korban tsunami
Berita Politik Indonesia

Cari Uang dari Korban Tewas Tsunami Selat Sunda

Berita Internasional >> Cari Uang dari Korban Tewas Tsunami Selat Sunda

Tsunami telah menghancurkan kehidupan ribuan orang. Lebih dari 400 keluarga kehilangan anggota keluarganya. Namun di rumah sakit, dari semua tempat yang ada, orang-orang telah menghasilkan uang dari penderitaan para korban.

Baca Juga: Indonesia Alihkan Semua Penerbangan di Sekitar Letusan Anak Krakatau

Oleh: Deutsche Welle

Ketika kerabat para korban tsunami datang untuk mengambil jenazah orang yang mereka cintai dari Rumah Sakit Kabupaten Serang di Provinsi Banten—sekitar 150 kilometer (90 mil) dari wilayah pesisir Jawa yang porak poranda—mereka dalam keadaan terguncang. Jackson Sinaga dari Jakarta adalah salah satunya. Dia kehilangan putranya yang berusia 9 bulan karena tsunami, yang dipicu oleh runtuhnya gunung berapi Anak Krakatau sebelum Natal.

“Satria tertidur lelap di sebuah vila sewaan di Pantai Carita ketika tsunami menerjang bangunan,” katanya. “Itu terjadi begitu cepat—saya tidak punya waktu untuk menyelamatkan anak laki-laki saya.”

Trauma dan terganggu oleh perasaan bersalah, Jackson datang untuk mengambil jasad bocah itu dari rumah sakit di Serang. Namun, alih-alih mendapat simpati, ayah berusia 29 tahun itu dihadiahi tagihan yang lumayan. Dia mengatakan bahwa dia harus membayar Rp800 ribu, yang harus dia bayar untuk pengangkutan jenazah.

“Harus tunai,” tambah karyawan departemen forensik tersebut. Itu adalah jumlah uang yang besar, di negara di mana upah bulanan rata-rata kurang dari Rp3,9 juta. Jackson, bagaimanapun, tidak mampu berpikir rasional, dan menyerahkan uang itu.

Anggota keluarga korban ditipu. (Foto: DW/J.Kung)

Tiga keluarga korban lain bertemu di luar gedung. Mereka juga diberi tahu bahwa mereka harus membayar uang—sekitar Rp4 juta. Terlepas dari kenyataan bahwa Kementerian Kesehatan Indonesia membayar semua biaya akibat bencana tsunami, secara penuh, dengan uang dari kas pemerintah.

Baca Juga: ‘Bencana Dapat Lebih Banyak Likes’: Pemburu Selfie di Tengah Bencana Tsunami Banten

Perdebatan terjadi di antara kerabat para korban meninggal. Salah satu orang yang telah ditipu mengumpulkan tanda terima dan berjanji untuk membawanya ke pihak berwenang setempat.

Tanda terima dikeluarkan dengan kop surat yang dipalsukan

DW mendatangi rumah sakit yang dituduh, dan diundang untuk berbicara dengan Wakil Direkturnya, Rahmat Fitriadi. Ketika ditanya apakah rumah sakit tahu tentang tindakan ilegal itu, Fitriadi menangis. “Baik manajemen maupun dokter kami tidak mengenakan biaya untuk layanan apa pun. Kami tidak ada hubungannya dengan skema ini,” kata Fitriadi, terisak.

Kop surat resmi pada tanda terima dipalsukan, lanjutnya, sambil mengusap air matanya. “Ini adalah tragedi bagi rumah sakit kami. Saya harap skandal ini tidak merusak reputasi kami. Kami mendukung penyelidikan pihak berwenang dan memberi mereka semua informasi yang tersedia.”

Fitriadi mengatakan bahwa rumah sakitnya tidak ada hubungannya dengan penipuan itu. (Foto: DW/J.Kung)

Para penyelidik dari kepolisian provinsi di Banten menginterogasi dokter, ilmuwan forensik, dan personel rumah sakit—dan menemukan fakta yang rumit. Tampaknya setidaknya Rp15 juta telah lenyap ke kantong karyawan rumah sakit.

Sejauh ini, enam keluarga yang ditipu telah diidentifikasi. Seorang karyawan departemen forensik dan dua orang yang bekerja di layanan darurat telah ditangkap atas dugaan korupsi. Investigasi pihak berwenang sedang berlangsung.

Hukuman penjara yang panjang

Bukan hal yang baru di Indonesia bagi para pekerja di lembaga publik untuk menuntut pembayaran ilegal atau mengeluarkan tanda terima ilegal. Departemen lalu lintas hanya akan mengeluarkan SIM dalam waktu yang wajar jika Anda melakukan “pembayaran ekstra.” Guru-guru di sekolah umum dapat disuap untuk memberikan jawaban atas pertanyaan ujian.

Presiden Joko Widodo telah berulang kali berjanji untuk memberantas korupsi yang merajalela. Yang terbaru adalah orang-orang menguangkan kesengsaraan korban tsunami. Jika terbukti bersalah, mereka bisa menghadapi hukuman seumur hidup; mereka pasti akan masuk penjara setidaknya selama empat tahun.

Namun, untuk Jackson Sinaga saat ini, penangkapan tidak begitu menarik. “Saya hanya berharap bahwa tidak ada lagi kerabat yang selamat yang ditipu dan menghadapi kurangnya empati,” katanya. Keluarga Sinaga jelas kehilangan kepercayaan di Rumah Sakit Kabupaten Serang. Saudara laki-laki dan perempuan Jackson—yang juga terluka parah akibat tsunami—tidak lagi dirawat di Serang, tetapi di sebuah rumah sakit di Jakarta.

Keterangan foto utama: Beberapa oknum di satu rumah sakit di dekat area terjadinya tsunami menggunakan kesempatan untuk mereguk keuntungan dari keluarga korban yang meninggal. (Foto: DW/J. Kung)

Cari Uang dari Korban Tewas Tsunami Selat Sunda

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top