George H.W. Bush
Amerika

Bagaimana George H.W. Bush Menjadi Seorang Demokrat Amerika

Berita Internasional >> Bagaimana George H.W. Bush Menjadi Seorang Demokrat Amerika

Kelompok Amerika Serikat kiri-tengah menolak pendekatannya terhadap kebijakan luar negeri, dan akhirnya mengadopsinya sebagai milik mereka sendiri. Di pemilihan untuk periode kedua, lawannya saat itu, Bill Clinton, mengolok-olok George H.W. Bush karena lebih mementingkan isu luar negeri dibanding dalam negerinya sendiri. Namun melihat politik AS saat ini, setelah Trump, kebijakan ala Bush inilah yang akan sangat dibutuhkan Amerika.

Baca juga: Bukti Kerendahan Hati: Surat Tulisan Tangan George H. W. Bush untuk Bill Clinton

Oleh: Derek Chollet (Foreign Policy)

Bercermin pada kehidupan mantan Presiden Amerika Serikat George H.W. Bush, seseorang akan segera memikirkan tentang kesopanannya yang mendasar, dedikasinya untuk melayani, keahliannya dalam menjalin hubungan, dan kemurahan hatinya dalam menerima kemenangan dan kekalahan. Namun bagi seorang politisi yang menghabiskan puluhan tahun sebagai pendukung Partai Republik yang bangga, salah satu warisan Bush yang lebih tidak terduga ialah inspirasinya yang abadi sebagai pemimpin kebijakan luar negeri untuk Partai Demokrat.

Tanyakan seorang ahli kebijakan luar negeri Demokrat, presiden AS manakah yang paling mereka kagumi. Mereka kemungkinan akan menjawab Franklin D. Roosevelt, Harry S. Truman, John F. Kennedy, …dan George H.W. Bush.

Hal ini sangat mencolok mengingat ketika Bush meninggalkan jabatan seperempat abad lalu hanya setelah menjabat dalam satu periode, kaum liberal mengolok-oloknya karena terlalu peduli tentang masalah di luar negeri daripada di dalam negeri, dan menghinanya sebagai seorang pengecut. Dalam kampanye pemilihan presiden 1992, Bill Clinton, yang oleh Bush dan timnya kemudian dianggap sebagai sosok licik yang benar-benar tidak berkualifikasi untuk menjadi panglima tertinggi, mengkritik Bush karena memanjakan “tukang daging di Beijing” setelah pembantaian Lapangan Tiananmen dan tanggapan yang sembrono terhadap perang di Bosnia.

Meski tampak sulit untuk dibayangkan, tetapi tim Clinton bekerja untuk merebut kembali kelompok neokonservatif, yang sama-sama kecewa dengan Bush, ke Partai Demokrat dengan tujuan membentuk konsensus kebijakan luar negeri yang baru.

Namun, Demokrat bahkan bisa melihat bahwa Bush adalah korban dari kesuksesannya sendiri. Mereka mengerti bahwa tanpa manajemen yang stabil dari akhir Perang Dingin yang penuh gejolak, rakyat Amerika tidak mungkin memilih seseorang seperti Clinton dengan begitu sedikit pengalaman dalam urusan global. Setelah menjabat, beberapa elemen inti dari kebijakan luar negeri Clinton dibangun di atas pondasi Bush, misalnya perjanjian perdagangan global seperti NAFTA, proses perdamaian Timur Tengah, dan perluasan NATO.

Tim Clinton dengan cepat tumbuh untuk menghormati penanganan krisis yang dialami Bush dan pemahaman yang tajam tentang penggunaan kekuasaan AS, serta batas-batasnya.

Kekaguman ini hanya tumbuh pada waktunya, seperti yang pernah dianggap sebagai kegagalan Bush, seperti tidak berperang ke Irak untuk menjatuhkan Saddam Hussein pada tahun 1991, yang tampak jauh lebih bijak dibandingkan dengan apa yang akan terjadi. Selain itu, Bush adalah seorang internasionalis kuno. Dia percaya dalam upaya mengembangkan aliansi, tidak ragu-ragu untuk menghadapi musuh dan juga tidak takut untuk terlibat dengan mereka, serta sangat percaya dalam potensi organisasi seperti PBB dan NATO.

