Brexit
Eropa

Brexit No Deal: Perusahaan Berencana Ramai-Ramai Tinggalkan Inggris

Berita Internasional >> Brexit No Deal: Perusahaan Berencana Ramai-Ramai Tinggalkan Inggris

Para pebisnis memperingatkan bahwa banyak perusahaan bersiap untuk mengalihkan operasi ke luar negeri jika Brexit terlaksana tanpa kesepakatan. Dalam beberapa hari terakhir saja, 35 perusahaan telah mengaktifkan rencana untuk memindahkan operasi dari Inggris, atau menimbun barang untuk memerangi dampak terburuk Brexit. Kamar Dagang Inggris mengatakan, 75.000 anggotanya sudah mempersiapkan pendanaan untuk tinggalkan Inggris.

Baca Juga: Akankah Brexit Menghancurkan Partai Konservatif Inggris?

Oleh: Phillip Inman, Toby Helm, Daniel Boffey, dan Michael Savage (The Guardian)

Ribuan perusahaan Inggris telah memicu rencana darurat untuk mengatasi kemungkinan terjadinya Brexit tanpa kesepakatan. Banyak perusahaan bersiap untuk memindahkan operasi ke luar negeri jika Inggris keluar dari Uni Eropa, menurut Kamar Dagang Inggris.

Sebelum sebuah pekan yang krusial di parlemen, di mana para anggota parlemen akan mencoba untuk mengambil alih kendali dari pemerintah Perdana Menteri Inggris Theresa May untuk menunda Brexit dan menghindari terwujudnya Brexit no deal, Kamar Dagang Inggris mengatakan pihaknya percaya bahwa perusahaan-perusahaan yang telah melanjutkan rencana mereka hanyalah “fenomena gunung es” dan bahwa banyak dari 75.000 anggotanya sudah menghabiskan pendanaan vital untuk mempersiapkan Brexit yang berlangsung penuh kekacauan.

Dalam beberapa hari terakhir saja, 35 perusahaan telah mengaktifkan rencana untuk memindahkan operasi dari Inggris, atau menimbun barang untuk memerangi dampak terburuk Brexit.

Matt Griffith, direktur kebijakan di cabang barat Kamar Dagang Inggris, mengatakan bahwa lebih banyak perusahaan telah bertindak untuk melindungi diri mereka sendiri sejak kesepakatan Brexit May ditolak secara tegas oleh anggota parlemen di House of Commons awal bulan Januari 2019.

Menurut Griffith, “Sejak kekalahan kesepakatan perdana menteri, kami telah melihat peningkatan tajam dalam jumlah perusahaan yang mengambil tindakan untuk mencoba melindungi diri mereka sendiri dari efek terburuk Brexit tanpa kesepakatan. Brexit no deal telah berubah dari salah satu dari beberapa skenario yang memungkinkan menjadi tanggal pasti dalam buku harian Brexit.”

Anggota parlemen dari Partai Buruh Yvette Cooper telah mengungkapkan kepada the Observer bahwa dua pengusaha besar di daerah pemilihannya di Yorkshire Barat, produsen barang-barang mewah Burberry dan pembuat permen Haribo, telah menulis surat kepadanya, memperingatkan dampak merusak dari Brexit tanpa kesepakatan terhadap operasi mereka di Inggris. Burberry mempekerjakan 750 orang di Castleford, sedangkan Haribo mempekerjakan 700 orang di daerah pemilihannya.

Cooper mendorong amandemen House of Commons, yang kemungkinan akan dipilih dalam debat hari Selasa, 29 Januari 2019, yang akan membuka kemungkinan bagi penundaan Brexit hingga akhir tahun 2019.

Yvette Cooper telah mengungkapkan bahwa dua perusahaan besar di daerah pemilihannya telah memperingatkannya tentang efek dari Brexit tanpa kesepakatan. Foto: (Foto: PA Images/PA Wire/Joe Giddens)

Pekan lalu, beberapa pengusaha terbesar di Inggris, termasuk Airbus, produsen pesawat terbesar di Eropa, yang mempekerjakan 14.000 orang di Inggris dan mendukung kehidupan 110.000 orang lainnya melalui rantai pasokan, memperingatkan kemungkinan dampak buruk dari Brexit tanpa kesepakatan terhadap kegiatan di Inggris.

