Gempa Palu
Berita Politik Indonesia

Bantuan Terbatas, Korban Selamat Gempa Palu Berjuang Bertahan Hidup

Seorang gadis makan mie instan kering di tempat penampungan sementara di desa Lende Tovea, di pusat gempa berkekuatan 7,5 SR yang melanda Indonesia, di Sulawesi Tengah, pada tanggal 28 September 2018 lalu. (Foto: Pichayada Promchertchoo)
Home » Berita Politik Indonesia » Bantuan Terbatas, Korban Selamat Gempa Palu Berjuang Bertahan Hidup

Dengan bantuan yang terbatas, para korban selamat gempa Palu terus berjuang untuk bertahan hidup. Pasokan bantuan dari berbagai negara telah mengalir ke daerah-daerah yang terkena bencana, tetapi penduduk yang terperangkap di lingkungan terpencil mengatakan bahwa tidak banyak bantuan yang datang. Hal itu dikarenakan sulitnya akses menuju daerah-daerah terpencil dan kurangnya tenaga pekerja.

Baca juga: Mengapa Napi yang Bebas setelah Gempa Palu Kembali ke Penjara

Oleh: Pichayada Promchertchoo (Channel NewsAsia)

Anak-anak kecil berteriak kegirangan saat mereka berlarian di tanah, tangan kecil mereka terangkat ke udara.

Di atas mereka, helikopter bantuan sedang terbang menuju desa mereka Lende Tovea di Donggala, Sulawesi Tengah. Helikopter itu adalah milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Akhirnya ada lebih banyak bantuan, mereka mungkin berpikir.

Tetapi seiring mata mereka yang menyipit mengikuti helikopter di langit, mereka dihantam oleh kesadaran yang mengerikan, bahwa penantian mereka untuk makanan, susu, dan persediaan bantuan lainnya masih akan berlarut-larut. Tidak ada yang dijatuhkan dari helikopter itu. Helikopter itu hanya terbang melewati mereka.

Sudah hampir dua minggu sejak gempa berkekuatan 7,5 SR menghancurkan rumah mereka, membunuh teman-teman dan keluarga mereka. Namun sekitar 2.000 penduduk Lende Tovea—salah satu dari beberapa desa di pusat gempa Palu—hanya menerima bantuan yang terbatas dari pemerintah Indonesia.

“Setiap keluarga telah menerima dua telur, satu liter beras, dan empat hingga lima bungkus mie instan. Itu tidak cukup,” kata Erwin Tajudin, seorang warga Sub-komunitas 1 Lende Tovea.

Sebagian besar bantuan, tambahnya, datang dari mahasiswa dan pekerja penyelamat yang membawa bantuan ke desanya melalui jalan rusak dan tanah longsor. Menunjuk ke sebuah masjid yang runtuh, pria berusia 54 tahun itu mengatakan bahwa hampir setiap bangunan di komunitasnya hancur, termasuk rumahnya.

“Tidak ada yang tersisa—semua hilang. Jadi saya berharap pemerintah akan membantu kami.”

Rumah Erwin hancur oleh gempa. (Foto: Pichayada Promchertchoo)

Pada tanggal 28 September, gempa bumi mengguncang Sulawesi dan memicu tsunami yang menghancurkan. Donggala dan Palu di dekatnya adalah yang paling terpukul. Di Palu, ribuan rumah, toko, dan hotel, diratakan oleh gelombang pasang atau tertelan lumpur dari pencairan tanah (likuifaksi).

Kehancuran itu sangat besar. Lebih dari 2.000 orang tewas, 82.775 orang terlantar, dan 671 hilang, menurut BNPB.

“Menggendong putra kami, istri saya dan saya bergegas keluar dari rumah kami hanya beberapa detik sebelum ambruk,” kata Erwin. (Foto: Pichayada Promchertchoo)

Pasokan bantuan dari berbagai negara telah mengalir ke daerah-daerah yang terkena bencana, tetapi penduduk yang terperangkap di lingkungan terpencil mengatakan bahwa tidak banyak bantuan yang datang.

Pejabat BNPB Budhi Erwanto mengatakan kepada Channel NewsAsia, bahwa BNPB telah mendistribusikan pasokan bantuan sejak tanggal 29 September, tetapi dia mengakui banyak daerah yang belum terjangkau oleh petugas penyelamat.

“Distribusi bantuan bersifat sporadis pada awalnya, karena kami tidak memiliki cukup tenaga kerja di tingkat lokal, tetapi mulai dapat dikelola sekarang,” katanya.

“Persediaan bantuan sedang menumpuk di dalam gudang lokal awalnya. Jadi sekarang, kita perlu mengosongkan mereka secepatnya, karena banyak lagi bantuan yang akan tiba.”

Di Donggala, dua distrik terkena bencana. Salah satunya adalah Sirenja, di mana Tajudin tinggal bersama istri dan seorang putra berusia 16 bulan. Tanah longsor di dekat pusat gempa juga telah memblokir jalan-jalan di Donggala, membuat distribusi bantuan darat tidak memungkinkan di daerah-daerah tertentu, termasuk bagian-bagian Lende Tovea.

