persaingan china amerika
Global

Asia Reassurance Initiative Act: AS Tingkatkan Persaingan dengan China di Asia

Berita Internasional >> Asia Reassurance Initiative Act: AS Tingkatkan Persaingan dengan China di Asia

Upaya pemerintah Amerika Serikat untuk melibatkan sekutu di wilayah tersebut di bawah undang-undang bisa menyulitkan China, menurut para analis. Asia Reassurance Initiative Act, yang ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump pekan ini, mengisyaratkan bahwa AS ingin mempertahankan sekutu-sekutunya dan memobilisasi mereka untuk melawan China jika diperlukan. China dan Amerika semakin berselisih mengenai Laut China Selatan, jalur air strategis yang dilalui miliaran Dolar AS dalam perdagangan setiap tahun.

Baca Juga: Tahun 2019, Asia Bisa Terjebak dalam Perang Mata Uang

Oleh: Teddy Ng dan Finbarr Bermingham (South China Morning Post)

Persaingan China-Amerika Serikat di Asia, terutama di Laut China Selatan, akan meningkat dengan disahkannya undang-undang Amerika yang menggarisbawahi komitmen AS terhadap wilayah tersebut, menurut para analis.

Asia Reassurance Initiative Act, yang ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump pekan ini, mengisyaratkan bahwa AS ingin mempertahankan sekutu-sekutunya dan memobilisasi mereka untuk melawan China jika diperlukan, menurut para pengamat.

Collin Koh, seorang spesialis keamanan maritim di Nanyang Technological University di Singapura, mengatakan bahwa meskipun ada ketegangan yang mereda baru-baru ini, lingkup regional yang luas atas Undang-undang itu berarti “kita mungkin akan melihat efek bertahap yang menimpa persaingan China-AS di Asia Tenggara.”

“Kita tidak dapat meremehkan potensi konsekuensi dari UU tersebut yang berkontribusi dalam mempertajam persaingan China-Amerika, bahkan jika masih ada masalah lain yang akan benar-benar ditindaklanjuti oleh pemerintahan Trump,” kata Koh.

China dan Amerika semakin berselisih mengenai Laut China Selatan, jalur air strategis yang dilalui miliaran Dolar AS dalam perdagangan setiap tahun. Setiap negara telah mengirim kapal perang dan pesawat militer melalui perairan yang diperebutkan dalam patroli yang telah menyebabkan setidaknya satu persinggungan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani pengesahan Asia Reassurance Initiative Act pada hari Senin, 31 Desember 2018. (Foto: Diberikan kepada SCMP)

Dalam tanda bahwa konfrontasi seperti itu akan berlanjut, penjabat Menteri Pertahanan AS Patrick Shanahan mengatakan kepada para pemimpin senior di Pentagon pada hari Rabu (2/1) bahwa China akan menjadi prioritas utama bagi militer.

Baca Juga: Amerika dan China Menuju Perang Dingin yang Baru

Menurut undang-undang itu, AS akan menegaskan kembali komitmen keamanan kepada para sekutunya di kawasan Indo-Pasifik, termasuk Jepang, Korea Selatan, dan Australia, dan menghabiskan 1,5 miliar Dolar AS per tahun selama lima tahun untuk meningkatkan kehadiran regionalnya. AS dan para sekutu juga akan membangun kemitraan keamanan di Asia Tenggara.

Bagian dari strategi tersebut ialah melakukan kebebasan operasi navigasi dengan para sekutu di Laut China Timur dan Selatan, misi yang dipandang China sebagai alasan bagi AS untuk menunjukkan kekuatan militernya. Undang-undang itu juga memberi wewenang kepada Amerika untuk menjatuhkan hukuman pada berbagai entitas dan pemerintah karena mencuri kekayaan intelektual, sumber gesekan besar lainnya antara China dan AS.

Persaingan antara China dan AS telah memicu kekhawatiran di kawasan itu. Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong memperingatkan pada bulan November 2018 bahwa negara-negara Asia Tenggara mungkin akan terpaksa memilih antara China atau AS.

Koh mengatakan keterlibatan sekutu regional AS kemungkinan akan semakin mempersulit China.

“Dalam hal kesulitan yang mungkin dihadapi oleh China, masuk akal untuk membayangkan bahwa tekanan strategis mungkin tidak hanya berasal dari AS semata, karena [Undang-undang] ini juga tampaknya menekankan peran yang dimainkan oleh sekutu dan mitra AS,” ujar Koh.

Tony Nash, kepala perusahaan riset Complete Intelligence, mengatakan bahwa penandatanganan undang-undang itu berarti “AS memiliki teman.”

“Dan bahwa teman-teman itu tidak harus didasarkan pada komitmen pinjaman miliaran Dolar AS, tetapi pada komitmen politik, ekonomi, dan militer yang sedang berlangsung. UU tersebut menghadirkan realitas yang sangat nyata bagi hubungan yang sangat transaksional yang sedang dibangun China melalui [Inisiatif] Sabuk dan Jalan,” katanya, merujuk pada infrastruktur internasional China yang besar dan dorongan perdagangan. “UU ini menunjukkan komitmen AS terhadap kawasan.”

Penandatanganan undang-undang tersebut dilakukan di tengah gencatan senjata 90 hari bagi AS dan China untuk merundingkan berakhirnya perang dagang di antara mereka.

Dua hari pembicaraan tingkat wakil menteri dijadwalkan akan dimulai di Beijing pada hari Senin, dengan China berharap untuk mengamankan beberapa bantuan dari tarif AS untuk barang-barang China, tarif yang mulai membebani pertumbuhan ekonomi China yang sudah melambat.

Pada saat yang sama, Presiden China Xi Jinping telah menegaskan kembali bahwa China tidak akan meninggalkan penggunaan kekuatan dalam mengupayakan unifikasi dengan Taiwan.

Tetapi para analis mengatakan Undang-undang itu bukan taktik untuk menekan China untuk membuat konsesi perdagangan.

“Ini bukan tantangan bagi China, dibandingkan dengan komitmen untuk bagian lain di Asia. UU itu tidak fokus pada China, tapi menjangkau hampir semua negara lain di Asia,” kata Nash.

Derek Grossman, seorang analis pertahanan senior di Rand Corporation, setuju bahwa undang-undang tersebut menandakan komitmen AS di kawasan itu.

“Pandangan saya adalah bahwa ini adalah contoh nyata dari kegelisahan yang tulus di dalam pemerintah AS terkait meningkatnya pengaruh China dan perilaku agresif dalam bidang ekonomi dan keamanan sehubungan dengan AS dan para sekutu serta mitranya,” kata Grossman.

“Hubungan bilateral jelas telah mengambil dinamika yang jauh lebih bermusuhan, dan dalam konteks yang lebih luas itu, yang memiliki banyak bidang pertentangan geostrategis, UU tersebut dapat dipandang sebagai upaya melawan perilaku buruk China.”

Keterangan foto utama: Pemerintah China dan Amerika Serikat semakin berselisih mengenai Laut China Selatan, jalur air strategis yang dilalui perdagangan bernilai miliaran Dolar AS setiap tahun. (Foto: Reuters)

Asia Reassurance Initiative Act: AS Tingkatkan Persaingan dengan China di Asia

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top