Baiq Nuril
Berita Politik Indonesia

Baiq Nuril dan Korban-Korban Pelecehan Seksual yang Dikriminalkan

Berita Internasional >> Baiq Nuril dan Korban-Korban Pelecehan Seksual yang Dikriminalkan

Dalam keputusan yang mengejutkan, korban pelecehan seksual Baiq Nuril mengalami pelecehan yang kedua kalinya. Kali ini pelakunya adalah sistem peradilan Indonesia. Baiq Nuril dijatuhi hukuman enam bulan penjara dan denda Rp500 juta rupiah karena telah berani mengekspos pelecehan seksual yang dialaminya.

Baca juga: Berita Terkini: Jaksa Akan Eksekusi Penjara Baiq Nuril

Oleh: Maizura Ismail (The Asean Post)

Dalam beberapa kesempatan terakhir atasanya menghubunginya lewat telepon, pembicaraan mereka berubah menjadi tidak nyaman setelah melibatkan ekspolitasi seksualnya dan sebuah undangan untuk berhubungan seksual di hotel. Walaupun ia ingin melaporkan atasannya itu untuk tuduhan pelecehan seksual, ketakutan akan dipecat menghentikannya karena ia tidak memiliki bukti.

Kali berikutnya sang atasan menelepon, dia telah siap dan merekam pembicaraan mereka. Mengikuti gaya sebelumnya, pembicaraan antara kepala sekolah, H. Muslim, dan sang guru, Baiq Nuril Maknun, berubah menjadi tidak pantas lagi. Kolega Baiq, Imam Mudawin, mendengar percakapan itu dan menggunakan file audio itu untuk mengajukan keluhan resmi terhadap kepala sekolah kepada Badan Pendidikan Mataram.

Dalam twist yang tak terpikirkan, Mahkamah Agung di Jakarta membalikkan pembebasan dari pengadilan yang lebih rendah dan memvonis Baiq Nuril karena telah merekam dan menyebar material tidak senonoh tersebut di bawah undang-undang informasi transaksi elektronik. Pada bulan September, Baiq Nuril dijatuhi hukuman enam bulan penjara dan denda Rp500 juta.

Kasus tersebut telah memicu kritik di antara aktivis dan publik yang berargumen bahwa Baiq Nuril adalah korban sebenarnya dari pelecehan seksual yang dilakukan Muslim. Direktur Eksekutif Amnesty Indonesia, Usman Hamid, mengatakan, alih-alih memeriksa pelecehan yang dilakukan Muslim terhadap Baiq Nuril, sistem malah fokus untuk mengkriminalkan tindakan Nuril karena mengekspos pelecehan tersebut.

“Sepertinya perempuan bisa dikriminalkan hanya karena mengambil langkah untuk mengekspos pelecehan yang mereka alami.

“Panggilan telepon yang tidak diinginkan dan eksplisit secara seksual akan tergolong sebagai pelecehan seksual dan harus diselidiki sebagai prioritas, dengan tuntutan yang sesuai. Sungguh memalukan bahwa sementara korban dari tuduhan pelecehan seksual itu didakwa, hanya ada sedikit atau jika ada, tindakan yang dilakukan oleh pihak berwajib untuk menyelidiki apa yang terlihat seperti klaim yang kredibel,” ujar Usman seperti dikutip oleh The Guardian.

Pelecehan seksual adalah tindakan atau aksi verbal dan fisik yang tidak diinginkan yang bersifat seksual yang bisa secara masuk akal dianggap menyebabkan gangguan dan rasa malu. Di tempat kerja, perilaku ini termasuk tindakan yang mengganggu pekerjaan, dibuat sebagai persyaratan diterima bekerja, atau menciptakan lingkungan kerja yang mengintimidasi, bermusuhan, dan mengganggu. Pelecehan seksual bisa terjadi antara lawan jenis atau sejenis, dan baik pria dan wanita bisa menjadi pelaku dan korban.

Meningkat

Di Indonesia, insiden pelecehan seksual terus meningkat. Data dari Komnas Perempuan menunjukkan, bahwa dari 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan di tahun 2016, 3.495 adalah pelecehan seksual domestik (dalam rumah tangga) dan 2.290 adalah pelecehan seksual di komunitas dan tempat kerja.

Namun, angka itu hanya puncak dari gunung es karena banyak kasus tidak dilaporkan. Direktur LBH Apik, Veni Oktarini Siregas, mengatkan bahwa puluhan kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang diterima oleh kantornya, hanya beberapa yang dibawa ke pengadilan karena kebanyakan perempuan menolak untuk mengajukan tuntutan karena mereka kecewa dan dibuat trauma oleh sistem.

Dia mengatakan bahwa para perempuan yang menjadi kasus-kasus seperti ini sering dipermalukan dan disalahkan.

“Tidak ada yang percaya bahwa seseorang telah melakukan pelecehan seksual di ruang publik,” ujar Veni.

Hal ini mengkhawatirkan karena terjadi di negara yang, menurut survei pemerintah tahun 2017, sepertiga dari perempuannya pernah mengalami kekerasan fisik dan verbal. Namun, sikap pemerintahan juga telah menjadi lebih “rileks” dalam menerima kekerasan yang bersifat seksual sebagai norma.

Baca juga: ICJR: Presiden Bisa Selamatkan Baiq Nuril

Di negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia, perempuan yang melamar untuk bergabung dengan pasukan keamanan tidak hanya diperiksa kesehatannya, namun juga apakah mereka telah memiliki pengalaman seksual sebelumnya. Tes keperawanan, praktik yang telah berlangsung lebih dari lima dekade, disorot dalam laporan Human Rights Watch tahun 2014.

Kasus-kasus seperti ini adalah salah satu alasan kenapa perempuan tidak ingin melaporkan pelecehan yang mereka alami. Peraturan yang kemudian mengkriminalkan korban karena melaporkan pelecehan mereka, membuat kasus-kasus ini jadi sangat jarang dilaporkan. Untuk Baiq Nuril, vonis yang tidak adil dan tidak masuk akal ini pasti terasa seperti pelecehan kedua yang dia alami.

Keterangan foto utama: Baiq Nuril Makmun, yang mengekspos atasannya yang berselingkuh, terlihat syok setelah dia dijatuhi hukuman enam bulan penjara karena telah melanggar undang-undang kontroversial melawan penyebaran material tidak pantas, di Mataram, Lombok, 16 November 2018. (Foto: Pikong/AFP)

Baiq Nuril dan Korban-Korban Pelecehan Seksual yang Dikriminalkan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top