Batas Waktu Eropa untuk Bantu Iran Hadapi Sanksi Amerika Hampir Habis
Eropa

Batas Waktu Eropa untuk Bantu Iran Hadapi Sanksi Amerika Hampir Habis

Berita Internasional >> Batas Waktu Eropa untuk Bantu Iran Hadapi Sanksi Amerika Hampir Habis

Sanksi Amerika Serikat yang dijatuhkan kepada Iran telah memberikan efek luar biasa bagi rakyat biasa Iran. Banyak dari mereka yang kehilangan pekerjaan dan menghadapi kesulitan. Eropa telah berencana untuk merancang alat baru untuk menumpulkan efek sanksi ini, tetapi waktu sudah hampir habis untuk membuat alat itu berdiri dan berjalan.

Oleh: Esfandyar Batmanghelidj dan Axel Hellman (Foreign Policy)

Baca Juga: Demi Iran atau Al Jazeera, Qatar Tinggalkan OPEC

Sudah hampir tujuh bulan sejak Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran. Ketika sanksi mulai terasa, perusahaan-perusahaan Iran mem-PHK karyawan, dan keluarga-keluarga Iran menghadapi kesulitan baru.

Iran telah sangat bersabar ketika menunggu Eropa untuk merancang special purpose vehicle (SPV), entitas baru yang dimaksudkan untuk membantu Iran menumpulkan dampak sanksi sekunder AS dengan memungkinkan perusahaan-perusahaan untuk berdagang dengan Iran, terlepas dari fakta bahwa bank internasional menolak untuk memproses pembayaran ke dan dari negara itu. SPV akan memungkinkan proses pembayaran dengan menawarkan layanan “kompensasi”.

Dengan mengawasi buku pembayaran yang terkait dengan ekspor dan impor antara Eropa dan Iran, SPV akan dapat mengoordinasikan pembayaran sehingga eksportir barang Eropa ke Iran dapat dibayar oleh importir barang Eropa dari Iran, sehingga tidak perlu ada transaksi lintas batas. SPV hanya mengkoordinasikan pembayaran sehingga eksportir dapat dibayar dari dana di luar Iran sementara importir dapat dibayar dengan dana di Iran.

Kompensasi itu adalah solusi yang telah digunakan secara informal oleh perusahaan selama bertahun-tahun—mekanisme yang diusulkan itu layak. Tetapi waktu sudah hampir habis untuk membuat SPV itu berdiri dan berjalan. Ali Akbar Salehi, kepala badan energi atom Iran, baru-baru ini memperingatkan bahwa “kesabaran warga semakin terbatas.”

SPV Eropa dapat diluncurkan tepat pada waktunya. Prancis dan Jerman kemungkinan akan secara resmi mendirikan entitas itu pada bulan Januari. Tetapi banyak kritikus yakin bahwa SPV akan memiliki dampak yang tidak signifikan terhadap ekonomi Iran, paling tidak karena tidak mungkin bahwa mekanisme tersebut akan digunakan untuk memfasilitasi pembelian minyak Iran oleh Eropa.

Ketika kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Federica Mogherini mengumumkan niat Eropa untuk mendirikan SPV pada bulan September, ia secara khusus menyebutkan tujuan untuk memfasilitasi pembayaran yang terkait dengan ekspor minyak Iran. Pejabat Eropa secara pribadi mengakui ini tidak mungkin terjadi. Juru bicara kementerian luar negeri Iran Bahram Qassemi tampaknya mengakui hal ini baru-baru ini, ketika ia menggambarkan SPV sebagaimana dimaksudkan untuk memfasilitasi “pembelian barang esensial” Iran.

Kenyataan bahwa SPV kemungkinan akan memfasilitasi perdagangan barang-barang penting selain minyak menandakan suatu kegagalan. Walaupun Eropa harus merencanakan untuk menciptakan beberapa SPV dan masih berusaha untuk membeli minyak Iran, penciptaan SPV kemanusiaan yang spesifik adalah langkah pertama yang ideal ketika Eropa berusaha untuk menegaskan kedaulatan ekonominya dan menyelamatkan kesepakatan nuklir. SPV kemanusiaan ini akan membantu mencapai beberapa tujuan.

