Arab Saudi
Timur Tengah

Arab Saudi Tewaskan Banyak Warga Sipil Yaman, Amerika Ancam Tarik Bantuan

Arab Saudi Tewaskan Banyak Warga Sipil Yaman, Amerika Ancam Tarik Bantuan

Serangan koalisi Arab Saudi ke negara tetangganya, Yaman, telah banyak memakan korban sipil, terutama anak-anak. Hal ini menimbulkan banyak kecaman, termasuk dari sekutu mereka, Amerika Serikat. Menteri Pertahanan AS bahkan mengatakan pada Saudi, Amerika akan menarik bantuan mereka jika Saudi tidak bisa meminimalisir korban sipil.

Baca Juga: Yaman Kubur Anak-anak Korban Serangan, Arab Saudi Bersikeras Serangan Itu ‘Sah’

Oleh: Barbara Starr (CNN)

Pentagon telah mengeluarkan peringatan kepada Arab Saudi, pihaknya siap untuk mengurangi dukungan militer dan intelijen untuk operasi militer melawan pemberontak di negara tetangga Saudi, Yaman. Hal ini akan dilakukan Amerika jika Arab Saudi tidak menunjukkan mereka berusaha untuk membatasi tewasnya warga sipil dalam serangan udara, menyusul serangan yang mengakibatkan meledaknya sebuah bus sekolah dan menewaskan 40 anak di awal bulan ini, menurut informasi yang didapat CNN.

Dua pejabat yang mengetahui pemikiran Pentagon mengatakan pada CNN, Pentagon semakin frustrasi. Menteri Pertahanan James Mattis dan General Joseph Votel, kepala operasi militer Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah, sangat prihatin AS telah mendukung kampanye serangan udara yang dipimpin Arab Saudi yang telah membunuh sejumlah besar warga sipil tersebut.

Kelompok hak asasi manusia, beberapa anggota Kongres dan Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menyatakan keprihatinan tentang tindakan Arab Saudi selama berbulan-bulan. Namun setelah serangkaian serangan baru-baru ini di mana sejumlah besar warga sipil tewas, Pentagon, serta Departemen Luar Negeri, kini menyampaikan pesan langsung ke Arab Saudi tentang pembatasan korban sipil.

“Mau sampai kapan ini terjadi?” seorang pejabat berkomentar kepada CNN.

Tidak jelas apakah Presiden Donald Trump, yang memandang Arab Saudi sebagai sekutu penting, akan menyetujui pengurangan dukungan. AS saat ini menyediakan pengisian bahan bakar di udara untuk pesawat Arab Saudi dan beberapa dukungan intelijen, meskipun masih belum jelas apakah AS memberikan bantuan untuk menyerang.

Para pejabat AS telah lama mengatakan mereka berusaha memberi saran kepada Arab Saudi untuk meningkatkan proses dan prosedur koalisi guna membatasi korban sipil dalam serangan udara.

Namun para pejabat militer AS jelas percaya bahwa upaya itu tidak berhasil. Mattis semakin fokus pada situasi Yaman sejak serangan udara koalisi pimpinan Arab Saudi pada 9 Agustus meledakkan sebuah bus sekolah di Yaman utara dan menewaskan puluhan anak-anak, yang berusia tidak lebih dari 15 tahun, kata para pejabat.

CNN telah melaporkan bahwa senjata yang digunakan adalah bom MK 82 bermuatan 500 pound (227 kilogram) yang dibuat oleh Lockheed Martin, salah satu kontraktor pertahanan AS.

Setelah serangan itu, Mattis mengatakan kepada wartawan bahwa dia telah mengirim seorang jenderal AS untuk berbicara dengan Arab Saudi tentang apa yang terjadi dalam serangan di bus sekolah. Sudah jelas bahwa militer AS memiliki otoritas dari Mattis akan mengambil tindakan yang lebih tegas dengan Arab Saudi.

Baca Juga: Serangan Udara Saudi yang Tewaskan Puluhan Anak Yaman, Bisakah Dicegah?

Letnan Jenderal AS Michael Garrett telah merencanakan serangkaian pertemuan reguler dengan pemimpin Arab Saudi pada 12 Agustus, tetapi pertemuan itu tidak rutin dan dia menyampaikan pesan yang tegas.

“Menurut para pemimpin militer AS, peristiwa yang terjadi belum lama ini menunjukkan bahwa situasi ini membutuhkan perhatian khusus dan penekanan resmi selama kunjungannya,” kata Letnan Cmdr Rebecca Rebarich, seorang juru bicara DOD, kepada CNN. “Letnan Jenderal Garrett menyampaikan keprihatinannya mengenai insiden korban sipil belum lama ini, dan atas nama pemerintah AS terus mendesak dilakukannya penyelidikan yang teliti dan segera, serta penekanan yang berkelanjutan pada pengurangan korban sipil dalam operasi militer Yaman.”

Keprihatinannya itu meningkatkan kemungkinan berkurangnya bantuan. Namun, para pejabat AS telah menunjukkan jika AS menarik dukungan, mereka akan memiliki sedikit pengaruh untuk memaksa Arab Saudi untuk lebih memperhatikan korban sipil.

Mantan Presiden Barack Obama telah melarang penjualan teknologi militer berpanduan presisi ke Arab Saudi atas “masalah hak asasi manusia.” Larangan itu dibatalkan oleh Menteri Luar Negeri Trump yang dulu, Rex Tillerson, pada Maret 2017.

Koalisi pimpinan-Arab Saudi di Yaman mengklaim bahwa PBB telah bias terhadapnya, kata seorang juru bicara, Senin (27/8). Turki al-Maliki, mengatakan dalam konferensi pers yang diadakan di Riyadh hari Senin itu bahwa, “koalisi tersebut terkejut oleh beberapa pernyataan yang dibuat oleh beberapa pejabat PBB baik di dalam Yaman atau di (Markas Besar) Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan mengambil posisi yang bias mengenai beberapa laporan yang mengklaim salah sasaran.”

Pekan lalu, PBB mengecam Arab Saudi setelah serangkaian serangan udara lain yang menewaskan 30 orang, termasuk 22 anak-anak, di daerah yang dikuasai pemberontak di Yaman barat laut. Pada saat itu, kepala kemanusiaan PBB Mark Lowcock mengatakan dalam sebuah pernyataan, “Ini adalah serangan udara kedua kalinya dalam dua minggu oleh Koalisi pimpinan Arab Saudi yang telah menewaskan puluhan korban sipil.”

Dia menambahkan, “Saya setuju dengan pernyataan oleh Sekretaris Jenderal PBB di Yaman belum lama ini, yang mengecam serangan terhadap warga sipil tersebut dan menuntut dilakukannya penyelidikan yang tidak memihak, independen dan segera untuk insiden terbaru ini.”

Keterangan foto utama: Anak-anak lelaki memeriksa kuburan yang telah disiapkan untuk memakamkan para korban serangan udara. (Foto: Naif Rahma/Reuters)

Arab Saudi Tewaskan Banyak Warga Sipil Yaman, Amerika Ancam Tarik Bantuan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top