Perang Dunia I
Eropa

Bagaimana Macron Sukses Mengendalikan Trump pada Peringatan Perang Dunia I

Berita Internasional >> Bagaimana Macron Sukses Mengendalikan Trump pada Peringatan Perang Dunia I

Para pemimpin Eropa rupanya telah belajar bagaimana cara mengendalikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan obsesinya untuk selalu menjadi sorotan. Presiden Prancis Emmanuel Macron tetap fokus pada peringatan yang muram dan pembelaannya terhadap multilateralisme pada peringatan Perang Dunia I. Terisolasinya Donald Trump di antara para sekutu terlihat jelas di Paris hari itu.

Baca juga: Trump Tinggalkan Peringatan Perang Dunia I Terisolasi dari Para Sekutu

Oleh: David M. Herszenhorn (Politico)

Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak lagi diizinkan untuk mencuri perhatian, setidaknya tidak dalam peristiwa peringatan Perang Dunia I yang diadakan di panggung Eropa. Pada KTT G7 di Quebec bulan Juni 2018 dan pertemuan puncak para pemimpin NATO di Brussels sebulan kemudian, Presiden Amerika meraih sorotan dan mengganggu prosesi, membuat rekan-rekannya sesama petinggi negara terguncang dan berjuang untuk mengontrol kerusakan.

Namun para pemimpin negara-negara Eropa telah mulai memahami situasi. Presiden Prancis Emmanuel Macron menunjukkan pada peringatan Perang Dunia I di Paris akhir pekan ini, ada pendekatan baru. Eropa tidak lagi hanya menenangkan dan menahan Trump, seperti yang mereka lakukan selama 18 bulan pertama dari masa kepresidenannya yang tidak ortodoks. Sebaliknya, mereka sekarang bersiap untuk mendorong balik dan mengisolasi Trump jika perlu, menolak memberinya perhatian yang sangat dia dambakan.

Setelah Trump mendarat di Paris pada hari Jumat (9/11) malam dan segera melontarkan tweet provokatif yang menuduh Macron “sangat menghina”, Presiden Prancis berusaha mengadakan pertemuan dengan Trump pada hari Sabtu (10/11) pagi untuk meluruskan berbagai perbedaan. Presiden Amerika tampaknya salah menafsirkan seruan Macron untuk menyusun pasukan Uni Eropa.

Menjelang pertemuannya dengan Trump di Istana Elysée, Presiden Prancis mengatakan dia setuju dengan seruan Trump agar sekutu-sekutu di Eropa menganggarkan lebih banyak pendanaan untuk militer mereka.

Tapi Macron juga tampil di CNN, jaringan kabel AS yang dibenci Trump, dan memberikan wawancara di mana ia mendorong balik dengan keras, mengatakan bahwa sementara Eropa harus membelanjakan lebih banyak, ia tidak ingin uang itu untuk membeli senjata dan perangkat keras lainnya dari Amerika.

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, Pangeran Maroko Moulay Hassan dan Raja Maroko Mohammed VI, Ibu Negara Amerika Serikat Melania Trump, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Prancis Emmanuel Macron dan istrinya Brigitte Macron, Presiden Rusia Vladimir Putin, Gubernur Jenderal Australia Peter Cosgrove dan istrinya Lynne Cosgrove, Presiden Chad Idriss Deby dan istrinya Hinda Deby Itno, dan Presiden Tunisia Beji Caid Essebsi. (Foto: AFP/Getty Images/Ludovic Marin)

“Apa yang tidak ingin saya lihat adalah negara-negara Eropa meningkatkan anggaran dalam pertahanan untuk membeli senjata dan barang-barang dari Amerika dan lainnya yang berasal dari industri Anda,” kata Macron di program “Global Public Square” Fareed Zakaria. “Saya pikir jika kami meningkatkan anggaran kami, hal itu harus membangun otonomi kami dan untuk menjadi kekuatan berdaulat yang sebenarnya.”

Para pejabat Eropa mengatakan mereka sekarang memiliki cukup pengalaman dengan Trump untuk mengetahui apa yang diharapkan dan bahwa sikap lunak tidak ada gunanya.

“Terkadang lebih baik untuk menjadi lebih tegas dan memiliki gagasan yang jelas tentang poin yang ingin Anda buat sendiri,” kata seorang pejabat Eropa yang membantu mempersiapkan interaksi bilateral dengan Trump. “Dia adalah pemain kekuasaan, jadi dia lebih menghormati mereka yang akan sedikit mendorong, daripada mereka yang menyerah begitu saja.”

Macron menyampaikan serangan yang sangat dramatis terhadap ideologi Trump “America First” selama pidato di peringatan seratus tahun Gencatan Senjata resmi Perang Dunia I. “Patriotisme adalah kebalikan dari nasionalisme,” tutur Macron pada pertemuan sejumlah pemimpin dunia yang berkumpul di bawah Arc de Triomphe, yang termasuk Trump yang mendengarkan terjemahan tanpa ekspresi.

