'Bencana Dapat Lebih Banyak Likes': Pemburu Selfie di Tengah Bencana Tsunami Banten
Berita Politik Indonesia

‘Bencana Dapat Lebih Banyak Likes’: Pemburu Selfie di Tengah Bencana Tsunami Banten

Berita Internasional >> ‘Bencana Dapat Lebih Banyak Likes’: Pemburu Selfie di Tengah Bencana Tsunami Banten

Tsunami menghantam pantai-pantai di sekitar Selat Sunda dan menghancurkan area di dekatnya. Kehancuran tersebut–yang menewaskan ratusan orang–telah menciptakan fenomena baru. Sebuah lapangan yang menghadap Selat Sunda dan penuh dengan puing-puing bangunan yang dihantam tsunami telah menjadi tempat yang tidak masuk akal untuk wisata selfie.

Oleh: Jamie Fullerton (The Guardian)

Baca Juga: Tsunami Banten: Sistem Peringatan Baru Akan Dibangun Tahun Depan

Solihat dan ketiga temannya telah siap untuk melakukan selfie terbaik mereka di tepi pantai di provinsi Banten, Pulau Jawa, Indonesia. Jilbab mereka berwarna mencolok: seseorang di antara mereka mengenakan jilbab merah muda, satu orang lagi berjilbab hijau. Seorang di antaranya mengacungkan telunjuk dan jari tengah membentuk simbol peace V. Tak kalah penting, di latar belakang terlihat pemandangan kehancuran total: sebidang tanah yang dipenuhi bangkai-bangkai mobil berserak dan peralatan pertanian yang dihancurkan oleh tsunami yang menghancurkan pantai di provinsi tersebut pada hari Sabtu (22/12) malam, menewaskan hampir 500 orang.

Lapangan tersebut dipenuhi dengan puing-puing yang terapung dan terletak menghadap gelombang laut Selat Sunda, yang sekarang menjadi kuburan untuk alat-alat pertanian yang sebelumnya disimpan di gudang besar, yang tersapu oleh gelombang tsunami mematikan.

Sejak saat itu lapangan tersebut telah dikunjungi oleh sejumlah warga Indonesia pencari selfie, banyak yang telah menempuh perjalanan selama berjam-jam demi membagikan foto mereka di media sosial, menunjukkan bahwa mereka berada di lokasi terjadinya tsunami yang oleh tanah longsor di Gunung Anak Krakatau.

Solihat, 40 tahun, mengatakan ia telah menempuh perjalanan dua jam ke lokasi dari kota Cilegon. Dia dan teman-temannya dari kelompok Islam wanita Cilegon membawa sumbangan pakaian untuk orang-orang yang kehilangan tempat tinggal akibat tsunami. “Foto itu ada di Facebook sebagai bukti bahwa kita benar-benar di sini dan memberikan bantuan,” katanya.

Bahrudin, pemilik SUV yang terendam di tengah lapangan, mengatakan ia merasa “kecewa” dengan orang-orang yang melakukan selfie. (Foto: Jamie Fullerton)

Dia menambahkan bahwa meskipun banyak orang menganggap selfie sebagai hal remeh, pilihan latar belakang fotonya yang tidak biasa menunjukkan kedalaman. “Ketika orang melihat foto-foto kehancuran, mereka menyadari bahwa mereka berada di tempat yang lebih baik. Gambar kehancuran akan mendapatkan lebih banyak likes. Mungkin itu karena itu mengingatkan orang-orang untuk bersyukur.”

Sejak bencana hari Sabtu (22/12), banyak mayat telah terhanyut di hamparan pantai dan jalan yang sama dengan lokasi selfie. Dengan 154 orang di zona tsunami yang lebih luas masih belum ditemukan, banyak kendaraan pencarian dan penyelamat yang ditugaskan dengan tugas suram bergegas melewati para pendatang yang mengambil selfie.

Ketika ditanya apakah pantas mengambil selfie di depan badan air yang bisa menyembunyikan mayat yang belum ditemukan, Solihat mengatakan: “Itu tergantung pada niat Anda. Jika Anda mengambil selfie untuk pamer, jangan lakukan itu. Tetapi jika Anda melakukannya untuk berbagi kesedihan dengan orang lain, tidak apa-apa.”

Tidak banyak dari orang-orang yang ber-selfie yang berkerumun di lapangan kemarin menunjukkan pose seakan mencoba untuk berbagi kesedihan. Seorang wanita dengan pakaian ala kamuflase militer menghabiskan setengah jam mengarungi lapangan dengan air selutut, tampaknya mencoba untuk lebih dekat dengan SUV yang terbenam di tengah lapangan sebelum mengambil selfie dengan mobil itu.

Pemilik mobil, Bahrudin, 40 tahun, kepala serikat petani lokal, tidak terkesan dengan kegiatan selfie yang dilakukan para wisatawan. Berdiri di dalam air dengan sepasang sepatu bot kuning wellington, ia berulang kali mengucapkan kata “Kecewa” ketika ditanya apa pendapatnya tentang popularitas baru media sosial di lapangan.

Baca Juga: Tsunami Banten: Anak Krakatau Terus Erupsi, Warga Cemaskan Tsunami Susulan

Valentina Anastasia mengambil jalan memutar tiga jam ke Banten untuk menyaksikan kehancuran. (Foto: Jamie Fullerton)

Valentina Anastasia, 18 tahun, dari Jawa Tengah, tidak kecewa dengan keputusannya untuk meninggalkan Jakarta tempat ia berlibur dan melakukan perjalanan mobil tiga jam ke Banten. “Saya ingin melihat kehancuran [akibat tsunami] dan orang-orang yang terkena dampak,” katanya.

Ketika ditanya berapa banyak foto narsis yang diambilnya di daerah itu, dia tertawa terbahak-bahak. “Banyak! Untuk media sosial, grup WhatsApp …” Dia kemudian membuka-buka galeri foto narsis di ponselnya, menunjukkan orang-orang dengan kendaraan ekskavator berwarna kuning yang sebagian tenggelam di latar belakang.

Keterangan foto utama: Solihat dan teman-temannya berpose untuk foto di depan lapangan yang rusak di Provinsi Banten. (Foto: Jamie Fullerton)

‘Bencana Dapat Lebih Banyak Likes’: Pemburu Selfie di Tengah Bencana Tsunami Banten

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top