Trump
Global

Dalam Kebuntuannya dengan China, Trump Pilih Pernyataan Basi Daripada Kebijakan

Berita Internasional >> Dalam Kebuntuannya dengan China, Trump Pilih Pernyataan Basi Daripada Kebijakan

Pendekatan pemerintah yang kacau terhadap perang dagang membuat banyak pengamat—dan juga, dilaporkan, pembuat kebijakan di China—bingung dengan tujuan akhir kebijakan Trump terhadap China. Apakah tujuannya hanya untuk mengurangi defisit perdagangan? Menyebutkan daftar panjang praktik perdagangan tidak adil China? Melawan militerisasi Laut China Selatan? Semuanya?

Baca juga: Trump Benar: China Manfaatkan Media untuk Pengaruhi Pendapat Asing, tapi Begitu Juga Amerika

Oleh: Judah Grunstein (World Politics Review)

Dalam pidato pekan lalu yang tampak sebagai upaya untuk mengejar ketinggalan dari peristiwa akhir-akhir ini, sebagai deklarasi kebijakan resmi, Wakil Presiden Mike Pence mengingatkan China bahwa “Amerika Serikat telah mengadopsi pendekatan baru ke China.”

Pernyataan itu, yang disampaikan di lembaga ahli Hudson Institute di Washington, sebagian besar mencakup hal yang tidak asing dalam hal keluhan Amerika atas hubungan bilateral itu. Setelah menghabiskan 20 tahun terakhir berusaha mengundang China ke dalam tatanan internasional sebagai “pemangku kepentingan yang bertanggung jawab,” AS kini telah kehabisan kesabaran atas praktik perdagangan tidak adil China, penindasan domestik, dan militerisasi di Laut China Selatan.

Mungkin untuk mendukung tuduhan Presiden Donald Trump akhir-akhir ini atas campur tangan China dalam pemilu kongres paruh waktu Amerika, Pence juga menambahkan item baru ke daftar: “pendekatan pemerintah sepenuhnya, menggunakan alat politik, ekonomi dan militer, serta propaganda, “bahwa China berupaya” untuk menekankan pengaruhnya dan memenuhi kepentingannya sendiri.”

Entah sebagai seorang kandidat atau presiden, kebijakan Trump terhadap China telah membingungkan para pengamat, karena telah bergolak dari provokasi ke keterlibatan dan kembali lagi ke provokasi. Selama kampanye 2016, dia mengecam China karena mendevaluasi yuan—meskipun China telah membiarkan mata uangnya naik—dan menyebabkan ketidakseimbangan perdagangan bilateral.

Selama masa transisi, dia membuat China marah dengan menyambut ucapan selamat dari Presiden Taiwan Tsai Ing-wen dan mempertanyakan kesucian kebijakan “satu China”. Dia kemudian menunjuk petinggi China Peter Navarro ke lingkaran penasihat perdagangannya dan mengancam tarif pembalasan.

Namun dalam pertemuan tatap muka pertamanya dengan Presiden China Xi Jinping pada April 2017, Trump tampak kepincut, memuji sikap Xi di Semenanjung Korea dan memanggil pemimpin China itu sebagai teman barunya. Kesan itu diperkuat selama kunjungan negara Trump berikutnya ke China, ketika Xi menarik perhentian dengan menyanjung ego Trump.

Hubungan itu tampak mencapai tujuannya ketika berhadapan dengan program nuklir Korea Utara, karena China setuju untuk memperketat sanksi terhadap Korea Utara sebagai bagian dari kampanye “tekanan maksimum” Trump untuk membawa Korea Utara ke meja perundingan.

Tapi harapan apa pun sudah lama memudar. Periode bulan madu awal ini dapat mencegah janji kampanye Trump untuk bersikap keras terhadap perdagangan China. Serangkaian tarif balas-balasan yang diprakarsai Trump kini telah menyebabkan para pengamat yakin bahwa akan ada perang dagang AS-China.

Dan minggu lalu, di Laut China Selatan hampir terjadi tabrakan antara kapal Angkatan Laut AS yang melakukan patroli kebebasan navigasi dan kapal angkatan laut China yang memotong jalurnya secara agresif, hal itu merupakan pengingat bahwa perang yang sebenarnya adalah risiko nyata, walaupun kemungkinannya kecil.

Di saat yang sama, pendekatan pemerintah yang kacau terhadap perang dagang membuat banyak pengamat—dan juga, dilaporkan, pembuat kebijakan di China—bingung dengan tujuan akhir kebijakan Trump terhadap China. Apakah tujuannya hanya untuk mengurangi defisit perdagangan? Menyebutkan daftar panjang praktik perdagangan tidak adil China? Melawan militerisasi Laut China Selatan? Semuanya?

Tindakan ad hoc tersebut, dikombinasikan dengan hiruk-pikuk yang berasal dari dalam pemerintahan Trump selama negosiasi perdagangan, menyebabkan pencarian jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu sulit. Pidato Pence tampaknya menjadi upaya pertama untuk merasionalisasi keluhan yang berbeda menjadi garis kebijakan yang koheren.