“Nasionalisme adalah pengkhianatan patriotisme,” kata Macron. “Dengan mengejar kepentingan kita sendiri terlebih dahulu, tanpa mempedulikan orang lain, kita menghapus hal yang sangat berharga bagi suatu bangsa, apa yang memberikannya hidup dan membuatnya hebat: nilai-nilai moralnya.”

Trump, selama kampanye pemilihan Kongres AS baru-baru ini, dengan bangga memproklamasikan dirinya sebagai seorang “nasionalis.”

Namun kecaman itu bukan hanya retoris.

Macron dan Istana Elysée tampaknya bergerak tegas untuk mencegah Trump menghancurkan segala hal dari makna historis hari itu. Kanselir Jerman Angela Merkel segera berada di pihak Macron pada upacara resmi peringatan Perang Dunia I, dalam pertunjukan yang kuat bahwa hari yang suram tersebut berarti lebih dari apapun bagi Prancis dan Jerman (Theresa May telah menolak undangan untuk mewakili Inggris pada upacara, namun memainkan perannya di peringatan ekstensif di London pada hari Sabtu (10/11) dan Minggu (11/11)).

Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin duduk berdekatan, tetapi jelas bahwa mereka merupakan pemain pendukung, bukan daya tarik utama hari itu.

Interfax, kantor berita Rusia, juga melaporkan bahwa rencana tempat duduk makan siang para pemimpin setelah upacara dirancang untuk memastikan Trump dan Putin terpisah. Alih-alih, kantor berita Rusia, melaporkan, Trump ditempatkan di antara Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dan Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker.

Yury Ushakov, penasihat kebijakan luar negeri tingkat tinggi untuk Putin, mengatakan kepada Interfax bahwa kantor Macron “cukup gigih” meminta Putin dan Trump untuk tidak mengadakan pertemuan bilateral yang pasti akan menarik perhatian dari program formal.

Presiden Rusia Vladimir Putin berbicara dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Kanselir Jerman Angela Merkel. (Foto: Ludovic Marin/AFP/Getty Images)

Trump tiba di iring-iringan kendaraannya sendiri di upacara (untuk alasan keamanan, kata seorang juru bicara Gedung Putih) dan muncul di mimbar kemudian setelah sebagian besar pemimpin lainnya lebih dulu datang. Mereka tiba bersama dengan bus dan membentuk kerumunan orang yang membawa payung. Macron dan istrinya, Brigitte, berada di pusat bersama dengan Merkel, Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker, dan berbagai wajah tokoh-tokoh negarawan Eropa lainnya,melakukan prosesi menuju monumen Paris di bawah pawai jalur asap pesawat jet Prancis berwarna merah, putih, dan biru.

Namun kedatangan solo Trump, dengan para pemimpin lain yang sudah berada di tempat mereka, dengan cepat dikalahkan oleh Putin yang merupakan pemimpin besar terakhir yang muncul, setidaknya menurut tayangan televisi. Iring-iringan mobilnya, seperti Trump, telah tiba sedikit lebih awal.

Setelah makan siang, Trump juga melewatkan Forum Perdamaian yang dihadiri oleh Macron dan Merkel, dan sebagai gantinya pergi sendiri untuk mengunjungi upacara militer Amerika, di mana pidatonya, disiarkan langsung oleh Gedung Putih, bersaing untuk mendapatkan perhatian langsung dengan penampilan televisi Macron sendiri. Terbukti lebih nyaman di acara yang diselenggarakan di AS, Trump dengan tegas menyatakannya menjadi “sorotan” dalam perjalanan tersebut.

Sikap asertif Eropa yang baru tidak hanya terlihat di Paris. Dalam pidatonya di Polandia pada hari Sabtu (9/11), Presiden Dewan Eropa Donald Tusk secara terang-terangan mengecam Trump.

“Hari ini untuk pertama kalinya dalam sejarah kita memiliki pemerintahan Amerika yang, untuk menyatakannya secara halus, tidak terlalu antusias untuk menunjukkan kesepahaman dengan Eropa yang kuat dan bersatu. Dan saya berbicara di sini tentang fakta, bukan tentang pernyataan propaganda,” kata Tusk. “Dan saya mengatakan ini sebagai seseorang yang memiliki, katakanlah, kepuasan dari pembicaraan langsung yang cukup sering dengan presiden Amerika Serikat.”

“Mungkin dia cukup terbuka dengan saya karena nama kami mirip,” kata Tusk. “Saya tidak ragu bahwa sehubungan dengan semua ini, saya memiliki pandangan yang berbeda dari seseorang yang Namanya mirip dengan saya yang paling berpengaruh di dunia.”

Selama 18 bulan pertama masa kepresidenan Trump yang bergejolak, para pemimpin Eropa terguncang oleh Amerika yang meledak-ledak, terutama retorika provokatifnya yang tampaknya mempertanyakan pilar hubungan trans-atlantik, berusaha menenangkan ketegangan dengan meminimalkan perselisihan, dan memberikan ruang bagi Trump untuk menyesuaikan dengan perannya sebagai pemimpin dunia bebas.

