Kapitalisme
Opini

Bagaimana Kapitalisme Membunuh Kita

Berita Internasional >> Bagaimana Kapitalisme Membunuh Kita

Amerika Serikat adalah pelopor kapitalisme di dunia. Tak heran di saat yang sama, negara adidaya ini di bawah pemerintahan Trump, telah mengindahkan–bahkan menyangkal–laporan dari para ilmuwan tentang perubahan iklim. Kapitalisme juga telah menciptakan ketidaksetaraan di masyarakat.

Baca juga: Komunisme China yang Dinodai Kapitalisme: Terancam Ambruk

Oleh: Belen Fernandez (Al Jazeera)

Saat melintasi Venezuela beberapa tahun yang lalu, saya dan seorang teman memanfaatkan kesempatan untuk menerima perawatan medis gratis di klinik kesehatan yang didirikan oleh mendiang Presiden Hugo Chavez, musuh yang sangat dibenci tatanan kapitalis internasional.

Saya tidak pernah mengalami bahaya perawatan kesehatan gratis di tanah air saya sendiri—pelopor kemuliaan kapitalisme yang dikenal sebagai Amerika Serikat—yang terlalu sibuk mengobarkan perang dan malah memfasilitasi akumulasi keuntungan perusahaan bukannya mendukung hak asasi manusia yang mendasar. Di satu klinik Venezuela, seorang dokter wanita dari Kuba mengatakan bahwa, seperti militer AS, petugas medis Kuba juga beroperasi di zona konflik global—tetapi untuk menyelamatkan jiwa.

Pernyataan pada Desember 2017 dari Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang kemiskinan ekstrim dan hak asasi manusia menyatakan bahwa, walaupun AS berhasil mengeluarkan “lebih banyak [uang] untuk pertahanan nasional daripada gabungan antara China, Arab Saudi, Rusia, Inggris, India, Prancis, dan Jepang “, angka kematian bayi AS, pada tahun 2013,”tertinggi di negara maju”.

Pelapor Khusus tersebut memberikan rentetan rincian lainnya dari kunjungannya sendiri ke AS, di mana mereka dapat mengamati “tawaran negara itu untuk menjadi masyarakat yang paling tidak setara di dunia”—dengan sekitar 40 juta orang hidup dalam kemiskinan—dan “melonjaknya angka kematian dan kehancuran keluarga dan masyarakat yang ditempa oleh kecanduan narkoba”.

Kapitalisme, tampaknya, memang perkara yang mematikan.

Masyarakat kecanduan narkoba

Memang, penggunaan dan penyalahgunaan narkoba yang merajalela hampir tidak mengejutkan dalam masyarakat di mana uang dan keuntungan telah begitu menggantikan kehidupan manusia sehingga orang-orang sering benar-benar tidak mampu untuk hidup.

Namun, beberapa orang memilih metode alternatif untuk melarikan diri dari kebrutalan realita—seperti yang ditunjukkan oleh sebuah studi tahun 2018 dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) yang mengindikasikan tingkat bunuh diri yang meroket di seluruh negeri.

Sementara itu, laporan terbaru bahwa kesepian sebenarnya mengancam jiwa, menunjukkan bahwa ikatan antarpribadi neoliberal dan meningkatnya isolasi individu juga mungkin tidak kondusif untuk ketahanan hidup.

Keterasingan itu diperparah oleh komodifikasi setiap aspek keberadaan dan pengukuhan materialisme konsumeris sebagai cara hidup, belum lagi gangguan teknologi di mana-mana dan konversi populasi manusia menjadi otomat yang direkatkan dengan ponsel.

Tambahkan ini ke campuran beracun industri farmasi yang sangat kuat—di  mana bangsa yang mengalami depresi dan penderitaan individu merupakan anugerah keuangan—dan masa depan tampak lebih suram dari sebelumnya.

