Donald Trump
Amerika

Bagi Trump, Tak Ada Jalan Keluar yang Mudah dari Ketakutannya

Presiden terpilih Donald Trump tiba untuk berbicara di USA Thank You Tour 2016 di Giant Center pada 15 Desember 2016 di Hershey, Pennsylvania. (Foto: AFP/Getty Images/Don Emmert)
Berita Internasional >> Bagi Trump, Tak Ada Jalan Keluar yang Mudah dari Ketakutannya

Presiden Donald Trump sedang dilanda ketakutan, dan tidak ada jalan keluar yang mudah baginya. Partai Republik kehilangan kendali DPR pada pemilu paruh waktu, penyelidikan penasihat khusus Robert Mueller tampaknya semakin mendekati lingkaran Trump, dan hubungan Trump yang memburuk dengan pemimpin negara-negara lain, semuanya menggantung bagai awan gelap di atas Gedung Putih Trump.

Baca juga: Presiden Prancis Tuduh Donald Trump Tidak Punya ‘Tata Krama’

Oleh: Stephen Collinson (CNN)

Berdasarkan banyak laporan, Donald Trump berada di salah satu bagian paling menakutkan dari kepresidenannya. Kabar buruknya adalah bahwa tantangan dan ancaman yang membuat suasana hatinya sangat gelap, cenderung memburuk sebelum menjadi lebih baik.

Presiden itu marah atas teguran dari para pemilih pada pemilu paruh waktu. Prospek tindakan yang menindas oleh penasihat khusus Robert Mueller menggantung seperti awan tak bergerak di atas Gedung Putihnya. Kekacauan staf di Sayap Barat menghasilkan cerita-cerita intrik istana di media yang dibenci oleh Presiden itu.

Di luar negeri, dia berseteru dengan para pemimpin dunia sekutu, dan dia sangat efektif dalam menerapkan kebijakan “Amerika Pertama”, sehingga dia adalah orang yang berbeda sendiri di berbagai KTT.

Dan segalanya tidak mungkin membaik dengan cepat. Banyak pengamat hukum memperkirakan bahwa dakwaan baru akan segera hadir dalam penyelidikan Mueller, yang berpotensi membawa penyelidikan itu lebih dekat ke lingkaran dalam Trump pada tahap akhir.

Partai Demokrat sedang mempersiapkan rentetan penyelidikan yang akan membuat kehidupan di Gedung Putih menjadi sebuah kesengsaraan—dari upaya untuk menyita pengembalian pajak Trump dan menyelidiki transaksi bisnisnya, hingga penyelidikan terhadap bidang kebijakan utama seperti imigrasi.

“Dia marah—hampir ke semua orang,” kata seorang pejabat Gedung Putih kepada CNN pada Rabu (14/11).

Trump mengeluarkan kemarahan di mana pun dia bisa. Dia bermusuhan dengan seorang mantan teman, Emmanuel Macron, mengejek peringkat persetujuan Presiden Prancis tersebut (pada angka 29 persen, lebih rendah dari Trump), dan tingkat pengangguran Prancis pada lebih dari 9 persen.

Dalam sebuah wawancara dengan Daily Caller pada Rabu (14/11), Presiden itu mengungkapkan keseimbangannya yang terganggu, dengan mengklaim bahwa para pemilih yang curang telah membuat Partai Republik kalah di perlombaan utama.

“Ketika orang masuk antrean yang sama sekali tidak punya hak untuk memilih, dan mereka berputar-putar. Kadang-kadang mereka pergi ke mobil mereka, mengenakan topi yang berbeda, memakai baju yang berbeda, datang dan memilih lagi,” Trump mengklaim, tanpa bukti.

