Cak Jancuk: Julukan Vulgar untuk Presiden Jokowi yang Picu Kontroversi
Berita Politik Indonesia

Cak Jancuk: Julukan Vulgar untuk Presiden Jokowi yang Picu Kontroversi

Berita Internasional >> Cak Jancuk: Julukan Vulgar untuk Presiden Jokowi yang Picu Kontroversi

Gelar baru telah diberikan kepada Presiden Indonesia Joko Widodo oleh para pendukungnya pada akhir pekan. Para kritikus berpendapat julukan Cak Jancuk itu ofensif dan tidak sopan. Anggota oposisi juga mengkritik julukan itu, mengatakan bahwa Jokowi secara tidak langsung menunjukkan penghinaan terhadap jabatan presiden dengan menerima gelar seperti itu.

Oleh: Resty Woro Yuniar (South China Morning Post)

Cak Jancuk. Julukan baru yang diberikan kepada Presiden Indonesia Joko “Jokowi” Widodo oleh para pendukungnya di Jawa Timur pada akhir pekan telah menimbulkan kontroversi di antara para pengamat politik.

Presiden Jokowi menghadiri sebuah acara di kota Surabaya, Jawa Timur pada hari Sabtu (2/2) yang diselenggarakan oleh sekelompok mantan siswa yang menyebut diri mereka Forum Alumni Jatim. Mereka menyatakan dukungan untuk Jokowi dan cawapres yang mendampinginya, ulama Islam Maruf Amin, pada acara yang diadakan menjelang Pilpres 2019 tanggal 17 April mendatang.

Baca Juga: Kegagalan Menarik Pemilih Konservatif Ancam Perolehan Suara Jokowi

Ma’ruf Amin

Calon wakil presiden pasangan Joko Widodo, Ma’ruf Amin, membiarkan Presiden Indonesia tersebut berbicara lebih banyak darinya selama serangkaian debat pertama di televisi pada tanggal 17 Januari 2019. (Foto: AP)

Sebagai bagian dari prosesi acara, Jokowi dianugerahi gelar kehormatan untuk tokoh pria yang disegani, “cak,” yang menurut kelompok tersebut dapat diartikan sebagai singkatan dari “cakap, agamis, dan kreatif.”

Masalah muncul ketika komedian lokal Djadi Galajapo, yang menjadi tuan rumah acara tersebut, memutuskan untuk menambahkan gelar. Dia menyebut Jokowi “jancuk”, sebuah istilah slang lokal yang secara harfiah berarti hubungan seks untuk kesenangan orang lain.

Namun, istilah “jancuk” juga digunakan di Jawa Timur sebagai panggilan yang bernada vulgar tapi ramah untuk merujuk pada teman atau orang yang dicintai, sama halnya dengan penggunaan istilah profan serupa “cunt” yang merujuk pada alat kelamin wanita di sebagian Inggris dan Australia.

Djadi Galajapo mengklaim bahwa jancuk menurutnya adalah singkatan dari berarti jantan, cakap, ulet, dan komitmen, yang menurutnya adalah karakteristik positif Jokowi.

Wawan Sobari, seorang dosen dan analis di Jurusan Ilmu Politik di Universitas Brawijaya, Malang, sepakat bahwa istilah itu tidak selalu memiliki konotasi negatif. “Ini adalah bagian dari subkultur yang ada di Surabaya atau Malang, di mana orang menggunakan bahasa Jawa tingkat rendah yang sangat berbeda dari bahasa Jawa tingkat tinggi yang digunakan di Solo atau Yogyakarta,” kata Sobari. “Orang Jawa lain mungkin menganggapnya hanya sebagai kata makian, tapi di sini kita juga bisa menggunakannya sebagai panggilan ramah.”

Julukan itu tak pelak juga memicu kontroversi. Autar Abdilah, seorang dosen Fakultas Bahasa dan Seni di Universitas Negeri Surabaya, mengatakan kepada kanal berita lokal Detik bahwa “tidak etis” untuk memanggil pejabat tinggi seperti presiden dengan istilah “jancuk.”

Anggota oposisi juga mengkritik julukan itu, mengatakan bahwa Jokowi secara tidak langsung menunjukkan penghinaan terhadap jabatan presiden dengan menerima gelar seperti itu.

“Saya tidak percaya,” Fadli Zon, wakil ketua Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang didirikan oleh capres lawan Jokowi dalam Pilpres 2019 mendatang, Prabowo Subianto, mengatakan kepada Detik. “Jika dia menerima gelar itu, bisakah kita memanggilnya Cak Jancuk sekarang? Atau apakah kita akan dituntut dengan pidato kebencian?”

Wawan Sobari mengatakan bahwa kontroversi itu tidak mungkin mengesampingkan kepemimpinan Jokowi atas Prabowo menjelang pilpres, terutama di Jawa Timur di mana capres petahana tersebut mendapatkan dukungan kuat.

“Jokowi terkenal sederhana, kepribadiannya ramah dengan para pemilih dari kelas sosial ekonomi rendah, dia sudah seperti itu sejak ia menjabat sebagai Walikota Solo, Gubernur Jakarta, dan sekarang sebagai presiden,” kata Wawan Sobari, menambahkan bahwa julukan itu bahkan dapat membantu popularitasnya di antara segmen populasi tertentu. “Dengan menerima gelar jancuk, Jokowi dapat meningkatkan popularitasnya di antara kelompok demografis yang menggunakan kata tersebut sebagai simbol keakraban. Dia ingin dilihat setara dengan anggota kelas sosial ekonomi rendah.”

Baca Juga: Pemilih Golput Berpotensi Gerus Perolehan Suara Jokowi

Keterangan foto utama: Jokowi menunggu di dalam istana presiden sebelum pertemuan di Jakarta, 15 Maret 2016. (Foto: Reuters/Darren Whiteside)

Cak Jancuk: Julukan Vulgar untuk Presiden Jokowi yang Picu Kontroversi

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top