Bagaimana Upaya Mewujudkan Perdamaian di Libya?
Afrika

Bagaimana Upaya Mewujudkan Perdamaian di Libya?

Berita Internasional >> Bagaimana Upaya Mewujudkan Perdamaian di Libya?

Rencana PBB menawarkan harapan terbaik untuk mengakhiri kekacauan di Libya, tetapi Italia dan Prancis membuat keadaan semakin buruk. Perdamaian di Libya memiliki kesempatan lebih besar untuk tercapai jika negara-negara Eropa mau mendukung upaya PBB dan Utusan Khusus PBB untuk Libya Ghassan Salamé. Ia disukai warga Libya dan pada bulan September 2018, ia berhasil menegosiasikan gencatan senjata di antara milisi-milisi yang bertempur di Tripoli dan sekitarnya.

Oleh: The Economist

Baca Juga: Kontra-terorisme Amerika: Tidak Ada ISIS dan Orang Timur Tengah di Karavan Migran

Libya sejauh ini merupakan titik awal yang disukai para migran yang berharap mencapai Eropa. Kelompok jihadis memanfaatkan ruang tak terkendali di Libya untuk melatih dan merencanakan serangan di dalam dan luar negeri.

Singkatnya, kekacauan di Libya berperan dalam mendestabilisasi negara-negara di sekitarnya. Namun negara-negara Eropa yang membantu menciptkan nasib Libya seperti sekarang ini justru mengabaikannya, atau malah membuat keadaan menjadi semakin buruk.

Negara-negara Eropa tersebut memiliki tanggung jawab, selain kepentingan yang mendesak, untuk membantu mendamaikan Libya kembali. Upaya tersebut dapat dimulai dengan mendukung upaya PBB dan Utusan Khusus PBB untuk Libya Ghassan Salamé.

Tahun 2011, negara-negara anggota NATO bertindak sebagai kekuatan udara revolusi yang menggulingkan Muammar Qaddafi. Operasi itu dipimpin oleh Prancis dan Inggris, dengan partisipasi Italia (mantan penguasa kolonial Libya) dan Amerika “yang memimpin dari belakang”. Tapi kemudian Eropa menduku ketika Libya memasuki perang sipil yang membuatnya hancur dan dikuasai oleh milisi.

Salamé mengusulkan untuk mulai mengembalikan kedamaian di Libya dengan konferensi nasional yang bertujuan untuk meminta faksi-faksi saingan negara agar meletakkan senjata mereka dan menyetujui undang-undang pemilu dan konstitusi baru. Pemilihan kemudian akan diadakan. Rencana itu masuk akal, tetapi tidak akan mudah diterapkan. Sebuah pemerintah kesepakatan nasional (GNA/government of national accord) yang didukung PBB, yang disusun tahun 2015 dan berbasis di Tripoli, ibukota Libya, telah gagal mendapatkan banyak dukungan. Para panglima perang negara itu menolak berkompromi.

Upaya mewujudkan perdamaian dibuat lebih sulit dengan adanya persaingan antara Prancis dan Italia. Pertama, keduanya bersitegang dalam hal negara mana yang harus memimpin proses perdamaian. Italia akan mempertaruhkan klaimnya pada tanggal 12 November 2018 dengan menjadi tuan rumah konferensi internasional tentang Libya. Sebelumnya telah diadakan dua pertemuan tingkat tinggi yang diselengarakan oleh Prancis.

Perselisihan menjadi bagian dari konflik yang lebih luas. Masing-masing pihak memandang Libya sebagai bagian dari lingkup pengaruhnya, dan masing-masing memiliki badan minyak nasional yang mendukung kepentingannya. Baru-baru ini, para pemimpin berupaya mewujudkan visi-visi Eropa yang berlawanan: Presiden Prancis Emmanuel Macron yang mengusung Eropa yang terbuka, terintegrasi, dan liberal; serta  Menteri Dalam Negeri dan kepala Liga Utara Italia Matteo Salvini, (kekuatan utama dalam pemerintah populis baru Italia), yang menyerukan Eropa yang lebih nasionalis yang tertutup bagi para migran. Libya terjebak di antara keduanya.

Macron memandang proses perdamaian Libya sebagai kesempatan untuk menegaskan kepemimpinannya, sementara mempertahankan kepentingan Prancis di Sahel, di mana ia memiliki 4.500 pasukan yang memerangi kelompok-kelompok jihadis. Macron telah menyatukan bersama Ketua Dewan Kepresidenan Libya Fayez al-Serraj, kepala GNA, dan panglima perang terkuat Libya Jenderal Khalifa Haftar, yang mendominasi sebuah pemerintah saingan di Libya timur. Tetapi upaya Prancis telah dikoordinasikan dengan buruk dengan PBB dan, kadang-kadang, justru merusaknya.

Pada KTT terakhir yang diselenggarakan bulan Mei 2018, terdapat pengumuman bahwa Libya akan mengadakan pemilihan tanggal 10 Desember 2018, tenggat waktu yang tidak pernah masuk akal atau realistis, dan kini telah diabaikan begitu saja.

Salvini sendiri mencurigai bahwa Macron mencari keuntungan untuk raksasa minyak Prancis, Total, dengan membantu Jenderal Haftar. “Seseorang untuk motif ekonomi dan kepentingan nasional yang egois, membahayakan keamanan Afrika Utara dan, sebagai hasilnya, keamanan Eropa secara keseluruhan,” geram Salvini.

Raksasa minyak Italia sendiri, Eni, aktif di barat, di mana Italia juga membuat kesepakatan keruh dengan panglima perang Libya untuk menghentikan para penyelundup perdagangan manusia.

Kekuatan-kekuatan asing lainnya juga menimbulkan masalah. Mesir, Uni Emirat Arab, dan Rusia memberikan dukungan kepada Jenderal Haftar, mulaid ari dukungan politik, keuangan hingga militer, yang mereka anggap sebagai benteng melawan Islamisme. Semua ini membuat Haftar lebih keras kepala. Tahun 2017, Haftar dilaporkan menolak tawaran oleh Serraj untuk berbagi kekuasaan. Tahun 2018, Haftar mengatakan dia akan “mengambil tindakan” jika dia tidak menyukai hasil pemilihan.

Baca Juga: Timur Tengah Tidak Menganggap Serius China

Prancis, Italia, dan negara-negara lain harus mendukung Salamé, yang dihormati oleh warga Libya. Bulan September 2018, ia berhasil menegosiasikan gencatan senjata di antara milisi-milisi yang bertempur di Tripoli dan sekitarnya.

Jika konferensi di Italia berfungsi untuk memperkuat Salamé, hal itu akan berkontribusi pada perdamaian. Jika hanya mendorong orang-orang kuat Libya untuk memanipulasi pihak-pihak yang bertikai, hal itu akan memperpanjang kekacauan dan semua bahaya yang menyertainya.

Memang, proses yang dipimpin PBB bergerak lebih lambat dari yang diharapkan banyak orang. Tetapi tindakan itu masih merupakan harapan terbaik untuk mengakhiri kekacauan di Libya.

Keterangan foto utama: Ketua Dewan Kepresidenan Libya Fayez al-Serraj, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Utusan Khusus PBB untuk Libya Ghassan Salamé. (Foto: REX/Shutterstock)

Bagaimana Upaya Mewujudkan Perdamaian di Libya?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top