ekonomi China
Opini

Bagaimana Komunisme Hancurkan Ekonomi China

Berita Internasional >> Bagaimana Komunisme Hancurkan Ekonomi China

China sedang mengalami resesi. Kepercayaan investor dan konsumen menurun. Hal ini dipengaruhi oleh keputusan Partai Komunis yang campur tangan dan mengekang perusahaan swasta dan perusahaan perorangan.

Baca Juga: Negara-Negara Ini Secara Mengejutkan Akan Menangkan Perang Dagang

Oleh: Steven W. Mosher (New York Post)

Abaikan klaim konyol dari Biro Statistik Nasional (NBS) bahwa ekonomi China masih tumbuh 6,5 persen tahun demi tahun. Tidak ada yang mempercayai hal ini, apalagi para pemilik bisnis yang makin tertindas.

Mereka tahu dari pengalaman langsung bahwa ekonomi China tidak hanya sedang mengalami resesi, tapi juga saling kontras antar semua sektor. Mulai dari manufaktur, ke ritel, ke otomotif, ke perumahan. Dan mereka tahu Partai Komunis, dan Donald Trump, adalah pihak yang bertanggung jawab.

Data akurat sulit didapatkan, karena partai memblokir data ekonomi yang akan mengontradiksi pernyataan resmi ekonomi yang berbunga-bunga. Namun terkadang, ada retakan pada Tembok Besar Firewall, dan segelintir kebenaran menyusup.

Salah satu kebenaran itu adalah presentasi yang luar biasa berani dari Profesor Xiang Songzue dari Renmin University School of Finance pada tanggal 15 Desember. Tidak memperhalus kata, dia memulai diskusinya dengan pertanyaan: “Seberapa buruk keadaan sebenarnya?”

Dia menjawab pertanyaannya sendiri dengan mengutip satu “laporan internal yang diselesaikan kemarin”—yang saya duga adalah buah karyanya asendiri—bahwa menghasilkan dua prediksi dari pertumbuhan PDB China menggunakan data NBS sendiri. Rangkaian prediksi pertama menghasilkan estimasi nilai pertumbuhan tahunan sebesar 1,67 persen. Angka itu, walaupun positif, cukup rendah untuk menyiratkan bahwa China telah jatuh ke dalam resesi dalam dua kuartal terakhir.

Sejauh kekhawatiran prediksi kedua tentang peningkatan tahun-demi-tahun, Xiang hanya mengatakan hal itu “negatif.”

Walaupun profesor itu sendiri masih beredar sampai saat ini, tentu saja video pidatonya itu segera menghilang dari internet tidak lama setelah diunggah.

Keadaan tampaknya memang sangat buruk.

Kebanyakan analis, memandang China dari luar ke dalam, akan menyalahkan tarif Trump akan kemalangan ekonomi terbaru ini. Namun pengamatan yang lebih dekat pada internal politik China akan menjadikannya jelas bahwa masalah dengan investor dan keyakinan konsumen yang sangat ini mendidih, telah bergemuruh cukup lama. Mereka, seperti barang-barang pada umumnya, dibuat di China, dan mereka memiliki sidik jari Presiden Xi Jinping.

Presiden Xi telah berulang kali berjanji akan menghormati properti pribadi dan mengizinkan bisnis pribadi untuk berkembang. Dalam acara peringatan reformasi ke-40, dia bahkan menyiratkan bahwa perlindungan yang lebih besar untuk properti pribadi dan perusahaan akan diberikan.

Masalahnya adalah, tindakan Xi menyangkal pernyataannya sendiri. Dalam upaya zalim melebarkan kekauasaanya sebagai sekretaris jenderal dari Partai Komunis China, dia tidak hanya menghancurkan faksi-faksi politik saingan di dalam partainya dan pemerintahan, tapi juga memanjangkan kontrol partai ke masyarakat luas, termasuk perusahaan-perusahaan swasta.

Setiap perusahaan di China dengan 50 karyawan atau lebih diharuskan untuk memiliki cabang Partai Komunis, dan kebanyakan perusahaan dalam ukuran apapn diharuskan memiliki perwakilan Partai Komunis menjabat sebagai badan direksi mereka.

Bayangkan efek mengerikan bagi para pengusaha, ketika mereka harus mengambil keputusan bisnis di bawah tatapan seorang komisaris politik.

Baca Juga: Tak Ada Optimisme dalam Perang Dagang ‘All-out’ Amerika vs China

Xi telah bersikap pilih kasih terhadap perusahaan-perusahaan milik negara, termasuk kredit yang bisa dibilang tanpa batas. Perusahaan swasta yang lebih kecil—yang merupakah tulang punggung ekonomi mana pun—sebagian besar diabaikan ketikan kredit dibagikan.

Para pemilik bisnis paham bahwa jika partai adalah perantara utama dari apa yang mereka lakukan dengan perusahaan, maka mereka bukan pemilik sebenarnya. Bahkan, kengototan Xi atas kepemilikan partai menyiratkan pada mereka bahwa masalah mereka dengan pejabat yang serakah, beban pajak yang berat dan pemerasan yang egal, belum lagi kesulitan mendapatkan pinjaman dari bank, hanya akan menjadi semakin buruk, bukan membaik.

Tidak sulit dibayangkan, menghadapi perkembangan semacam itu, kepercayaan sektor swasta menyusut, ata bahwa investasi ke dalam perusahaan pribadi, begtu juga investasi pribadi secara umum, telah melambat secara tajam. Para pengusaha dan investor mundur sebagai respons dari apa yang mereka pandang sebagai ancaman nyata dari perampasan yang dibenarkan.

Penyampai kebenaran tunggal kita, Profesor Xiang yang berani, memperingatkan risiko keuangan negaranya “tersembunyi, kompleks, tajam, menular, dan mengerikan.”

Saya percaya “reformasi dan pembukaan diri” China yang berusia 40 tahun bisa dibilang sudah berakhir. Menginga semakin tidak mungkinnya terjadi reformasi dalam undang-undang dasar China, pemerintahan sosial dan institusi negara, tidak ada cara untuk mengembalikan kepercayaan investor dan konsumen. Sekarang sudah terlambat untuk retorika kosong dan upaya setengah hati.

Sungguhlah ironis bahwa apa yang saat ini mungkin bisa menyelamatkan ekonomi China dari resesi yang parah dan panjang adalah institusi dari pasar bebas yang dituntut para kapitalis seperti Donald Trump dalam perundingan dagang.

Akan Komunis Xi Jinping mendengarkan? Sepertinya tidak mungkin.

Steven W. Mosher adalah presiden dari Population Research Institute dan penulis dari Bully of Asia: Why China’s Dream is the New Threat to World Order.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Partai Presiden China Xi Jinping memilih perang dalam setiap perusahaan yang memiliki 50 karyawan atau lebih. (Foto: Getty Images)

Bagaimana Komunisme Hancurkan Ekonomi China

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top