Utang Dolar
Opini

China Memiliki Kecanduan Utang Dolar yang Berbahaya

Berita Internasional >> China Memiliki Kecanduan Utang Dolar yang Berbahaya

Dengan utang sebesar US$1,2 triliun yang perlu digulirkan tahun ini, ancaman krisis keuangan China tengah meningkat. Yang juga mengkhawatirkan adalah kecepatan peningkatan utang: Total utang luar negeri China telah meningkat 14 persen sepanjang tahun 2018 dan 35 persen sejak awal 2017.

Baca juga: Asia Reassurance Initiative Act: AS Tingkatkan Persaingan dengan China di Asia

Oleh: Christopher Balding (Bloomberg)

Utang luar negeri China telah meningkat dengan cepat, dan itu menjadi masalah yang semakin besar bagi negara bahkan dunia. Secara resmi, China mencantumkan utang luar negerinya sebesar $1,9 triliun. Untuk ekonomi senilai $13 triliun, angka itu bukan jumlah yang besar. Tetapi fokus pada angka utang secara signifikan mengecilkan risiko yang mendasarinya.

Masa krisis?

Utang jangka pendek China menyumbang 62 persen dari total utang pada bulan September 2018, menurut data resmi, yang berarti bahwa utang sebesar $1,2 triliun harus digulirkan (roll over) tahun ini. Yang juga mengkhawatirkan adalah kecepatan peningkatan utang: Total utang luar negeri China telah meningkat 14 persen sepanjang tahun 2018 dan 35 persen sejak awal 2017.

Utang luar negeri tidak lagi menjadi bagian sepele dari cadangan devisa China, yang mencapai lebih dari 3 triliun Dolar AS pada akhir bulan November 2018, sedikit berubah dari dua tahun sebelumnya. Utang luar negeri jangka pendek meningkat menjadi 39 persen dari cadangan pada bulan September 2018, dari 26 persen pada bulan Maret 2016.

Tidak pergi ke manapun

Gambaran sebenarnya mungkin lebih berbahaya. Utang luar negeri Cina diperkirakan antara 3 dan 3,5 triliun dolar AS oleh Daiwa Capital Markets dalam laporan bulan Agustus 2018. Dengan kata lain, total liabilitas luar negeri dapat dikecilkan sebanyak $1,5 triliun setelah memperhitungkan pinjaman di pusat-pusat keuangan seperti Hong Kong, New York, dan kepulauan Karibia yang tidak termasuk dalam penghitungan resmi.

Keadaannya juga tidak mendukung China. Perusahaan-perusahaan negara terburu-buru meminjam dalam Dolar AS ketika ada selisih 3 hingga 5 persen antara suku bunga China dan AS dan Yuan China diperkirakan akan menguat. Meminjam di luar negeri jauh lebih murah dan menawarkan bonus tambahan dari kemungkinan kenaikan mata uang.

Sekarang, spread dalam imbal hasil jangka pendek resmi telah menyusut mendekati nol dan Yuan telah mengalami depresiasi hampir sepanjang tahun 2018. Membiayai kembali hutang dalam Dolar AS akan menjadi lebih sulit dan lebih berisiko.

Kebijakan pemerintah China telah memperburuk penumpukan utang luar negeri. Untuk mempromosikan Inisiatif Sabuk dan Jalan Presiden China Xi Jinping, upaya kebijakan luar negeri presiden yang penting, China telah meminjam Dolar AS di pasar internasional dan meminjamkan uang ke seluruh dunia untuk segala hal mulai dari kereta api Kenya hingga business parks Pakistan.

Dengan tahun 2019 dan 2020 menjadi tahun puncak pembayaran, China menghadapi tekanan pendanaan Dolar AS. Untuk membayar utang Dolar mereka, perusahaan-perusahaan China harus menarik dari cadangan devisa bank sentral (prospek yang tidak mungkin diizinkan oleh pemerintah China) atau membeli Dolar di pasar internasional.

Hal ini akan menciptakan serangkaian masalah baru. Hanya ada 617 miliar yuan atau 90 miliar dolar AS deposito Renminbi, istilah lain untuk Yuan China, lepas pantai di Hong Kong yang tersedia untuk membeli Dolar. Jika China ingin mendorong perusahaan untuk membawa utang kembali ke darat, langkah ini akan memerlukan arus keluar yang signifikan yang akan menekan nilai Yuan terhadap Dolar.

Investor Dolar internasional perlu mewaspadai investasi terkait China. Pemerintah lokal yang membiayai kendaraan dan peminjam Inisiatif Sabuk dan Jalan mungkin tampak seperti kualitas quasi-sovereign yang semu, tetapi setiap perubahan dalam kesediaan untuk menggulirkan utang dolar dapat menciptakan krisis keuangan.

Dengan Federal Reserve AS menaikkan suku bunga dan mengurangi neraca keuangannya, perusahaan-perusahaan China dapat menghadapi pembayaran lebih untuk modal dalam Dolar daripada dalam Yuan.

Baca juga: China Sahkan Undang-Undang Agar Islam ‘Lebih Cocok dengan Sosialisme’

Bull market telah lama berpendapat bahwa risiko keuangan China dapat ditangani karena rendahnya tingkat utang luar negeri dan cadangan devisa negara yang besar. Hal itu sudah berubah. Utang luar negeri China telah meningkat rata-rata 70 miliar Dolar AS per kuartal sejak awal tahum 2017. Jika terus meningkat, pemerintah China akan memiliki pilihan yang tidak menyenangkan untuk membakar cadangannya atau membiarkan Yuan jatuh, dengan kedua pilihan akan membawa risiko tambahan.

China dan dunia perlu berpikir jernih tentang ketergantungan hutang Dolar yang terus meningkat ini. Setiap penghentian pendanaan dapat memiliki konsekuensi yang berbahaya dan tidak terduga.

Christopher Balding adalah associate professor bidang bisnis dan ekonomi di HSBC Business School di Shenzhen dan penulis buku Sovereign Wealth Funds: The New Intersection of Money and Power.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Risiko utang China kian menumpuk. (Foto: Bloomberg/SeongJoon Cho)

 

China Memiliki Kecanduan Utang Dolar yang Berbahaya

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top