Debat Capres ke-2: Menilik Kebijakan Jokowi vs Prabowo tentang Impor Pangan
Berita Politik Indonesia

Debat Capres ke-2: Menilik Kebijakan Jokowi vs Prabowo tentang Impor Pangan

Berita Internasional >> Debat Capres ke-2: Menilik Kebijakan Jokowi vs Prabowo tentang Impor Pangan

Dalam Debat Capres ke-2, Minggu (17/2), penantang Prabowo Subianto mengatakan peningkatan impor pangan menyakiti petani lokal. Presiden Jokowi memberikan sanggahan, mengatakan hal itu diperlukan untuk mengontrol inflasi. Prabowo memberi respons dengan kesalahan Jokowi dalam mengatur ekonomi sebagai penyebab peningkatan impor pangan Indonesia.

Oleh: Arys Aditya, Viriya Singgih, dan Tassia Sipahutar (Bloomberg)

Baca Juga: Ekonomi Indonesia Gagal Meningkat Jelang Pilpres 2019

Dalam Debat Capres ke-2, kandidat presiden Prabowo Subianto bersumpah untuk menghentikan impor pangan, terutama beras, untuk membantu petani lokal. Prabowo saat ini tengah berusaha untuk memperkecil angka kepemimpinan Jokowi dalam polling opini jelang Pilpres 2019.

Prabowo menyalahkan kebijakan agrtikultur Jokowi karena meningkatkan impor komoditas seperti gula, gandum, dan jagung sehingga membebani harga pangan hasil dari petani lokal. Impor bahan-bahan tadi telah meningkat sebanyak 33 persen dalam hitungan nilai, mencapai $7,95 juta pada tahun 2018, menurut kementerian perdagangan.

“Indonesia harus bisa swasembada pangan—tidak ada lagi impor dari manapun,” ujar Prabowo pada Debat Capres ke-2 hari Minggu lalu. Jelang Pilpres 2019, para kandidat harus melakukan lima kali debat. “Kami akan menjamin swasemba pangan dan harga terjangkau untuk semua kalangan.”

Jokowi membela impor yang dilakukan pemerintahannya. Ia mengatakan, hal itu diperlukan untuk memastikan kestabilan harga. Inflasi tahun lalu menurun menjadi 3,1 persen, dibandingkan lebih dari 8 persen ketika Jokowi baru menjabat di tahun 2014, berdasarkan data yang dikumpulkan Bloomberg.

Indonesia telah mencuat menjadi salah satu pengimpor utama gandum dan gula dalam beberapa tahun terakhir, bahkan ketika negara ini berhasil memang berhasil memangkas impor untuk beras dan jagung karena hasil pertanian lokal yang lebih tinggi. Impor pangan yang tepat waktu telah memainkan perang penting dalam kesuksesan Jokowi dala mengontrol harga makanan yang tajam.

Di masa lalu, hal ini bisa mendongkrak inflasi, menurut Satria Sambijantoro, seorang ekonomi di PT. Bahana Sekuritas.

“Impor makanan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari untuk negara kepulauan seperti Indonesia, yang kemungkinan inflasinya unik secara hal itu sebagian besar dipengaruhi persediaan dibandingkan permintaan,” ujar Sambijantoro. “Hal ini berarti kebijakan perdangan impor bisa mengontrol persediaan, selalu beriringan dengan kebijakan moneter yang mengontrol permintaan.”

Baca Juga: ‘Jokowinomics’ dan Masa Depan Ekonomi Indonesia

Kampanye Panas

Debat capres ke-2 ini berlangsung di tengah kampanye Pilpres 2019 yang semakin memanas. Jokowi telah meningkatkan serangannya terhadap Prabowo dengan tuduhan lawannya itu membayar konsultan asing begitu dengan pengaruh campur tangan Rusia.

Prabowo memberi respons dengan kesalahan Jokowi dalam mengatur ekonomi sebagai penyebab peningkatan impor pangan Indonesia.

Sampai saat ini, Jokowi masih memimpin dalam polling opini sebanyak 20 persen terhadap Prabowo, menurut survei dari akhir Januari. Beberapa polling terbaru mengindikasikan Prabowo telah memperkecil selisih, dengan survei dari Indikator Politik Indonesia menunjukkan elektabilitasnya meningkat menjadi 34,8 persen pada bulan Januari, dari 30 persen di bulan sebelumnya.

Walaunya debat kedua ini lebih baik dari yang pertama dalam urusan isi dan kepiawaian para kandidat di panggung, tidak ada kandidat yang secara drastis berhasil memperbaiki kemungkinan menang mereka, ujar Arya Fernandes, seorang analis di Center for Strategic and International Studies di Jakarta.

Jengkel dengan kritik bahwa debat pertama terkesan terlalu diatur, dua kandidat berbicara tanpa catatan dan menerima lebih banyak pertanyaan dari panel mengenai energi, pangan, infrastruktur dan lingkungan.

Jokowi mencari mandat baru untuk melanjutkan pembangunan infrastruktur dan ekonomi nasional yang menandai periode pertamanya. Indonesia berhasil mengambil alih kontrol dari perusahaan-perusahaan asing seperti Freeport dan Chevron.

Pada hari MInggu, Prabowo mengatakan bahwa ia akan memastikan negara mengontrol sumer daya alam dan akan menghukum perusahaan-perusahaan yang merusak lingkungan dan terlibat dalam pertambangan ilegal.

Sebelumnya Prabowo telah berjanji untuk memangkas pajak perusahaan dan perorangan untuk menyegarkan kembali ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini. Dia juga berikrar untuk membuat program-program untuk orag miskin, termasuk mengubah salah satu kebijakan Jokowi yang paling tidak populer yang menhentikan subsidi bahan bakar untuk bensin RON88. Ia juga berjanji untuk menaikkan gaji pegawai negeri dan polisi.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Terhambat Nasionalisme dan Populisme?

Jokowi mengatakan, a akan melanjutkan agenda infrastruktur jika memenangkan periode kedua, mendorong revolusi Industri 4.0 dengan menyalurkan sumber daya utuk meningkatkan kemampuan di tempat kerja. Sang presiden, yang memerintahkan penghentian kenaikan BBM dan listrik sampai akhir 2019, harus melawan tagihan subsidi energi yang membengkak. Digabungkan dengan melebarkan defisit neraca berjalan, mereka akan membebani mata uang dan berkontribusi pada catatan hutang publik.

Di masa depan, kami ingin mengurangi penggunaan energi fosil sebanyak mungkin. Kami akan bekerja untuk penggunaan biodiesel dan bensin hijau,” ujar Jokowi. “Hal ini telah dimulai dengan produksi B20, dan akan diteruskan sampai mencapai B100, sehingga ketergantungan kita terhadap energi fosil akan menurun,” ujar presiden mengacu pada program penggunaan campuran biodiesel wajib.

Dengan bantuan Rieka Rahadiana.

Keterangan foto utama: Calon presiden Indonesia Prabowo Subianto mengkritik ketergantungan capres petahana Joko Widodo pada impor makanan dan mengatakan bahwa Indonesia harus mandiri. (Foto: AP/Achmad Ibrahim)

Debat Capres ke-2: Menilik Kebijakan Jokowi vs Prabowo tentang Impor Pangan

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top