Australia Desak Indonesia untuk Tidak Berikan Keringanan terhadap Abu Bakar Baasyir
Berita Politik Indonesia

Australia Desak Indonesia untuk Tidak Berikan Keringanan terhadap Abu Bakar Baasyir

Berita Internasional >> Australia Desak Indonesia untuk Tidak Berikan Keringanan terhadap Abu Bakar Baasyir

Australia pada Sabtu (3/3), mendesak Indonesia untuk tidak memberikan keringanan terhadap pemimpin ideologis pengebom Bali, Abu Bakar Baasyir, di mana Kantor Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop mengatakan dalam sebuah pernyataan, bahwa Australia mengharapkan agar keadilan terus ditegakkan “sepenuhnya, sejauh yang diizinkan oleh hukum Indonesia.” Pemerintah Indonesia saat ini mempertimbangkan untuk menjadikan Abu Bakar Baasyir sebagai tahanan rumah atau bentuk pengampunan lainnya bagi ulama radikal yang sedang sakit tersebut.

Oleh: Niniek Karmini (Associated Press)

Australia pada Sabtu (3/3), mendesak Indonesia untuk tidak memberikan keringanan terhadap pemimpin ideologis pengebom Bali tersebut, di saat pemerintah mempertimbangkan untuk menjadikannya tahanan rumah atau bentuk pengampunan lainnya bagi ulama radikal yang sedang sakit tersebut, yang saat ini dipenjara.

Wiranto, Menteri Keamanan Indonesia, mengatakan pada Jumat (2/3), bahwa pertemuan antara  menteri keamanan dan polisi akan memberikan rekomendasi perlakuan terhadap Abu Bakar Baasyir, yang akan diserahkan kepada Presiden Joko “Jokowi” Widodo.

    Baca Juga : Bagaimana Indonesia Berupaya Keluar dari Kungkungan Inferioritas

“Keringanan, pengampunan, tahanan rumah, atau perawatan di rumah sakit akan dibahas dalam waktu dekat dan akan dilaporkan ke presiden,” kata Wiranto.

Baasyir—yang akan bertambah usia 80 tahun pada bulan Agustus—dirawat di sebuah rumah sakit di Jakarta pada Kamis (1/3), karena berkumpulnya darah di kaki—kondisi umum pada orang tua yang dikenal sebagai insufisiensi vena kronis—dan kemudian kembali ke penjara.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan pada Kamis (1/3), bahwa pemerintah berencana untuk menempatkan Baasyir di bawah tahanan rumah sehingga dia dapat dirawat oleh keluarganya, atau memindahkannya ke sebuah penjara di dekat kota asalnya, Solo, Jawa Tengah, menurut media setempat.

Beberapa simpatisannya berharap Jokowi akan memberinya sebuah pembebasan permanen karena kesehatannya yang buruk—sebuah langkah yang akan membantu memperbaiki pagar pembatas antara Muslim garis keras dan Jokowi, menjelang pemilihan presiden pada tahun 2019, namun akan mengkhawatirkan para sekutu seperti Amerika Serikat dan Australia. Angka dukungan terhadap Jokowi tetap tinggi di kalangan publik Indonesia yang lebih luas.

Kantor Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop pada Sabtu (3/3), menggambarkan Baasyir sebagai dalang di balik pengeboman Bali tahun 2002 yang menewaskan 202 orang, kebanyakan orang asing, termasuk 88 warga negara Australia.

Kantor Bishop mengatakan dalam sebuah pernyataan, bahwa Australia mengharapkan agar keadilan terus ditegakkan “sepenuhnya, sejauh yang diizinkan oleh hukum Indonesia.”

“Abu Bakar Baasyir tidak boleh diizinkan untuk menghasut orang lain untuk melakukan serangan lainnya di masa mendatang terhadap warga sipil yang tidak bersalah,” pernyataan tersebut menambahkan.

Baasyir dijatuhi hukuman 15 tahun penjara pada tahun 2011, karena mendukung sebuah kamp pelatihan bergaya militer untuk para militan Islam.

Ulama radikal tersebut ditangkap sesaat setelah bom Bali. Tapi jaksa tidak dapat membuktikan serangkaian tuduhan terkait terorisme. Dia justru dijatuhi hukuman 18 bulan penjara karena pelanggaran imigrasi.

Juru bicara Jokowi, Johan Budi, mengatakan bahwa presiden akan meninjau kasus tersebut, dan tahanan rumah “mungkin dilakukan berdasarkan undang-undang.”

Dia mengatakan sebuah saran untuk mengampuni Baasyir berasal dari Ketua Majelis Ulama Indonesia Ma’ruf Amin, dan akan mengharuskan Baasyir untuk mengajukan permohonan grasi.

    Baca Juga : Indonesia: Mitra Strategis atau Ancaman bagi Australia?

Hal itu tampaknya tidak mungkin karena mengharuskan Baasyir untuk mengakui otoritas sekuler. Setelah dijatuhi hukuman pada tahun 2011, dia mengatakan bahwa dia menolak keyakinan tersebut karena hal itu didasarkan pada undang-undang “kafir”.

Penulis Associated Press Rod McGuirk di Canberra, Australia, berkontribusi untuk laporan ini.

Keterangan foto utama: Ulama radikal yang sedang sakit, Abu Bakar Baasyir (tengah), tiba untuk perawatan medis di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo di Jakarta, Indonesia, pada Kamis, 1 Maret 2018. Bashir yang merupakan pemimpin spiritual pengebom Bali dan pasukan di belakang sebuah kamp pelatihan jihad pada tahun 2010, telah dipindahkan dari penjara ke rumah sakit. Ulama berusia 79 tahun tersebut menderita sejumlah masalah medis termasuk masalah sirkulasi darah yang lemah. (Foto: AP Photo/Dita Alangkara)

Australia Desak Indonesia untuk Tidak Berikan Keringanan terhadap Abu Bakar Baasyir

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top