umat kristen di gaza
Timur Tengah

Bagi Umat Kristen Gaza, Tak Ada Jalan Menuju Betlehem

Umat Kristen Palestina menghadiri upacara penerangan pohon Natal di Kota Gaza pada tanggal 22 Desember. (Foto: NurFoto/Majdi Fathi)
Berita Internasional >> Bagi Umat Kristen Gaza, Tak Ada Jalan Menuju Betlehem

Bagi umat Kristen di Gaza, tak ada jalan menuju Betlehem untuk merayakan Natal. Kamel Ayad, pejabat humas untuk Gereja Orthodox, mengatakan kepada Asia Times bahwa umat Kristen Gaza selalu berusaha mendapatkan izin perjalanan untuk merayakan Natal di Betlehem. Otoritas pendudukan Israel mengeluarkan 900 izin, tetapi sangat jarang memberikan izin kepada seluruh keluarga, dengan alasan keamanan atau karena batasan jumlah.

Baca Juga: Muslim dan Kristen Palestina Bersatu Melawan Pengakuan Yerusalem Trump: ‘Kami Adalah Satu’

Oleh: Mohammed Dahman (Asia Times)

“Kami memasang lonceng emas dan kemudian kami mulai memasang bola merah dan hijau, dan dekorasi lainnya, karena semuanya melambangkan peristiwa tertentu,” Umm Hanna mengatakan kepada saya selama percakapan panjang di sekitar pohon Natal di tengah ritual perayaan.

Umm Hanna (Bunda Hanna, nama samaran) berusia lima puluhan. Dia mengenakan liontin salib di lehernya yang keriput, dan telah tinggal di lingkungan Sheikh Radwan di Gaza Barat bersama keluarganya selama lebih dari 30 tahun.

Seperti kebanyakan umat Kristen yang tetap berada di Gaza, dia bersiap-siap untuk hari raya ini, membuat suguhan manis, dan berbelanja untuk hadiah dan apa pun hiasan pohon Natal yang dapat dibawa melewati perbatasan oleh toko-toko lokal.

Sementara umat Kristen Ortodoks Gaza mengadakan ritual mereka di Gereja Saint Porphyrios, umat Katolik melaksanakan ritual mereka di Gereja Keluarga Kudus, salah satu situs bersejarah tertua di Gaza.

Pengikut sekte Kristen Barat (Katolik) merayakan pada Malam Natal dan pada Selasa (25/12), sedangkan sekte Timur (Ortodoks) akan merayakan pada malam tanggal 6 Januari dan besok lusanya.

Umm Hanna menjelaskan kepada Asia Times tentang ritual perayaan tahun ini: “Kami menghias pohon Natal besar di Gereja Saint Porphyrios, Gereja Ortodoks Yunani, dan para jemaah dan seniman bersiap-siap untuk pertunjukan mereka. Kami juga mempersiapkan gereja untuk menerima orang-orang yang datang pada malam tanggal 24 untuk berdoa dan melafalkan lagu-lagu Yesus.”

Gereja Saint Porphyrios terletak di pusat lingkungan mayoritas Muslim di Gaza. Di sebelahnya terdapat Masjid Kateb al-Welaya dan rumah bagi para lansia dan anak-anak berkebutuhan khusus, yang diurus oleh para biarawati gereja, dalam kehidupan bersama yang ditegaskan oleh Umm Hanna: “Semua tetangga saya adalah Muslim, Saya sangat mencintai mereka dan mereka mencintai kami. Kami mengunjungi satu sama lain di setiap kesempatan, tetapi meskipun ada hubungan cinta di antara kami, kebahagiaan kami tidak akan lengkap sampai ada kedamaian dan keamanan di seluruh Palestina.”

Perjuangan Palestina

Orang Kristen Palestina menyaksikan kembang api menerangi langit untuk menandai pencahayaan pohon Natal, di kota Betlehem di Tepi Barat, pada tanggal 1 Desember 2018. (Foto: Apaimages/Ahmad Arouri)

Angka yang Menipis

Umm Hanna lahir di Betlehem dan pindah ke Gaza bersama suaminya di masa-masa yang lebih baik.

