berita austria terbaru
Eropa

Austria Tutup Masjid dan Usir Puluhan Imam, Erdogan: ‘Ini Bisa Jadi Perang Suci’

Home » Featured » Eropa » Austria Tutup Masjid dan Usir Puluhan Imam, Erdogan: ‘Ini Bisa Jadi Perang Suci’

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memperingatkan Austria bahwa keputusan Wina untuk menutup masjid, dan mendeportasi para pemimpin agama yang didanai oleh Turki, bisa berujung pada perang suci. Ia juga mengatakan bahwa hal itu anti-Islam dan berjanji akan memberikan tanggapan.

Oleh: AFP

    Baca Juga: Pemain Paling Cerdik, Erdogan Mengubah-ubah Posisi dalam Perang Suriah

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Sabtu (9/6), mengecam keras langkah Austria untuk menutup masjid dan mengusir imam-imam yang didanai Turki, dan mengecam keputusan itu sebagai anti-Islam dan menjanjikan tanggapan.

“Langkah-langkah yang diambil oleh Perdana Menteri Austria ini, saya takutkan, akan membawa dunia menuju perang antara salib dan bulan sabit,” kata Erdogan dalam sebuah pidato di Istanbul.

Sabit adalah simbol yang terkait dengan Islam.

Komentarnya dikeluarkan sehari setelah pemerintah Austria mengumumkan dapat mengusir 60 imam yang didanai Turki dan keluarga mereka, dan akan menutup tujuh masjid, sebagai bagian dari tindakan keras terhadap “Islam politik,” yang memicu kemarahan di Ankara.

Menteri Dalam Negeri Herbert Kickl dari Partai Kebebasan sayap kanan (FPOe)—mitra junior dalam koalisi pemerintahan Austria—mengatakan bahwa langkah tersebut melibatkan para imam yang diduga terkait dengan organisasi Asosiasi Budaya Turki-Islam (ATIB)—cabang dari badan urusan agama Turki, Diyanet.

Austria Tutup Masjid dan Usir Puluhan Imam, Erdogan: ‘Ini Bisa Jadi Perang Suci’

Para pendukung Partai Kebebasan Austria FPOe mengangkat syal dan gambar pemimpin partai Hans-Christian Strache dan kandidat presiden tahun lalu Norbert Hofer, selama pawai kampanye terakhir partai tersebut di Wina, Austria, pada Jumat, 13 Oktober 2017. (Foto: AP/Matthias Schrader)

Kickl menambahkan bahwa pemerintah mencurigai mereka melanggar larangan pendanaan asing dari para pemegang kantor agama.

Seorang juru bicara kepresidenan Turki pada Jumat (8/6) menggambarkan langkah itu sebagai “cerminan dari gelombang populis anti-Islam, rasis, dan diskriminatif di negara ini”.

Namun, para pemimpin sayap kanan Eropa lainnya menyambut pengumuman itu.

Bahkan partai-partai oposisi Austria secara luas mendukung pengumuman pada Jumat (8/6), di mana kaum Sosial Demokrat kiri-tengah menyebutnya “hal yang masuk akal pertama yang dilakukan pemerintah ini.”

Namun Partai Hijau menunjukkan bahwa hal itu bisa berfungsi sebagai kemenangan propaganda bagi pemerintah Turki.

    Baca Juga: Erdogan Peringatkan Perang Antara Salib dan Bulan Sabit, Setelah Penutupan Masjid Austria

Erdogan—berbicara pada Sabtu (9/6)—mengatakan: “Mereka mengatakan mereka akan mengusir orang-orang religius kami keluar dari Austria. Apakah Anda pikir kami tidak akan bereaksi jika Anda melakukan hal seperti itu?”

“Itu berarti kita harus melakukan sesuatu,” tambahnya tanpa merinci.

Sekitar 360 ribu orang asal Turki tinggal di Austria, termasuk 117 ribu warga Turki.

Hubungan antara Ankara dan Wina telah tegang sejak kudeta yang gagal melawan Erdogan pada tahun 2016, yang diikuti oleh gelombang penangkapan.

Pidato Erdogan dilakukan menjelang pemilihan presiden dan legislatif pada tanggal 24 Juni, di mana dia menghadapi oposisi yang keras.

Pemerintah Austria telah melarang para pejabat Turki mengadakan pertemuan di negara itu menjelang pemungutan suara.

Keterangan foto utama: Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengacungkan jarinya saat ia berbicara kepada orang banyak selama pawai pemilu Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) yang berkuasa, di Stadion 19 Mayis di Ankara, pada tanggal 9 Juni 2018. (Foto: AFP/Adem Altan)

Austria Tutup Masjid dan Usir Puluhan Imam, Erdogan: ‘Ini Bisa Jadi Perang Suci’

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top