Amerika-China
Asia

ASEAN Dapat Redakan Ketegangan Antara Amerika-China

Berita Internasional >> ASEAN Dapat Redakan Ketegangan Antara Amerika-China

ASEAN dianggap telah mengalami penurunan fungsi dan kepemimpinan. Namun, blok itu telah berhasil melewati Perang Dingin sambil mempertahankan stabilitas regional. Ketangguhan mereka dibutuhkan sekali lagi untuk menghadapi ketegangan antara dua negara adidaya, Amerika-China.

Baca juga: Konflik Perang Dingin Baru Amerika-China: Tak Dapat Diprediksi

Oleh: Thitinan Pongsudhirak (Nikkei Asian Review)

Setelah membuktikan daya tahannya selama lebih dari lima dekade, ASEAN sedang menghadapi resiko terpinggirkan dan tidak lagi relevan.

Tantangan eksistensial dari persaingan kekuatan besar dan perselisihan internal yang memotivasi pembentukan ASEAN pada tahun 1967 sekarang kembali muncul, sementara koherensi dan kepemimpinan regional tampaknya semakin lemah. Namun ketika ASEAN tampaknya berada pada titik terlemah dalam menghadapi pergeseran kekuatan global, organisasi yang beranggotakan sepuluh negara Asia Tenggara ini dibutuhkan untuk perdamaian dan stabilitas regional.

Yang pasti, ASEAN sebagai sebuah organisasi, terutama sebelum ekspansi dari enam negara anggota menjadi sepuluh pada tahun 1990-an, dulunya lebih pintar dan lebih asertif. Pembentukannya pada tahun 1967 menandai kepemimpinan yang menentang lingkungan eksternal yang merugikan pada puncak Perang Dingin.

Generasi pemimpin ASEAN berikutnya memanfaatkan dinamika ekonomi organisasi dan geopolitik untuk memimpin Asia Tenggara. Di tahun 1990-an, mereka telah menghasilkan Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik, Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN, dan Forum Regional ASEAN.

Sejak itu, ASEAN juga telah melangsungkan KTT Asia Timur dan Pertemuan Menteri Pertahanan ASEAN Plus. Sentralitas ASEAN, yang menegaskan organisasi ini sebagai penggerak de facto regionalisme dan pembangunan arsitektur di kawasan Asia-Pasifik, menjadi seperti sepeda yang harus digenjot terus menerus agar tidak jatuh.

Tetapi sekarang, banyak yang berbeda dan sebagian besar dari itu bukanlah pertanda baik. Meskipun adanya keyakinan di antara para pemimpin, sentralitas ASEAN sedang terbebani dan bisa berpotensi kewalahan.

Salah satu tantangan utamanya adalah persaingan negara adidaya antara Amerika-China. Ketika ASEAN dibentuk, organisasi itu dimaksudkan untuk menjaga otonomi daerah selama Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet. ASEAN berhasil melewati Perang Dingin, membendung ekspansionisme komunis dan pengaruh dua negara adikuasa, sekaligus diuntungkan dari pembangunan ekonomi yang dihasilkan dari stabilitas politik relatif.

Sekarang wilayah itu penuh dengan persaingan dan konfrontasi antara dua negara adikuasa, pemegang jabatan dan penantang—AS dan China. Setiap pemimpin ASEAN harus bisa mengatasi tantangan ini terlebih dahulu.

Kondisi ini mirip seperti awal terbentuknya organisasi ini. ASEAN secara kongenital mencegah kekuatan-kekuatan utama untuk tidak mendominasi Asia Tenggara, menjaga perdamaian internal di antara negara-negara anggota, dan memungkinkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Walaupun ASEAN telah mencapai keberhasilan ekonomi yang luar biasa dengan perdamaian lintas batas, ASEAN terbagi atas tantangan negara adikuasa baru ini.

ASEAN tidak melakukan tanggapan efektif terhadap ekspansi teritorial China di Laut China Selatan dan pembangunan bendungan di hulu Sungai Mekong yang merugikan Kamboja dan Vietnam di bagian hilir. ASEAN berkoar-koar bahwa mereka memiliki “dokumen tunggal” dengan China yang dapat dinegosiasikan dan difinalisasi menjadi Kode Etik untuk Laut China Selatan. Namun China belum membuat konsesi besar dan tidak menunjukkan niat untuk mematuhi perjanjian yang dapat ditegakkan dengan beberapa negara kecil itu.

Di daratan Asia Tenggara, Komisi Sungai Mekong yang mengawasi pemanfaatan sumber daya air telah menjadi tidak relevan karena inisiatif baru China, Kerjasama Mekong Bawah.

ASEAN tidak melakukan tanggapan efektif terhadap pembangunan bendungan di hulu Sungai Mekong. (Foto: AP/Imaginechina)

Selain itu, krisis kemanusiaan Rohingya di Negara Bagian Rakhine Myanmar telah menghabiskan kapasitas global ASEAN tanpa ada penyelesaian regional yang signifikan. Krisis kemanusiaan yang disebabkan oleh penganiayaan dan pemindahan lebih dari 720.000 Muslim Rohingya telah menimbulkan kecaman global tidak hanya terhadap pemerintah Myanmar atas pelanggaran HAM, tetapi juga terhadap ASEAN karena ketidakmampuannya untuk membujuk negara anggota untuk berperilaku lebih manusiawi, sebuah kemunduran untuk kredibilitas dan dukungan internasional organisasi regional.

