Idlib
Timur Tengah

Cerita dari Idlib di Tengah Bentrokan Pasukan Rezim Assad dan Pemberontak Suriah

Berita Internasional >> Cerita dari Idlib di Tengah Bentrokan Pasukan Rezim Assad dan Pemberontak Suriah

Seiring gempuran yang terus terjadi di Idlib, Suriah, benteng terakhir pasukan pemberontak, puluhan ribu warga harus melarikan diri. Militer pemerintah Suriah telah menggunakan bom-bom–beberapa di antaranya dilarang oleh peraturan internasional–untuk merebut provinsi terakhir ini, yang akan menandakan kemenangan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad terhadap pemberontak. Beberapa warga yang dipaksa mengungsi membagikan kisah mereka.

Baca juga: Abaikan Perbedaan, Turki dan Amerika Harus Bekerja Sama untuk Hindari Bencana di Idlib

Oleh: Ben Wedeman, Tamara Qiblawi, Waffa Munayyer, dan Kareem Khadder (CNN)

Ketika kampanye militer berskala besar berkobar di benteng pertahanan terakhir pemberontak Suriah, warga Suriah di kedua sisi perbatasan bersiap untuk menghadapi pertempuran berdarah. Di provinsi Idlib yang dikuasai pemberontak, jutaan penduduk terjebak di antara bom-bom pesawat Rusia dan Suriah serta para militan yang telah memblokir keberangkatan mereka.

Di luar wilayah pemberontak, tentara Suriah dan pasukan lokal berkumpul di perbatasan untuk mencoba menangkal potensi pembalasan. CNN mengunjungi negara tersebut untuk melakukan liputan dengan izin dari pemerintah Suriah.

“Kami pikir situasinya semakin tenang, jadi saya menikmati malam di atap ketika saya merasakan roket terbang di atas kepala saya,” kata Ghawi Salloum dari kota Mouhardeh, dekat perbatasan dengan wilayah pemberontak.

Roket itu mendarat di dekat rumahnya dan menewaskan dua keponakannya saat mereka sedang membantu orangtuanya. Delapan orang lainnya juga tewas dalam serangan pemberontak pekan lalu.

“Begitu saja, roket menghujani kami dan kami mengirimkan 10 mayat ke gereja,” kata Salloum.

Di dalam Idlib, sekitar 3 juta warga sipil berebut mencari keamanan ketika pasukan Rusia dan Suriah bersumpah untuk berusaha lebih keras menguasai provinsi itu. Mereka berduyun-duyun ke perbatasan Turki, yang telah tertutup bagi warga Suriah sejak tahun 2015, berharap bahwa kedekatannya dengan kekuatan NATO akan memberikan sedikit kelonggaran.

Dalam beberapa pekan terakhir, pesawat Suriah dan Rusia telah melakukan sejumlah serangan udara di Idlib, tembakan peringatan yang jelas dalam persiapan untuk mengantisipasi serangan. Dalam sebuah laporan pada hari Jumat (14/9), Amnesty International menuduh pemerintah Suriah menggunakan senjata tandan yang tidak sah dan bom-bom barel tak terarah dalam serangan-serangan itu.

“Pemerintah Suriah secara rutin menggunakan bom tandan dan bom laras yang dilarang di seluruh Suriah untuk menimbulkan bahaya dan penderitaan yang parah pada warga sipil,” kata peneliti Amnesty International Suriah, Diana Semaan dalam pernyataan hari Jumat (14/9). “Kini mereka telah mulai melipatgandakan serangan mengerikan ini di Idlib, dan kami tidak memiliki alasan untuk percaya bahwa mereka akan berhenti.”

Keluarga Pengungsi

Keluarga Layla, gadis berusia 15 tahun yang ketakutan, adalah salah satu dari jutaan keluarga yang terpaksa mengungsi setelah terjebak dalam bentrokan perang saudara yang brutal di Suriah.

“Saya tidak tahu ke mana kami akan pergi,” kata Layla, gemetar di belakang reruntuhan pickup. “Ini pertama kalinya kami mengungsi.”

Minggu ini, kota terpencil mereka di pedesaan Provinsi Idlib diserang oleh helikopter pemerintah Suriah.

