Bergulat dengan Kemacetan dan Banjir, Adakah Harapan Bagi ‘Big Durian’ di Indonesia?
Berita Politik Indonesia

Bergulat dengan Berbagai Masalah, Adakah Harapan Bagi ‘Big Durian’ di Indonesia?

Jakarta selalu bergulat dengan masalah kemacetan dan banjir. (Foto: Shutterstock/Georgina Captures)
Home » Berita Politik Indonesia » Bergulat dengan Berbagai Masalah, Adakah Harapan Bagi ‘Big Durian’ di Indonesia?

Dengan kemacetan dan naiknya permukaan laut, Jakarta bekerja keras untuk mewujudkan perubahan. Namun dengan tantangan urbanisasi yang cepat, perubahan iklim dan kegagalan infrastruktur dan transportasi umum, mampukah Jakarta melakukannya? Analisis oleh Michael Taylor.

Oleh: Michael Taylor (Bangkok Post)

Jakarta selalu bergulat dengan masalah kemacetan dan banjir.

Jakarta selalu bergulat dengan masalah kemacetan dan banjir. (Foto: Shutterstock/Georgina Captures)

Aida Widyawati menaiki kereta komuter setiap hari untuk bepergian dari rumahnya di Tangerang Selatan, sebelah barat Jakarta, ke kantornya di mana dia bekerja sebagai manajer kantor di pusat ibu kota Indonesia. Perjalanan sepanjang 120 kilometer itu memakan waktu tiga setengah jam, pada hari yang lengang.

Bulan lalu, ibu dua anak itu terkilir kedua pergelangan kaki menuruni beberapa anak tangga di rumah dan dipaksa naik taksi untuk bekerja. Waktu perjalanan totalnya naik menjadi enam jam. Di musim hujan, waktu perjalanannya bisa dengan mudah berlipat ganda.

“Ini sangat membosankan,” kata Widyawati, yang mencoba untuk tidur nyenyak saat melakukan perjalanan untuk bekerja. “Saya hanya berharap pemerintah suatu saat menawarkan layanan yang lebih baik.”

Widyawati adalah satu dari lebih dari lima juta orang yang berjuang untuk bisa bekerja setiap hari di kota terbesar di Asia Tenggara itu.

Dikenal sebagai “Big Durian”—dinamai berdasarkan buah berbau tajam yang populer di Indonesia, Jakarta Raya adalah rumah bagi sekitar 25 juta orang dan menghadapi banyak tantangan karena urbanisasi yang cepat, perubahan iklim dan kegagalan infrastruktur dan transportasi umum untuk mengimbangi ekspansi.

Selain kemacetan yang terkenal – yang sering dikutip oleh studi lalu lintas sebagai yang terburuk di dunia, dan menghabiskan biaya sekitar $3 miliar per tahun (sekitar Rp40,5 triliun)—Jakarta juga menderita kelangkaan air, sanitasi yang buruk, banjir biasa, polusi udara dan minimnya perumahan yang harganya terjangkau.

Tahun lalu kota metropolitan ini bergabung dengan 100 Resilient Cities, sebuah jaringan yang didukung oleh The Rockefeller Foundation untuk membantu kota-kota menghadapi tekanan abad ke-21.

Sekretariat Reslient Cities di Jakarta, yang didirikan pada bulan September ini, sejak saat itu telah mengumpulkan pejabat pemerintah, periset, bisnis dan kelompok masyarakat untuk memetakan kota dan menunjukkan masalah yang akan diuraikan dalam sebuah laporan pertama yang akan diterbitkan dalam dua minggu.

Oswar Mungkasa, kepala petugas Resilient di Jakarta, mengatakan kepada Thomson Reuters Foundation bahwa kotanya setidaknya memiliki tiga masalah utama: transportasi, banjir dan penurunan tanah.

Bukan Solusi Jitu untuk Kemacetan

Emisi kendaraan, yang diperparah oleh kemacetan di Jakarta, menyebabkan 70 persen polusi udara di kota. Selain biaya ekonomi dan dampak negatif terhadap kualitas hidup, polusi memberi tekanan ekstra pada layanan kesehatan masyarakat.

Tapi di sebuah kota di mana pejalan kaki dan pengendara sepeda motor sering berhadapan dengan penggunaan trotoar bobrok, beberapa langkah diambil untuk membantu mengurangi kemacetan.

Pembangunan kereta api MRT (MRM) senilai $3 miliar dimulai pada tahun 2013, dan kemungkinan akan beroperasi pada tahun 2019, saat transit kereta api ringan juga dibuka.

“Kami mencoba untuk memecahkan masalah,” kata Mungkasa. “Dalam dua atau tiga tahun setelah MRT (dibangun), situasinya akan jauh, jauh lebih baik.”

Jakarta juga telah menerapkan kebijakan plat nomor ganjil-genap untuk jalan-jalan utama untuk membatasi penggunaan mobil pribadi pada jam sibuk, sementara banyak warga telah mengadopsi aplikasi taksi sepeda motor (ojek online) dalam upaya untuk menembus kemacetan.