Mereka bergidik ketika Trump menunjukkan aplaus terhadap Brexit dan hinaan terhadap Uni Eropa, tetapi kebanyakan menahan reaksinya. Mereka menarik serangan ketika Trump bermaksud menarik diri dari kesepakatan perubahan iklim Paris. Ketika Trump memindahkan Kedutaan Besar AS di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem, mereka diam-diam menyatakan bahwa mereka menganggapnya sebagai kesalahan yang tidak membantu. Ketika dia menghantam sekutu-sekutu Eropa karena tidak menghabiskan cukup uang untuk anggaran militer mereka, Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg meyakinkannya bahwa dia benar.

Namun, ancaman Trump yang terselubung untuk mundur dari NATO pada pertemuan puncak para pemimpin musim panas lalu membuat para pemimpin sangat tidak tenang. Penarikan sepihaknya dari perjanjian nuklir Iran menunjukkan dia tidak menghormati perjanjian sebelumnya, bahkan kesepakatan Iran, yang diabadikan dalam resolusi Dewan Keamanan PBB.

Baru-baru ini, pengumuman Trump bahwa dia menarik diri dari perjanjian Traktat Angkatan Nuklir Jarak Menengah (INF/Intermediate-Range Nuclear Forces) mengirim pesan ke Eropa bahwa dia benar-benar tidak peduli dengan keamanan mereka. Traktat INF, yang menghilangkan semua rudal dan peluncur dengan jangkauan 500 hingga 1.000 kilometer, terutama berfungsi untuk melindungi Eropa.

Tindakan itu menunjukkan ketidakpedulian Trump yang tidak sesuai dengan pentingnya perjanjian yang menyebabkan Macron, dalam wawancara yang disiarkan pekan lalu, untuk menyerukan agar pasukan Uni Eropa membantu membela rakyatnya sendiri.

Bahkan ketika Trump mendarat di Paris, Eropa sudah “melepaskan tembakan” ke arahnya, meskipun ada kemungkinan dia tidak menyadarinya. Pada kesempatan kunjungan Trump, yang kedua ke Paris sebagai presiden, koran Prancis yang paling terkemuka, Le Monde, mulai menerbitkan tiga bagian tentang kerusakan diplomatik yang telah dilakukan Trump.

Bagian pertama dibuka dengan deskripsi para pemimpin negara-negara Baltik, Lithuania, Latvia, dan Estonia, yang kembali dari kunjungan ke Gedung Putih dalam keadaan terkejut karena Trump, yang telah membuat pernyataan tentang tanggung jawab mereka untuk perang di Yugoslavia, tampaknya kebingungan membedakan Baltik dengan Balkan.

Para kadet West Point berpose di dekat Arc de Triomphe. (Foto: AFP/Getty Images/Benoit Tessier)

Trump berkontribusi pada isolasinya sendiri. Mungkin akibat kelelahan dengan pemilihan paruh waktu baru-baru ini, Trump membatalkan kunjungan ke pemakaman militer Perang Dunia I pada hari Sabtu (10/11), dengan Gedung Putih merujuk pada cuaca hujan. Kritik di kedua sisi Atlantik terus mencerca tiada henti. Cucu Winston Churchill, anggota parlemen Inggris dari Partai Konservatif Nicholas Soames, menyebut Trump “menyedihkan dan tidak layak.”

Ketika dia mengunjungi sebuah pemakaman hari Minggu (11/11) sore, pidato Trump di sana tidak begitu menguntungkan dibanding pidato negarawan Macron, di mana Presiden Prancis mengaitkan pengorbanan tentara Sekutu dengan pentingnya lembaga internasional yang tumbuh dari pertumpahan darah mengerikan dari dua Perang Dunia di Eropa.

Senator Lindsey Graham, seorang pendukung politik terkemuka Trump, menegaskan bahwa pernyataan Macron tentang nasionalisme diarahkan secara implisit kepada Presiden Amerika, dan menuduh Presiden Prancis itu mencoba mengalihkan perhatian dari jajak pendapatnya sendiri yang merosot.

Baca juga: Pelajaran Mengenaskan dari Perang Dunia I untuk Asia

“Saya pikir dia punya masalah politik di dalam negeri, dan saya pikir dia berkelahi dengan Presiden Trump untuk bermain politik yang baik,” kata Graham kepada pembawa acara Margaret Brennan di acara CBS “Face the Nation.” “Para presiden dari Partai Republik selalu memiliki waktu yang sulit di Eropa, dan saya sama sekali tidak mengkhawatirkan hal ini,” katanya.

Graham mungkin tidak khawatir, tetapi para pemimpin negara-negara Eropa telah khawatir selama satu setengah tahun. Sekarang, tampaknya, mereka berniat melakukan sesuatu tentang hal itu.

Keterangan foto utama: Presiden Prancis Emmanuel Macron menghadiri upacara Perang Dunia I di Arc de Triomphe di Paris, tanggal 11 November 2018. (Foto: Pool/AFP/Getty Images)

Bagaimana Macron Sukses Mengendalikan Trump pada Peringatan Perang Dunia I

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top