Layla dan keluarganya bersiap menghadapi serangan jarak dekat di Idlib. (Foto: CNN/Fadi Al Halabi)

Layla dan keluarganya kini telah bergabung dengan lebih dari enam juta warga Suriah yang dipaksa meninggalkan desa-desa dan kota-kota yang telah menjadi medan pertempuran sejak perang saudara berdarah pecah lebih dari tujuh tahun yang lalu. Sebelumnya, kota mereka sejauh ini telah terhindar dari dampak perang.

“Ini adalah pertama kalinya kami menyaksikan pengeboman,” kata Layla. “Kami sudah melihatnya di televisi dan telepon, dan sekarang tepat di depan mata kami.”

Kelompok Bersenjata Melakukan Penahanan

Para pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan, dalam sepekan terakhir saja, lebih dari 30 ribu orang telah melarikan diri dari pertempuran di Idlib ketika pasukan pemerintah Suriah, yang didukung oleh pesawat Rusia, mempersiapkan serangan yang telah sangat diantisipasi, untuk merebut kembali bagian terakhir Suriah yang masih di bawah kendali kelompok oposisi bersenjata.

Kelompok-kelompok bersenjata di provinsi yang dikuasai pemberontak, yang semakin didominasi oleh ekstrimis Islam, sejak awal Agustus 2018 telah menangkap orang-orang yang mendukung dan mengupayakan rekonsiliasi dan melakukan perjanjian penyerahan diri dengan rezim Suriah, menurut pernyataan dari para anggota oposisi, kelompok-kelompok bersenjata itu sendiri, dan seorang aktivis berbasis Idlib yang berbicara dengan CNN pada hari Senin (10/9).

“Semua kelompok militan oposisi termasuk Hayet Tahrir Al-Sham (afiliasi al-Qaeda), semua kelompok Tentara Pembebasan Suriah, Front Pembebasan Nasional, Jaish al-Izza, dan lain-lain di seluruh provinsi Idlib, mengambil keputusan bahwa siapapun yang menjalin komunikasi dengan rezim Suriah atau Rusia melalui pusat rekonsiliasi Rusia, akan dan telah ditangkap,” kata aktivis berbasis Idlib kepada CNN pada hari Senin (10/9). Dia berbicara dengan menyembunyikan identitas karena khawatir akan retribusi.

Perbatasan di Puncak Bukit

Di atas bukit menghadap Idlib, terdapat sekelompok pasukan Kristen lokal yang mendukung pemerintah Suriah. Dataran hijau dan coklat membentang luas di depan mereka.

“Seluruh area yang berwarna hijau adalah milik kami. Daerah-daerah tandus adalah milik mereka,” kata seorang sukarelawan untuk pasukan lokal, yang dikenal sebagai Pasukan Pertahanan Nasional, yang tidak ingin disebutkan namanya karena alasan keamanan.

Posisi artileri di puncak bukit di barat laut Hama memiliki meriam, tank lapuk, dan senjata AK-47. Perbatasan dengan kubu pemberontak terletak hanya sejauh dua kilometer.

Ibu, saudara perempuan, dan bibi dari dua gadis, Leen dan Selena, yang meninggal dalam serangan roket pemberontak pekan lalu sedang berduka. (Foto: CNN/Claudia Otto)

Di belakang markas kelompok tersebut terdapat kota Kristen Mouhardeh, dengan sekitar 27 ribu orang berusaha tetap di rumah mereka meski sering dilintasi tembakan roket dari pasukan pemberontak.

“Setiap ibu di sini telah kehilangan seorang anak, karena roket, dan juga karena mereka bergabung dengan tentara. Tetapi kebanyakan karena hantaman roket,” kata penduduk asli Mouhardeh, Sabah Gerges.

Mouhardeh merupakan tempat kejadian serangan roket minggu lalu yang menewaskan dua keponakan Ghawi Salloum. Pria lain, Shadi Shahda, kehilangan anak-anaknya, ibu, dan istrinya. Beberapa pria kota telah berkumpul di teras rumahnyanya sejak serangan, berharap untuk menemaninya berduka.

Tiga rumah di dekatnya, di sebuah rumah putih yang dipernis, Salloum menunjukkan kepada CNN foto-foto dua keponakannya yang meninggal saat membantu orangtuanya. Leen Salloum berusia 12 tahun. Adiknya, Selena, hanya berusia 4 tahun.