Baca Juga: Referendum Brexit Kedua dapat Perburuk Kekacauan Politik Inggris

Tom Enders, pimpinan Airbus, mengatakan, “Tolong jangan dengarkan kegilaan pendukung Brexit, yang menegaskan bahwa karena kami memiliki pabrik besar di sini, kami tidak akan keluar dan akan selalu di sini. Mereka salah.”

Sejak pemungutan suara untuk meninggalkan Uni Eropa pada tahun 2016, kelompok-kelompok bisnis termasuk Kamar Dagang Inggris dan Konfederasi Industri Inggris telah melobi para menteri, dengan alasan bahwa eksportir memerlukan akses ke serikat pabean Uni Eropa, yang memungkinkan barang-barang diimpor dengan bebas tarif.

Namun perdana menteri bersikeras bahwa Inggris harus meninggalkan serikat pabean dan pasar tunggal Uni Eropa agar hasil referendum 2016 sepenuhnya dihormati.

Kekhawatiran bisnis meningkat ketika May bersiap untuk serangkaian serangan House of Commons atas Brexit pekan ini. Selain langkah-langkah untuk menunda tanggal Brexit jauh setelah 29 Maret 2019, para anggota parlemen yang khawatir tentang situasi Brexit tepi tebing atau Brexit keras juga berencana untuk memaksa serangkaian “pemungutan suara indikatif” di parlemen pada berbagai alternatif ke depan, termasuk pengaturan gaya Norwegia dan referendum kedua.

Beberapa menteri, termasuk Menteri Pekerjaan dan Pensiun Amber Rudd dan Menteri Bisnis Richard Harrington telah mengisyaratkan mereka dapat mengundurkan diri jika May tidak mengizinkan mereka untuk mendukung rencana untuk menunda Brexit dengan memberikan free vote kepada semua anggota parlemen Tory termasuk para menteri atas isu tersebut.

Sementara itu, beberapa menteri kabinet pro-Brexit mendorong May untuk mengajukan amandemen sendiri yang bersumpah untuk menegosiasikan kembali kesepakatan Brexitnya, dalam upaya untuk memenangkan pendukung Brexit dari Partai Tory dan DUP Irlandia Utara. Kekhawatiran telah tumbuh dalam Tory bahwa kebuntuan dapat berakhir pada pemilihan yang dilakukan lebih awal.

Dalam tulisannya baru-baru ini di The Observer, menteri kabinet David Lidington mengatakan ia juga memiliki kekhawatiran tentang Brexit tanpa kesepakatan dan mengatakan bahwa pemerintah bermaksud untuk mengembalikan kesepakatan yang telah direvisi kepada House of Commons untuk “pemungutan suara yang bermakna” bulan Februari 2019. “Setelah kami memiliki cetak biru untuk rencana yang dapat mengamankan dukungan House of Commons, perdana menteri akan kembali ke Uni Eropa,” tulis Lidington. “Anggota parlemen kemudian akan memiliki pemungutan suara yang bermakna sesegera mungkin.”

Sementara itu, presiden komisi Eropa Jean-Claude Juncker telah memperingatkan Theresa May dalam panggilan telepon pribadi bahwa mengubah posisinya mendukung serikat pabean permanen adalah harga yang harus dia bayar untuk Uni Eropa yang merevisi backstop Irlandia. Dia mengatakan tanpa perubahan besar dalam posisi May, ketentuan saat ini dari perjanjian penarikan adalah “tidak bisa dinegosiasikan.”

Rincian panggilan telepon itu, yang terdapat dalam catatan diplomatik yang bocor, muncul ketika wakil Juncker, Frans Timmermans, mengatakan kepada the Observer bahwa tidak ada tekad yang melemah di Uni Eropa dalam mendukung Irlandia, dan menuduh anggota Tory pendukung Brexit telah melakukan pendekatan “angkuh” untuk mencapai perdamaian.

“Biarkan saya perjelas: saya tidak akan tinggal diam dalam situasi di mana kita mempersulit Irlandia,” kata Timmermans.

Keterangan foto utama: Kamar Dagang Inggris telah memperingatkan bahwa para anggotanya sedang bersiap-siap untuk keluarnya Inggris dari Uni Eropa. (Foto: Reuters/Henry Nicholls)

Brexit No Deal: Perusahaan Berencana Ramai-Ramai Tinggalkan Inggris

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top