Bantuan Kemanusiaan
Berita Politik Indonesia

Bantuan Mulai Mengalir, Tim Penyelamat Berjuang Lawan Penyakit dari Mayat yang Membusuk

Berita Internasional >> Bantuan Mulai Mengalir, Tim Penyelamat Berjuang Lawan Penyakit dari Mayat yang Membusuk

Bantuan kemanusiaan akhirnya telah mencapai daerah-daerah terpencil di Sulawesi untuk pertama kalinya sejak gempa bumi dan tsunami melanda. Tim penyelamat dan pemberi bantuan kini juga memikirkan upaya bantuan jangka panjang, yang akan memastikan daerah yang terdampak bencana bisa bangkit kembali. Sementara itu, pemerintah juga sedang mempertimbangkan untuk mengubah beberapa kota menjadi kuburan massal.

Baca juga: Sulawesi Indonesia dalam Cengkeraman Bencana, Lagi dan Lagi

Oleh: Al Jazeera

Bantuan yang sangat dibutuhkan akhirnya untuk pertama kalinya mengalir ke komunitas-komunitas terpencil di Pulau Sulawesi, Indonesia, yang dilanda gempa besar dan tsunami pada hari Jumat (28/9) lalu, menyebabkan setidaknya 1.649 orang tewas. Ketika gempa menghantam sebuah desa di Kabupaten Sigi, lumpur dari 15 meter di bawah tanah muncul ke permukaan dan menyeret rumah dan orang-orang dalam gelombang lumpur dan batu. Beberapa benda dan mayat ditemukan sejauh 4 kilometer dari lokasi aslinya.

“Para petugas penyelamat di sini memberi tahu kami bahwa mereka bahkan tidak tahu di mana harus mulai menggali,” kata Aljaze Alindogan dari Al Jazeera, melaporkan dari tempat kejadian. “Mereka takut bahwa setengah dari populasi di sini telah meninggal dunia.”

Baca juga: Bantuan Lamban, Korban Selamat Bencana Sulawesi Putus Asa

Sekarang, tumpukan batu dan lumpur merupakan satu-satunya yang tersisa dari rumah, sekolah, dan bangunan lainnya. Pekerja bantuan telah mengirimkan makanan, air minum, dan barang-barang penting lainnya kepada masyarakat, yang masih berjuang memahami besarnya skala bencana, tetapi bantuan jangka panjang juga akan terus diperlukan.

“Anak-anak tidak bisa pergi ke sekolah. Sekolah mereka ambruk karena gempa. Para guru mereka juga pergi dan mengungsi,” kata Nur Aini, seorang korban selamat setempat.

Dukungan Jangka Panjang

Lebih dari 70.000 orang kehilangan tempat tinggal akibat bencana gempa dan tsunami. (Foto: Reuters/Athit Perawongmetha)

Upaya bantuan sekarang ada di mana-mana di Palu, kota utama Sulawesi, tetapi lambatnya pemulihan telah memicu kemarahan. Husni Husni, juru bicara Federasi Internasional Palang Merah, mengatakan bahwa masalah logistik telah menunda pengiriman bantuan kemanusiaan.

“Tantangan utama adalah akses ke Sulawesi sendiri,” katanya kepada Al Jazeera. “Kapal-kapal dari Jakarta ke Makassar [sebuah kota pelabuhan di Sulawesi] membutuhkan waktu pelayaran tiga hari dan kemudian dari Makassar ke Palu membutuhkan perjalanan lebih dari 24 jam, dan itulah tantangan utama sekarang.”

Air minum yang aman adalah kebutuhan paling mendesak di Palu, menurut Husni, yang mengatakan badan-badan bantuan sedang merencanakan bantuan jangka panjang bagi mereka yang terdampak bencana.

“Kami selalu menggabungkan respon bencana dengan program jangka panjang. Pemulihan dan program berbasis komunitas jangka panjang untuk memperkuat masyarakat, sehingga mereka tahu bagaimana mengatasi bencana di masa depan,” katanya.

“Saat ini, kami tidak hanya melakukan dukungan jangka pendek, tetapi juga kami memikirkan pemulihan dan dukungan jangka panjang. Kami telah menyerukan permohonan bantuan 22 juta franc Swiss atau dua juta Dolar AS untuk mendukung orang-orang yang terdampak bencana selama 20 bulan ke depan, untuk mendukung mereka dengan mata pencaharian, tempat perlindungan, dan juga beberapa kebutuhan dasar seperti tempat tidur dan air yang aman,” katanya kepada Al Jazeera.

Kota-Kota Berubah Menjadi Pemakaman Massal

Upaya penyelamatan penyintas telah berakhir, tetapi pencarian untuk jenazah korban tewas tetap berlanjut. (Foto: Reuters/Darren Whiteside)

Pada hari Sabtu (6/10), Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto mengatakan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan untuk menunjuk Balaroa dan Petobo, dua lingkungan Palu yang pada dasarnya telah terhapus dari peta, sebagai pemakaman massal.

Upaya penyelamatan telah dihentikan karena para pejabat mengatakan hanya terdapat sedikit harapan untuk menemukan korban selamat pada waktu seminggu setelah terjadinya bencana, tetapi pencarian untuk jenazah korban tewas tetap berlanjut.

Petobo lenyap ke bawah tanah saat kekuatan gempa menimbulkan fenomena likuifikasi yang mencairkan tanah lunaknya. Pencairan tanah juga melanda sebagian besar wilayah Balaroa. Ratusan mayat diperkirakan terkubur di bawah reruntuhan kedua kota.

Wiranto mengatakan bahwa saat ini tidak aman bagi peralatan berat untuk beroperasi di sana dan bahwa pemerintah sedang berdiskusi dengan otoritas lokal, pimpinan keagamaan, serta keluarga korban untuk menghentikan upaya pencarian dan menyatakan daerah-daerah tersebut sebagai kuburan massal.

Baca juga: Foto-foto Dampak Gempa dan Tsunami Sulawesi

Sebelumnya pada hari Sabtu (6/10), para pejabat mengeluarkan peringatan baru tentang kemungkinan wabah penyakit ketika jenazah-jenazah yang membusuk terus ditarik dari puing-puing di Palu.

“Sebagian besar mayat yang kami temukan tidak utuh dan itu menimbulkan bahaya bagi para penyelamat. Kami harus sangat berhati-hati untuk menghindari kontaminasi,” tutur juru bicara Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP) Indonesia Yusuf Latif kepada kantor berita AFP. “Kami telah memvaksinasi tim kami, tetapi kami harus ekstra hati-hati karena mereka terkena bahaya kesehatan. Ini juga merupakan masalah kesehatan bagi publik. Sangat sulit untuk mengendalikan kerumunan. Orang-orang mungkin berisiko terkena bahaya.”

Lebih dari 70 ribu orang telah kehilangan tempat tinggal setelah gempa berkekuatan 7,5 skala Richter melanda Pulau Sulawesi, memicu gelombang tsunami setinggi enam meter yang menghantam dengan kecepatan 800 kilometer per jam.

Keterangan foto utama: Bantuan dengan lamban menjangkau beberapa daerah yang terkena bencana, membuat para korban selamat putus asa (Foto: Reuters/Darren Whiteside)

Bantuan Mulai Mengalir, Tim Penyelamat Berjuang Lawan Penyakit dari Mayat yang Membusuk

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top