bom di filipina
Asia

Bom Bunuh Diri Tewaskan 11 Orang di Filipina Selatan

Berita Internasional >> Bom Bunuh Diri Tewaskan 11 Orang di Filipina Selatan

Bom bunuh diri di Filipina Selatan pada Selasa (31/7), menewaskan 11 orang, yang mencakup seorang terduga pelaku bom, seorang tentara, lima pasukan paramiliter, dan empat warga sipil—termasuk seorang ibu dan anaknya—dan tujuh orang terluka. ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan ini.

Baca Juga: Bagaimana Seseorang Menjadi Pelaku Bom: Enam Langkah Menuju Terorisme

Oleh: Manuel Mogato (Reuters)

Sebuah bom diledakkan dalam sebuah mobil van di Filipina Selatan pada Selasa (31/7), yang menewaskan 11 orang di pos pemeriksaan militer, dalam serangan bunuh diri yang jelas, di mana ISIS mengklaim bertanggung jawab.

Ledakan itu terjadi di Basilan—pulau yang menjadi markas kelompok Abu Sayyaf yang terkenal jahat karena penculikan dan banditisme. Pulau itu juga merupakan rumah mantan pemimpin—atau “emir”—ISIS di Asia Tenggara, yang dibunuh tahun lalu oleh pasukan Filipina.

Seorang terduga pelaku bom, seorang tentara, lima pasukan paramiliter, dan empat warga sipil—termasuk seorang ibu dan anaknya—tewas, dan tujuh orang terluka dalam ledakan itu, seorang juru bicara militer mengatakan.

Pengeboman dengan kendaraan jarang terjadi di Filipina, meskipun terdapat beberapa dekade kekerasan separatis dan Islamis yang telah mengacaukan wilayah Mindanao, dan menarik para ekstremis asing.

Dalam pernyataan yang disampaikan oleh kantor berita Amaq, ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri itu, yang mereka sebut “operasi syahid”.

Juru bicara kepresidenan Harry Roque mengecam pengeboman itu sebagai sebuah “kejahatan perang”, dan menyebutnya sebagai sebuah “penggunaan kekuatan ilegal, bahkan di saat konflik bersenjata”.

Ledakan pada Selasa (31/7) terjadi beberapa saat setelah para pasukan menghentikan sebuah kendaraan dan berbicara kepada sang sopir—yang hanya seorang diri dan mungkin meledakkan bom itu—kata militer.

Seorang tentara yang menyaksikan serangan itu mengatakan dalam sebuah wawancara di radio Dzmm yang dikelola swasta, bahwa sopir tersebut berbicara dalam dialek yang tidak dikenal dan mungkin asing.

Namun begitu, juru bicara militer kolonel Edgard Arevalo mengatakan bahwa pasukan keamanan sedang melakukan penyelidikan, dan belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa insiden itu adalah pengeboman bunuh diri atau telah dilakukan oleh orang asing.

Intelijen menunjukkan bahwa para militan berencana membangun bom rakitan dan menargetkan pangkalan militer, tambahnya.

Konflik Laut China Selatan: Duterte Nyatakan Siap Hadapi 'Perang China-Filipina'

Presiden Filipina Rodrigo Duterte memakai rompi antipeluru dan helm sedang berbicara dengan pasukan di Marawi, 24 Agustus 2017. (Foto: Istana Kepresidenan/Handout via Reuters/File Photo)

Basilan adalah daerah yang tidak boleh dikunjungi bagi sebagian besar rakyat Filipina, dan negara-negara Barat biasanya memperingatkan warga agar menjauh karena kehadiran Abu Sayyaf dan serangan militer yang ganas terhadap para pejuangnya.

Baca Juga: Bom Bunuh Diri di 3 Gereja di Surabaya, 10 Orang Tewas

Abu Sayyaf terkenal karena menculik para nelayan dan kru dari kapal dagang sebagai sandera, dan memenggal kepala tawanan Barat yang tebusannya tidak dibayar.

Presiden Rodrigo Duterte berada di pulau tetangga pada akhir pekan, dan telah menawarkan perundingan damai dengan beberapa faksi Abu Sayyaf.

Tawaran Duterte datang dua hari setelah dia menyetujui undang-undang untuk mengizinkan minoritas Muslim di wilayah tersebut untuk menciptakan wilayah otonom baru, dengan kekuatan politik dan ekonominya sendiri.

Ledakan pada Selasa (31/7) adalah “serangan mengerikan” dan “tindakan pengecut”, kata anggota parlemen oposisi dan senator Risa Hontiveros, yang merupakan pendukung undang-undang otonomi  tersebut, dan mendesak bahwa serangan itu seharusnya tidak menggagalkan langkah menuju penentuan nasib sendiri bagi Muslim di wilayah itu.

Pengeboman itu adalah tanda bahwa para ekstremis bertekad menyabotase upaya perdamaian yang memiliki peluang untuk berhasil, kata pakar keamanan Rommel Banlaoi.

“Militan pro-Islam ini akan menjadi tantangan besar bagi penerapan UU Organik Bangsamoro,” katanya, mengacu pada undang-undang otonomi tersebut.

Keterangan foto utama: Tiga mayat tak dikenal ditutupi dengan kain di lokasi ledakan di Lamitan, Provinsi Basilan, Filipina selatan, pada Selasa (31/7). (Foto: AFP/Getty Images)

Bom Bunuh Diri Tewaskan 11 Orang di Filipina Selatan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top