Donald Trump

Presiden Donald Trump berbicara kepada media saat ia bersiap menaiki Marine One di Halaman Selatan Gedung Putih. (Foto: Getty Images)

Bukan Presiden pertama yang merasa seperti ini

Trump bukanlah Presiden pertama yang merasa terkucil, marah, ditolak oleh pemilih, atau terpuruk dalam kesedihan. Setiap orang yang menjabat di Kantor Oval merasakan hal itu cepat atau lambat, meskipun temperamen Trump lebih meledak-ledak daripada yang lainnya.

Pertanyaan untuk Trump adalah, apa yang dapat dia lakukan—selain menghabiskan beberapa akhir pekan di lapangan golf di Florida—untuk meningkatkan posisinya menjelang periode penting yang akan menentukan bab pembukaan dari kampanye pemilihannya kembali?

Seringkali ketika mereka dalam kesulitan, staf Presiden berubah-ubah untuk membawa ide-ide dan energi baru. Mereka pergi mencari kemenangan dalam kebijakan luar negeri—area di mana musuh-musuh kongres-nya tidak bisa berbuat banyak untuk mengganggu.

Yang lebih mendasar lagi, Trump bisa memeriksa seluruh pendekatan politiknya. Walau strateginya tentang perpecahan budaya dan rasial membantunya memenangkan Gedung Putih, namun itu tampaknya menjadi bumerang dalam perlombaan-perlombaan utama di Dewan. Kegagalan untuk memenangkan kembali pinggiran kota bisa membahayakan harapannya untuk memenangkan masa jabatan kedua di tahun 2020.

Jika Trump tidak pernah memberi konferensi pers yang marah lagi atau memaki-maki di tweet yang meledak-ledak, mungkin saja situasi politiknya—dan tingkat persetujuan 39 persen dalam jajak pendapat CNN terakhir—akan meningkat.

Lagi pula, dia memenuhi banyak janji kampanyenya. Pengangguran berada pada titik terendah dalam setengah abad dan pertumbuhan ekonomi meledak.

Dan kaum konservatif akan berterima kasih kepada Trump selama beberapa dekade untuk dua pencalonan Mahkamah Agung yang berhasil.

Tetapi Presiden itu begitu melekat dengan taktik memecah-belah, yang mungkin mustahil baginya untuk mengubah gayanya. Mungkin sudah terlambat juga, mengingat dia tidak berusaha untuk memperluas basis dukungannya sejak mulai menjabat.

Kepribadian meledak-ledak Trump dan keengganannya untuk dibatasi, juga kemungkinan berarti bahwa cara lainnya yang tersedia untuk Presiden itu—perubahan staf baru untuk mengguncang operasi di Sayap Barat—mungkin tidak akan berhasil.

Kepala staf pertamanya, Reince Priebus, gagal memberlakukan perintah Trump dan segera keluar. Penerusnya, John Kelly—yang dikabarkan akan segera keluar—juga segera tenggelam dalam kekacauan.

Gagasan bahwa Trump akan melihat hasil pemilu, melakukan perubahan politik, dan menjadi Presiden yang lebih baik dan lebih lembut, juga tidak terpikirkan.

Dia hampir tidak pernah mengakui bahwa dia salah dan dia telah mencari orang untuk disalahkan atas kerugian Partai Republik di DPR.

Misalnya, Presiden itu mendaftarkan kandidat Partai Republik yang menolak untuk menerima dukungannya—atau apa yang ia sebut “pelukannya”—pada konferensi pers pasca-pemilu paruh waktu.

Presiden Prancis

Macron dan Trump sebelum pertemuan mereka di Istana Elysee pada Sabtu (10/11). (Foto: AP/Kamil Zihnioglu)

Ada dorongan yang terlihat?

Jadi bagaimana dengan kemenangan di panggung dunia untuk meningkatkan semangat Presiden?

Tidak banyak yang bisa diraih. Kebijakan Timur Tengah Amerika Serikat (AS) goyah seiring AS berlabuh di Arab Saudi, yang dikucilkan atas pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di Konsulat Saudi di Istanbul.

