transgender
Berita Politik Indonesia

Bagaimana Islamist Tanamkan Stigma pada Waria Transgender di Indonesia

Berita Internasional >> Bagaimana Islamist Tanamkan Stigma pada Waria Transgender di Indonesia

Waria pernah dihormati pada masanya, yakni selama periode berkuasanya berbagai kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia. Kini sebaliknya, komunitas LGBTI (lesbian, gay, biseksual, transgender, dan interseks) semakin menghadapi permusuhan publik, kekerasan, hingga penganiayaan hukum, dengan latar belakang meningkatnya konservatisme agama dan wacana politis homofobik. Mereka dicerca dan dipersekusi.

Baca Juga: Putusan Bersejarah di India: Pengadilan Tinggi Legalkan Hubungan Sesama Jenis

Oleh: David G. Rose (South China Morning Post)

Komunitas LGBTI di Indonesia dapat dimaafkan karena berpikir bahwa pencarian kesetaraan mereka justru akan mundur. Selama periode pra-Islam, tempatnya berkembangnya ajaran dan kerajaan Hindu-Buddha dalam sejarah Indonesia, waria, sebagai jenis kelamin ketiga, tidak hanya diterima, tetapi bahkan dihormati dan dipuja di kalangan masyarakat.

Kini, mereka lebih banyak diusir dari masyarakat, seperti yang dibuktikan Yulianus Rettoblaut, yang lebih dikenal sebagai Mama Yuli. Dia mengelola tempat penampungan di ibukota Indonesia, Jakarta yang telah membantu lebih dari 4.500 transgender dan gay yang melarikan diri dari persekusi dan ancaman.

“Orang-orang ini tidak memiliki perlindungan hukum. Orang tua mereka menolak mereka karena mereka telah menjadi waria karena orang tua mereka merasa malu dengan mereka. Para orang tua memaksa anak-anak mereka menjadi anak laki-laki karena mereka tidak bahagia memiliki anak waria,” katanya.

“Anak-anak itu tidak nyaman dan meninggalkan rumah, tanpa identitas atau pendidikan. Karena itu ketika mereka muncul di kota-kota besar seperti Jakarta, mereka kesulitan menemukan makanan dan tempat tinggal. Banyak di antara mereka yang menjadi pengemis.”

Yulianus Rettoblaut atau “Mama Yuli” bersama para transgender dan teman-temannya di rumah penampungannya di Jakarta. (Foto: Forum Komunikasi Waria Indonesia/Yulianus Rettoblaut)

Kebanyakan dari mereka menghadapi diskriminasi atas nama agama, kata Rettoblaut. “Delapan puluh persen waria yang berakhir di jalanan menghadapi tekanan agama dan stigmatisasi yang kuat, karena negara tidak memberikan perlindungan dan dukungan yang cukup bagi mereka. Hal inilah yang menyebabkan kekerasan publik, penyiksaan, atau upaya mempermalukan terhadap waria.”

Di India, para hakim pekan lalu melegalkan hubungan sesama jenis. Di Indonesia, sebaliknya, negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia, komunitas LGBTI (lesbian, gay, biseksual, transgender, dan interseks) semakin menghadapi permusuhan publik, kekerasan, hingga penganiayaan hukum, dengan latar belakang meningkatnya konservatisme agama dan wacana politis homofobik.

Baca Juga: ‘Allah Tidak Peduli jika Anda adalah Seorang Transgender’

Meskipun hukum Indonesia tidak secara langsung mengkriminalisasi tindakan homoseksualitas, kepolisian pada tahun lalu melakukan razia rutin terhadap bar, spa, dan rumah yang dicurigai menyelenggarakan “pesta seks gay,” menangkap mereka yang ditemukan di dalam atas dasar pelanggaran pasal “pornografi” atau “ketidaksenonohan publik”.

Sementara itu, parlemen Indonesia baru-baru ini mencoba untuk melarang hubungan sesama jenis. Di provinsi Aceh yang konservatif, Sumatera Utara, menjadi gay merupakan kejahatan berdasarkan hukum syariah yang diterapkan secara lokal, yang dapat dihukum dengan hukuman cambuk di hadapan publik.

Serupa dengan itu, orang-orang transgender telah ditangkap polisi, rambut panjangnya dicukur habis untuk membuat mereka berperilaku seperti “pria sejati”.

Seorang anggota polisi syariah Indonesia mencambuk seorang pria yang dituduh melakukan hubungan seks sesama jenis, dalam upacara pencambukan publik di luar sebuah masjid di Banda Aceh, ibukota provinsi Aceh. (Foto: AFP)

Antusiasme agama di Aceh mungkin tampak ekstrem, tetapi beberapa ulama Islam melihatnya sebagai sesuatu hal yang dicita-citakan, sementara intoleransi yang luas terhadap kelompok ekspresi seksual minoritas tercermin dalam opini publik di seluruh Indonesia.

Sebuah survei tahun 2018 menemukan 87 persen orang Indonesia yang memahami istilah LGBTI menganggap komunitas tersebut sebagai “ancaman terhadap kehidupan pribadi atau publik”, sementara proporsi yang sama berpendapat bahwa individu LGBTI tidak boleh memegang jabatan publik senior.