“Mereka anak-anak yang cantik. Kami bersyukur atas waktu yang kami miliki bersama mereka,” katanya. “Tapi sekarang mereka telah pergi selamanya.”

Kembali pada posisi artileri, komandan Pasukan Pertahanan Nasional Simon al-Wakeel mengatakan anak buahnya telah mengusir serangan pemberontak ke desa setidaknya 20 kali selama enam tahun terakhir. Dia mengatakan dia ingin negara-negara Barat memahami bahwa perjuangan mereka adalah melawan “ekstremis” Islam.

“Terdapat kelompok Al-Qaeda di sisi lain,” katanya, merujuk pada Hayat Tahrir al-Sham, salah satu kekuatan tempur utama di Idlib dan mantan afiliasi al-Qaeda. “Mereka adalah orang-orang yang menyerang Amerika pada peristiwa 9/11.”

Turki Menghindari Pengungsi Lebih Lanjut

Akhirnya truk yang mengangkut keluarga Layla tiba di kamp yang baru didirikan di lereng bukit berbatu di dekat perbatasan Turki. Mereka tidak bisa pergi lebih jauh.

Ketika Idlib bersiap atas serangan pasukan pemerintah, Turki telah menegaskan tidak akan membuka perbatasannya lagi untuk pengungsi Suriah. Turki telah menampung lebih dari tiga juta warga Suriah dan menolak untuk menerima lebih banyak.

Layla dan ibunya serta saudara laki-laki dan perempuannya menunggu di belakang pickup, sementara ayahnya, yang memperkenalkan dirinya sebagai Abu Muhammad, dibantu oleh pendatang baru lainnya, memasang tiang-tiang aluminium dan terpal plastik biru dan putih yang akan segera menjadi rumah baru mereka, sebuah tenda dengan lantai beton dingin.

Ketika akhirnya selesai, Abu Muhammad kembali ke truk dan mengangkat Layla di pelukannya. Layla lahir dalam kondisi difabel dan tidak bisa berjalan. Abu Muhammad membawa Layla ke tenda, dan dengan lembut membaringkannya di atas selimut cokelat kasar yang terbentang di lantai.

Paman Layla membawanya ke tenda yang baru didirikan keluarganya. Dia tidak dapat berjalan sejak lahir. (Foto: CNN/Fadi Al Halabi)

Selain beberapa kasur, tempat tidur bayi, dan dua tas kecil, tenda itu relatif kosong. Mereka meninggalkan rumah mereka dengan terburu-buru.

“Kami melarikan diri hanya dengan membawa nyawa kami,” kata Abu Muhammad. “PBB memberi kami tenda ini, tetapi tidak ada isi apapun.” Perhatian utamanya adalah merawat Layla.

Baca juga: Antisipasi Berlanjutnya Perang Suriah, Turki Kerahkan Pasukan di Perbatasan Idlib

Sebelum dia dan keluarganya melarikan diri ke daerah perbatasan, Abu Muhammad bekerja memperbaiki tungku dan menghasilkan cukup uang untuk memberi makanan dan pakaian istri dan enam anaknya dan memberikan perawatan ekstra yang dibutuhkan Layla. Tidak lebih.

Meskipun demikian, ia menganggap dirinya beruntung memiliki atap di atas kepalanya, bahkan jika itu hanyalah atap terpal plastik. “Ada orang-orang yang tidur di bawah pohon atau di mobil sambil tetap melarikan diri di jalanan,” katanya.

Layla tidak begitu tabah. Dia melihat ke sekeliling tenda dan berkata dengan suara bergetar, “Saya tadinya tidak mau ikut mengungsi. Saya tidak mau.” Dia kemudian memalingkan kepalanya, tangisnya pecah.

Laporan untuk CNN oleh Tamara Qiblawi, Frederik Pleitgen, dan Claudia Otto dari barat laut Suriah; Ben Wedeman dari Beirut, Lebanon; Waffa Munayyer dari Atlanta; dan Kareem Kadder dari Amman, Yordania.

Keterangan foto utama: Layla menangis saat dia mengingat rencana pengungsian keluarganya. (Foto: CNN/Fadi Al Halabi)

Cerita dari Idlib di Tengah Bentrokan Pasukan Rezim Assad dan Pemberontak Suriah

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top