Sejauh mana hal itu merekapitulasi ulang cara yang telah diambil China untuk memanfaatkan tatanan internasional, khususnya dalam perdagangan, untuk meningkatkan kekayaan, kekuasaan dan pengaruh, tanpa memoderasi perilakunya di dalam negeri, pidato Pence sebagian besar mengartikulasikan apa yang telah menjadi sikap konsensus di antara pengamat China.

Walaupun ia mempresentasikan penilaian sepihak atas perilaku internasional China, termasuk operasi pengaruhnya di AS, keluhan itu nyata dan telah menjadi perhatian sejak akhir pemerintahan Obama. Kebijaksanaan konvensional di AS selama kampanye 2016 adalah bahwa penerus Presiden Barack Obama harus mengambil sikap yang lebih kuat terhadap China di semua masalah ini.

Ketika melihat dari belakang ke arah pratinjau tentang apa yang akan terjadi, pidato Pence—dan dengan perluasan pemerintahan sepenuhnya—membuat pernyataan basi dan kebijakan rancu. Mengutip bahasa yang pertama kali muncul dalam serangkaian laporan Departemen Pertahanan tahun lalu, dan yang muncul kembali baru-baru ini dalam sebuah pidato oleh pejabat pemerintah senior di sebuah Kedutaan Besar China di Washington, Pence menyimpulkan pendekatan baru AS sebagai “persaingan kekuatan-besar.”

Untuk itu, AS akan mengerahkan kekuatan ekonomi dan militer dan memanfaatkan aliansinya untuk mengejar hubungan perdagangan yang “bebas, adil dan timbal balik” dengan China. Jika hadiah dari kompetisi ini adalah kepemimpinan ekonomi global abad ke-21, Pence menyarankan bahwa kompetisi ini harus dilakukan di lapangan yang adil.

Sulit untuk menentang pernyataan seperti itu pada prinsipnya. Tetapi untuk mempraktikkannya juga sulit, khususnya pada tahap kebangkitan China dan penurunan relatif Amerika. Perang perdagangan pemerintahan Trump dan pendekatan yang lebih mengintimidasi terhadap kebebasan navigasi di Laut China Selatan hanya mengabadikan ketakutan dan tuduhan China yang paling sering dikemukakan—bahwa AS berusaha menahan kebangkitannya—sebagai kebijakan resmi AS.

Pence telah bersusah payah untuk menegaskan bahwa “persaingan tidak selalu berarti permusuhan.” Tetapi jika sambutan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo di China akhir pekan ini merupakan sebuah indikasi, ucapan itu tidak berlaku dengan baik pada China.

Baca juga: Perang Dagang Donald Trump dengan China yang Kian Memanas

Selain itu, reduksionis jika menyebut status quo sebelumnya sebagai kegagalan total. AS membuat lebih banyak ruang bagi China di lembaga-lembaga multilateral, sembari membujuk para pemimpin China untuk mengambil peran yang lebih bertanggung jawab dalam tata kelola global dan praktik perdagangan. Dari Korea Utara hingga kesepakatan nuklir Iran dan perjanjian perubahan iklim Paris, AS berhasil membuat China menandatangani isu-isu kunci di mana kerja sama dan dukungannya sangat penting. Tidak mungkin keikutsertaan China akan datang dalam keadaan konfrontasi terbuka, sebuah pelajaran yang mungkin sedang dipelajari oleh pemerintah Trump sekarang.

Di saat yang sama, meskipun status quo itu berhasil memberikan beberapa keberhasilan yang patut dicatat, kegagalan—seperti yang diidentifikasi oleh Pence dan pendahulunya—tetap masih terjadi. Jika  Trump terus membuat kepemimpinan China tidak seimbang dan membuat China keluar dari zona nyamannya, itu akan menjadi pembalikan peran yang berbeda dengan dua pemerintahan AS yang terakhir. Pendekatan ikonoklastik dan saran bahwa ia mungkin cukup gila untuk menarik pin pada granat, bukannya mundur, mungkin malah mendorong kepemimpinan China untuk mencari jalan keluar di kebuntuan saat ini.

Bahkan, jenis persaingan kekuatan-besar yang Pence dan Pentagon gambarkan secara historis mengarah pada konflik dengan konsekuensi besar. Seperti yang saya sampaikan dalam podcast WPR minggu lalu, konfrontasi ini datang terlalu dini untuk China, yang belum naik ke potensi kekuatan penuhnya, dan terlalu terlambat bagi AS, yang saat-saat unipolarnya telah berlalu meskipun masih menikmati kekuatan ekonomi dan militer yang superior. Tetapi ini juga merupakan konfrontasi yang tidak dapat dicegah oleh kedua belah pihak.

Keterangan foto utama: Wakil Presiden Mike Pence berbicara di Hudson Institute di Washington, 4 Oktober 2018. (AP/Jacquelyn Martin)

 

Dalam Kebuntuannya dengan China, Trump Pilih Pernyataan Basi Daripada Kebijakan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top