Baca Juga: Cambukan pria gay di Aceh: tidak harus terkecuali dengan peraturan Indonesia

Hampir 1.000 orang Indonesia mengalami diskriminasi, stigmatisasi, dan kekerasan karena mengekspresikan orientasi seksual atau identitas gender mereka pada tahun 2017, menurut Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat Indonesia (LBH Masyarakat), dan itu hanya kasus-kasus yang mendapat liputan media. Di antaranya, sekitar 70 persen melibatkan wanita transgender.

Iklim intoleransi telah dipicu oleh ulama Islam dari Majelis Ulama Indonesia, yang mengeluarkan fatwa pada tahun 2015 yang menyebut komunitas LGBTI sebagai “penghinaan terhadap martabat Indonesia” dan menganggap homoseksualitas sebagai “penyakit yang dapat disembuhkan.”

Sejak itu, sementara negara-negara lain di seluruh dunia telah melegalkan pernikahan sesama jenis atau mengakui hak gay, politisi Indonesia yang mencari suara mayoritas Muslim telah menggunakan “LGBTI” sebagai ancaman terhadap nilai-nilai keluarga tradisional.

Hera dan Monic, dua waria atau transgender di Jakarta. (Foto: AFP)

Hendri Yulius, seorang penulis dan peneliti tentang gender dan seksualitas, mengatakan bahwa pernyataan anti-LGBTI oleh politisi telah meningkat sejak Mahkamah Agung Amerika Serikat memutuskan untuk mengizinkan pernikahan sesama jenis pada tahun 2015.

“Pernyataan inflamasi dimulai pada awal tahun 2016 dan menyamakan hak LGBTI dengan pernikahan sesama jenis. Sejak itu, para politisi menggunakan masalah ini untuk tujuan mereka sendiri,” katanya. “Keluarga heteroseksual dianggap sebagai batu pondasi masyarakat di Indonesia, sehingga begitu ada serangan yang dirasakan terhadap nilai-nilai keluarga, sangat mudah menghasilkan reaksi kepanikan moral.”

“Pertanyaannya adalah, di manakah negara dalam hal ini? Presiden Indonesia Joko “Jokowi” Widodo mengatakan pada tahun lalu bahwa akan ada perlindungan terhadap minoritas. Namun, dalam praktiknya sejak itu kita telah menyaksikan berbagai penggerebekan di sauna dan bar gay. Di Depok dan Surabaya, pihak berwenang membentuk gugus tugas anti-LGBTI, tetapi apa yang mereka lakukan sekarang? Sangat sulit untuk menentukan perspektif pemerintah daerah.”

Presiden Indonesia Joko Widodo telah berjanji untuk melindungi kelompok minoritas. (Foto: AFP)

Tahun ini, parlemen Indonesia mengajukan reformasi kontroversial terhadap undang-undang pidana yang berusaha mengkriminalisasi seks di luar nikah, untuk heteroseksual maupun homoseksual, dengan mendefinisikan kejahatan zina.

Aktivis dan kelompok hak asasi manusia merasa lega ketika Jokowi gagal menandatangani pengajuan rancangan undang-undang pada bulan Agustus 2018, tetapi bersiap untuk kampanye baru untuk mengkriminalisasi kegiatan LGBTI ketika parlemen baru bersidang setelah pemilihan umum bulan April 2019 mendatang.

Sementara itu, jajaran pemimpin kepolisian terus bertindak atas inisiatif mereka sendiri, menangkap lebih dari 300 orang dalam kegiatan terkait LGBTI tahun lalu. Kyle Knight, Peneliti Program LGBTI untuk Human Rights Watch, telah meminta pemerintah untuk “menghentikan penggerebekan dan penangkapan sewenang-wenang dan melanggar hukum” ini.

Dia mengatakan pemerintah “harus menyatakan dukungan tegas untuk hak komunitas LGBTI terhadap privasi dan kebebasan berserikat.”

Hera Diani, editor pelaksana Magdalene, sebuah majalah online yang membahas isu-isu gender, merasa pesimis tentang prospek penerimaan kelompok minoritas seksual.

“Kebanyakan orang menentang hak LGBTI, sayangnya,” katanya. “Sebelum meningkatnya konservatisme agama, persekusi gay di depan umum jarang terjadi, tetapi penganiayaan terhadap LGBTI telah meningkat, terutama dalam dua tahun terakhir. Politisi merupakan pihak oportunis, mereka menunggangi kebencian dan terlalu takut untuk berbicara menentang kelompok Islam.”

“Kawan-kawan gay saya saat ini merasa khawatir dan ketakutan. Para gay yang memiliki privilese telah siap pindah ke luar negeri apabila situasi di Indonesia kian memburuk.”

Keterangan foto utama: Yulianus Rettoblautt, seorang aktivis transgender di Indonesia. (Foto: AFP)

Bagaimana Islamist Tanamkan Stigma pada Waria Transgender di Indonesia

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top