Bagaimana Rahaf Mohammed Alqunun Wujudkan Perjuangan Banyak Wanita Saudi
Opini

Bagaimana Rahaf Mohammed Alqunun Wujudkan Perjuangan Banyak Wanita Saudi

Berita Internasional >> Bagaimana Rahaf Mohammed Alqunun Wujudkan Perjuangan Banyak Wanita Saudi

Rahaf Alqunun adalah seorang wanita yang beruntung–di antara wanita Saudi lain yang mengalami hidup serupa tapi bernasib lebih buruk. Mencoba melarikan diri dan awalnya akan dikembalikan ke keluarganya yang telah melakukan penganiayaan, Rahaf akhirnya pendapatkan perlindungan dari Badan Pengungsi PBB. Sementara itu, banyak wanita Saudi lainnya yang harus menerima nasib mereka di tangan keluarga sendiri dan tidak diketahui keberadaannya hingga kini.

Oleh: Sarah Aziza (The Washington Post)

Baca Juga: Pelarian Wanita Saudi Munculkan Seruan Penghapusan Hukum Perwalian

Pada 5 Januari, Rahaf Mohammed Alqunun, 18 tahun, mengambil risiko: Dia menentang keluarganya dan pemerintah negara asalnya, Arab Saudi, dengan berusaha melarikan diri ke Australia, tempat dia berharap menemukan suaka. Di belakangnya terbentang penindasan dan pelecehan seumur hidup di bawah undang-undang perwalian pria terbatas di Arab Saudi.

Dengan bepergian tanpa izin ayahnya, Alqunun melanggar hukum dan kebiasaan Saudi, dan dia tahu dia kemungkinan akan menghadapi hukuman berat—bahkan hukuman mati—jika rencana pelariannya gagal.

Dalam beberapa jam, dia berhadapan dengan ketakutan terburuknya. Ketika mendarat di bandara Bangkok untuk transit singkat, ia dihadapkan oleh seorang diplomat Saudi dan otoritas Thailand yang mengambil paspornya dan memberitahukan bahwa ia akan dideportasi kembali ke keluarganya. Alqunun menolak, melarikan diri ke dalam kamar hotel bandara dan menge-tweet permohonan suaka dari kamarnya.

“Saya benar-benar dalam bahaya,” tulisnya dalam salah satu unggahan. Dia berulangkali mengungkapkan ketakutannya bahwa keluarganya akan membahayakan atau membunuhnya seandainya dia dikembalikan ke tahanan mereka.

Kasus Alqunun ini hanyalah salah satu dari banyak kasus yang menjadi perhatian di internet, ketika kelompok-kelompok hak asasi manusia, jurnalis, dan aktivis angkat bicara. Tekanan meningkat pada pemerintah Thailand, yang awalnya bekerja sama dengan pejabat Saudi yang ingin memulangkannya.

Akhirnya, Thailand mundur, dan, setelah dua hari, Alqunun kini berada di bawah pengawasan badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Namun masa depannya masih tidak pasti.

Walaupun Alqunun telah diberikan setidaknya penangguhan sementara, peristiwa dramatisnya hanyalah salah satu dari perjuangan yang sedang berlangsung dari banyak wanita Saudi. Dan, terlepas dari kondisi penahanannya yang traumatis, ia juga lebih beruntung daripada banyak orang, termasuk Dina Ali Lasloom, wanita Saudi lainnya yang mencoba meninggalkan kerajaan pada 2017 untuk melarikan diri dari pernikahan paksa.

Lasloom dicegat dalam perjalanan ke Australia dan akhirnya dideportasi kembali ke Arab Saudi, meskipun telah mengungkapkan kekhawatiran bahwa keluarganya juga akan membunuhnya. Nasibnya masih belum jelas.

Banyak wanita lain digagalkan lebih cepat—wanita Saudi yang bepergian sendiri menjadi sasaran pengawasan ketat di bandara domestik, dan tak terhitung calon wanita lain tak pernah berhasil terbang keluar negeri.

Namun fakta bahwa Alqunun—dan sejumlah wanita seperti dia setiap tahun—masih bersedia mengambil risiko dramatis seperti itu menunjukkan bahwa kenyataan yang mereka hadapi di Arab Saudi sangat mengerikan. Hal ini terlepas dari kenyataan bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman (MBS) telah tanpa henti mempromosikan dirinya sebagai pembebas perempuan, menggembar-gemborkan janji untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam masyarakat dan bersikeras dalam sebuah wawancara bahwa perempuan “benar-benar” setara di Arab Saudi.