Kritikus mencatat, bagaimanapun, bahwa proyek MRT hanya akan menghubungkan Jakarta Selatan ke pusat kota, dan oleh karena itu tidak akan menjadi silver bullet (solusi jitu) untuk menyembuhkan masalah lalu lintas yang kronis.

Ada juga pertanyaan mengenai apakah jaringan kereta api baru akan diintegrasikan dengan angkutan umum yang ada, seperti sistem angkutan cepat bus transjakarta.

Kota tersebut harus mengembangkan “strategi push-pull” untuk membatasi kendaraan pribadi sementara melakukan operasi transportasi umum, kata Shobhakar Dhakal, kepala departemen energi, lingkungan dan perubahan iklim di Asian Institute of Technology (AIT).

“Tapi tanpa memberikan pilihan yang tepat, strategi itu tidak berhasil,” katanya, menambahkan bahwa Jakarta seharusnya telah membangun sistem kereta metro sejak dua dekade lalu.

Perasaan Tak Enak

Sebagai kota pesisir yang dibangun di atas dataran rawa, sekitar 40 persen wilayah Jakarta berada di bawah permukaan laut. Lebih parah lagi, kebanyakan penduduk dan bisnis bergantung pada sumur yang mengalirkan akuifer bawah air untuk persediaan air mereka, sehingga kota ini tenggelam 5-10 sentimeter setiap tahunnya.

Naiknya permukaan air laut dan ketidakmampuan infrastruktur untuk mengatasi kelebihan air selama musim hujan mengakibatkan banjir yang rutin.

Laporan Resilient Jakarta akan menyarankan bagaimana kesehatan dan kesejahteraan dapat ditingkatkan melalui pengelolaan air dan limbah yang lebih baik.

Kota ini bekerja keras untuk mengatasi masalah ini, kata Mungkasa, dengan perbaikan infrastruktur air, termasuk pasokan pipa, dan fasilitas pengolahan air limbah baru akan dibangun dalam 20 tahun ke depan.

Jaringan pipa air di Jakarta perlu diperluas baik di lingkungan miskin dan kaya, kata Marcus Lee, seorang ekonom perkotaan senior di Bank Dunia di Jakarta. Karena air sumur itu gratis dan sering terlihat bersih, pemerintah juga harus memberlakukan penggunaan air ledeng jika bisa diakses, tambahnya.

Daerah kumuh kota—banyak yang berada di bagian kota yang rentan terhadap banjir—merupakan tantangan lain, kata Lee.

Perumahan baru, yang sering didukung oleh kas pemerintah, cenderung dibangun di tempat yang lahannya lebih murah, di luar kawasan komersial.

“Jika Anda mampu membeli rumah, kemungkinan akan sangat jauh di pinggiran kota,” kata Lee. “Itu berkontribusi pada urban sprawl (perluasan daerah perkotaan yang tidak terkendali -red) dan menghubungkan kembali dengan masalah transportasi.”

Penumpang Commuter Line di Stasiun Tanah Abang, 24 Maret 2017.

Penumpang Commuter Line di Stasiun Tanah Abang, 24 Maret 2017. (Foto: Shutterstock/Georgina Captures)

Gagalnya Perencanaan Kota

Dhakal dari AIT mengatakan bahwa sebagian besar kota besar di Asia bergulat dengan “kegagalan perencanaan kota.”

“Sejak tahun 1960an dan 1970an, ketika kota-kota besar ini mulai berkembang, perencanaan kota tidak berjalan dengan baik. Ini masih memainkan peran yang sangat kuat,” tambahnya.

Mengembangkan strategi jangka panjang untuk membangun ketahanan telah menjadi prioritas rendah bagi politisi yang cenderung fokus pada kemenangan cepat selama siklus pemilihan empat sampai lima tahun, katanya.

Mungkasa dari Resilient Jakarta mengakui bahwa pendekatan yang terfragmentasi tidak membantu di masa lalu dan menekankan pentingnya memperbaiki pemerintahan daerah untuk menciptakan “kebiasaan untuk merencanakan” untuk mengantisipasi kejutan yang mungkin melanda Jakarta.

“Kita perlu memastikan pemerintah siap dan memiliki strategi dan kemampuan untuk menghadapi masalah ini,” katanya.

Jakarta bisa juga belajar dari kota-kota Asia lainnya, termasuk Bangkok dan Singapura, yang merupakan bagian dari 100 Resilient Cities dan telah berbagi pengalaman mereka di lokakarya.

Thailand mengeluarkan strategi ketahanannya awal tahun ini yang mengatasi banjir dan penggunaan air, sementara Singapura memompa miliaran dolar ke dalam transportasi umum dan mengendalikan penggunaan dan kepemilikan mobil secara ketat.

Kembali ke Jakarta, komuter Widyawati mengakui bahwa jalur komuter telah membaik dalam beberapa tahun terakhir. “Ada hal-hal yang perlahan semakin membaik,” katanya.

Bergulat dengan Berbagai Masalah, Adakah Harapan Bagi ‘Big Durian’ di Indonesia?

BERLANGGANAN

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Greenpeace Kecam Indonesia Karena Gagal Hentikan Deforestasi oleh Industri Kelapa Sawit - Mata Mata Politik

Beri Tanggapan!

To Top