Asia Tenggara
Asia

Asia Tenggara Khawatir terhadap China, Skeptis terhadap AS

Presiden China Xi Jinping (kanan-belakang) dan Presiden Filipina Rodrigo Duterte (kiri-belakang) menghadiri upacara penandatanganan setelah pertemuan bilateral selama Forum Belt and Road di Aula Besar Rakyat di Beijing, China, 15 Mei 2017. (Foto: Reuters/Etienne Oliveau)
Berita Internasional >> Asia Tenggara Khawatir terhadap China, Skeptis terhadap AS

Asia Tenggara tampaknya khawatir terhadap proyek Belt and Road China namun merasa skeptis terhadap Amerika Serikat. Survei ISEAS-Yusof Ishak Institute menunjukkan bahwa wilayah tersebut mencurigai komitmen dan niat kedua negara adikuasa tersebut. Namun, 73 persen dari responden percaya bahwa China sekarang memegang pengaruh ekonomi terbesar di wilayah ini, dan memiliki pengaruh lebih secara politik dan strategis daripada Amerika Serikat.

Baca juga: Survei Buktikan Asia Tenggara Khawatirkan Inisiatif Sabuk dan Jalan China

Oleh: Bertil Lintner (Asia Times)

Tujuh puluh persen responden dari survei yang dilakukan oleh ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura, percaya bahwa Asia Tenggara harus berhati-hati ketika bernegosiasi dengan China mengenai proyek infrastruktur Belt and Road Initiative (BRI) yang masif.

Survei tersebut—yang dikutip dalam laporan oleh Reuters pada tanggal 6 Januari—menarik tanggapan dari 1.008 orang di sepuluh anggota Asosiasi Bangsa Bangsa Asia Tenggara, atau ASEAN.

Survei itu menemukan, kekhawatiran utama adalah bahwa negara-negara regional mungkin terjebak dalam utang yang tidak berkelanjutan dengan China. Persepsi itu paling kuat di Malaysia, Filipina, dan Thailand, survei menunjukkan.

Hampir setengah dari responden mengatakan bahwa BRI akan membawa ASEAN “lebih dekat ke orbit China”, sepertiga berpendapat bahwa proyek tersebut kurang transparan, dan 16 persen yakin bahwa itu akhirnya akan gagal.

Pada saat yang sama, penelitian ini menunjukkan bahwa orang-orang di negara-negara ASEAN semakin skeptis terhadap komitmen Amerika Serikat (AS) terhadap kawasan ini sebagai mitra strategis, sementara jangkauan China tumbuh baik secara politik maupun ekonomi.

Baca juga: Risiko Pertumbuhan Asia Tenggara Sambut 2019 Stabil, Bukan Kuat

Tujuh puluh tiga persen dari responden percaya bahwa China sekarang memegang pengaruh ekonomi terbesar di wilayah ini, dan memiliki pengaruh lebih secara politik dan strategis daripada Amerika Serikat.

Enam dari sepuluh responden merasa bahwa pengaruh AS telah memburuk dari tahun lalu, dan dua pertiga percaya keterlibatan AS dengan Asia Tenggara telah menurun.

Sekitar sepertiga mengatakan bahwa mereka memiliki sedikit atau tidak ada kepercayaan terhadap AS sebagai mitra strategis dan penjamin keamanan regional.

Pada saat yang sama, kurang dari satu dari sepuluh melihat China sebagai “kekuatan yang ramah dan baik hati”, di mana hampir setengahnya mengatakan bahwa Beijing memiliki “niat untuk mengubah Asia Tenggara menjadi wilayah pengaruhnya.”

Keterangan foto utama: Presiden China Xi Jinping (kanan-belakang) dan Presiden Filipina Rodrigo Duterte (kiri-belakang) menghadiri upacara penandatanganan setelah pertemuan bilateral selama Forum Belt and Road di Aula Besar Rakyat di Beijing, China, 15 Mei 2017. (Foto: Reuters/Etienne Oliveau)

Asia Tenggara Khawatir terhadap China, Skeptis terhadap AS

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top