Pertama, terlepas dari fokus pada ambisi perusahaan energi seperti Total dan raksasa industri seperti Siemens, perusahaan-perusahaan itu aktif di bidang makanan dan farmasi yang memiliki keberadaan paling lama dan paling pesat di Iran. Perusahaan seperti Nestle, Novo Nordisk, Sanofi, dan Unilever-yang menjual makanan kemasan, produk pembersih, dan obat-obatan yang sangat dibutuhkan rumah tangga—berada di jantung dari ekosistem komersial yang paling penting di Iran, yang meliputi sektor swasta Iran dan kelas konsumennya yang dinamis.

Menciptakan SPV kemanusiaan akan membantu menstabilkan kehadiran perusahaan-perusahaan tersebut di pasar Iran. Meskipun ada pengecualian untuk perdagangan makanan, obat-obatan, dan banyak produk konsumen, perdagangan Iran dalam barang-barang ini lebih dibatasi oleh terbatasnya jumlah bank Eropa yang bersedia menerima pembayaran dari importir Iran.

SPV akan berfungsi untuk meningkatkan volume perdagangan yang dapat dilakukan mengingat keadaan hubungan perbankan saat ini dengan mengurangi kebutuhan untuk transaksi keuangan langsung antara Eropa dan Iran.

Kedua, membatasi jenis perdagangan yang memfasilitasi SPV sebenarnya dapat membantu mempercepat pengembangan entitas tersebut. Sebuah fokus kemanusiaan akan memperkecil kemungkinan upaya Departemen Keuangan AS untuk secara aktif mengganggu pengoperasian mekanisme baru ini. Hal ini akan mempermudah untuk memperluas SPV kemanusiaan ke selain layanan kompensasi yang menjadi tujuan saat ini.

Para pemimpin bisnis telah menyarankan bahwa SPV dapat dimodelkan sebagai perantara perdagangan internasional, umumnya dikenal sebagai ‘rumah perdagangan’. Rumah perdagangan yang paling terkenal adalah sogo shosha milik Jepang, contohnya Itochu dan Marubeni, yang, bertindak seperti “lengan diplomatik negara,” yang membuat ekspor Jepang melesat dari tahun 1980-an. Dalam model seperti itu, SPV akan berfungsi sebagai intermediator tandingan antara eksportir dan importir dalam perdagangan.

Selain itu, para pejabat Eropa telah menjamu kemungkinan bahwa SPV akhirnya dapat diberikan lisensi perbankan, yang memungkinkan SPV untuk berfungsi sebagai “gerbang bank” milik negara antara sistem keuangan Eropa dan Iran. Apapun modelnya, fokus kemanusiaan akan mempermudah pemerintah Eropa untuk menyediakan modal dan sumber daya yang diperlukan untuk memberikan SPV kemanusiaan lebih banyak kekuatan untuk memfasilitasi volume perdagangan dan investasi yang lebih besar antara Eropa dan Iran, bahkan jika hanya dalam sektor yang bebas sanksi.

Ketiga, sementara SPV kemanusiaan tidak akan berfungsi untuk meningkatkan ketahanan keseluruhan ekonomi Iran dalam menghadapi sanksi AS, fokus kemanusiaan akan membantu meningkatkan ketahanan rumah tangga Iran, membantu mengurangi biaya pangan dan meminimalkan kekurangan obat-obatan. Dapat dibilang, mengurangi kesulitan yang dihadapi oleh keluarga Iran mungkin secara politis lebih penting daripada apa pun yang diharapkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Iran.

Misalnya, dokter Iran telah memperingatkan bahwa kekurangan obat-obatan “pasti akan menyebabkan penurunan dalam kelangsungan hidup anak-anak yang mengidap kanker,” ini seperti yang dikatakan mantan perunding AS Richard Nephew bahwa “sanksi adalah bentuk kekerasan.” SPV kemanusiaan akan berfungsi sebagai alat praktis di mana Eropa akan membantu melindungi masyarakat Iran dari kekerasan kebijakan sanksi pemerintahan Trump.

Akhirnya, pembentukan SPV kemanusiaan ini akan memungkinkan Eropa untuk berhadapan langsung dengan pemerintahan Trump pada implikasi kemanusiaan dari sanksi yang diberlakukan kembali. Walaupun Menteri Luar Negeri Mike Pompeo telah berjanji bahwa “sanksi [Amerika] dan tekanan ekonomi kami diarahkan pada rezim dan proksi jahatnya, bukan pada rakyat Iran,” Wakil Khusus untuk Iran Brian Hook telah menyatakan bahwa “Amerika Serikat tidak bertanggung jawab untuk mengidentifikasi saluran-saluran aman” agar perdagangan kemanusiaan terjadi.