‘Mustahil untuk kembali’

Tentu saja, bukan hanya tubuh dan komunitas yang dihancurkan oleh merek kapitalisme AS di dalam dan luar negeri; tapi juga planet itu sendiri. Konsumsi berlebih, kontaminasi yang tak terkendali, dan eksploitasi sumber daya telah menempatkan kita di jalur cepat ke “titik di mana kita mustahil untuk kembali”, seperti yang diperingatkan oleh para ilmuwan iklim.

Kembali pada tahun 1989, ekonom AS Paul Sweezy menggambarkan pandangan kapitalisme tentang lingkungan alam “bukan sebagai sesuatu yang harus dihargai dan dinikmati, tetapi sebagai sarana untuk tujuan terpenting dari menghasilkan laba dan akumulasi modal lebih banyak lagi”.

Ringkasannya tentang unsur-unsur utama dari krisis lingkungan sudah berlangsung tiga dekade lalu—dari efek rumah kaca yang disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil besar-besaran hingga dampak berbahaya dari “metode pertanian predator” hingga “meningkatnya polusi lautan yang dulu dianggap menjadi repositori yang tak terbatas dari semua jenis limbah”.

Belum lagi, sekarang lautan dan aksesoris penting duniawi lainnya telah secara efektif menjadi plastik, akan sulit untuk mengubahnya kembali menjadi bentuk non-plastik—terutama ketika elit kapitalis global dengan sepenuh hati merangkul logika sistem penghancuran diri dan tampaknya tidak keberatan untuk meninggalkan keturunan mereka menghadapi kiamat di masa depan.

Membunuh atau dibunuh

Hal ini sangat nyata terlebih karena pemimpin negara yang disebut “dunia bebas” ini adalah orang yang sebelumnya mencela perubahan iklim sebagai tipuan China.

Pada bulan Desember, dalam unggahan di situs web Verso Books, Ashley Dawson—penulis Extreme Cities: The Rising and Promise of Urban Urban in the Age of Climate Change—mengulas beberapa kontribusi Donald Trump terhadap kehancuran Bumi oleh “hiper-kapitalisme”, sebagai “upaya untuk mengkriminalisasi protes lingkungan”.

Meskipun penarikan Trump dari perjanjian iklim Paris di tahun 2017 mungkin telah menyebabkan keributan yang terbesar, Dawson menyatakan, “kebijakan extractivist diadopsi selama teror lingkungan di tahun kedua pemerintahannya, termasuk dicabutnya aturan yang membatasi polusi metana, dan dicabutnya aturan keselamatan yang mengatur operasi pengeboran lepas pantai”, dan masih banyak lagi.

Baca juga: Bagaimana Globalisasi Ciptakan ‘Monster China’

Dan walaupun serangan Trump terhadap lingkungan dicerminkan oleh rekan-rekan sayap ultra-kanannya di seluruh dunia—seperti presiden baru Brasil Jair Bolsonaro, yang telah berjanji untuk membuka hutan hujan Amazon—Dawson menekankan bahwa “pembukaan ideologis” untuk para pemimpin seperti itu difasilitasi secara internasional oleh “pemerintah sentris dan bahkan pemerintah sayap kiri… yang tetap berpegang pada kapitalisme fosil selama beberapa dekade terakhir”.

Perlu ditekankan juga, bahwa, di AS, dukungan bipartisan yang antusias untuk perang—pilar perusahaan imperialis—berarti: kematian massal bagi orang-orang penerima bom dan serangan drone; dan keracunan lingkungan berskala besar. Seperti yang diamati oleh Newsweek pada tahun 2014, Kementerian Pertahanan AS adalah salah satu pencemar teratas di planet ini.

Sekarang, ketika kapitalisme terus membunuh kita, satu-satunya solusi nyatanya—betapapun mustahilnya—adalah membunuh kapitalisme.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Seorang demonstran dari kampanye “Occupy Wall Street” terlihat dengan dolar menempel di mulutnya ketika dia berdiri di dekat distrik keuangan New York 30 September 2011 (Foto: Reuters/Lucas Jackson)

Bagaimana Kapitalisme Membunuh Kita

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top