Amerika
Opini

Bagaimana Amerika Era Trump Mundur dari Panggung Dunia di 2018

Berita Internasional >> Bagaimana Amerika Era Trump Mundur dari Panggung Dunia di 2018

Tahun 2018, pemerintahan Donald Trump menepati janjinya untuk melepaskan komitmen Amerika Serikat sejak lama untuk menjamin keamanan dan kemakmuran global. Dua tahun menjabat, pemerintahan Trump telah menindaklanjuti pernyataan ini dengan meninggalkan lembaga-lembaga internasional dan perjanjian yang diyakini melanggar kedaulatan nasional. Langkah-langkah tersebut akan semakin melemahkan posisi dan pengaruh Amerika di dunia dan mendukung kebangkitan China sebagai rival dalam meraih supremasi internasional.

Baca juga: Donald Trump, Pahlawan Paling Populer di Amerika

Oleh: Ted Piccone (National Public Radio)

Sejak pertama kali menjabat, Presiden Trump secara konsisten melontarkan argumen tentang kepemimpinan AS di dunia. Argumennya berupaya memaksimalkan kedaulatan nasional dengan mengorbankan kerja sama internasional. Menggarisbawahi sejarah unik setiap negara, Trump mengatakan kepada Majelis Umum PBB pada bulan September 2018 bahwa “Amerika Serikat tidak akan memberi tahu Anda bagaimana untuk menjalani hidup atau bekerja atau ibadah. Kami hanya meminta Anda menghormati kedaulatan kami sebagai balasannya.”

Para letnan teratasnya saat ini, John Bolton sebagai penasihat keamanan nasional dan Mike Pompeo sebagai menteri luar negeri, telah mengumumkan pandangan dunia ini dengan penuh semangat. Seperti yang dinyatakan Bolton saat mencela Mahkamah Pidana Internasional, “tidak ada komite negara asing yang akan memberi tahu kami bagaimana mengatur diri sendiri dan bagaimana mempertahankan kebebasan kami.”

Dua tahun menjabat, pemerintahan Trump telah menindaklanjuti pernyataan ini dengan meninggalkan lembaga-lembaga internasional dan perjanjian yang diyakini melanggar kedaulatan nasional. Mulai dari kontrol senjata, migrasi, hingga layanan pos, Gedung Putih era Trump telah memilih ancaman dan penarikan sepihak, daripada keterlibatan dan negosiasi berprinsip.

Efeknya, entah disengaja atau tidak, mulai menjadi fokus: bertumbuhnya kekecewaan dan skeptisisme, bahkan di antara teman-teman dan sekutu, mengenai kepemimpinan AS, dan celah bagi saingan Amerika seperti China dan Rusia untuk mengisi kekosongan. Berikut ini lima cara bagaimana Amerika Serikat telah mundur dari panggung dunia pada tahun 2018.

Kesepakatan nuklir Iran

Trump sangat kritis terhadap kesuksesan upaya mantan Presiden AS Barack Obama untuk mengendalikan kapasitas senjata nuklir Iran sebagai ganti, setelah diverifikasi, beberapa bantuan sanksi. Terlepas dari adanya koalisi pro-kesepakatan yang kuat yang mencakup China, Rusia, dan Uni Eropa, administrasi Trump mengubah arah perdebatan dengan menuntut komitmen tambahan untuk menahan tindakan bermusuhan Iran terhadap negara-negara tetangganya.

Setelah upaya kurang bersemangat untuk menetapkan persyaratan baru, Gedung Putih memutuskan untuk keluar dari perjanjian dan menerapkan kembali sanksi terhadap Iran mulai musim panas lalu. Sebagai tanggapan, Iran telah memegang teguh upayanya memenuhi persyaratan perjanjian nuklir, sementara Eropa mencoba untuk menyiasati sanksi AS.

Dewan HAM PBB

Sebagai badan teratas dunia untuk menangani pelanggaran hak asasi manusia di setiap negara, Dewan Hak Asasi Manusia PBB disebut Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo sebagai, “sebuah praktik hipokrit yang tak tahu malu.” Sementara Amerika Serikat bertindak benar untuk mengkritik bias Dewan HAM terhadap Israel dan anggota-anggotanya yang otoriter, Dewan HAM PBB juga terus menyoroti pelanggaran HAM berat yang dilakukan di Myanmar dan Korea Utara.

Tetapi ketika dewan mengalihkan perhatiannya ke kegagalan AS untuk menegakkan norma-norma hak asasi manusia universal tentang masalah-masalah seperti perlakuan terhadap migran dan kemiskinan, Amerika mengamuk dan berjalan pergi.

Sebagai tanggapan, kelompok inti yang dipimpin oleh negara-negara seperti Mesir, Kuba, dan Arab Saudi telah melipatgandakan upaya untuk melemahkan agenda badan tersebut untuk meneliti catatan hak asasi manusia negara-negara dan melindungi masyarakat sipil. China, khususnya, telah mulai melakukan pelanggaran untuk menegaskan kapitalisme yang dipimpin negara sebagai jalan yang lebih baik untuk hak asasi manusia dan pembangunan.

Hubungan Israel-Palestina

Setelah 70 tahun dukungan bipartisan untuk pengungsi Palestina yang terlantar akibat konflik dengan Israel, administrasi Trump memutuskan pada bulan Agustus 2018 untuk berhenti mendanai Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA/UN Relief and Works Agency for Palestinian Refugees). Amerika juga memotong keseluruhan bantuan kepada Otoritas Palestina dan memerintahkannya untuk menutup kantor di Washington. Mengklaim memiliki bagian yang tidak proporsional dalam beban merawat keluarga Palestina yang jumlahnya terus bertambah, niat Trump yang sebenarnya adalah menekan rakyat Palestina untuk mencapai kesepakatan tentang perdamaian dengan Israel.

