menjaga stabilitas. Mereka adalah elemen sentral dalam dialog Timur-Barat. Ini adalah domain yang disetujui baik oleh AS dan Rusia di meja perundingan.

Mikhail Gorbachev dan Ronald Reagan menandatangani perjanjian INF pada bulan Desember 1987 (Foto: Getty Images)

Hal ini berlanjut setelah Perang Dingin dengan perjanjian START Baru, yang ditandatangani selama pemerintahan Obama, menetapkan batas pada rudal strategis jarak jauh.

Jika Perjanjian INF runtuh, banyak ahli khawatir akan masa depan perjanjian START Baru, yang berakhir pada Februari 2021, kecuali kedua belah pihak sepakat untuk memperpanjangnya. Apakah mereka mau menyelamatkan perjanjian tersebut, mengingat keadaan hubungan mereka saat ini?

Inilah paradoks pengendalian senjata. Perjanjian semacam itu mungkin tidak begitu penting di masa damai dan stabil; tetapi ketika ketegangan dalam hubungan antar negara meningkat, perjanjian itu benar-benar menjadi sangat penting.

Baca Juga: Iran Bela Program Nuklir Usai Pompeo Tuduh Iran Lakukan Uji Coba Rudal

Pergeseran kekuatan global

Kemungkinan runtuhnya Perjanjian INF dan ketidakpastian nasib kontrol senjata merupakan tanda pergeseran dramatis yang sedang berlangsung dalam urusan dunia.

Keprihatinan AS tentang China menunjukkan hal ini. Mungkin era kontrol senjata bilateral, yang melibatkan hanya AS dan Rusia, akan segera berakhir. China sekarang menjadi pemain nuklir yang signifikan. Sekitar 10 negara lain selain AS dan Rusia juga telah membangun rudal nuklir jarak menengah.

Pandangan sebaliknya menegaskan bahwa “era bilateral” sudah berakhir, tetapi Rusia dan AS masih memiliki gudang senjata strategis yang terbesar dan bahwa mengendalikan perkembangan senjata mereka tetap merupakan langkah yang baik. Pengendalian juga diperlukan sebagai patokan untuk pelucutan senjata, dan harus diperluas untuk menyertakan negara lain selain AS dan Rusia.

Tetapi dengan hubungan antara Rusia dan negara-negara Barat sedang berada pada titik surut yang rendah, dengan seorang presiden AS yang menegaskan paham “America First”, dan dengan Rusia yang sedang membangun ketegasan dalam kebijakan luar negerinya, sulit untuk mengharapkan keselamatan Perjanjian INF atau bahkan perjanjian START Baru.

Lebih buruk lagi, sulit untuk melihat hubungan AS-Rusia meningkat dalam waktu dekat. Kenyataan bahwa persaingan mereka sekarang hanyalah salah satu aspek dari pertempuran multi-kutub demi dominasi strategis dan ekonomi membuat dunia tanpa kontrol senjata menjadi lebih mungkin terjadi, dan tentunya lebih berbahaya.

Keterangan foto utama: 1989: Sebuah rudal SS-23 Soviet dihancurkan, di bawah perjanjian INF (Foto: TASS/Getty Images)

Apakah Pelucutan Senjata Nuklir Dipersiapkan untuk Menghancurkan Diri?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top