Warisan Bush juga telah dirangkul oleh Demokrat, bukan hanya karena apa yang dia perjuangkan atau apa yang dia coba lakukan, tetapi juga karena bagaimana dia melakukannya. Tim Bush, James Baker, Brent Scowcroft, Colin Powell, Robert Gates, dan bahkan Dick Cheney, secara luas dikagumi di kalangan profesional sebagai master pembuatan kebijakan luar negeri kelas wahid.

Mengambil isyarat mereka dari atas, mereka beroperasi dengan optimisme, keyakinan, pragmatisme, dan sedikitnya drama yang mengagumkan. Hari ini, kelompok seperti ini adalah apa yang diinginkan oleh sebagian besar tim politik luar negeri Demokrat.

Hal ini memang benar untuk mantan Presiden AS Barack Obama. Sejak hari-hari awal kampanye pertamanya untuk presiden, Obama berbicara tentang kekagumannya pada Bush, menggambarkannya sebagai salah satu presiden paling diremehkan di negara itu yang tidak mendapatkan kredit yang cukup untuk prestasinya.

Obama belajar dari contoh Bush, berusaha untuk memadukan ambisi dengan kehati-hatian dan berpegang pada apa yang digambarkan sejarawan Jeffrey Engel sebagai pendekatan “Hippocratic” Bush menuju diplomasi. Obama secara terbuka merayakan garis keturunan ini: Tahun 2011, ia menyambut Bush kembali ke Gedung Putih untuk menghadiahinya Presidential Medal of Freedom. Sebanyak pemimpin kebijakan luar negeri dari partai manapun, Obama-lah yang menjalankan tradisi Bush dengan sangat setia.

Baca juga: George H. W. Bush dan Donald Trump: Kajian Kepresidenan yang Kontras

Ini mengatakan banyak hal tentang keadaan kebijakan luar negeri Demokrat, tetapi juga mengatakan lebih banyak lagi tentang Partai Republik. Di tengah curahan pujian tentang Bush dan perayaan prestasinya, sulit untuk menemukan banyak orang di sayap kanan hari ini yang mengadvokasi kebijakan untuk meniru kebijakan luar negerinya.

Sebaliknya, kaum konservatif sangat terpecah antara mayoritas kaum Trumpist, yang mendukung pandangan pribumi yang sama, paranoid, pesimis terhadap dua musuh politik utama Bush, Pat Buchanan dan Ross Perot, dan berkurangnya jumlah sosok agresif intervensionis yang salah mengira pengekangan Bush sebagai kelemahan serta salah menganggap kerendahan hati sebagai kurangnya kepercayaan diri.

Seseorang meragukan jika apa yang tersisa dari asisten kebijakan luar negeri Bush memiliki banyak masa depan di Partai Republik hari ini. Namun, meski mereka mungkin tidak ingin mengakuinya, mereka akan cocok dengan nyaman dalam arus utama kebijakan luar negeri Demokrat saat ini. Ketika tiba masanya untuk menempa peran Amerika di dunia setelah Trump, ini mungkin menjadi salah satu dari warisan terpenting George H.W. Bush.

Derek Chollet bertugas di pemerintahan Obama selama enam tahun di posisi senior di Gedung Putih, Departemen Luar Negeri, dan Pentagon, terakhir sebagai asisten Menteri Pertahanan AS untuk urusan keamanan internasional. Chollet saat ini adalah wakil presiden eksekutif di German Marshall Fund of the United States. Chollet adalah co-editor blog Shadow Government.

Keterangan foto utama: Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama menganugerahkan Medal of Freedom 2010 kepada mantan Presiden AS George H.W. Bush dengan di Ruang Timur Gedung Putih, Washington, DC., tanggal 15 Februari 2011. (Foto: Getty Images/Chip Somodevilla)

Bagaimana George H.W. Bush Menjadi Seorang Demokrat Amerika

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top