Pilpres 2019
Berita Politik Indonesia

BIN: Masjid di Indonesia Sebarkan Radikalisme kepada Pegawai Negeri

Berita Internasional >> BIN: Masjid di Indonesia Sebarkan Radikalisme kepada Pegawai Negeri

Badan Intelijen Negara menemukan, banyak masjid di sekitar kantor-kantor pemerintahan digunakan untuk menyebarkan radikalisme. Hal yang sama juga terjadi di beberapa kampus di Indonesia. Penyelidikan ini mereka lakukan setelah teror bom yang terjadi di Surabaya enam bulan lalu. 

Oleh: Agence France-Presse (AFP)

Baca Juga: Kerja Sama Arab Saudi-Indonesia: Perkuat Hubungan Ekonomi dan Kontraterorisme

Puluhan masjid Indonesia yang diperuntukkan bagi pegawai negeri sipil terbukti menyebarkan radikalisme dan menyerukan kekerasan terhadap non-Muslim, menurut Badan Intelijen Negara (BIN) Indonesia pada hari Senin (19/11).

Penemuan itu muncul enam bulan setelah kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya, diguncang oleh gelombang pengeboman bunuh diri di beberapa gereja selama kebaktian hari Minggu, menewaskan puluhan orang. Berbagai serangan tersebut adalah serangan teror paling mematikan dalam satu dekade dan sekali lagi menyoroti toleransi beragama di negara Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia.

BIN pada hari Senin (19/11) mengatakan telah menyelidiki sekitar seribu masjid di seluruh Indonesia sejak bulan Juli 2018 dan menemukan bahwa para imam di sekitar 41 tempat ibadah di satu lingkungan Jakarta saja telah mengajarkan ekstremisme kepada para jamaah, yang sebagian besar merupakan pegawai negeri sipil yang bekerja di gedung kementerian tak jauh dari situ.

BIN menemukan sekitar 17 ulama menyatakan dukungan atau simpati untuk ISIS dan mendorong umat Islam untuk berjuang bersama kelompok jihadis di Suriah dan Marawi, kota Filipina yang dikuasai oleh pejuang ISIS asing tahun 2017.

Beberapa ulama juga meminta umat Muslim untuk melakukan kekerasan atas nama ISIS, yang mengklaim serangan bom bulan Mei 2018 di Surabaya, dan menyebarkan kebencian atau memfitnah kelompok minoritas agama Indonesia, termasuk Kristen, Buddha, dan Hindu.

“Mayoritas orang yang pergi ke masjid-masjid ini adalah pegawai negeri, jadi itulah mengapa hal ini mengkhawatirkan,” kata juru bicara badan intelijen Wawan Purwanto kepada AFP. “Mereka adalah orang-orang yang menjalankan negara.”

Badan itu tidak merilis rincian tentang apa yang ditemukan di ratusan masjid lain yang tertutup oleh penyelidikannya. Tetapi dikatakan bahwa mereka juga menemukan tanda-tanda radikalisme yang mengkhawatirkan di tujuh universitas di antara beberapa ratus perguruan tinggi yang diperiksa sebagai bagian dari penyelidikan.

Investigasi BIN itu dipicu oleh laporan ahli anti-terorisme independen tahun 2017 yang menemukan imam di puluhan masjid di seluruh Indonesia mengekspresikan intoleransi dan dukungan untuk ISIS.

“Kita harus menghindari ini karena kita tidak ingin orang-orang di Indonesia berperang satu sama lain, yang akan mengarah pada hal-hal [buruk],” kata Purwanto.

Indonesia telah meningkatkan undang-undang anti-terornya untuk memberikan wewenang lebih kepada penguasa untuk menangkap para tersangka setelah serangan bom Surabaya.

Namun Purwanto mengatakan bahwa BIN akan mengambil pendekatan lunak untuk berurusan dengan para imam radikal dengan mencoba meyakinkan mereka untuk menyebarkan pesan yang lebih damai.

Ahli terorisme yang berbasis di Jakarta, Sidney Jones mengatakan bahwa BIN harus melampaui upaya hanya berbicara dengan ulama tentang khotbah mereka.

“Umumnya tidak cukup untuk berbicara dengan pengkhotbah. Anda harus pergi ke dewan pengembangan masjid dan melihat [siapa yang ada di balik] pembiayaan,” katanya. “Dan Anda harus memahami mengapa ada dukungan dari komunitas lokal.”

Baca Juga: Jemaah Islamiyah: Masih Jadi Ancaman Teroris Terbesar di Asia Tenggara, Terutama Indonesia

Keterangan foto utama: Sebuah laporan oleh Badan Intelijen Negara Indonesia yang memeriksa sekitar seribu masjid menemukan banyak di antaranya yang menyebarkan ideologi radikal dan kekerasan. (Foto: Wikimedia Commons/Midori)

BIN: Masjid di Indonesia Sebarkan Radikalisme kepada Pegawai Negeri

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top