China Tidak Bisa Ubah Filipina Jadi Sri Lanka Kedua
Asia

China Tidak Bisa Ubah Filipina Jadi Sri Lanka Kedua

Berita Internasional >> China Tidak Bisa Ubah Filipina Jadi Sri Lanka Kedua

China baru saja memberikan pinjaman kepada Filipina. Namun, negara adidaya itu tidak akan bisa mengubah Filipina menjadi Sri Lanka kedua–yang terpaksa menyerahkan dua pelabuhannya karena terjerat utang. Tidak hanya ekonomi Filipina lebih kuat, mereka juga lebih piawai mengendalikan pinjaman.

Oleh: Panos Mourdoukoutas (Forbes)

Baca Juga: Kritik Dalam Negeri Filipina atas Kesepakatan Laut China Selatan

China tidak bisa mengubah Filipina seperti yang mereka lakukan pada Sri Lanka—menggunakan “perangkap utang” untuk memperoleh pos-pos laut utama—karena ekonomi Filipina tidak menyerupai Sri Lanka.

Perangkap utang Sri Lanka dimulai dengan China meminjamkan dana yang diperlukan negara itu untuk membangun pelabuhannya melalui perusahaan konstruksi China. Ketika Sri Lanka tidak dapat membayar kembali pinjaman itu, China mengubahnya menjadi ekuitas. Dan itu memungkinkan China untuk memiliki dan mengendalikan dua pelabuhan utama Sri Lanka.

Baru-baru ini, China dan Filipina menandatangani perjanjian untuk beberapa proyek infrastruktur yang akan dibiayai oleh China. Tetapi ada beberapa hal yang membuat strategi China di Sri Lanka sangat tidak mungkin terjadi di Filipina.

Salah satunya adalah bahwa Filipina lebih baik dalam mengelola pinjaman luar negeri daripada Sri Lanka.

Hal itu menurut Jay Batongbacal, direktur Institut Kelautan dan Hukum Laut Universitas Filipina. “Filipina lebih pintar dan lebih berpengalaman dalam mengelola pinjaman,” kata Batongbacal mengutip di GMA NEWS OLINE.

Rupanya, Batongbacal mengacu pada kemampuan Filipina untuk menghindari krisis utang langsung yang terjadi di negara-negara berkembang lainnya.

Lalu, ukuran ekonomi Filipina. PDB Filipina kira-kira empat kali lipat lebih besar dari Sri Lanka.

Dan keadaan ekonomi Filipina berbeda. Filipina tidak memiliki risiko krisis utang dalam waktu dekat, seperti yang dimiliki Sri Lanka awal tahun ini.

Ekonomi Filipina telah tumbuh dengan kecepatan tinggi. Pada kuartal September 2018 pertumbuhan tahunan berada pada 6,1 persen—di atas 3,79 persen pada periode 1982-2018.

Lalu adanya defisit Transaksi Berjalan Filipina yang jinak. Defisit berada di 0,80 persen, dekat dengan rata-rata -0,45 persen untuk periode 1980-2017. Itu berarti bahwa negara itu hidup sesuai kemampuannya, berkat pengiriman uang oleh warga Filipina di luar negeri, tentu saja.

Dan yang paling penting, utang pemerintah Filipina mencapai 42,10 persen dari PDB, jauh di bawah rata-rata 56,25 persen untuk periode untuk periode 1990-2017, yang akan membuat Filipina sangat tidak mungkin akan mengalami krisis utang dalam waktu dekat.

Dan jika memang demikian, Filipina memiliki banyak cadangan devisa untuk menghadapi situasi tersebut. Cadangan Devisa Filipina mencapai US$74722 juta, jauh di atas rata-rata US$16341.45 juta untuk periode 1960-2018.

Statistik ini sangat berbeda dengan di Sri Lanka, di mana PDB tumbuh pada tingkat tahunan 3,70 persen pada 2018, jauh di bawah rata-rata 5,88 persen untuk periode 2003-2017.

Sri Lanka menjalankan defisit Rekening Koran sebesar 2,60 persen dari PDB, setengah dari rata-rata—5,47 persen untuk periode 1980-2017. Itu berarti bahwa negara itu hidup di luar kemampuannya, yang bergantung pada uang asing untuk mempertahankan standar kehidupannya.

Itu bisa menjelaskan utang pemerintah yang besar di negara itu, yang mencapai 77,60 persen dari PDB—jauh di atas rata-rata 69,69 persen untuk periode 1950-2017.

Sementara itu, Cadangan Devisa berdiri pada LKR1386166,90 juta pada Juli 2018—jauh di bawah rata-rata LKR250901.90 juta untuk periode 1975-2018.

Intinya: China tidak dapat mengubah Filipina menjadi seperti Sri Lanka, karena ekonominya besar dan berkembang pesat. Orang-orang Filipina hidup sesuai kemampuan mereka. Dan bank sentral negara itu memiliki cadangan mata uang asing untuk menghadapi prospek krisis utang.

Baca Juga: Kunjungan Xi Jinping ke Filipina: Apa yang Berhasil dan Gagal Dicapai?

Panos Mourdoukoutas adalah Profesor dan Ketua Departemen Ekonomi di LIU Post di New York. Panos juga mengajar di Universitas Columbia. Panos telah menerbitkan beberapa artikel di jurnal dan majalah profesional.

Keterangan foto utama: China tidak bisa jadikan Filipina sebagai Sri Lanka yang lain. (Foto: Bloomberg/SeongJoon Cho)

China Tidak Bisa Ubah Filipina Jadi Sri Lanka Kedua

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top