Tetapi jika SPV adalah fokus kemanusiaan, AS harus menjelaskan mengapa SPV tidak konsisten dengan pernyataannya sendiri.

Dengan mengirimkan SPV kemanusiaan sebagai upaya untuk menciptakan “saluran aman” untuk perdagangan bebas sanksi, Eropa dapat membatasi pilihan pemerintahan Trump untuk pembalasan. Upaya-upaya untuk menggagalkan SPV kemanusiaan atau perusahaan yang menggunakan mekanisme tersebut akan bertentangan dengan kebebasan untuk perdagangan kemanusiaan dalam undang-undang sanksi AS. Sebagai contoh, undang-undang Perlawanan Musuh Amerika Melalui Sanksi (CAATSA) yang telah ditandatangani oleh Trump pada Agustus 2017 secara khusus mengecualikan “melakukan atau memfasilitasi transaksi untuk penjualan komoditas pertanian, makanan, obat-obatan, atau peralatan medis ke Iran.”

Sanksi masih merupakan alat hukum—dan Departemen Keuangan AS tidak dapat begitu saja memberikan sanksi kepada SPV kemanusiaan atau perusahaan yang menggunakannya tanpa dasar hukum yang jelas untuk melakukannya. Tidak mungkin bahwa pemerintahan Trump akan mampu menciptakan dasar hukum untuk menyetujui sebuah badan milik negara Eropa yang berfokus pada perdagangan kemanusiaan, terutama jika ada banding langsung Uni Eropa ke Kongres pada sifat kebebasan dari kegiatan terkait.

Eropa bahkan dapat melangkah lebih jauh dan mengundang Amerika Serikat untuk menjadi salah satu negara yang berpartisipasi dalam SPV kemanusiaan. Undangan semacam itu akan mencerminkan fakta bahwa perusahaan-perusahaan AS seperti Johnson & Johnson, Medtronic, General Electric, dan Cargill menghadapi tantangan perbankan yang sama dengan rekan-rekan Eropa ketika mencoba melakukan perdagangan bebas sanksi dengan Iran.

Jika Amerika Serikat menolak untuk bergabung, kemungkinan besar begitu, Eropa akan lebih terjustifikasi dalam menekan pemerintahan Trump untuk lisensi dan langkah-langkah lain yang akan memberikan kenyamanan kepada bank-banknya mengenai keterlibatan SPV. Yang penting, negosiasi di sekitar SPV kemanusiaan bisa berfungsi sebagai kesempatan untuk mengurangi keretakan trans-Atlantik atas sanksi Iran.

Pemerintahan Trump dapat memilih untuk tidak bergabung dengan SPV kemanusiaan, namun tetap mendukung konsep mekanisme Eropa atas dasar bahwa itu tidak secara inheren melemahkan keseluruhan arsitektur sanksi AS karena fokus kemanusiaannya.

Mengatasi pertemuan parlemen pada bulan Oktober, Presiden Iran Hassan Rouhani menyebut upaya Eropa untuk menumpulkan sanksi AS dan melindungi kesepakatan nuklir tersebut sebagai “kemenangan politik.” Tapi dia juga mengakui bahwa “warga Iran telah menderita dan berada di bawah tekanan” karena sanksi itu.

Eropa dan Iran sangat membutuhkan kemenangan praktis. SPV kemanusiaan ini dapat berfungsi sebagai penghalang bagi kebijakan “tekanan maksimum” pemerintah Trump, tidak dengan memastikan bahwa tanker minyak bergerak bebas atau dilakukannya investasi penting, tetapi pertama-tama dengan mencegah keputusasaan yang muncul ketika rak-rak di supermarket dan apotek kosong.

Baca Juga: Iran Bela Program Nuklir Usai Pompeo Tuduh Iran Lakukan Uji Coba Rudal

Esfandyar Batmanghelidj adalah pendiri perusahaan media Bourse & Bazaar. @yarbatman

Axel Hellman adalah rekan kebijakan di European Leadership Network. @axhellman

Keterangan foto utama: Seorang pria Iran berbelanja di apotek di rumah sakit Nikan di Teheran pada 11 September 2018. (Foto: AFP/Getty Images/Stringer)

Batas Waktu Eropa untuk Bantu Iran Hadapi Sanksi Amerika Hampir Habis

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top