Namun, sebuah terobosan dalam upaya diplomatik bersama AS dan Inggris untuk mengakhiri perang di Yaman tidak hanya akan meningkatkan prospek politik Trump, namun itu juga akan menjadi kemenangan signifikan bagi kemanusiaan.

Harapan Trump untuk KTT kedua dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un telah gagal, di mana Pyongyang marah karena kurangnya konsesi oleh AS, dan indikasi baru bahwa ia akan melanjutkan program rudalnya.

Akhir bulan ini, Trump akan menuju ke KTT G20. Kemajuan dalam meredakan perang dagangnya dengan China pada perundingan di sana dengan Presiden Xi Jinping—atau bahkan gencatan senjata—dapat dilihat sebagai kemenangan kebijakan luar negeri.

Trump juga diharapkan bertemu dengan Vladimir Putin di KTT di Argentina. Tapi itu adalah sebuah potensi ranjau politik, mengingat dugaan campur tangan pemilu Rusia yang telah menghasilkan liputan media yang tidak menarik tentang obrolannya dengan Pemimpin Rusia, yang telah membuat marah Presiden itu.

Kemungkinan kemenangan signifikan di dalam negeri juga tampak tipis, mengingat kemacetan yang akan terasa di Washington ketika Demokrat mengambil palu Dewan.

Tapi Trump merenung setelah pemilu paruh waktu, bahwa pengaturan baru mungkin lebih kondusif untuk membuat kesepakatan daripada terwujudnya mayoritas tipis Partai Republik.

“Dengan cara ini, mereka akan mendatangi saya, kami akan bernegosiasi. Mungkin kami akan membuat kesepakatan, mungkin kami tidak akan melakukannya,” katanya.

Trump tampak seperti seseorang yang berusaha meyakinkan dirinya sendiri sebagaimana ia meyakinkan para wartawan di ruangan itu. Tapi mungkin ada kesamaan pada isu-isu seperti harga obat resep atau infrastruktur.

Sebenarnya ada sinar terang pada Rabu (14/11), ketika Trump mengumpulkan anggota Partai Demokrat dan Republik ke Gedung Putih untuk menandatangani RUU, yang merupakan langkah kecil menuju reformasi peradilan pidana.

“Apakah saya mendengar kata bipartisan?” Trump menyindir saat upacara penandatanganan tersebut.

Namun demikian, setelah panggilan pengadilan dari Partai Demokrat mulai dikirimkan, ruang untuk berkompromi mungkin akan layu.

Jadi Trump akan memiliki satu pilihan terakhir—meningkatkan musuh—perangkat yang secara efektif ia gunakan di sepanjang karier politik dan bisnisnya.

Baca juga: Amukan Trump: Paris, Kekalahan Pemilu Paruh Waktu, Pergolakan Staf

Dia bisa memilih untuk mengadakan pertikaian terkait tagihan pengeluaran akhir tahun, untuk memeras lebih banyak pembiayaan dari Kongres untuk tembok perbatasannya. Meski begitu, tidak jelas apakah kemungkinan penutupan pemerintah (sebagai akibatnya) akan membantunya secara politis.

Terdapat argumen bahwa Trump benar-benar akan mendapatkan keuntungan dari melawan Dewan yang dipimpin oleh Demokrat tahun depan—terutama jika Nancy Pelosi, yang peringkat persetujuannya lebih buruk daripada Trump, mendapatkan pekerjaan lamanya sebagai ketua.

Ketika 2019 tiba, anggota Partai Demokrat kemungkinan akan mulai meluncurkan kampanye kepresidenan, memberi Trump alasan untuk pergi ke tempat di mana ia selalu merasa terbaik: di antara kerumunan yang memujanya di jalur kampanye.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Presiden terpilih Donald Trump tiba untuk berbicara di USA Thank You Tour 2016 di Giant Center pada 15 Desember 2016 di Hershey, Pennsylvania. (Foto: AFP/Getty Images/Don Emmert)

Bagi Trump, Tak Ada Jalan Keluar yang Mudah dari Ketakutannya

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top