Dari awal kenaikannya ke kekuasaan, MBS telah berulang kali mengkhianati komitmen yang seharusnya dilakukan untuk wanita Saudi. Bahkan ketika dia menerima banyak pujian di pers Barat atas keputusannya untuk memberikan wanita Saudi hak mengemudi, dia masih memenjarakan wanita pemberani yang telah berjuang selama bertahun-tahun untuk mendapatkan hak itu.

Di bawah sistem perwalian pria Arab Saudi, wanita dari segala usia tetap berada di bawah perwalian dan bergantung pada izin wali laki-laki mereka untuk bepergian, menikah, membuka rekening bank atau bahkan mendapatkan paspor. (Para wali ini bisa jadi suami, ayah, paman atau bahkan putranya—yang artinya seorang wanita lanjut usia masih dapat dibatasi hak-hak sipil dan hak manusianya oleh seorang remaja; wali tersebut selalu harus laki-laki).

Perempuan dapat ditangkap dan didakwa karena “ketidaktaatan” yang dilaporkan oleh wali mereka. Di pengadilan, kesaksian seorang wanita hanya bernilai setengah dari pria dan sebagian besar hakim secara terbuka memusuhi wanita yang berani membawa kasus mereka ke pengadilan.

Selain sistem hukum diskriminatif Arab Saudi, banyak praktik yang sama menindasnya masih bertahan melalui cara-cara informal. Walaupun banyak perempuan Saudi yang memiliki hubungan keluarga yang suportif, banyak lainnya yang menghadapi perlakuan kasar di tangan kerabat dan pasangan.

Kekerasan dalam rumah tangga merajalela di banyak masyarakat Saudi tetapi masih banyak yang tidak dilaporkan. Jika ada yang berani mencari bantuan dari pihak berwenang, mereka malah bisa dipecat atau disalahkan atas penderitaan mereka.

Upaya mencegat Alqunun juga menunjukkan fakta lain yang meresahkan: Rezim Saudi tetap berkomitmen secara aktif untuk mengendalikan warganya di luar negeri, yang tampaknya tidak terpengaruh oleh gejolak global setelah pembunuhan brutal terhadap jurnalis Saudi dan kolumnis Washington Post, Jamal Khashoggi.

Dalam beberapa hal, negara Barat terlibat dalam hal ini. Rehabilitasi bertahap MBS pasca-Khashoggi—di mana Presiden Trump telah menjadi pemain kunci—memperkuat impunitas putra mahkota.

Namun kisah Alqunun juga menawarkan potensi untuk harapan: Melalui perlawanannya yang berani, dia, untuk sesaat, telah menarik perhatian global terhadap perjuangan berkelanjutan para wanita Saudi. Gambaran yang mencolok tentang seorang wanita muda, yang tidak memiliki apa-apa selain ponsel, menghadapi kekuatan pemerintah yang menindas adalah metafora yang tepat untuk momen penuh perjuangan dalam sejarah Arab Saudi ini. Ini mengilustrasikan absurditas dari keinginan fanatik rezim atas kontrol, serta kesia-siaan dari obsesi itu.

Baik di dalam maupun di luar Arab Saudi, perempuan Saudi terus melawan kontrol patriarki, menolak untuk dihentikan oleh ketakutan. Mereka tahu apa yang terus disangkal oleh pemerintah mereka: Tidak ada intimidasi yang dapat sepenuhnya membungkam kebenaran, dan tidak ada aturan kejam yang dapat sepenuhnya menekan dorongan manusia untuk kebebasan.

Baca Juga: Dukung Wanita Saudi yang Melarikan Diri, Wanita Australia Protes Telanjang Dada

Sarah Aziza adalah seorang jurnalis yang khusus meliput mengenai Timur Tengah, hak asasi manusia, urusan luar negeri dan gender. Laporannya untuk kolom ini didukung oleh Pusat Pulitzer.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Rahaf Mohammed Alqunun berbicara dari Bangkok pada 6 Januari melalui video yang diunggah di media sosial. (Foto: Reuters/Media Sosial)

Bagaimana Rahaf Mohammed Alqunun Wujudkan Perjuangan Banyak Wanita Saudi

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top