Baca Juga: Bagaimana Trump Kacaukan Hari Natal Umat Kristen Palestina

Terdapat keluarga-keluarga Kristen yang menonjol secara ekonomi dan sosial di Gaza, yang secara historis makmur dalam perdagangan emas, properti, dan minyak bumi, seperti keluarga Ghattas, Ayyad, Khoury, dan Tarzy.

Lebih dari setengah warga Gaza hidup dalam kemiskinan terlepas dari bantuan kemanusiaan, menurut PBB. Blokade Israel atas garis pantai, wilayah udara, dan penyeberangan darat Gaza telah berlaku selama lebih dari satu dekade. Satu-satunya perbatasan Mesir dengan Gaza juga dikontrol ketat, dengan pembukaan perbatasan yang jarang dan terbatas untuk sekitar dua juta penduduk.

Selama 20 tahun, Umm Hanna berulang kali mencoba mengunjungi keluarganya di Tepi Barat dan merayakan Natal di Gereja Kelahiran. Namun, perlintasan yang selalu ditutup dan pembatasan Israel untuk izin perjalanan telah mencegahnya. Kerabatnya belum bisa mengunjunginya di Gaza karena alasan yang sama.

Pada tahun-tahun sejak Israel memberlakukan blokade ketat di Jalur Gaza, jumlah orang Kristen di Gaza telah berkurang.

“Baru-baru ini, jumlah orang yang datang untuk beribadah di gereja telah berkurang, karena banyak kerabat kami meninggalkan Gaza, dan saya tidak berpikir mereka akan kembali. Orang-orang muda tidak memiliki peluang kerja, dan kondisi kehidupan yang sulit.”

Kamel Ayad, pejabat humas untuk Gereja Orthodox, mengatakan kepada Asia Times: “Orang-orang Kristen Gaza selalu berusaha mendapatkan izin perjalanan untuk merayakan Natal di Betlehem. Otoritas pendudukan Israel mengeluarkan 900 izin, tetapi sangat jarang memberikan izin kepada seluruh keluarga, dengan alasan keamanan atau karena batasan jumlah.”

Ayad mengatakan bahwa umat Islam dan Kristen mengalami penderitaan yang sama, seiring pihak berwenang Israel membatasi izin untuk individu di bawah usia 16 tahun atau lebih dari 35 tahun, terlepas dari agama mereka. Izin yang dikeluarkan untuk melakukan perjalanan antara Gaza dan Tepi Barat, sebagian besar untuk kasus medis, pedagang, dan orang asing.

Ayad mengatakan bahwa meskipun ada pembatasan keamanan, namun sekitar 1.200 umat Kristen di Gaza telah mengadakan perayaan Natal mereka.

Hari raya itu dirayakan setelah tahun yang sulit bagi Gaza. Protes perbatasan berbulan-bulan yang ditujukan untuk mengguncang status quo dan menyerukan diakhirinya pengepungan itu, disambut dengan peluru oleh militer Israel. Puluhan pengunjuk rasa tewas dan ribuan lainnya terluka.

Situasi telah tenang setelah gencatan senjata diperantarai antara Israel dan kelompok Islam Hamas, tetapi blokade yang menindas dan penyebab yang mendasarinya masih tetap sama.

Natal, bagi komunitas kecil ini, adalah waktu untuk fokus pada kebahagiaan apa pun yang dapat mereka temukan. Bagi Ayad, “pemandangan dekorasi di pohon Natal, boneka Santa Claus, dan hadiah anak-anak sangat menyegarkan.”

Diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Heba Afify.

Keterangan foto utama: Umat ​​Kristen Palestina menghadiri upacara penerangan pohon Natal di Kota Gaza pada tanggal 22 Desember. (Foto: NurFoto/Majdi Fathi)

Bagi Umat Kristen Gaza, Tak Ada Jalan Menuju Betlehem

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top