“Amerika Serikat membayar mereka sejumlah besar uang. Dan saya katakan, ‘Anda akan mendapatkan uang, tetapi kami tidak akan membayar sampai Anda membuat kesepakatan,’” kata Trump kepada sekelompok pemimpin Yahudi Amerika.

Upaya untuk mencegah hal itu gagal: Program Pangan Dunia mengatakan akan memotong bantuan pangan tahun depan untuk hampir 200.000 warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki karena pemotongan anggaran AS. Trump selanjutnya mengisolasi Amerika Serikat ketika ia melanjutkan dengan memindahkan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem pada bulan Mei 2018, setelah semua anggota Dewan Keamanan PBB lainnya memilih untuk menolak tindakan tersebut.

Perubahan iklim

Sebagai bagian dari kemunduran keseluruhan ketentuan era Obama yang bertujuan mengurangi emisi karbon AS, Presiden Trump pada tahun 2018 membuat pengumuman tentang pengunduran dirinya dari perjanjian iklim Paris, mengklaim bahwa perubahan iklim adalah tipuan yang dipromosikan oleh China untuk melukai ekonomi Amerika.

Sementara penarikan yang sebenarnya tidak berlaku sampai setelah pemilihan presiden tahun 2020, pejabat AS dengan cepat menulis ulang aturan domestik untuk mempromosikan bahan bakar fosil yang bertentangan dengan komitmen internasional.

Pada sesi global baru-baru ini untuk merundingkan “rulebook” untuk mengimplementasikan komitmen nasional, seorang delegasi top AS menimbulkan protes ketika ia membuat pernyataan yang mendukung “batubara bersih” dan gas serpih (shale gas).

Sementara itu, pada KTT G20 di Argentina pada bulan November 2018, Trump adalah satu-satunya pemimpin yang tidak mengulangi komitmen untuk tindakan iklim, meskipun ada banyak laporan baru oleh para ilmuwan terkemuka bahwa bencana pemanasan global akan mulai melanda dalam 12 tahun, kecuali terjadi pemotongan emisi karbon secara dramatis.

Penarikan pasukan AS dari Suriah

Amerika di Suriah

Tentara Amerika Serikat berkumpul untuk memberi pengarahan selama latihan patroli gabungan di Manbij, Suriah. Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump mengatakan Negara Islam telah dikalahkan dan pasukan AS akan mundur, yang memicu kritik dari negara-negara sekutu yang mengatakan kelompok ekstremis itu masih tetap menjadi ancaman dan mundur sekarang akan mengarah pada kebangkitannya kembali. (Foto: AP/Angkatan Darat Amerika Serikat/Spc. Zoe Garbarino)

Demonstrasi terbaru atas naluri kuat Presiden Trump untuk menurunkan beban keamanan kolektif pada pihak lain (teman dan musuh) terjadi pada tanggal 19 Desember 2018, ketika ia menyatakan kemenangan atas teroris ISIS dan memerintahkan sekitar 2.000 tentara AS untuk segera menghentikan aksi di Suriah dan pulang ke Amerika. Keputusan tergesa-gesa tersebut secara langsung bertentangan dengan pernyataan publik oleh para penasihat paling seniornya bahwa pasukan AS akan tetap tinggal.

Baca juga: Perang Dagang: China Temukan Cara Baru untuk Sakiti Amerika

Penarikan pasukan AS juga dikatakan akan mengecewakan dan menimbulkan kerentanan terhadap sekutu dekat seperti Inggris dan Prancis, yang juga mengerahkan pasukan mereka di sana. Hasilnya, menurut sebagian besar orang, keputusan itu merupakan kemenangan bagi saingan AS, Rusia dan Iran, yang kini memiliki andil kuat di kawasan itu, serta bagi Suriah, ISIS, dan Turki, dan sebaliknya merupakan kekalahan bagi sekutu AS, Israel, Israel dan Arab Saudi.

Keputusan tersebut memiliki dampak negatif yang lebih luas untuk kemampuan AS diandalkan oleh mitra-mitranya yang sudah lama, mendorong Menteri Pertahanan AS Jim Mattis untuk mengundurkan diri.

Trump yang telah mengancam untuk mengguncang tatanan internasional atas nama penggalian kesepakatan yang lebih baik untuk Amerika Serikat dapat menghasilkan beberapa perjanjian baru yang semakin mempersempit kepentingan nasional. Tetapi dampak yang ditimbulkan oleh pengaruh AS sudah terbukti sangat tinggi.

Teman-teman Amerika bingung dan frustrasi dengan rasa tidak hormat Trump serta tindakannya yang tidak dapat diprediksi. Sementara itu, para pesaingnya dengan bersemangat mengeksploitasi kesempatan untuk meraih keuntungan mereka.

Meningkatnya transaksionalisme Trump secara terus-menerus atas nama “America First” berarti kita mungkin memasuki kemunduran yang tak terhindarkan ke dalam kompetisi geopolitik yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Ted Piccone adalah rekan senior untuk kebijakan luar negeri di Brookings Institution.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Kanselir Jerman Angela Merkel berbicara dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump selama KTT G7 di La Malbaie, Quebec, Kanada, tanggal 9 Juni 2018. Pemerintahan Trump telah menimbulkan kejutan dan frustrasi sekutu di berbagai bidang termasuk perdagangan, keamanan, hak asasi manusia, dan lingkungan. (Foto: AP/Pemerintah Federal Jerman/Jesco Denzel)

Bagaimana Amerika Era Trump Mundur dari Panggung Dunia di 2018

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top