Aung San Suu Kyi
Asia

Aung San Suu Kyi Bela Putusan terhadap Jurnalis Reuters

Kanselir Negara Myanmar Aung San Suu Kyi. (Foto: EPA/Hein Htet)
Home » Featured » Asia » Aung San Suu Kyi Bela Putusan terhadap Jurnalis Reuters

Aung San Suu Kyi membela putusan terhadap dua jurnalis Reuters yang dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara, karena melanggar undang-undang kerahasiaan negara ketika menyelidiki pembantaian terhadap Muslim Rohingya. Menurut Suu Kyi, keduanya telah melanggar hukum dan bukan bentuk kebebasan berekspresi. Putusan pengadilan terhadap dua jurnalis Reuters itu pun mendapat kecaman luas.

Baca juga: Opini: Aung San Suu Kyi Langgar Prinsip-Prinsip yang Ia Serukan Sendiri

Oleh: BBC

Kanselir Negara Myanmar Aung San Suu Kyi membela tindakan pemenjaraan dua wartawan Reuters, meskipun terdapat gelombang kecaman internasional. Suu Kyi mengatakan bahwa kedua jurnalis tersebut, Wa Lone dan Kyaw Soe Oo, telah melanggar hukum, dan tuduhan terhadap mereka “tidak ada hubungannya dengan kebebasan berekspresi sama sekali.” Keduanya dijatuhi hukuman karena memiliki dokumen kepolisian saat menyelidiki pembunuhan Muslim Rohingya.

Suu Kyi juga mengatakan bahwa pemerintahannya juga telah menangani situasi Rohingya secara berbeda. Sejak tahun 2017, setidaknya 700 ribu warga Rohingya telah melarikan diri dari Myanmar—yang juga dikenal sebagai Burma—setelah militer melancarkan operasi bersenjata yang brutal, sebagai respons atas serangan kelompok militan Rohingya.

Apa yang Dikatakan Suu Kyi?

Peraih Hadiah Nobel Perdamaian tersebut—yang bukan presiden terpilih Myanmar, tetapi hampir secara universal dipandang sebagai pemimpin—berada di bawah tekanan kuat untuk mengomentari krisis Rohingya, dan baru-baru ini atas tindakan terhadap kedua wartawan Reuters. Pekan ini, sebuah badan hak asasi manusia PBB menuduh Myanmar telah “melakukan kampanye melawan jurnalis.”

Suu Kyi akhirnya buka suara pada masalah ini pada Kamis (13/9) saat menghadiri konferensi ekonomi internasional di Vietnam. Dalam sebuah pidato, dia mengatakan bahwa kasus pemenjaraan jurnalis itu menjunjung kedaulatan hukum, dan mengatakan bahwa banyak kritikus tidak benar-benar membaca putusan tersebut.

Kedua wartawan tersebut memiliki “hak untuk mengajukan banding atas putusan dan untuk menunjukkan mengapa keputusan itu salah,” katanya.

Mantan aktivis berusia 73 tahun tersebut—yang menghabiskan lebih dari satu dekade sebagai tahanan rumah selama periode berkuasanya junta militer Myanmar—pernah dipandang sebagai simbol hak asasi manusia global. Tetapi kegagalannya untuk menghentikan tindakan pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Rohingya, telah merusak reputasi internasionalnya dan beberapa gelar kehormatannya telah ditarik.

Human Rights Watch menanggapi pidato Suu Kyi dengan mengatakan bahwa dia “keliru.”

“Dia gagal memahami bahwa ‘aturan hukum’ yang sebenarnya berarti menghormati bukti yang disajikan di pengadilan, tindakan yang diambil berdasarkan undang-undang yang jelas dan proporsional, serta independensi peradilan dari pengaruh pemerintah atau pasukan keamanan,” ujar Direktur Deputi Asia Phil Robertson. “Berdasarkan semua hal ini, persidangan kedua jurnalis Reuters telah gagal dalam ujian.”

Aung San Suu Kyi Bela Putusan terhadap Jurnalis Reuters

Putusan terhadap jurnalis Reuters Wa Lone (kiri) dan Kyaw Soe Oo (kanan) telah dikecam secara luas. (Foto: EPA)

‘Jebakan Polisi’

Kedua jurnalis itu dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara pada tanggal 3 September 2018, karena melanggar undang-undang kerahasiaan negara ketika menyelidiki pembantaian pria Rohingya oleh militer di sebuah desa bernama Inn Din.

Kedua warga negara Myanmar tersebut telah ditangkap saat membawa dokumen resmi yang baru saja diberikan kepada mereka oleh petugas polisi di sebuah restoran. Mereka mengatakan bahwa mereka dijebak oleh polisi—klaim yang didukung oleh seorang saksi polisi di persidangan.

Pihak berwenang kemudian meluncurkan penyelidikan mereka sendiri atas pembunuhan Inn Din, mengonfirmasikan bahwa pembantaian itu memang terjadi dan berjanji untuk mengambil tindakan terhadap mereka yang telah mengambil bagian.

Baca juga: Ungkap Pembantaian Rohingya, Wartawan Reuters Kena Hukuman 7 Tahun Penjara

Rohingya telah menghadapi beberapa dekade diskriminasi di Myanmar, yang menganggap mereka sebagai migran ilegal dan bermasalah dari Bangladesh. Krisis terbaru meletus ketika penumpasan brutal militer diluncurkan, sebagai tanggapan terhadap kelompok militan Rohingya yang menyerang beberapa pos polisi.

Pada bulan Agustus 2018, sebuah laporan PBB mengatakan bahwa tokoh militer di Myanmar harus diselidiki atas tindakan genosida di negara bagian Rakhine dan kejahatan terhadap kemanusiaan di daerah lain. Laporan tersebut menggambarkan respons militer—termasuk pembunuhan, penyiksaan, pemerkosaan, perbudakan seksual, penganiayaan, dan perbudakan—sebagai tindakan yang “sangat tidak proporsional terhadap ancaman keamanan yang sebenarnya.”

Suu Kyi belum melontarkan kritik kuat terhadap militer, tetapi pada Kamis (13/9) mengakui bahwa, “situasinya bisa ditangani dengan lebih baik” oleh pemerintahnya. “Tetapi kami percaya bahwa demi stabilitas dan keamanan jangka panjang, kami harus bersikap adil terhadap semua pihak,” katanya. “Kami tidak dapat memilih siapa yang harus dilindungi oleh aturan hukum.”

Keterangan foto utama: Kanselir Negara Myanmar Aung San Suu Kyi. (Foto: EPA/Hein Htet)

Aung San Suu Kyi Bela Putusan terhadap Jurnalis Reuters

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top