China dan Rusia
Global

China dan Rusia: Sahabat Baru Berkat Ketakutan Amerika

Berita Internasional >> China dan Rusia: Sahabat Baru Berkat Ketakutan Amerika

Latihan militer yang diselenggarakan belum lama ini menyoroti semakin dekatnya hubungan China dan Rusia, yang didasarkan pada konvergensi kepentingan nasional, pandangan serupa tentang tatanan dunia—dan kebutuhan aliansi untuk melawan Amerika Serikat yang suka berperang. Namun beberapa pihak mengatakan, kemitraan mereka hanyalah kenyamanan yang dangkal dan sementara.

Baca Juga: Vostok 2018: Latihan Perang Terbesar Rusia-China, Peringatan bagi Amerika?

Oleh: Alexander Lukin (South China Morning Post)

Keterlibatan pasukan China dan perangkat militernya dalam latihan militer yang diselenggarakan belum lama ini di Timur Jauh Rusia dan Siberia—latihan yang terbesar sejak tahun 1981—telah memicu kepentingan baru dalam pemulihan hubungan antara China dan Rusia.

Barat bereaksi dengan cara yang sudah bisa diprediksi, dengan beberapa pengamat mengklaim bahwa Rusia dan China telah lama menjadi sekutu dan sekarang sedang mempersiapkan perang dengan Amerika Serikat (AS), dan yang lainnya menampik kedekatan mereka yang semakin erat ini dan menyebut kedekatan itu hanya “kemitraan dengan tingkat kenyamanan yang dangkal”.

Kedua sikap ini menjustifikasi kebijakan AS dan sekutu-sekutunya. Yang pertama melayani kepentingan mereka yang mengadvokasi pembangunan militer dan meningkatkan pembelanjaan pertahanan untuk melawan ancaman militer khayalan, sementara yang kedua menjustifikasi sanksi yang semakin meningkat dan tekanan pada sengketa perdagangan kedua negara tersebut secara bersamaan—dengan alasan, bahwa pendekatan semacam itu tidak menyebabkan mereka untuk membentuk aliansi anti-AS.

Faktanya, hubungan antara Rusia dan China terus meningkat selama lebih dari seperempat abad. Meskipun mereka berselisih di tahun 1960-an dan 1970-an, kedua negara itu telah semakin dekat sejak tahun-tahun terakhir Uni Soviet dan kini telah mencapai titik “kemitraan strategis dan interaksi”.

Kenyataan bahwa China mengubah pemimpinnya beberapa kali selama periode itu dan Rusia mengubah seluruh sistem politiknya menunjukkan bahwa pendekatan hubungan Rusia-China tidak didasarkan pada ideologi sementara atau tujuan politik, tetapi pada konvergensi kepentingan nasional.

Secara global, kedua negara itu mendukung pelestarian sistem hukum internasional pasca perang dunia kedua berdasarkan PBB dan Dewan Keamanannya. Hal ini dapat dimengerti mengingat Rusia dan China, bahkan bersama-sama, lebih lemah daripada AS dan sekutu-sekutunya, tetapi veto Dewan Keamanan mereka menempatkan mereka setara dengan AS dan memberi mereka kontrol atas keputusan PBB. Dalam pengertian ini, AS adalah kekuatan revolusioner dalam hubungan internasional, sementara Rusia dan China adalah konservatif.

Hubungan antara Rusia dan China kini telah mencapai tingkat ‘kemitraan dan interaksi strategis’. (Foto: AFP)

Rusia dan China menganjurkan multipolaritas—sebuah dunia yang tidak didasarkan pada dominasi kekuatan pusat, tetapi pada interaksi beberapa pusat utama. Di dunia seperti itu, mereka bisa memainkan peran yang penting dan independen.

Baca Juga: Opini: Walau Terdengar Aneh, Permainan Perang China-Rusia Harus Disambut

Kedua negara itu berbagi pandangan umum tentang sebagian besar konflik regional: Irak, Libya, Suriah, dan masalah nuklir Iran dan Korea. China telah menjadi mitra dagang terbesar Rusia selama tujuh tahun terakhir ini. Meskipun Rusia memiliki bagian yang lebih kecil dari perdagangan luar negeri China, China membeli barang-barang penting dari Rusia, seperti sistem persenjataan—yang tidak dapat dibeli di tempat lain—dan bahan mentah, yang dibutuhkan untuk mendiversifikasi rantai pasokannya. Akhirnya, kerja sama antara wilayah perbatasan mereka memainkan peran penting dalam pembangunan kedua negara itu. Keputusan Presiden China Xi Jinping untuk menghadiri Forum Ekonomi Timur di Vladivostok pada awal September menggarisbawahi pentingnya kerja sama semacam itu.

Rusia dan China telah mengembangkan infrastruktur yang luas untuk kerja sama, dari pertemuan tahunan antara para pemimpin senior hingga sejumlah komisi antar pemerintah dan kontak tingkat bawah. Hampir setiap wilayah Rusia, kota, universitas, dan pusat penelitian sekarang memiliki hubungan “persaudaraan” permanen dengan mitra di China. Baik Rusia maupun China tidak memiliki tingkat kerja sama yang sama dengan negara lain.

Banyak pengamat asing menyebarkan mitos tentang hubungan Rusia-China dalam upaya untuk membawa keduanya ke dalam konflik atau mengingkari realitas kedekatan mereka. Kedua negara tersebut juga telah memiliki penentang internal. Sebagian besar penentang di Rusia adalah anggota oposisi politik—yang pro-Barat yang memandang China sebagai diktator komunis yang bermusuhan atau yang konservatif yang menganggap semua kekuatan asing bertentangan. Di China, pendukung liberalisme atau nasionalis pro-Barat seperti itu menganggap Rusia sebagai negara lemah yang harus dihukum karena rezim tsar-nya pernah mempermalukan China. Kekuatan-kekuatan ini masih marginal di kedua negara, dan tidak memainkan peran penting.

Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin di China. Kedua negara ini telah mengembangkan infrastruktur yang luas untuk kerja sama, termasuk pertemuan puncak tahunan antara para pemimpin senior. (Foto: Reuters)

Mitos-mitos yang paling umum menunjukkan China sedang memperluas demografinya ke Rusia Timur. Kedua negara itu berselisih di Asia Tengah, dan China berusaha mengintimidasi Rusia dengan kekuatan ekonominya yang tidak proporsional itu. Tapi tak satu pun dari ini benar. Faktanya, lebih sedikit warga China yang tinggal di wilayah timur Rusia daripada di Rusia, dan sebagian besar dari mereka berada di negara itu secara legal. Terlebih lagi, kebanyakan orang di China utara mencoba untuk pindah ke bukan ke Rusia, tetapi ke China selatan, demi iklim dan kondisi hidup yang lebih baik.

Meskipun pengaruh China di Asia Tengah sudah pasti akan tumbuh, hal itu menimbulkan lebih sedikit ancaman bagi kepentingan Rusia daripada pengaruh destruktif AS. Kebijakan AS untuk kawasan ini memiliki potensi untuk membiakkan jenis kekacauan yang sama seperti yang terjadi di Libya dan Irak. Rusia dan China akan bekerja sama dengan erat di Asia Tengah, khususnya di dalam Organisasi Kerjasama Shanghai dan memperluas mekanisme untuk menghubungkan Sabuk Ekonomi Jalan Sutra China dengan perkembangan Uni Ekonomi Eurasia—yang terdiri dari lima negara bekas Soviet, termasuk Rusia.

Baca Juga: Amerika Kembalikan Pertahanan Rudal ‘Star Wars’ untuk Hadapi China & Rusia: Apakah Sesuai Harapan?

Tentu saja, Rusia menyadari ketidakseimbangan ekonomi yang semakin timpang dengan China dan tahu bahwa ia harus bekerja cepat untuk memacu pertumbuhan ekonominya sendiri. Tetapi bahkan jika kesenjangan itu terus melebar, tidak secara otomatis ancaman dari China meningkat. Apalagi, Kanada tidak takut dengan AS, dan Belgia tidak memiliki kekhawatiran tentang Prancis. Itu semua tergantung pada sifat hubungan bilateral antara Rusia dan China, dan untuk saat ini, hubungan itu semakin mendalam.

Tren ini akan terus berlanjut, sebagian besar berkat pendekatan yang sangat tidak bersahabat yang dilakukan AS terhadap kedua negara ini. Ini bukan tentang Presiden AS Donald Trump atau pejabat lainnya; Trump hanyalah simbol dari situasi yang lebih besar. AS telah lama terbiasa mendapatkan keuntungan dari dominasi ekonomi globalnya, tetapi pengaruhnya menurun, ketika pengaruh relatif dari pusat-pusat kekuasaan lainnya, termasuk Rusia dan China, sedang tumbuh. Pemerintah AS merasa sangat jengkel keruntuhan Uni Soviet tidak menandai “akhir sejarah” dan kemenangan akhir AS, tetapi itulah awal dari perkembangan global baru yang kurang menguntungkan.

Rusia dan China semakin dekat karena pendekatan bermusuhan yang telah dilakukan AS terhadap kedua negara itu. (Foto: AP)

Dalam upaya mempertahankan posisinya di dunia, AS terus berperilaku seperti hegemon dan menjadi semakin galak jika menemui perlawanan. Periode saat ini—di mana AS harus belajar pelajaran yang menyakitkan di sekolah multipolaritas—akan sangat berbahaya. Rusia dan China adalah instruktur utama di sekolah ini, peran yang memperkuat ikatan di antara mereka.

Baca Juga: Latihan Perang Vostok 2018: Kemesraan Militer Rusia dengan China

Hubungan ini, bagaimanapun, tidak mungkin mengarah ke aliansi formal yang mencakup kewajiban pertahanan bersama. Ada tiga preseden historis untuk aliansi tersebut, dan ketiganya gagal. Jelas, Rusia dan China terlalu besar dan terlalu kuat untuk terbelenggu oleh komitmen timbal balik yang begitu besar.

Menanggapi sanksi anti-Rusia Barat, Rusia memberikan akses kepada investor China ke sektor energinya, mencapai kesepakatan untuk penjualan senjata paling modern, dan membangun kerjasama militer yang lebih erat dengan China.

Tarif perdagangan Trump dan penanggulangan China menyebabkan China mencari pemasok alternatif produk pertanian seperti kedelai. Akibatnya, China mungkin mulai mengimpor lebih banyak kedelai dari Rusia dan berinvestasi dalam produksi kedelai di Timur Jauh Rusia. Contohnya lebih banyak lagi.

Dengan demikian, Rusia dan China akan terus meningkatkan kerjasama bahkan tanpa adanya tekanan dari luar, tetapi sanksi dan tarif AS sebenarnya berfungsi untuk mempercepat dan memperdalam pemulihan hubungan mereka.

 

Keterangan foto utama: Vladimir Putin dan Xi Jinping di Forum Ekonomi Timur di Vladivostok (Foto: EPA)

China dan Rusia: Sahabat Baru Berkat Ketakutan Amerika

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top