Setelah mengambil alih kursi tahunan bergilir ASEAN pada bulan November, Thailand akan mengalami kesulitan dalam mengerahkan kepemimpinan mereka untuk mengatasi konflik di Laut China Selatan dan mengatasi keadaan buruk kaum Rohingya karena lingkungan politiknya yang suram dan kontroversial. Kepemimpinan ASEAN-nya akan terhambat oleh pemilihan nasional yang tidak pasti dan kemungkinan hasil pemilihan yang berantakan, sementara penobatan raja baru negara itu telah ditetapkan untuk dilangsungkan pada 4 Mei.

Pemimpin ASEAN secara tradisional tidak melangsungkan pemilihan saat berada di kursi kepemimpinan regional tetapi kali ini Thailand akan menjadi pengecualian. Kepemimpinan Thailand dari satu dekade lalu juga ditandai dengan aib, protes jalanan domestik dan KTT yang tertunda. Dengan demikian Thailand tidak mungkin memberikan kepemimpinan yang dibutuhkan wilayah itu.

Vietnam, pemimpin pada tahun 2020, menawarkan stabilitas politik dan dinamisme ekonomi, tetapi mungkin tidak memiliki kepercayaan strategis yang dipunyai Thailand dengan ikatan yang dalam dengan China dan aliansi perjanjian dengan AS. Namun itu menjadi pertanda baik bagi ASEAN bahwa Vietnam telah membuat persiapan jauh sebelum gilirannya naik ke kursi kepemimpinan.

Selain itu, peningkatan otoriter ASEAN telah menebar perbedaan dalam beberapa rezim di kawasan ini. Perbedaan ini berkurang tetapi tidak terhenti oleh hasil pemilihan presiden Malaysia Mei lalu ketika rezim otokratis yang korup terpilih. Thailand pada akhirnya akan kembali ke pemerintahan berdasarkan pemilihan, tetapi militernya secara konstitusional masih akan mendominasi politik Thailand di masa mendatang. Sementara itu, ada penganiayaan Rohingya di Myanmar, kediktatoran terpilih Thailand, dan kemunduran Indonesia dari sekularisme dan merayapnya Islamisme.

Tantangan terbesar untuk ASEAN adalah tekanan AS terhadap China, dengan dukungan erat dari Australia, Jepang dan, pada tingkat lebih rendah, India. Ini telah membentuk apa yang disebut Indo Pasifik yang Bebas dan Terbuka (FOIP), sebuah inisiatif yang bertujuan menahan pengaruh maritim China. Karena China tidak akan tenang tanpa perlawanan, ketegangan negara adidaya kemungkinan akan meningkat.

Di mana ASEAN ingin menjadi katalisator, seperti dalam penyelesaian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional, sebuah pakta perdagangan 16 negara yang diusulkan yang akan mencakup China dan India, mereka perlu penyelesaian yang lebih mendalam untuk menjadi platform perdagangan bebas regional yang lengkap.

Baca juga: Vietnam Memenangkan Perang Dagang Amerika-China

Tantangan-tantangan memang menakutkan. Ketegangan yang memuncak antara AS dan China, membuat tidak adanya ASEAN di kawasan itu tidak memungkinkan. Tanpa ASEAN sebagai penyangga, jembatan dan perantara, ketegangan negara adidaya kemungkinan akan mengarah pada konfrontasi karena tidak ada lembaga dan mekanisme lain untuk manajemen dan mitigasi krisis.

ASEAN dipandang tidak efektif dan lamban, rajin mengadakan pertemuan tetapi tidak berhasil. Tetapi utilitas ASEAN sekarang lebih menarik dari sebelumnya. Tanpa kendaraan arsitektur kooperatif yang berpusat di ASEAN, risiko bentrokan antara AS dan China akan muncul.

Pemerintah AS telah mempromosikan FOIP, kebebasan operasi navigasi kapal-kapal angkatan laut, dan konflik perdagangan, sementara pemerintah China berinvestasi di Inisiatif Sabuk dan Jalan, program infrastruktur raksasanya, dan pulau-pulau yang dipersenjatai Laut China Selatan.

Dalam menggerakkan ASEAN tahun ini dan berikutnya, Thailand dan Vietnam harus mengambil kesempatan ini dan mengambil risiko yang terukur dengan mencoba meyakinkan kedua antagonis adikuasa itu untuk mundur dari konflik yang bisa berujung malapetaka.

 

Thitinan Pongsudhirak mengajar Hubungan Internasional dan menjadi direktur di Institut Keamanan dan Studi Internasional di Universitas Chulalongkorn di Bangkok.

Keterangan foto utama: ASEAN membutuhkan pemikiran inovatif. (Foto: Getty Images)

ASEAN Dapat Redakan Ketegangan Antara Amerika-China

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top