Komunitas pesisir telah terputus lewat darat sejak gempa mengguncang Sulawesi. Rumah bagi Pantai Labuana yang putih dan berpasir, daerah itu dulunya penuh dengan orang-orang yang berkemah setiap akhir pekan. Hari ini, 85 keluarga hampir tidak memiliki apa-apa selain puing-puing untuk melindungi mereka dari matahari.

Tumpukan rumah yang runtuh membentang di sepanjang jalur tanah yang kering, di mana lebih dari 300 penduduk berjuang untuk bertahan hidup dengan beras dan mie instan. Ikan—sumber utama protein mereka—bukanlah pilihan karena sebagian besar peralatan memancing hancur selama gempa.

Sekolah di Lende Tovea tetap ditutup setelah bencana tersebut menghancurkan ruang-ruang kelasnya. (Foto: Pichayada Promchertchoo)

Sebuah mainan milik seorang korban berusia 7 tahun di Lende Tovea. Dia meninggal ketika rumahnya runtuh saat gempa pada tanggal 28 September 2018. (Foto: Pichayada Promchertchoo)

“Hampir tidak ada bantuan yang sampai kepada kami, dan kami sangat membutuhkan beras,” kata Rusmin Kana, Kepala Sub-komunitas 3 Lende Tovea.

Karena jalan yang terblokir, pasokan bantuan diturunkan jauh dari komunitasnya. Penduduk desa harus mengambilnya dengan perahu. Bantuan itu termasuk karung beras, mie instan, dan beberapa bahan bakar.

“Itu tidak cukup dan kami membutuhkan lebih banyak bantuan dari pemerintah,” kata Kana. “Saya melihat helikopter terbang melewati desa saya setiap hari tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang mendarat.”

Menurut pejabat BNPB Erwanto, Pantai Labuana bukanlah tempat pendaratan yang cocok untuk helikopter. Oleh karena itu, pasokan bantuan justru dikirim ke desa terdekat, di mana petugas setempat kemudian mengantarkan bantuan melalui darat.

“Pengiriman udara adalah untuk keadaan darurat ketika akses jalan tidak memungkinkan. Setiap pengiriman mencakup 200 kg hingga 300 kg pasokan bantuan,” kata Erwanto, dan menambahkan bahwa lebih banyak bantuan diperlukan dari para relawan bantuan dalam menemukan lokasi yang terkena dampak yang sulit diakses.

Untuk operasi yang lebih lancar, pemerintah Indonesia telah mengeluarkan kebijakan tentang bantuan, pekerja bantuan dan sukarelawan asing di Sulawesi yang dilanda gempa. Peraturan tersebut diperkenalkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana pada Selasa (9/10) untuk kelompok bantuan internasional.

Baca juga: Tsunami dan Gempa Palu: Tragedi dan Duka Tak Memandang Agama

“LSM asing tidak diizinkan untuk langsung pergi ke lapangan. Semua kegiatan harus dilakukan dalam kerja sama dengan mitra lokal,” kata pengumuman itu.

“Warga negara asing yang bekerja dengan LSM asing tidak diizinkan untuk melakukan kegiatan apa pun di lokasi yang terkena bencana.”

Sebuah masjid di Lende Tovea hancur setelah gempa berkekuatan 7,5 SR menghantam Sulawesi Tengah pada tanggal 28 September 2018. (Foto: Pichayada Promchertchoo)

Pada Rabu (10/10), Kementerian Luar Negeri mengklarifikasi bahwa kebijakan tersebut “tidak dimaksudkan” untuk mencegah mereka memasuki daerah yang terkena gempa, tetapi “untuk memastikan bahwa mereka berkoordinasi terlebih dahulu dengan tim nasional atau lembaga di Indonesia yang memimpin upaya penyelamatan dan pemulihan”.

Saat ini, pemerintah asing yang ingin menawarkan bantuan diharuskan berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana. LSM, di sisi lain, telah diinstruksikan untuk berkoordinasi dengan Palang Merah Indonesia atau organisasi internasional dengan afiliasi di Indonesia.

“Penting bahwa upaya pemulihan terkoordinasi dengan baik,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir.

Seiring pemerintah berusaha meningkatkan koordinasi, penantian akan bantuan terus berlarut-larut di Lende Tovea. Dengan hancurnya masjid mereka, penduduk desa berkumpul di bawah pohon mangga untuk salat malam. Semua orang muncul dengan semangat tinggi.

“Kami harus tetap positif,” kata Tajundi.

“Jika kami terus memikirkan gempa, kami akan stres karena kami telah kehilangan segalanya.”

Keterangan foto utama: Seorang gadis makan mie instan kering di tempat penampungan sementara di desa Lende Tovea, di pusat gempa berkekuatan 7,5 SR yang melanda Indonesia, di Sulawesi Tengah, pada tanggal 28 September 2018 lalu. (Foto: Pichayada Promchertchoo)

Bantuan Terbatas, Korban Selamat Gempa Palu Berjuang Bertahan Hidup

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top